Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘bahasa indonesia’

oleh Jafar Fakhrurozi

Di beberapa sekolah, menjelang dilangsungkannya Ujian Nasional (UN), siswa kelas 12 dilatih mengerjakan soal-soal Try Out. Hasilnya tentu saja beragam, dan bisa saja menjadi alat ukur sejauh mana kesiapan siswa dalam menghadapi UN. Tetapi ini mencengangkan, ketika hasil TO menunjukkan bahwa siswa memperoleh nilai kecil pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Padahal dari tingkat kesulitannya, semestinya bahasa Indonesia bisa mengungguli mata pelajaran lainnya.

Hasil buruk telah ditunjukan pada hasil UN tahun 2010 lalu. Di mana dari 75% siswa yang tidak lulus karena gagal dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Berbagai alasan mengemuka. Kesan yang seragam, yakni siswa menganggap enteng Bahasa Indonesia atau belajar bahasa Indonesia tidak menarik, dan cenderung membosankan. Selain itu, dalam menjawab soal, siswa mengaku kesulitan menjawab pilihan ganda. Menurut mereka pilihan jawabannya seringkali menjebak. Siswa banyak terjebak dengan pilihan jawaban yang nyaris serupa. Generalisasi ini tentu saja harus kita investigasi. Apakah betul karena faktor soal, atau memang siswa tidak menguasai pelajaran Bahasa Indonesia?

Mengubah Paradigma

 

Pelajaran Bahasa, sejak kelahirannya memang telah begitu membosankan. Sebagaimana teori linguistik secara umum, kalau bukan untuk direka-reka oleh ilmuwan bahasa, rasa-rasanya kita tak terlalu membutuhkannya. Kasarnya, tanpa huruf-huruf, toh manusia bisa tetap berkomunikasi. Terlebih sebenarnya, bahasa itu bersifat arbiter, mana suka. Kelak, pada tingkat kerumitan peradaban yang paling tinggi, bukan tidak mungkin, manusia menggunakan bahasa sendiri-sendiri, tanpa harus dimengerti oleh sesamanya. Atau sebaliknya, cuma ada satu bahasa digunakan seiring dominasi politik global oleh sebuah negara adidaya.

Di sini yang bisa kita jadikan alasan adalah penguatan identitas dan kebudayaan nasional. Celakanya, era global seakan menegasikan hal tersebut. Toh kini sebagian orang terutama generasi muda semakin jauh dari kesadaran berbudaya terlebih lagi beridentitas nasional. Kini segalanya cenderung bersifat praktis dan pragmatis. Siswa sejak dini sudah bisa menimbang-nimbang mana ilmu yang penting untuk dikuasai sebagai bekal praktis di masa depan. Misalnya program IPA untuk bisa jadi dokter atau teknisi. Kalaupun Bahasa, tentu saja bahasa Inggris yang dipilih. Sudah menjadi rahasia umum, kalau lulusan yang mahir berbahasa Inggris lebih dibutuhkan oleh dunia kerja. Meski ia bekerja di Indonesia dan dalam praktik kesehariannya menggunakan Bahasa Indonesia.

Lebih banyak kelas IPA daripada IPS atau Bahasa, menunjukkan bahwa gengsi IPA lebih tinggi daripada IPS dan Bahasa. Sehingga siswa lebih termotivasi belajar sains (MIPA). Cap kelas IPS adalah kelas buangan kadang masih melekat di benak siswa. Lalu kelas Bahasa? Itupun dibuka kalau memang ada siswa yang berminat. Tentu saja jumlahnya sangat kecil. Siswa yang masuk ke kelas Bahasa ini hanyalah siswa yang benar-benar berminat jadi ilmuwan bahasa/sastra, dan atau hanya ingin belajar bahasa Asing, bukan bahasa Indonesia.

Atas kebutuhan tersebut, kiranya bahasa Indonesia harus diangkat citranya sebagai prasyarat berkehidupan yang bermasa depan. Hal ini tentu hanya bisa direalisasikan dengan usaha komprehensif dan oleh berbagai sektor. Mengembangkan Bahasa Indonesia tidak mungkin hanya mengandalkan pendidikan. Sekolah kini terbukti belum mampu mengajarkan bahasa Indonesia, apalagi memupuk nasionalisme pada siswa. Karena siswa justru lebih cenderung terbuka menerima bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Kalaupun disebut berbahasa Indonesia, siswa lebih nyaman dengan bahasa Indonesia dialek gaul, yang kadang-kadang jauh dari kaidah dan norma bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu bentuk minimnya peran pendidikan dalam menjaga dan mengembangkan bahasa nasional.

Kini seiring bergulirnya program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), siswa barangkali akan semakin melupakan bahasa Indonesia. Terlebih output dari program tersebut adalah dunia internasional. Maka, sebelum bahasa kita benar-benar terkikis, marilah kita memaksimalkan peran semua sektor.

Selain peran dari sektor pendidikan, pemerintah sebagai pemegang otoritas kekuasaan, dapat berperan lebih dengan memainkan sektor politiknya. Sebagai contoh, baru-baru ini pemerintah China menerbitkan aturan terhadap media massa untuk mengganti semua istilah bahasa Inggris ke dalam bahasa China. Sebuah sikap yang cukup kontroversial tentunya. Tapi, ini sikap yang dianggap tepat untuk menjaga bahasa nasional yang semakin kikis oleh bahasa Inggris.  Motifnya jelas. Yakni motif politik. Lebih jauhnya bermakna “memerdekakan bahasa sendiri di negeri sendiri”. Sekarang mari kita lihat Indonesia. Menjelang perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan lalu, sebuah perusahaan pemegang lisensi Piala Dunia melarang media massa di Indonesia untuk menggunakan istilah Piala Dunia sebagai pengganti world cup. Secara etika bisnis, aturan itu wajar adanya. Akan tetapi jika dipandang dari segi independensi politik sebuah negara, yang memiliki bahasa dan budaya sendiri ini sama saja dengan pemasungan. Penjajahan di negeri sendiri.

Melihat minat literer masyarakat kita yang lebih berbudaya menonton daripada budaya literasinya. Kini semaraknya televisi swasta di Indonesia dipastikan mampu menjaring puluhan juta penonton. Dan peluang inilah yang mesti dilihat. Lewat media pembelajaran bahasa Indonesia bisa dioptimalkan. Bahasa Indonesia membutuhkan media sosialisasi yang massif, dan terakses luas oleh masyarakat. Media massa juga mampu memproduksi sebuah bahasa agar diterima dan dipraktikan masyarakat. Proses ini bukan sebuah paksaan tapi pembiasaan. Di sini, peran pemerintah untuk membuat regulasi penyiaran mesti dimaksimalkan.

 

Lebih Praksis

Materi pelajaran bahasa yang dianggap membosankan sebetulnya tidak akan terjadi jika guru mampu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Hal ini juga dapat dijadikan sebagai prasyarat terjadinya kegiatan belajar mengajar yang efektif dan berimplikasi pada hasil pembelajaran. Pembelajaran bermodel praktik barangkali lebih disukai siswa dan lebih ilmiah. Ilmu dipelajari untuk diamalkan. Syarat sebuah ilmu bisa diamalkan adalah ilmiah, artinya dapat dibuktikan sesuai realitas. Dalam konteks ini, pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia ditantang untuk menjawab itu. Bagaimana tingkat keilmiahan pelajaran ini?

Siswa kadang tidak menyadari kalau mempelajari materi surat menyurat, pidato, membuat proposal, berbicara, atau menulis itu sangat berguna dalam kehidupan masyarakat. Siswa mungkin baru menyadari dan merasa butuh kalau pelajaran-pelajaran tersebut dijadikan tuntutan atau syarat untuk menunjang karir. Misalnya untuk menjadi pengacara, da’i dan politisi harus mahir berbicara, untuk menjadi penulis, reporter, dan harus terampil menulis. Menjadi manajer, organisator harus paham administrasi, surat menyurat, proposal. Selain itu, untuk memberi jaminan masa depan bagi pembelajaran bahasa Indonesia, setiap perusahaan mencantumkan  syarat kecakapan bahasa Indonesia bagi calon karyawannya. Bukan hanya mahir berbahasa Inggris atau Toefl. Barangkali contoh-contoh tersebut bisa menjadi jawaban. Inilah yang disebut praktis dan ilmiah.

Pelajaran bahasa Indonesia kiranya bisa memperhatikan kebutuhan tersebut. Kurikulum disusun atas dasar kebutuhan, proses belajar lebih banyak praktik, soal-soal ujian (evaluasi hasil belajar) pun dibuat lebih bernilai realitas. Agar siswa dekat dan yakin bahwa belajar bahasa Indonesia adalah vital. Bukan hanya sebagai bukti sikap nasionalisme tapi juga untuk kehidupan. (Dipublikasikan di Sastra Digital, 21 Mei 2011)

Iklan

Read Full Post »