Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Puisi’ Category

Sesiahan

bulan masih terlihat tenang. padahal mimpi-mimpi tengah bergejolak, meluap dari ranjang malam. seperti laut di penghujung musim, selalu merindukan korban. dan lagu lipanglipangdang akan segera melaung. itukah? duh aku sedang gamang, sayang. sedih, kelu, dan gigil.

aku masih ingat tembang seminung, yang kau tiupkan di sela-sela gaung, di antara jerit angin dan gelombang. di atas kapal yang lusuh, sungguh, asaku membumbung. ingin segera kutinggalkan rumah keluhkesah ini, menuju tanah-tanah miskin silsilah. biar sepi, tak peduli. bukankah silsilah baru harus dimulai? silsilah yang bersih dari darah penjarah. lalu di beranda rumah, akan kita tanam bambu dan palawija. agar kita tidak lupa, bahwa sebagian dari darah kita adalah keringat para inlander. di belakang, kita bangun sarang walet. agar senantiasa awet ingatan kita, pada kepak burung dan cericit pagi. di mana kabar akan datang mengisahkan perjalanan yang sunyi.

dari balik bilik ini aku berbisik, bahwa aku mencintaimu lebih ramai daripada dermaga. lebih sunyi daripada subuh. inikah sesiahan seperti yang kau maksudkan? jika iya maka akan kulabrak ia.

tapi jarak, ibarat arak-arakan angin di laut lepas. dan sebuah sore akan datang menjemput layang-layang yang kukembangkan. kita, bisa jadi: hilang ditelan remang.

tunggulah, aku ikhlas meninggalkan kota yang telah tanggal sayapnya ini, bila harus, akan kugenapi sebambangan itu. akan segera kutambatkan kapal di ujung malam, kutancapkan nasibku di dermaga. kukibar layar di pucuk telunjuk. dan kubentangkan laut untukmu.

Jakarta, 2009
Sesiahan: Budaya berpacaran di daerah Lampung dan Sumatera bagian selatan. judul cerpennya Wira Apri Pratiwi

Read Full Post »

PULANG KAMPUNG

aku selalu rindu kampung
rindu rumah dan sangkar walet
sepasang sahabat yang teduh
kami karib setiap kali hujan

aku selalu rindu sawah
rumah bagi segala gundah
anak-anak lumpur yang galau
menangis tersengat semut api

aku rindu irama malam
riang anak-anak mengaji di surau
anak-anak qur’an yang lugu
melantunkan nyanyian malam

ah, aku benar-benar rindu
memutar lagu-lagu itu

Am, 2008


ANTARA ISTIQLAL DAN KATEDRAL

antara istiqlal dan katedral
aku mematung di hitam kali ciliwung
melafalkan zikir atau nyanyi kemanusiaan
sebagaimana yang kudengar kala subuh
serta denting lonceng di ceruk pagi

dapatkah aku pahami
seumpama banjir menyapu kota tua ini
sekejap melenyapkan baris tangis di sini

begitulah, antara istiqlal dan katedral
aku senantiasa bermimpi
menjadi gerimis yang lembut
menyirami taman kelelahan zaman

Am, 2008

TAMAN SUROPATI

aku melamun di sini bersama dengkur merpati
memasuki halaman gedung berpagar langit
merebut senapan dari sangkur penjaga
menyelinap senyap ke kamar-kamar amarah
menyimpan bom di bawah ranjang obama
lalu meledaklah, binasalah segala luka dunia

di taman suropati ini aku telah berjanji
untuk membangun puing-puing mimpi
dari negeri yang dipapah tangan penjarah

Am, 2008


DI PUNCAK MONAS AKU INGIN TERJUN

berdiri tegak di puncak monas
aku seperti pangeran di punggung luka
menjaga mahkota emas yang cemas
maka dari puncak monas aku ingin terjun
ke dalam lautan tangis ciliwung
menyelami senyum gubuk-gubuk papa
yang dipajang indah di museum hujan
kita pun basah menakar nasib yang raib
di hutan kota metropolitan

di jari-jari ciliwung
anak-anak murung memulung puntung
tangan-tanggan yang berlimbah
tubuh-tubuh yang berselimut sampah
serta mata yang selalu terbelalak
selalu terjaga, barangkali maut luput
dalam lengah langkah kami

dari menara cemas ini
aku ingin meghitung setiap kelok jalan
melingkar-lingkar bagai ular yang lapar
melahap semua yang terlelap waktu
menabur racun di sekujur tubuh ibu
ibu dari segala kota yang terluka

kematian adalah mimpi paling nyata
dari abad yang kian entah
sedang aku menunggu saatnya tiba
saat tugu ini runtuh diamuk waktu

Am, 2008

Read Full Post »

Seseorang yang Berjalan Tengah Malam

pada malam yang runcing
seseorang mengusung hutan di punggungnya
berjalan dari kota ke kota
berhenti di setiap jalan yang terbelah
menggelar kusut wajahnya
dan membiarkan tubuhnya menjadi mangsa
lelehan larva kota di sepanjang malam

ia mengingat-ingat jalan yang hilang
menyesali waktu yang terbenam di kakinya
kota ia telah lama jadi bara
matahari tumbuh di setiap rumah
bapak-bapak mencangkul limbah di balik beton
ibu-ibu menjemur dada di bibir pabrik
dan anak-anak menggembalakan mimpi
di kubangan asap yang pengap

sementara malam terus merambat
adakah pilihan tentang hari dan esok pagi
kecuali bermimpi barangkali kelak,
ada sungai yang merambat ke hulu
dan menghantam balik kota mereka

Am, 2009

Orang-orang Kardus

tubuh-tubuh kardus yang tirus
terus berlari memutar malam
meracik rincik hujan
jadi dendang tengah malam

berhentilah sejenak
tlah kugelar selembar teras rumahku
berbaringlah selayaknya nyawa
maka lupakan sejenak
huru-hara waktu di hatimu
biarlah ia pulas ditating mimpi

kelak saat subuh rubuh
kita longok kebun di jauh bukit
sepetak kebun
jauh dari nyeri dan rasa sakit

Am, 2009

Malam di Cikapayang

sebelum subuh jatuh di punggungku
aku menggambar angin di desir malam
mencoreti ceruk trotoar yang lapar

taman cikapayang
bising oleh nyanyian perlawanan
kami dendangkan dengan hidmat
sesekali mencibir para musafir
atau mengumpat mualaf negeri

negeri kami serupa lautan kenalpot
berpusing di cemas perempatan
merah kuning hijau di kebun hatiku
tak pernah jadi mawar yang merekah
atau juga anggrek yang solek

hidup ada dalam satu dua pilihan
terpanggang api heroik
atau beku dalam hujan yang tragik

Am, 2009

Secangkir Kopi di Suropati

kupu-kupu liar
siar dari jalan ke jalan
patah dan berpusing di taman

ke taman suropati aku menepi
merasakan gigil jalan
gemeretak gedung-gedung
menghimpit linglung langkahku

pada secangkir kopi
aku ingin menyimpan mimpi
biar tumbuh di tubuhku
pulau-pulau tanpa cerobong asap
langit-langit tanpa lubang hitam
tanah dan laut tenang terbentang

Am, 2009

Layang-layang

aku kembangkan layang-layang
di atap magrib
menyusuri mega-mega hitam
ada gambar wajah kita
kuyup dibius malam

layang-layang terbang
diombang-ambing malam
bocah, janganlah kau menunggu
sebab benang terus terulur
jauh membumbung
barangkali kita lupa
jarak kematian kita?

Am, 2009
Surat Malam

kusematkan lelahku pada setiap alamat
namun jalan-jalan raib. hanya magrib
terpasang usang pada kopiah bocah-bocah
aku mencarimu dalam larik-larik sengal
dilantunkan kakek, ketika subuh surup
aku seperti diinstal ajal-disayat sekarat
tubuhku dipenggal jadi baris huruf-huruf
kata-kata dimutilasi, dan aku merasa entah
di manakah lagi rumah bagi para pejalan?

Am, 2008

Malam-malam Menyusun Matahari

tidakkah salah, kami menyusun matahari
pada setiap malam yang penuh cemas
walau sudah sayup dan mengatup
mata ini ingin terus berbincang, sayang
bahwa api terus berkecamuk di negeri ini
tunggulah esok, sebongkah anak-anak sunyi
sedang siap-siap, berkemas dan berbaris
juga berebut terik matahari. revolusi!

Am, 2008

Revolusi Itu

apa yang liar di matamu, tepikanlah
sampai tubuh ini berhenti berguncang
sebab malam-malam hanyalah lengang
pergi memburu mimpi di telaga pagi
tempat luka-luka merangkai bom waktu
kelak meledak di tubuh kita, hanyalah
puing-puing yang tak sempat dicatat
sebagai rencana atau masa lalu
namun, begitulah nyanyi revolusi
adalah bom yang sunyi, mencari ibu waktu
tempat kita berteduh dan bersandar

Am, 2008

Kantata Pagi

ada yang diam-diam bernaung di saung hatiku
adalah pagi yang terus berkecamuk
merenung murung meremas ulu hati
tahukah, betapa kini aku merasakan rindu yang luap
rindu nyanyian ibu di sela gelap
yang tak kujumpai di lebat keramaian ini
sungguh, di perjumpaan waktu
aku ingin mencipta nada pada kantata pagi ini
dan menyanyikan tembang kepenatan

Am, 2009

Read Full Post »

Subuh adalah Ibu dari Kelelahan

di setiap persinggahan malam
aku seperti pulang ke kampung kelahiran
memahami subuh sebagai ibu dari puluhan tebing waktu
subuh memberi batas usia pada setiap keasingan
aku pun merasa senang meminang matahari
di sebuah surau yang parau suaranya
sambil membina pagi yang tak kunjung sepi

di sini adzan seperti lagu putus cinta
setiap larik syahadat adalah amsal para pemimpi
dan kita tak lekas bangun mengemas kelelahan
kita malah puas merawat kekalahan

aku memahami subuh sebagai pelabuhan
di mana kita istrirahkan kegagalan
lalu dalam hitungan rakaat angin
kita harus segera berpamitan
berjabat tangan dan lekas berangkat
mengaji matahari di tepian hati
menanam rembulan di ladang-ladang perjalanan
menuju pelaminan di kesehajaan rumahmu

2006

Read Full Post »

Malam-malam Gambus

DAF

semalaman, aku dilantuni gambus
meski harus pening ulu hatiku
diaduk kantuk dan dihajar lapar
tapi gambus gundono, katamu
mengingatkan kita tentang kehidupan
pada sebuah kota di tengah pasar
di mana, di sini nyawapun digelar
dengan harga sekedar
dan tangis, berbaris bagai pemudik
mengusung malam pada mimpi yang pelik

semalaman, kita khusu meramu alamat
memainkan jemari di lekuk tubuh ibu
sambil berharap, hujan datang di sela subuh
meluapkan sumur-sumur kerontang
:pelbagai penantian

menjadi manusia, katamu
bukanlah membuat puisi yang sunyi
tapi traktat yang meloncat ledak
seperti lantunan gambus gundono
berloncatan liar ke luar pagar
menyeruak tabir di luas cakrawala

Jakarta, 2009

Read Full Post »

Taman Lawang

:Ihung

sudah kuputuskan
hidup di antara jalanan sobek
lebih baik tinimbang
hidup linglung di kampung

sebab aku ingin keresahan
menumpuk sampah di ujung penaku
menulis segala yang malang

seperti malam di sampingku
gadis-gadis berjejer di buai rel
di sela-sela dada mereka
rembulan tersembul
adakah wajahmu di sana?
tersenyum manis sepanjang malam

inilah semua ketakutan itu
pernah tergambar di bangku-bangku suram
masa lalu. tentu tak ada dalam buku-buku

tapi biarlah
aku akan renta di persimpangan
setia menghitung kemungkinan
sampai hujan kering,
dan tanah tak lagi butuh peziarah
lupakanlah!

Cianda-Jakarta, 2009

Read Full Post »

Malam di Salemba

di kamar sempit, kotor dan bau
kami menyusun waktu
membangun jalan-jalan dan jembatan
kelak mungkin rel dan landasan pacu
semua haru biru, dalam catatan sakuku

besok kita berjalan sendiri-sendiri ya
aku ke sana, kamu ke sini, dan kalian ke?
kita menanam jalan, jalan memandu langkah
langkah kita yang tergesa—selalu begitu

akankah kita terus curiga
bahwa hidup serupa musim
dan kita bayangkan, daun-daun gugur
berserak di ranjang, semalaman
aw, alangkah celaka mimpi kita

mari, kita kemasi prahara ini
hidup tak lebih dari dua pilihan
dan kamar ini, hanyalah awal
dari sekian ketakutan

2009

Read Full Post »