Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘cerpen’

oleh Jafar Fakhrurozi

Gerakan feminis di Indonesia dapat dikatakan telah mencapai pada tahap yang menggembirakan. Kenyataan bahwa ranah publik telah terbuka bagi kaum perempuan adalah sebuah bukti keberhasilan gerakan kaum feminis. Walaupun demikian, pada ranah domestik, persoalan gender ini tidak mungkin usai di tengah sistem patriarki masyarakat Indonesia yang telah berkembang demikian lama. Ditambah, bila dihubungkan dengan agama, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, gerakan feminis seolah berada dalam ambivalensi. Misalnya dalam perkara domestik, mengurus rumah tangga, masyarakat masih membedakan peran gender. Di mana suami, sebagai kepala keluarga masih dianggap sebagai pencari nafkah (ranah publik), sedangkan istri mengurusi rumah tangga (domestik). Hal ini tentu diperkuat atas kesadaran beragama masyarakat Indonesia, di mana pembagian peran tersebut diatur oleh Islam.

Dalam cerpen “Anak Bapak” karya Damhuri Muhammad yang dimuat dalam surat kabar pikiran Rakyat, 21 Juli 2007, konflik peran gender sangat jelas diperlihatkan pengarang. Cerpen “Anak Bapak” menceritakan kehidupan rumah tangga yang dipenuhi konflik. Konflik disebabkan oleh perbedaan penghasilan antara suami dan istri. Tokoh istri diceritakan sebagai wanita karir yang sangat sibuk, memiliki penghasilan yang jauh lebih tinggi dari suaminya. Kondisi tersebut mengakibatkan istri tidak sempat mengurus anaknya, sebalimnya suaminya yang mengasuh anaknya. Tokoh bapak yang miskin itu dilukiskan oleh pengarang sebagai pribadi yang mengalami krisis identitas. Karena si istri yang bekerja, lalu tokoh bapak dilukiskan sebagai ibu atau istri yang harus melakukan kerja-kerja seorang istri. Secara radikal, bahkan pengarang mendeskripsikan tokoh Bapak memiliki fisik seperti perempuan. Ia memiliki payudara dan menetekkan susu kepada anaknya.

Lalu gundukan daging kedua belah dada bapak berangsur-angsur mengembang. Seperti ada yang bergerak dan menyentak hendak menyembul keluar, hingga kedua bulatannya menegang dan membesar serupa balon ditiup pelan-pelan. Begitu juga putingnya, makin mekar. Montok serupa buah kelimunting matang. Kenyal dan setengah basah. (Muhammad, 2007)

Dengan bahasa yang verbal dan erotis, pengarang mencoba memberikan penguatan suasana dan karakter agar tokoh bapak yang menjadi ibu secara psikologi kuat. Dengan dekripsi identitas seksual demikian, tokoh bapak sudah betul-betul merasa jadi seorang ibu. Cerpen Damhuri ini mengajak pembaca untuk memutar otak, semacam mengajak berdiskusi, apakah ia sedang merayakan kemenangan gerakan feminis, atau ia justru sedang mengugat gerakan feminis, atau ia sedang merekonstruksi konsep maskulinitas sebagaimana yang dipaparkan Mina Elfira dalam kajiannya terhadap novel Vasilisa Maligina karya A.M Kollontai?

Negosiasi Identitas Gender
Dalam tulisan “Vasilisa Maligina karya A.M Kollontai: Sebuah rekonstruksi atas konsep maskulinitas Rusia” yang dimuat dalam Jurnal Wacana volume 10 No.1 April 2008, dipaparkan tentang upaya rekonstruksi konsep maskulinitas tradisional Rusia yang berbasiskan budaya patriarki. Gagasan rekonstruksi tersebut dilakukan oleh pengarang A.M Koolontai melalui tokoh Vasilisa Maligina yang dilukiskan sebagai seorang perempuan (istri) yang lebih superior dari suaminya, terutama di ranah publik.
Kiranya gambaran tersebut juga dapat dilihat dalam cerpen Damhuri. Di Indonesia, fenomena istri yang bekerja melebihi suaminya barangkali baru kita jumpai dalam beberapa tahun belakangan ini. Di mana gagasan feminisme telah diterima oleh masyarakat. Wanita karier, biasa kita menyebutnya, adalah sebuah gugatan atas realitas yang berlaku dalam masyarakat konservatif termasuk sistem patriarki.
Cerpen Damhuri ini tidak hanya membuka realitas kekinian, tetapi juga mencoba melakukan gugatan terhadap pandangan-pandangan maskulinisme. Bahwa urusan rumah tangga adalah ranah domestik. Konflik di ranah domestik tersebut adalah sistem patriarki. Pihak laki-laki (suami) terlanjur melegitimasi dan menikmati sistem patriarki. Ia masih berpandangan bahwa perempuan harus lebih banyak mengurusi rumah tangga termasuk mengasuh anak. Sedangkan si isteri, adalah stereotip perempuan feminis dalam konsep feminisme. Pencapaian karir yang lebih tinggi daripada laki-laki membawanya pada posisi dominan. Sehingga ia merasa tidak pantas disubordinasi laki-laki. Ia pun secara tidak sadar lebih maskulin daripada laki-laki. Sehingga pekerjaan mengasuh anak bukan lagi urusannya. Menurut Barker dalam Nasir (2007), maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai-nilai, seperti kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan laki-laki, dan kerja. Di antara yang dipandang rendah adalah hubungan interpersonal, kemampuan verbal, kehidupan domestik, kelembutan, komunikasi, perempuan, dan anak-anak.
Dalam cerpen Damhuri, konsep maskulinitas ini jelas masih dianut oleh tokoh bapak. Walaupun tokoh bapak identitas seksualnya berikut peran gendernya dilukiskan sebagai istri, juga peran tersebut terkesan sudah diterimanya, tetap saja ia ingin disebut sebagai suami yang harus dipatuhi isterinya.

Aku laki-laki. Suamimu. Harus patuh kau padaku. Ngerti? (Muhammad, 2007)

Ketidakberterimaan tokoh Bapak adalah bahwa ia harus juga dilabeli gender sebagai istri. Padahal bila hanya melaksanakan tugas mengasuh anak, ia telah menerimanya. Artinya, ketika seorang suami menerima tugas yang selama ini disematkan pada perempuan, bukanlah sebuah masalah, karena tokoh Bapak mengakui bahwa dirinya subordinat dalam urusan mencari nafkah dibandingkan isterinya. Akan tetapi bila statusnya sebagai suami direndahkan, ia tetap menolak. Di sini terlihat bahwa pelabelan identitas sosial di mana suami adalah kepala keluarga, dan istri harus patuh kepada suaminya, tampaknya masih menjadi wacana yang harus dilestarikan oleh laki-laki. Hal ini terjadi karena identitas sosial ini secara turun temurun diwariskan dari masa ke masa. Apalagi bila dihubungkan dengan referensi agama.
Di dalam hal ini, identitas gender hanyalah soal pelabelan sosial saja. Identitas gender sebagaimana dikatakan Barker dalam Nasir (2007) bahwa yang menentukan sifat perempuan atau laki-laki adalah kebudayaan. Hal ini juga dikatakan oleh Oakley dalam Mina Elfira (2008), bahwa gender dikaitkan erat dengan norma-norma budaya yang berlaku dalam klasifikasi sosial dari laki-laki dan perempuan dalam suatu masyarakat. Budaya patriarkilah yang memproduksi wacana gender. Menurut Pyke yang ditulis ulang oleh Muhadjir Darwin (1999) dalam esai “Maskulinitas: Posisi Laki-Laki dalam Masyarakat Patriarkis” dijelaskan bahwa ideologi patriarki meliputi: Kesepakatan-kesepakatan sosial yang sesungguhnya hanya menguntungkan kepentingan kelompok yang dominan cenderung dianggap mewakili kepentingan semua orang; Ideologi hegemonis seperti ini merupakan bagian dari pemikiran sehari-hari cenderung diterima apa adanya (taken for granted) sebagai sesuatu yang memang demikianlah semestinya; Dengan mengabaikan kontradiksi yang sangat nyata antara kepentingan kelompok yang dominan dengan kelompok subordinat, ideologi seperti ini dianggap sebagai penjamin kohesi dan kerjasama sosial, sebab jika tidak demikian yang terjadi justru suatu konflik.
Hal ini senada dengan pendapat Mina Elfira (2009) bahwa patriarki dilihat kaum feminis bukan sebagai sebuah penjelasan terjadinya bentuk penindasan atas kaum perempuan, namun lebih sebagai sebuah masalah yang menyebabkan terjadinya bentuk penindasan tersebut.
Penerimaan peran suami sebagai pengasuh anak adalah bentuk negosiasi identitas gender yang dilakukan seorang suami. Karena sebagaimana dikatakan Pyke, dengan mengabaikan kontradiksi gender, tindakan damai ini berhasil mencegah konflik, sebaliknya menciptakan kerjasama sosial dalam keluarga.
Selain isu gender dalam sudut pandang patriarki. Dalam cerpen “Anak Bapak” juga disentuh masalah pertentangan kelas sosial yang menyebabkan terjadinya konflik peran gender antar suami dan isteri. Diceritakan bahwa tokoh isteri yang lebih mapan karena pekerjaanya, lebih dapat menyenangkan hati si anak karena ia sering memberi anaknya barang-barang yang bernilai ekonomis dan sering mengajak anaknya ke mal. Sedangkan suaminya hanya bisa mengajak anak ke kebun binatang.

Sudah besar anak bapak rupanya. Sudah bisa bilang bapak nakal, bapak jahat. Kenapa tidak mau jalan-jalan sama bapak? Pinginnya sama Ibu terus ya? Memang menyenangkan kalau sama ibu. Tiap akhir pekan diajak main ke mal. Beli mobil-mobilan, robot-robotan, pedang-pedangan, pistol-pistolan. Sampai-sampai kau kecanduan ke mal. Bapak memang bisanya cuma ngajak Dedek lihat gajah, buaya, burung, ikan, dan angsa di kebun binatang. Jalan-jalan sama Bapak tidak pernah jajan ya? Ah, bapak memang jahat, nakal, pelit. (Muhammad, 2007)

Damhuri sebenarnya menghadirkan kritik terhadap budaya hedon dan konsumeristik ala si Isteri. Dalam realitasnya, banyak orangtua yang mendidik anaknya dengan cara pragmatis. Asal anaknya senang, orangtua rela mengikuti apapun keinginan anaknya. Dalam cerpen tersebut sikap anak yang lebih senang terhadap ibunya, semakin mempertegas kekalahan tokoh Bapak. Kini konflik gender semakin lengkap dengan kekalahan kelas sosial tokoh Bapak dibanding isterinya.
Dalam terminologi materialisme Karl Marx, yang menentukan sejarah bukanlah politik, tetapi ekonomi. Konsep ini membagi masyarakat dalam kelas-kelas sosial berdasarkan ekonomi. Kelas atas cenderung menindas kelas bawah. Kelas sosial ini hadir di ranah publik. Di dalam hal ini, tokoh isteri memenangkan pertarungan di ranah publik dibandingkan suaminya. Sehingga ranah domestik kian pantas disematkan pada suami. Kondisi ini tak hanya menimbulkan konflik peran gender, tetapi konflik batin dalam diri tokoh Bapak.

Menurut Myers dalam tulisan Meutia Nauly (2002) yang berjudul “Konflik Peran Gender pada Pria: Teori dan Pendekatan Empirik,” peran gender merupakan suatu set perilaku-perilaku yang diharapkan (norma-norma) untuk laki-laki dan perempuan. Bervariasinya peran gender di antara berbagai budaya serta jangka waktu menunjukkan bahwa budaya memang membentuk peran gender. Budaya masyarakat Indonesia yang konsumtif dan hedonis memenangkan peran gender bagi si isteri.
Tampaknya apa yang disampaikan Naomi Wolf dalam buku Gegar Gender (1997) bahwa distribusi kekuasaan akan memunculkan ketakutan dari kaum pria, kini terjadi. Tokoh Bapak sadar betul bahwa ketika terjadi distribusi kekuasaan secara merata antara pria dengan perempuan, maka ia beranggapan perempuan mendominasi akan pria dan saat yang ber samaan muncul kesadaran perempuan bahwa mereka mendominasi pria.
Situasi ini yang ingin disampaikan Damhuri. Bahwasanya wacana feminitas vs maskulinitas tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru malah menimbulkan persoalan baru. Damhuri barangkali tidak sedang mendukung salah satu faham, akan tetapi sebagai sastrawan ia mencoba mengajak pembaca untuk peka terhadap persoalan gender yang terus menggurita dalam kehidupan masyarakat.

Daftar Pustaka
Elfira, Mina. 2008. “Vasilisa Maligina karya A.M Kollontai: Sebuah rekonstruksi atas konsep
maskulinitas Rusia” Jurnal Wacana volume 10 No.1 April 2008. Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Meutia Nauly. 2002. “Konflik Peran Gender pada Pria: Teori dan Pendekatan Empirik.“
Fakultas Kedokteran Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara
Muhadjir Darwin.1999. “Maskulinitas: Posisi Laki-Laki dalam Masyarakat Patriarkis.”
Center for Population and Policy Studies, Gadjah Mada University. Edisi S.281, June 24, 1999.
Muhammad, Damhuri. 2007. Anak Bapak. Pikiran Rakyat edisi 21 Juli 2007.
Syar’an, Nasir, (2001). Maskulinitas dalam lklan Gudang Garam: Analisis Semiotik atas
lklan Gudang Garam. Skripsi (tidak diterbitkan) pada jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM, Yogyakarta.
Wolf, Naomi. 1997. Gegar Gender. Yogyakarta: Pustaka Semesta Press.

Read Full Post »

AKU TIDAK HILANG

Cerpen Jafar Fakhrurozi

 “Aku tidak pernah hilang, seperti yang orang-orang katakan, aku cuma menghilang dari hadapan kalian. Jangan khawatir, Bung!”

            Aku terjaga. Mataku terbelalak. Kaget dengan apa yang barusan kudengar. Suara lantang seorang lelaki yang sangat kukenali. Suara lelaki yang sudah bertahun-tahun membuat sibuk pikiran orang-orang. Keluarganya, aku, kawan-kawan sastrawan, aktivis HAM, masyarakat, dan sebagian pemerintah yang peduli. Kaukah itu? Oh, Aku tak yakin, karena aku tadi sedang tidur.

Apa maksud gerangan yang kau bicarakan. Sudah jelas, lebih dari sepuluh tahun kami tak melihatmu, diskusi, baca puisi, atau demonstrasi. Selama itu pula kami mencoba memberanikan diri untuk bicara lantang sepertimu, hanya untuk mencari kepastian tentang keberadaanmu. Kami teriak di depan presiden, kantor kejaksaan, militer, polisi, dan di manapun. Tapi kami tak dapat kepastian apa-apa. Keluargamu juga masih terus menangis, bahkan terdengar lebih hebat daripada dulu ketika mereka tahu kau jadi aktivis atau penyair. Ibumu tak mau melihat kau sengsara dan dibenci pemerintah, karena jadi penyair dan aktivis itu bukan masa depan yang baik. Tapi kini, ternyata mereka lebih mencintaimu ketimbang pemerintah, mereka telah berubah. Sekarang saja mereka baru teriak-teriak di kantor polisi, menanyakan keberadaanmu. Apa jawaban dari polisi, hanyalah diam seribu bahasa. Menggelengkan kepala, atau hanya mengulang-ngulang jawaban sebelumnya.

Kau kira kami sudah melupakanmu, mengubur dalam-dalam ingatan dan kenangan. Gila lu! Bilang jangan Khawatir. Sekarang, beberapa orang yang sempat hilang sudah kembali, sudah berkumpul dengan keluarga, dengan kami. Di antara mereka, tak ada satupun yang pernah melihatmu. Mereka dibawa sendiri-sendiri, dibiarkan tapi tidak bisa ke mana-mana. Mereka mungkin pernah melihatmu, tapi cuma dalam mimpi. Hanya sebuah ilusi dari mereka yang dilumpuhkan1.

Perlu kau tahu, bahwa sekarang para penculik itu sudah pada jinak, mereka sudah berani terang-terangan memperlihatkan boroknya. Katanya mereka sudah siap dihukum, tapi mereka kini sedang sibuk saling menuding dalangnya. Hahaha, aku cukup terhibur dengan pemandangan itu. Di mana-mana kalau sudah ketahuan, seorang penjahat akan bicara jujur. Selanjutnya, terbuka semuanya. Merembet ke sana ke sini. Bahkan presiden pun kena tuduh. Betul apa katamu, mereka itu komplotan penjahat, penindas, dan koruptor. Walau begitu, proses hukum belum tegak. Buktinya mereka hanya dihukum sebentar saja. Itupun anak-anak muda, para eksekutor di lapangan yang belum punya pangkat apa-apa. Mereka yang pimpinan, ongkang-ongkang kaki, malah terus  berebut untuk bisa jadi pemimpin.

***

“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat. Tenang, aku masih memperhatikan kalian, melihat keluargaku, kamu, dan kawan-kawan yang lain.”

Aku dengar lagi, ini sungguh tidak terasa seperti mimpi. Aku sadar betul, sejak malam tadi aku sengaja begadang, duduk dekat jendela. Telingaku tetap kufokuskan pada setiap suara-suara yang berseliweran. Tapi lagi-lagi aku tak mampu menebaknya, dari mana suara itu berasal, yang jelas aku tadi tidak tidur. Dan kau lagi-lagi bicara bahwa kau tidak hilang. Kau bilang masih melihat kami. Lalu di manakah dirimu?

Hari ini kami akan kumpul di depan istana, teriak panjang lebar soal hak asasi manusia bersama para keluarga korban lainnya. Mengajak masyarakat agar tidak pernah melupakan sejarah. Kami menuntut penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Rentetan tragedi yang menumpahkan darah rakyat tak berdosa. Sejak kasus 1965, Tanjung Priok, Talangsari, DOM Aceh, Haur Koneng, Trisakti, Semanggi, kematian Munir, penggusuran, serta seabreg kasus lainnya yang terus bermunculan.

Harus kau tahu, bahwa peradilan membutuhkan bukti nyata. Ia memerlukan saksi. Dan segala tuntutan kami tidak pernah dipenuhi karena tidak memenuhi syarat-syarat tadi. Termasuk kasusmu. Siapa di antara kami yang punya bukti? Hanya tuhan dan kamu yang tahu. Kalau begitu, apakah kebenaran harus dikorbankan? Ah aku frustasi. Hukum di sini tidak punya rasa keadilan. Tetanggaku kedapatan menebang dua pohon pinus untuk kayu bakar, lalu dia diancam sepuluh tahun penjara, sedang mereka yang sudah jelas merugikan negara bernilai ratusan milyar hanya dihukum semenjana, mereka pun masih bisa menikmati kehidupan mewah di penjara. Ah aku benar-benar putus asa, seputus asa negeri ini.

Tahukah kau, bahwa apa yang kau katakan padaku kini tengah jadi gunjingan banyak orang. Aku terpaksa menceritakan semua yang kudengar pada ibumu, adikmu, dan kawan-kawan yang mengaku peduli denganmu. Mereka terperangah, berharap tapi tetap tidak percaya. Mereka menangis.

“Aku tidak hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat. Tenang, aku masih berjuang dan konsisten dengan idealismeku”

Cukup. Cukup Withu, apa kau tahu, kini orang-orang menggunjingmu, katanya kau kabur ke luar negeri. Hidup mapan, mungkin kau juga dikasih pekerjaan elit di luar negeri, mungkin duta besar, atau pengusaha. Mereka menyamakanmu dengan beberapa kawan senasibmu yang kini sudah bergabung dengan para musuhnya, mereka yang sudah hidup bergelimang harta dan kekuasaan buah perselingkuhan. Mereka tidak diculik, cuma dibina, diluruskan pikirannya, agar mau sama-sama merampas ketenangan rakyat. Atas nama demokrasi. Kaupun seperti itu katanya. Nada-nada sinis tentangmu itu selalu terlontar dari beberapa mulut, terutama mereka yang tidak suka aktivis, seniman, atau gelandangan kreatif dan kritis seperti kita. Mereka bilang para pejabat kita juga dulunya aktivis, tapi kini mereka gemar korupsi dan membeli tanah rakyat. Begitu kata mereka, bahwa perjuangan itu ujung-ujungnya duit.

Tapi, aku katakan bahwa itu tidak mungkin. Aku tahu benar tentangmu, tidak mungkin kau bisa dirayu. Karena bagimu, hidup di antara terjangan peluru dan segel penjara lebih menyenangkan daripada hidup di antara gelimang harta rakyat. Aku tahu, betapa besar cintamu untuk bangsa ini. Kau tak mungkin berkhianat.

Sebagiannya lagi mengatakan kalau kau benar-benar sudah pergi meninggalkan kita, berserah diri pada yang maha kuasa. Mempertanggungjawabkan setiap kata yang kau tulis dalam puisimu. Jika itu yang terjadi, maka kami merasa tenang. Tapi walau begitu, keluargamu belum bisa tenang sebelum mendapatkan kepastian di mana jasadmu, kami ingin mendapatkan tulang belulangmu, apalagi kalau nyawamu direnggut secara paksa oleh tangan-tangan pembunuh saudaramu sendiri.

“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat.  Dan aku masih menulis puisi, mencatatkan kegelisahan ini tanpa terlewat.“

Mana puisimu Withu? Tahukah bahwa puisimu yang terdahulu, yang kata para ahli kurang estetis, kasar, dan tidak puitis, kini telah diakui, dipuji, dibaca oleh siapapun, bahkan menjadi nyanyian para pejuang. Apa kau ingat, bahwa kau pernah menulis, Hanya ada satu kata: lawan!, Hanya ada satu kata: lawan!. Kata-kata itu telah menjadi ideologi, ideologi yang membuat rasa takut musuh-musuh kita. Kata-kata yang membuat bulu kuduk kita merinding dan gigil. Mereka takut, oleh puisi-puisimu, Withu. Sekarang kau bilang masih hidup, dan masih menulis puisi. Mana, mana puisimu, Withu?

Kami rindu puisi-puisimu, puisi-puisi yang menumbuhkan pepohonan di kala kemarau, yang mengalirkan gejolak bagi kemapanan. Sungguh di era kebebasan ini, kami sulit menemukan puisi semacam itu. Puisi kini hanya nyanyian di gelap malam, ketika pagi tiba, ia hilang begitu saja. Kami rindu puisimu Withu, rindu akan kegaduhan, rindu kepalan tinju dan nyanyi perlawanan.

“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat.“

Entah kenapa, setiap bangun tidur. Aku selalu ingin merangkai kalimat-kalimat itu, seolah-olah aku juru bicara Withu. Memastikan keberadaannya, dan entah kenapa jawaban-jawaban itu yang terus kulontarkan. Hanya satu yang kuyakini, bahwa kau dekat, amat dekat dengan kami.***

      2007-2010

NB:

*Judul Buku Pramoedya Ananta Toer

Read Full Post »