Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘antologi puisi’

PERTENGAHAN tahun 2009 lalu, ASAS meluncurkan antologi puisi berjudul “Sihir Terakhir” yang ditulis oleh para penyair berjenis kelamin perempuan. Tak ada penyair istimewa dari “Sihir Terakhir”. Dari 23 penulis, kecuali nama-nama seperti Dian Hartati dan Fina Sato yang sudah lumayan akrab di telinga kita, selebihnya, mereka adalah nama-nama yang sangat baru. Mereka serupa benih-benih mawar yang baru ditanam. Tapi betapapun itu, puisi senantiasa mempersembahkan makna yang bisa kita ambil faedah dan manfaatnya. Puisi juga dapat kita baca dengan segala kepentingan. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk membaca dan mengkajinya.
Nenden Lilis Aisyah dalam catatan pengantarnya, memberikan refleksi tentang keberadaan penyair perempuan, yang mana kemunculannya sangat belakangan di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Maka adanya antologi perempuan ASAS ini adalah sebuah kebanggaan sekaligus bukti eksistensi kaum marjinal ini di dunia kesusastraan kita. Naif memang, harus menyebutkan identitas gender dalam antologi ini. Namun seperti kata Nenden Lilis, tindakan pengkontrasan/pembedaan (affirmative action) ini harus tetap dilakukan  selama masih terjadi peminggiran terhadap sebuah kelompok tertentu.
Mengacu pada argumen itu, saya berharap antologi ini tidak sebatas menegastegaskan perbedaan identitas yang dimaksud. Akan tetapi ada semacam horison harapan yang lebih, terutama untuk kepentingan membaca semangat jaman dalam puisi-puisi yang dibuat oleh para penyair mutakhir ini. Terlebih judul antologinya saja “Sihir Terakhir”.
***
Setelah membaca keseluruhan sajak dalam antologi ini, secara umum, puisi-puisi yang disuguhkan berkisar dalam tema kerinduan (cinta), baik pada lawan jenis, teman, orang tua, Sang pencipta maupun kampung halaman. Sajak rindu semacam itu seolah terasa pantas dan pas ditulis oleh kaum perempuan. Dengan cara ungkap yang berbeda-beda, para penyair mempresentasikan kerinduan dengan sangat emosional dan personal. Namun berbeda dengan ekspresi gerakan feminisme dalam sastra yang belakangan ini nyaris seragam, yakni eksplorasi tubuh. Para penyair perempuan ASAS ini lebih memilih “taat” berbudaya. Tak banyak terlihat konsep pemberontakan estetika di sana.
Dalam hal penggunaan aku-lirik, sebagian besar masih terlihat sebagai subjek orang kedua. Padahal, betapa diksi “Aku” memiliki superioritas, kemerdekaan, sekaligus hegemonik. Misalnya, Dalam sajak-sajak kerinduan itu, perempuan selalu mengambil posisi di bawah laki-laki, direpresentasikan dengan perbuatan “menunggu”. Perempuan selalu merasa dirinya menjadi akibat, bukan sebab. Sajak Alfatihatus Sholihatunnisa yang berjudul Kisahku Dimulai dari Namamu dengan lugas menyuarakan hal itu. Selalu jadi semacam rindu yang rapuh/ ketika tak kutemukan kau di tepian hari/ menghilang di balik mesjid/lalu aku akan menunggumu di paruh waktu yang lain/ mengingatmu lewat angin (Sihir Terakhir, 2009). Sajak-sajak kerinduan semacam itu juga ditemukan pada sajak Sauh (Aldika Restu Pramuli), Sajak Kerinduan (Evi Sefiani), Namamu di Puisi (Diah Budiana), Skenario (Evi Sukaesih), Lelaki Penjual Dongeng (Fadhila Romadhona), Rindu Hujan (Ikarisma Kusmalina) juga Pada Sendiri (Ike Ayuwandari) Kau (Maya Mustika).
Tidak semuanya memang, tapi hanya sedikit penyair yang mampu keluar dari jerat subordinasi sosial, ataupun penindasan jender. Dalam sajak Untuk Betara karya Cut Nanda. Terlihat sekali aku lirik-nya berada pada subjek superior. Aku lempari kau jam/kau bukan menghindar:/mengulurkan tangan lalu membalasnya/berlama-lama dengan rindu dulu (Sihir Terakhir, 2009). Hal itu juga terdapat dalam sajak Ikarisma Kusmalina yang berjudul Ketika Kau Menari. Bunyinya: Menarilah kamu di dadaku/ sebelum semua orang mengetahuinya/dan biarlah aku yang merasakan/ :kaki-kaki kecilmu menginjak dadaku (Sihir Terakhir, 2009). Namun berbeda dengan Cut Nanda yang sudah sangat superior, Ikarisma Kusmalina masih menyimpan dilema. Dengan rasa sinis, Ikarisma Kusmalina membuat parodi tentang konflik jender yang selama ini masih berlangsung. Pada akhirnya, seorang perempuan bagaimanapun kuatnya, ia selalu saja mengalah. Contoh lain terdapat dalam sajak Telinga karya Tita Maria Kanita dan Serupa Selat yang ditulis oleh Win Herlya Winna.
Persoalan kemudian adalah, apakah setiap “aku” yang superior itu menunjukkan superioritas yang sesungguhnya? Dalam konteks konflik jender, apakah “aku” tersebut sudah merdeka? Untuk menjawabnya mari kita baca sajak Oka Rusmini yang berjudul Patiwangi. Bunyinya: Inilah tanah baruku/ mata air menentukan hidupnya/ ikan-ikan memulai percintaan baru/ batang-batang yang menopang daun-daun muda/ membuat upacara penguburan// telah kucium beragam bunga/ dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah/ suara genta menyumbat mata angin/ tak mampu mengantar dewa pulang// kubuat peta di Pura/ Puta/ mengantar warnaku pada silsilah matahari/ bumi mengeram, tanah memendam amarah/tak ada pecahan suara/ menyelamatkan warnaku// para lelaki menantang matahari/ penunggu warga perempuan pilihannya/ tak ada upacara untuknya di setiap sudut Pura// para pemangku hanya mencium bangkai dupa/ terlalu banyak dewa yang harus diingat/ dan para lelaki terus meminang// karena namaku/ kuharus punya sejarah upacara// anak-anak/ kelak kumandikan dari pilihan ini. (Patiwangi, 2003)
Jelas sekali bagaimana Oka Rusmini memerdekakan aku dari segala aspek penindasan. “Aku” dibiarkan terbang melayang. “Aku” menjadi muasal dan akhir perbuatan. “Aku” menjadi sebab, bukan akibat. “Aku” yang berani berbuat dan mengambil keputusan. “Aku” semacam itu jelas punya otoritas yang superior, ideologis. Aku lirik tersebut memang berpeluang menjadi hegemonik, karena aku menjadi pusat pemaknaan, tetapi sebagai upaya perlawanan, aku semacam itulah representasi strategi yang dimaksud Foucault dalam melawan ketidakadilan, sebagaimana dikutip Nenden Lilis dalam pengantar antologi.
Di luar segi gaya ucap, atau teknis kebahasaan lainnya, para penyair telah berhasil membangun makna yang utuh. “Sajak Bahtera” karya Dian Hartati menggambarkan kehidupan getir yang dialami oleh kaum perempuan. Oleh karena itu, menurut Dian, “tempat berlabuh yang aman adalah tubuhku.” Sebuah sikap egois yang wajar di tengah sistem sosial yang tak aman bagi kaum perempuan.
Selain soal hubungan batiniah antara perempuan dan laki-laki, ada beberapa sajak yang mengajak kita untuk kembali meresapi perasaan kita terhadap orangtua. Seli Desmiarti dalam sajak Surat untuk Bunda dan Salam untuk Bapak berhasil melukiskan rasa cinta yang begitu mendalam terhadap orang tua. Selanjutnya, ada beberapa sajak yang coba menggambarkan realitas sosial yang terjadi di perkotaan, seperti dalam sajak Winarni R, dengan judul Antapani 170509.  Penyair muda berbakat, Fina Sato lebih memilih untuk berbagi dan bersilaturahmi dengan kawan-kawannya. Elli R Noer, sebagaimana mimpinya, menjadi “Joko Pinurbowati”, ia masih bermain dengan parodi yang lumayan menyegarkan. Terakhir, tentu saja masih banyak yang belum terbahas. Akan tetapi ulasan di atas saya anggap telah mewakili isi dan narasi “Sihir Terakhir”. Dan kesimpulan saya, tentu saja bukan syair terakhir dari mereka. “Sihir Terakhir” bukanlah sebuah fatwa yang mesti diimani. Kata “Terakhir” tidak menunjukkan makna yang sesungguhnya melainkan awal dari terakhir-terakhir berikutnya. Dan tiada akhir untuk berproses. Selamat tanam benih-benih mawar Bumi Siliwangi.*** (Desember 2009, Jafar Fakhrurozi)

Iklan

Read Full Post »