Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘bahasa’

ANE DAN ENTE

Dalam keseharian, banyak orang yang lebih senang menggunakan komunikasi popular tinimbang komunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia baku (bahasa yang baik dan benar). Hal itu wajar karena secara pragmatik, bahasa popular lebih banyak dikenal dan dipahami oleh masayarakat secara luas. Bahkan dalam secuil pengalaman yang menimpa saya. Orang-orang kerap heran dan sedikit protes terhadap saya dan kawan-kawan selingkung yang selalu menggunakan bahasa baku. Kedengarannya aneh, kata mereka. Padahal bukankah itu yang diharapkan dari pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah? Kontan, anomali tersebut menggiring saya pada sebuah amatan bandingan. Dalam sebuah komunitas mahasiswa, terutama mahasiswa rohis (kerohanian islam), salah satu sebutan bagi kelompok aktivis islam atau mahasiswa yang akrab dengan lingkungan masjid memiliki tindak tutur yang khas dan unik. Bahasa yang dimaksud adalah bahasa ke arab-araban.

Setidak-tidaknya kata-kata berikut sangat sering diucapkan mereka: Ane, Ente, Antum, Afwan, Ukhti, Akhi Ahwat, Ihwan, Taaruf, Sukron, dan kata-kata lainnya yang meruapakan bahasa Arab yang belum diindonesiakan. Pada konteks tadi, maksud dan tujuan mereka jelas bukan untuk menggunakan bahasa Arab, sebab mereka tidak begitu mampu jika menggunakan bahasa Arab sepenuhnya. Akan tetapi kata-kata tersebut hanya digunakan sebagai bahasa komunikatif popular. Walaupun kadang-kadang digunakan juga dalam forum-forum resmi. Ini tak ada bedanya dengan fenomena anak muda sekarang yang lebih senang menggunakan bahasa gaul atau bahasa prokem.

Sejauh itu, tidak ada yang patut didiskusikan, sebab masyarakat kita memang sudah akrab dengan penggunaan bahasa serapan, alih kode dan campur kode. Terlebih terhadap bahasa asing. Dalam catatan Pusat Bahasa, seperti dilansir dalam “Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia” (1996). Bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa asing terutama Belanda dan Arab. Sebanyak 3280 kata bahasa Belanda diserap oleh Bahasa Indonesia. Sedangkan Arab di peringkat ke-tiga setelah bahasa Inggris dengan 1495 kata. Sedangkan Sudarno dalam “Kata Serapan dari Bahasa Arab” (1990) mencatat ada 2336 kosakata bahasa Arab dalam bahasa Indonesia. Banyaknya kata-kata serapan ini menjadi identitas tersendiri dalam bahasa Indonesia. Ini juga cerminan betapa majemuknya bangsa Indonesia.

Barangkali unik jika bahasa asing ini kemudian mengalami proses pembentukan bahasa baru seperti penggunaan ѐ dalam kata /ane/ dan /ente/. Dari karakteristiknya, pengucapan huruf ѐ adalah modifikasi dari bahasa Melayu dialek Betawi. Dalam hal ini ada interferensi bahasa Betawi. Ane dalam bahasa Arabnya ana (berarti saya), ente; anta (kamu).  Proses yang sama juga banyak ditemukan seperti kata sandal (sandaal; belanda) yang diucapkan jadi sendal,  kata bufet (buffet) jadi bupet  dalam artikulasi Sunda.

Keunikan lain adalah terjadinya kesalahan dalam penggunaan beberapa kata-kata arab baik secara struktur maupun maknanya (konteks). Seperti kesalahan menggunakan kata antum. Kata antum sering ditujukan kepada orang kedua (kamu) seperti pada kalimat “Hey, antum mau ke mana? Padahal dalam bahasa Arab, antum berarti kamu sekalian. Jelas untuk kata ganti (pronomina/isim dhomir) orang kedua. Seharusnya cukup menggunakan anta/anti, yang berarti kamu. Selain kata antum, para aktivis ini juga kerapkali menggunakan kata ikhwan dan akhwat untuk menunjuk pada laki-laki dan perempuan yang berpenampilan islami. Padahal makna aslinya adalah laki-laki dan perempuan saja. Proses ini disebut pergeseran makna ke arah yang lebih sempit atau disebut dengan spesialisasi. Tapi jika dipandang dengan persfektif maknanya, proses ini bisa menjadi ameliorasi yakni pergeseran makna ke arah yang lebih baik daripada sebelumnya. Barngkali inilah nilai dakwahnya. Para aktivis Islam ini berharap dengan penyebutan ikhwan dan akhwat, para mahasiswa diharapkan berperilaku lebih Islami.

Ikhwan dan Akhwat, sebuah Dakwah Kultural.

Di luar kesalahan pada kaidah bahasa, dalam bingkai wacana kritis, adanya komunitas berbahasa kearab-araban tersebut telah memunculkan wacana lain yang lebih bersifat politis. Penggunaan bahasa Arab di lingkungan tersebut telah memunculkan kesan propagandis. Di sini saya melihat adanya strategi budaya yang digunakan oleh kalangan rohis untuk mengajak mahasiswa bergabung dengan kelompoknya. Atau barangkali pada tataran yang lebih mulia adalah upaya mengajak mahasiswa lebih mengenal dan cinta terhadap agama Islam. Sebuah metode dakwah yang cukup brilian saya kira. Meski hasilnya tidak dapat terukur, karena pada realitasnya tidak semua mahasiswa yang taat agama menggunakan bahasa-bahasa tersebut, sebaliknya tidak semua mahasiswa yang kurang berkesadaran iman justru menggunakannya. Sebagai contoh, sebagian mahasiswa yang pernah atau masih menjadi santri di pesantren pada saat mahasiswa justru tidak banyak bergabung dengan kelompok lembaga dakwah tersebut. Mereka pun tidak terlihat menggunakan bahasa arab dalam kesehariannya. Dalam hal posisi dan peran mereka dalam politik mahasiswa juga tidak terlalu menonjol dibandingkan kelompok yang tiba-tiba kearab-araban ini. Kelompok rohis justru lebih cenderung memiliki watak politis yang kuat, mereka tak hanya massif dalam menarik anggota, mereka sanggup merebut kepemimpinan politik di kampus.

Ini yang saya sebut berkesan politis dan propogandis, sebagaimana yang terjadi dalam konteks masyarakat yang lebih luas. Kini sudah menjadi fenomena umum, bahwa orang banyak menggunakan politik pencitraan lewat agama, moralitas, dan norma kesusilaan lainnya untuk mewujudkan ambisi pribadinya. Sekarang begitu mudah bagi kita untuk menyebut seseorang dengan julukan ustadz oleh karena pandai ceramah di televisi. Atau menyebut seseorang baik atau tidak baik dari penampilanya, pemimpin dan bukan pemimpin dari beragam “kosmetik” yang dikenakanya. (Jafar Fakhrurozi)

Iklan

Read Full Post »