Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Esai Sastra’ Category

oleh Jafar Fakhrurozi

Gerakan feminis di Indonesia dapat dikatakan telah mencapai pada tahap yang menggembirakan. Kenyataan bahwa ranah publik telah terbuka bagi kaum perempuan adalah sebuah bukti keberhasilan gerakan kaum feminis. Walaupun demikian, pada ranah domestik, persoalan gender ini tidak mungkin usai di tengah sistem patriarki masyarakat Indonesia yang telah berkembang demikian lama. Ditambah, bila dihubungkan dengan agama, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, gerakan feminis seolah berada dalam ambivalensi. Misalnya dalam perkara domestik, mengurus rumah tangga, masyarakat masih membedakan peran gender. Di mana suami, sebagai kepala keluarga masih dianggap sebagai pencari nafkah (ranah publik), sedangkan istri mengurusi rumah tangga (domestik). Hal ini tentu diperkuat atas kesadaran beragama masyarakat Indonesia, di mana pembagian peran tersebut diatur oleh Islam.

Dalam cerpen “Anak Bapak” karya Damhuri Muhammad yang dimuat dalam surat kabar pikiran Rakyat, 21 Juli 2007, konflik peran gender sangat jelas diperlihatkan pengarang. Cerpen “Anak Bapak” menceritakan kehidupan rumah tangga yang dipenuhi konflik. Konflik disebabkan oleh perbedaan penghasilan antara suami dan istri. Tokoh istri diceritakan sebagai wanita karir yang sangat sibuk, memiliki penghasilan yang jauh lebih tinggi dari suaminya. Kondisi tersebut mengakibatkan istri tidak sempat mengurus anaknya, sebalimnya suaminya yang mengasuh anaknya. Tokoh bapak yang miskin itu dilukiskan oleh pengarang sebagai pribadi yang mengalami krisis identitas. Karena si istri yang bekerja, lalu tokoh bapak dilukiskan sebagai ibu atau istri yang harus melakukan kerja-kerja seorang istri. Secara radikal, bahkan pengarang mendeskripsikan tokoh Bapak memiliki fisik seperti perempuan. Ia memiliki payudara dan menetekkan susu kepada anaknya.

Lalu gundukan daging kedua belah dada bapak berangsur-angsur mengembang. Seperti ada yang bergerak dan menyentak hendak menyembul keluar, hingga kedua bulatannya menegang dan membesar serupa balon ditiup pelan-pelan. Begitu juga putingnya, makin mekar. Montok serupa buah kelimunting matang. Kenyal dan setengah basah. (Muhammad, 2007)

Dengan bahasa yang verbal dan erotis, pengarang mencoba memberikan penguatan suasana dan karakter agar tokoh bapak yang menjadi ibu secara psikologi kuat. Dengan dekripsi identitas seksual demikian, tokoh bapak sudah betul-betul merasa jadi seorang ibu. Cerpen Damhuri ini mengajak pembaca untuk memutar otak, semacam mengajak berdiskusi, apakah ia sedang merayakan kemenangan gerakan feminis, atau ia justru sedang mengugat gerakan feminis, atau ia sedang merekonstruksi konsep maskulinitas sebagaimana yang dipaparkan Mina Elfira dalam kajiannya terhadap novel Vasilisa Maligina karya A.M Kollontai?

Negosiasi Identitas Gender
Dalam tulisan “Vasilisa Maligina karya A.M Kollontai: Sebuah rekonstruksi atas konsep maskulinitas Rusia” yang dimuat dalam Jurnal Wacana volume 10 No.1 April 2008, dipaparkan tentang upaya rekonstruksi konsep maskulinitas tradisional Rusia yang berbasiskan budaya patriarki. Gagasan rekonstruksi tersebut dilakukan oleh pengarang A.M Koolontai melalui tokoh Vasilisa Maligina yang dilukiskan sebagai seorang perempuan (istri) yang lebih superior dari suaminya, terutama di ranah publik.
Kiranya gambaran tersebut juga dapat dilihat dalam cerpen Damhuri. Di Indonesia, fenomena istri yang bekerja melebihi suaminya barangkali baru kita jumpai dalam beberapa tahun belakangan ini. Di mana gagasan feminisme telah diterima oleh masyarakat. Wanita karier, biasa kita menyebutnya, adalah sebuah gugatan atas realitas yang berlaku dalam masyarakat konservatif termasuk sistem patriarki.
Cerpen Damhuri ini tidak hanya membuka realitas kekinian, tetapi juga mencoba melakukan gugatan terhadap pandangan-pandangan maskulinisme. Bahwa urusan rumah tangga adalah ranah domestik. Konflik di ranah domestik tersebut adalah sistem patriarki. Pihak laki-laki (suami) terlanjur melegitimasi dan menikmati sistem patriarki. Ia masih berpandangan bahwa perempuan harus lebih banyak mengurusi rumah tangga termasuk mengasuh anak. Sedangkan si isteri, adalah stereotip perempuan feminis dalam konsep feminisme. Pencapaian karir yang lebih tinggi daripada laki-laki membawanya pada posisi dominan. Sehingga ia merasa tidak pantas disubordinasi laki-laki. Ia pun secara tidak sadar lebih maskulin daripada laki-laki. Sehingga pekerjaan mengasuh anak bukan lagi urusannya. Menurut Barker dalam Nasir (2007), maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai-nilai, seperti kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan laki-laki, dan kerja. Di antara yang dipandang rendah adalah hubungan interpersonal, kemampuan verbal, kehidupan domestik, kelembutan, komunikasi, perempuan, dan anak-anak.
Dalam cerpen Damhuri, konsep maskulinitas ini jelas masih dianut oleh tokoh bapak. Walaupun tokoh bapak identitas seksualnya berikut peran gendernya dilukiskan sebagai istri, juga peran tersebut terkesan sudah diterimanya, tetap saja ia ingin disebut sebagai suami yang harus dipatuhi isterinya.

Aku laki-laki. Suamimu. Harus patuh kau padaku. Ngerti? (Muhammad, 2007)

Ketidakberterimaan tokoh Bapak adalah bahwa ia harus juga dilabeli gender sebagai istri. Padahal bila hanya melaksanakan tugas mengasuh anak, ia telah menerimanya. Artinya, ketika seorang suami menerima tugas yang selama ini disematkan pada perempuan, bukanlah sebuah masalah, karena tokoh Bapak mengakui bahwa dirinya subordinat dalam urusan mencari nafkah dibandingkan isterinya. Akan tetapi bila statusnya sebagai suami direndahkan, ia tetap menolak. Di sini terlihat bahwa pelabelan identitas sosial di mana suami adalah kepala keluarga, dan istri harus patuh kepada suaminya, tampaknya masih menjadi wacana yang harus dilestarikan oleh laki-laki. Hal ini terjadi karena identitas sosial ini secara turun temurun diwariskan dari masa ke masa. Apalagi bila dihubungkan dengan referensi agama.
Di dalam hal ini, identitas gender hanyalah soal pelabelan sosial saja. Identitas gender sebagaimana dikatakan Barker dalam Nasir (2007) bahwa yang menentukan sifat perempuan atau laki-laki adalah kebudayaan. Hal ini juga dikatakan oleh Oakley dalam Mina Elfira (2008), bahwa gender dikaitkan erat dengan norma-norma budaya yang berlaku dalam klasifikasi sosial dari laki-laki dan perempuan dalam suatu masyarakat. Budaya patriarkilah yang memproduksi wacana gender. Menurut Pyke yang ditulis ulang oleh Muhadjir Darwin (1999) dalam esai “Maskulinitas: Posisi Laki-Laki dalam Masyarakat Patriarkis” dijelaskan bahwa ideologi patriarki meliputi: Kesepakatan-kesepakatan sosial yang sesungguhnya hanya menguntungkan kepentingan kelompok yang dominan cenderung dianggap mewakili kepentingan semua orang; Ideologi hegemonis seperti ini merupakan bagian dari pemikiran sehari-hari cenderung diterima apa adanya (taken for granted) sebagai sesuatu yang memang demikianlah semestinya; Dengan mengabaikan kontradiksi yang sangat nyata antara kepentingan kelompok yang dominan dengan kelompok subordinat, ideologi seperti ini dianggap sebagai penjamin kohesi dan kerjasama sosial, sebab jika tidak demikian yang terjadi justru suatu konflik.
Hal ini senada dengan pendapat Mina Elfira (2009) bahwa patriarki dilihat kaum feminis bukan sebagai sebuah penjelasan terjadinya bentuk penindasan atas kaum perempuan, namun lebih sebagai sebuah masalah yang menyebabkan terjadinya bentuk penindasan tersebut.
Penerimaan peran suami sebagai pengasuh anak adalah bentuk negosiasi identitas gender yang dilakukan seorang suami. Karena sebagaimana dikatakan Pyke, dengan mengabaikan kontradiksi gender, tindakan damai ini berhasil mencegah konflik, sebaliknya menciptakan kerjasama sosial dalam keluarga.
Selain isu gender dalam sudut pandang patriarki. Dalam cerpen “Anak Bapak” juga disentuh masalah pertentangan kelas sosial yang menyebabkan terjadinya konflik peran gender antar suami dan isteri. Diceritakan bahwa tokoh isteri yang lebih mapan karena pekerjaanya, lebih dapat menyenangkan hati si anak karena ia sering memberi anaknya barang-barang yang bernilai ekonomis dan sering mengajak anaknya ke mal. Sedangkan suaminya hanya bisa mengajak anak ke kebun binatang.

Sudah besar anak bapak rupanya. Sudah bisa bilang bapak nakal, bapak jahat. Kenapa tidak mau jalan-jalan sama bapak? Pinginnya sama Ibu terus ya? Memang menyenangkan kalau sama ibu. Tiap akhir pekan diajak main ke mal. Beli mobil-mobilan, robot-robotan, pedang-pedangan, pistol-pistolan. Sampai-sampai kau kecanduan ke mal. Bapak memang bisanya cuma ngajak Dedek lihat gajah, buaya, burung, ikan, dan angsa di kebun binatang. Jalan-jalan sama Bapak tidak pernah jajan ya? Ah, bapak memang jahat, nakal, pelit. (Muhammad, 2007)

Damhuri sebenarnya menghadirkan kritik terhadap budaya hedon dan konsumeristik ala si Isteri. Dalam realitasnya, banyak orangtua yang mendidik anaknya dengan cara pragmatis. Asal anaknya senang, orangtua rela mengikuti apapun keinginan anaknya. Dalam cerpen tersebut sikap anak yang lebih senang terhadap ibunya, semakin mempertegas kekalahan tokoh Bapak. Kini konflik gender semakin lengkap dengan kekalahan kelas sosial tokoh Bapak dibanding isterinya.
Dalam terminologi materialisme Karl Marx, yang menentukan sejarah bukanlah politik, tetapi ekonomi. Konsep ini membagi masyarakat dalam kelas-kelas sosial berdasarkan ekonomi. Kelas atas cenderung menindas kelas bawah. Kelas sosial ini hadir di ranah publik. Di dalam hal ini, tokoh isteri memenangkan pertarungan di ranah publik dibandingkan suaminya. Sehingga ranah domestik kian pantas disematkan pada suami. Kondisi ini tak hanya menimbulkan konflik peran gender, tetapi konflik batin dalam diri tokoh Bapak.

Menurut Myers dalam tulisan Meutia Nauly (2002) yang berjudul “Konflik Peran Gender pada Pria: Teori dan Pendekatan Empirik,” peran gender merupakan suatu set perilaku-perilaku yang diharapkan (norma-norma) untuk laki-laki dan perempuan. Bervariasinya peran gender di antara berbagai budaya serta jangka waktu menunjukkan bahwa budaya memang membentuk peran gender. Budaya masyarakat Indonesia yang konsumtif dan hedonis memenangkan peran gender bagi si isteri.
Tampaknya apa yang disampaikan Naomi Wolf dalam buku Gegar Gender (1997) bahwa distribusi kekuasaan akan memunculkan ketakutan dari kaum pria, kini terjadi. Tokoh Bapak sadar betul bahwa ketika terjadi distribusi kekuasaan secara merata antara pria dengan perempuan, maka ia beranggapan perempuan mendominasi akan pria dan saat yang ber samaan muncul kesadaran perempuan bahwa mereka mendominasi pria.
Situasi ini yang ingin disampaikan Damhuri. Bahwasanya wacana feminitas vs maskulinitas tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru malah menimbulkan persoalan baru. Damhuri barangkali tidak sedang mendukung salah satu faham, akan tetapi sebagai sastrawan ia mencoba mengajak pembaca untuk peka terhadap persoalan gender yang terus menggurita dalam kehidupan masyarakat.

Daftar Pustaka
Elfira, Mina. 2008. “Vasilisa Maligina karya A.M Kollontai: Sebuah rekonstruksi atas konsep
maskulinitas Rusia” Jurnal Wacana volume 10 No.1 April 2008. Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Meutia Nauly. 2002. “Konflik Peran Gender pada Pria: Teori dan Pendekatan Empirik.“
Fakultas Kedokteran Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara
Muhadjir Darwin.1999. “Maskulinitas: Posisi Laki-Laki dalam Masyarakat Patriarkis.”
Center for Population and Policy Studies, Gadjah Mada University. Edisi S.281, June 24, 1999.
Muhammad, Damhuri. 2007. Anak Bapak. Pikiran Rakyat edisi 21 Juli 2007.
Syar’an, Nasir, (2001). Maskulinitas dalam lklan Gudang Garam: Analisis Semiotik atas
lklan Gudang Garam. Skripsi (tidak diterbitkan) pada jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM, Yogyakarta.
Wolf, Naomi. 1997. Gegar Gender. Yogyakarta: Pustaka Semesta Press.

Read Full Post »

oleh Jafar Fakhrurozi

Membaca tulisan saudara dosen Aprinus Salam (AS) yang berjudul Sastra dan Penafsiran Ideologis di Jawa Post, Minggu (09/11), di mana di mata AS, kajian-kajian sastra kini seakan menjauhkan diri dari kacamata ideologis. Hal itu dianggap kontraproduktif  dengan realitas sosial Indonesia yang dilanda berbagai krisis. Dari sana saya membayangkan bahwa para ilmuwan sastra kita masih berpersoalan dalam cara berfikirnya. Apalagi di era kebebasan seperti sekarang, setelah kebebasan berideologi kita direnggut orde baru, kinilah saatnya kaum intelektual merayakan kebebasan berideologi demi terciptanya diskursus konstruktif bagi bangsa.

Kita semua resah dengan kondisi bangsa kita dewasa ini, terlebih dunia intelektualitas kita yang asyik masyuk dengan dunianya sendiri, bahkan diperbudak oleh arus besar kapitalisme. Hemat saya, apa yang disampaikan oleh AS tentang minimya kritik sastra ideologis cukup beralasan. Sayangnya AS kurang menyertakan data-data untuk mendukung pemikirannya. Namun wacana tersebut kiraya menarik untuk diperdebatkan. Sebagai seorang akademisi, AS mungkin menjumpai secara empirik apa yang terjadi di lapangan akademis. Kita tahu, bahwa sedikit jurusan sastra yang sudah memperbaharui materi kurikulumnya. Kurikulum yang dimaksud adalah teori dan kajian sastra mutakhir seperti teori pos-strukturalisme, cultural studies, dan sebagainya.

Kajian sastra selama ini masih berkutat dari wacana positivisme, kaku, dan sempit. Bahkan menghindarkan dari konteks sosial yang semakin genting dan absurd. Ilmu pengetahuan dipelajari hanya untuk kepuasan berfikir serta keuntungan individu semata. Di Indonesia banyak sekali ilmuwan seperti itu. Termasuk di dunia sastra. Banyak ilmuwan sastra kita yang mencari “selamat”. Alih-alih bersikap netral, mereka malah ikut arus dunia yang menyengsarakan bangsa. Apa yang disebut netralitas keilmuan adalah sebuah jalan aman yang menyesatkan. Padahal idealnya sebatas itu ilmiah, sastra sebagai ilmu seharusnya mesti liar dan menjelajah seluruh sendi kehidupan. Bukankah begitu yang dilakukan para penemu peradaban dahulu. Bagaimana Alfa Edison dicap gila sebelum menemukan listrik, Galileo yag dihukum mati lantaran bilang bumi itu berputar mengelilingi matahari. Pramoedya AT dibui karena banyak mengkritik pemerintah dalam karya-karyanya. Keliaran itu yang justru melahirkan peradaban baru yang berguna untuk alam semesta.

Dunia akademis kita seperti alergi terhadap dunia ideologi. Sebagai contoh, pengalaman di jurusan saya. Waktu saya mengajukan usulan penelitian skripsi tentang kajian novel dengan menggunakan pendekatan teori sastra Marxis. Ternyata usulan saya ditolak dengan alasan yang kurang ilmiah, di mana jurusan belum siap untuk melegitmasi kajia-kajian “kiri’ seperti kritik sastra Marxis. Saya heran, kok di jaman yang sudah demokratis masih ada yang ketakutan untuk belajar. Sebuah alasan yang tak masuk akal.

Ternyata di beberapa kampus lain pun masih alergi terhadap kajian sastra kritis. Fakta tersebut kontan membuat saya pesimistis dengan perkembangan sastra di Indonesia. Apalagi pembelajaran kajian sastra kita hanya mengandalkan kampus.

Kondisi lebih parah ditemukan di kampus-kampus pencetak guru dan eks IKIP, di mana dalam kegiatan pembelajaranya, substansi keilmuannya sendiri kurang diperhatikan. Kampus seakan tidak serius membekali mahasiswanya. Kuliah di jurusan bahasa dan sastra indonsia tidak lebih dari sekedar belajar menjadi guru tapa harus dibebani untuk mendialektiskan teori-teori bahasa dan sastra yag sudah ada. Akibatnya guru-guru bahasa dan sastra yang dihasilkan bukanlah guru-guru yang kritis dan berwawasan tinggi tentang bahasa dan sastra, melainkan guru-guru yang hanya akan meneruskan tradisi mengajar textbook dan tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk menggauli dan memfilsafatkan ilmu-ilmu bahasa dan sastra.

Di luar akademis, kondisinya tak jauh beda. Sedikit sekali para kritikus sastra kritis yang tampil di koran atau buku. Hal itu juga disebabkan oleh minimnya karya-karya yang kritis atau ideolois. Setelah era pramoedyaananta toer, kita tidak banyak menjumpai sastrawan ideologis. Dari sekian nama sastrawan serta kritikus mapan seperti Sapardi Djoko Damono (UI), Maman S Mahayana (UI), Faruk HT (UGM), Suminto A Sayuti (UNY), Abdul Wachid BS (Unsoed) serta Rachmat Djoko Pradopo (UGM), adakah yang punya pandangan-pandangan ideologis?

Pascakemenangan kelompok Manikebu, perkembangan sastra kritis mengalami hambatan yang besar. Sastra berideologis seakan barang haram untuk dibaca dan diikuti.  Seperti disebutkan oleh Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta, bahwa berbagai pengertian mengenai sastra bertujuan seperti di atas, khususnya sastra ideologis dan sastra propagandis, lebih banyak dikaitkan dengan pengertian negatif (2005:379). Lebih lanjut dijelaskan bahwa sifat negatif itu dikarenakan sastra ideologis lebih banyak meninjau fungsi dan manfaat karya dengan sudut pandang tujuan, sehingga mengorbankan hakikat karya sebagai rekaan,baik sebagai kualitas estetis maupun studi cultural. Lebih ekstrim lagi sastra ideologis dikaitkan degan ideologi marxis.

Pendapat NKR tersebut seolah melakukan pembenaran. Pertanyaannya, apakah salah teori Marxis? Lantas bagaimana dengan teori lainnya yang hari ini digunakan? Apa bedanya?

Selain itu untuk kasus Indonesia, tidaklakunya sastra ideologis lebih disebabkan faktor eksternal sastra, yakni sistem politik Negara yang melarang ajaran komunis-marxis. Selama orde baru ideologi kiri itu dimatikan denga berbagai cara, termasuk di dunia sastra. Sampai hari ini pun aturan tentang larangan itu masih berlaku.

Cap politik masa lampau ternyata berbekas di benak ilmuwan kita. Ideologi Marx terutama telah dianggap gagal dan malah menjadi sumbermalapetaka bagi Indonesia. Padahal tentang ideologi itu sendiri, beberapa pemikir terdahulu telah merumuskan definisi yang jelas. Misalnya, Dani Cavallaro berpendapat bahwa ideologi dapat di definisikan secara netral ataupun kritis. Secara netral, ideologi adalah seperangkat ide tanpa konotasi-konotasi politis yang jelas/terang-terangan. Sedang secara kritis, ideologi diartikan sebagai seperangkat ide melalui mana orang membiasakan dirinya sendiri dan orang lain dalam konteks sosio-historis yang spesifik, dan melalui mana kemakmuran kelompok-kelompok tertentu dikedepankan. Hemat saya, dua-duanya tidak berisiko. Ketakutan-ketakutan para ilmuwan terhadap politik atau daya pikir dan sikap kritis hanyalah sebuah ketakutan semu yang dan tidak merdeka. Seolah-olah Indonesia adalah manigestasi ideologi Marxis yang gagal selayaknya Soviet. Pada kesimpulannya, mereka melegitimasi paham liberal yang mendukung Imperialisme.

Jauh dari politik praktis, dalam hal ini saya bersepakat dengan Manneke Budiman, yang dalam kata pengantarnya di buku Clearing A Space: Kritik Pasca Kolonial tentang Sastra Indonesia Modern, mengatakan bahwa kajian sastra perlu diposisikan sebagai bagian dari praksis, yang tak hanya berdimensi tekstual tetapi juga sosial, serta bercita-cita melakukan transformasi melalui diseminasi wawasan atau kesadaran kritis. (2006:xii). Sayangnya, kajian semacam itu hanya dilakukan di kelompok-kelompok praksis seperti di lingkungan aktivis. Padahal peran dan posisi kaum intelektual hari ini sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi bangsa.

Berangkat dari persoalan tersebut, penting kiranya wacana ini kembali diperluas dan ditindaklanjuti oleh lembaga akademis dengan memperbaharui kurikulum sastra yang  lebih luas dan multidispliner. Termasuk di dalamnya kajian-kajia idologis.

Namun lagi-lagi, hal ini akan memancing kontroversi. Sebab memaksakan ideologi dalam dunia sastra, sama halnya dengan meabuh genderang perang. Tapi dalam kondisi bagsa yang penuh krisis ini, ideologi mutlak diperlukan. Di sini masing-masing ideologi mesti menawarkan jawaban, bukan saling meyerang demi kepentingan kepuasan berfikir, apalagi kepentingan kekuasaan. Mari kita mulai! (2009)

Read Full Post »

oleh Jafar Fakhrurozi

Kita, mungkin baru merasa yakin bahwa Indonesia sedang dibekap cedera panjang ketika harga-harga barang melambung tinggi, BBM naik, ongkos chaos,atau sekolah dan kuliah yang kian mahal. Tapi apakah yakin, bahwa kemudian sastra menunjukkan keperihan itu?

Ini sama sekali bukan sebuah upaya pengkaburan estetika. Tapi seni (sastra), nyata-nyata telah menjadi bagian dari cedera itu sendiri. Betapapun kuatnya ekspresi keindahan dalam sebuah puisi misalnya, ia tetap saja tak mampu berlari dari kegetiran itu. Di wilayah itu, barulah kita punya persoalan, apakah ideologi, apakah revolusioner dan semacamnya. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus menggelontor dari benak pembaca yang gelisah seperti saya.

Fakta lain yang muncul adalah bahwa sastra yang diberi sedikit tempat di koran-rubrik seni dan budaya- kini malah mengalami nasib yang naas seiring terjadinya krisis global. Seolah sebuah bencana bagi masyarakat Jawa Barat ketika rubrik khazanah Pikiran Rakyat kini terbit dua minggu sekali. Itu pun tak bisa tampil komplit, karena ada saja kolom yang dihilangkan, seperti kolom cerpen yang belakangan ini sering menghilang. Fakta tersebut bukan hanya menunjukkan, bahwa sastra bukan menjadi bacaan prioritas yang dalam konteks industri, tidak banyak mendukung untuk income perusahaan. Tetapi juga, bahwasanya sastra bisa jadi bukanlah bacaan yang penting untuk masyarakat. Sangat menyedihkan.

Bukankah sastra dalam sejarahnya dianggap sebagai unsur penting dalam perubahan masyarakat, terlebih dalam konteks berbangsa dan bernegara. Bagaimana Uni Soviet misalnya, dibesarkan oleh tangan-tangan Leo Tolstoy, Marxim Gorky serta Boris Pasternak. Pablo Nerruda serta Gabriel Garcia Marques di Amerika atau nama-nama seperti Sutan Takdir Alisyahbana dan Pramoedya AT di Indonesia. Sastra di sana bukan hanya sebatas identitas, namun lebih merupakan spirit perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Hari ini, sastra kita tak lebih sebagai igauan sebagian orang-orang yang gelisah, atau bahkan sekedar iseng-iseng berhadiah.

Banyak orang bilang, bahwa di era postkolonial, lebih tepatnya pasca-1998, sastra justru mengasing di tengah mimpi-mimpi perubahan yang cukup rasional. Bicara perubahan kita kerap menghubungkannya dengan politik. Di mana, dalam ke-berIndonesiaan, politik menjadi fungsi pokok yang mesti diwujudkan untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dalam ranah politik, sastra juga bisa menjadi alternatif untuk membentuk kultur masyarakat agar lebih mengenal dan lebih cinta Indonesia. Dalam hal ini, ketika industri kita dihegemoni oleh industri asing, masyarakat tentu lebih terbiasa dan akrab dengan produk-produk budaya asing.

Dalam kaca mata politik tersebut, sastra amatlah penting. Di mana sebagus apapun kebijakan politik negara, kalau tidak didukung oleh masyarakat. Kebijakan itu menjadi tidak penting dan percuma. Di sini sastra mampu menjembatani distorsi tersebut. Namun, sastra dan politik kini seolah dua jalan yang berseberangan. Dua jalan yang seolah-olah tak bisa bertemu hanya sekedar berdiskusi tentang kepentingan bersama. Hal itu bisa kita lihat dari perbincangan sastra kekinian.

Beberapa waktu silam, Khazanah Pikiran Rakyat, menampilkan polemik tentang puisi dan politik. Sayangnya dari semua yang tampil berkoar; Bandung Mawardi, Hikmat Gumelar, Ahmad Subhanuddin Alwi, serta Dea Lugina, sama sekali tidak menunjukkan keseriusan. Dalam pandangan-pandangannya, yang muncul hanyalah kegelisahan seorang seniman an sich, terkesan manja dan centil. Perlu dicatat, keseriusan itu penting untuk dimaknai sebagai sebuah bentuk kerja kongkret dalam membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berjuang mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Apakah kita telah melakukannya? Jangan-jangan apa yang telah kita lakukan sama saja dengan para politisi itu, di mana sebagian dari kita yang hanya menjual kemiskinan untuk keuntungan popularitas dari karya-karyanya.

Saya melihat dunia sastra hari ini, malah hanya menjadi ajang bagi orang-orang saling intrik dan saling sirik, bahkan dunia olok mengolok. Hidup di dunianya sendiri, mirip pengidap autisme. Apakah tidak merasa malu pada almarhum Pramoedya atas mimpinya tentang Indonesia yang bebas dari ketertindasan. Jika mau dan merasa paling maju, tak ada salahnya kaum seni memimpin perubahan!

Dengan begitu, kegelisahan-kegelisahan itu tersampaikan. Apa yang dikatakan Alwy sang sufi moralis tentang wajah politisi teknokrat yang peduli petani, politisi spiritual yang hendak berbakti untuk kehidupan, politisi wali yang seolah-olah bertolak pada wahyu kebenaran, serta politisi-politisi yang pura-pura lainnyamungkin tidak akan terjadi. Sebab sastrawan punya modal kejujuran dan kemiskinan. Tapi semua yang dibicarakan itu tak berarti apa-apa bagi masyarakat jika hanya melintas di koran mingguan.

Kemudian apakah berhak seseorang melarang orang lain untuk berpuisi, atau menuliskan kembali puisi orang lain. Apalagi di domain politik, di mana hari ini dianggap oleh sebagian politisi sebagai piranti termaju untuk merubah bangsa ke arah yang lebih baik, adalah sebuah kehormatan luar biasa jika puisi menjadi inspirasi untuk perubahan. Chairil Anwar, di dalam “kubur”nya mungkin sangat bangga puisinya dihafal banyak orang apalagi berguna untuk masyarakat banyak. Dalam hal ini, sastra(wan) telah mendapat tempat yang tinggi di kehidupan berbangsa Indonesia.

Soal polemik itu, saya sempat bertanya pada seorang pimpinan partai di Jawa Barat. Lantas dia menjawab sesuai kapasitasnya sebagai orang yang sama-sama duduk dalam satu parpol dengan Sutrisno Bachir. Katanya, Sutrisno Bachir dengan sadar mengutip puisi Chairil Anwar, kesadaran itu ia buktikan dengan membayar royalti pada keluarga Chairil Anwar. Lain lagi jika Chairil menolak puisi-puisinya dijadikan jargon politik. Namun lebih dari itu, di mana hari ini sastra kiranya telah jadi panduan hidup masyarakat, tak terkecuali para politisi.

Akan tetapi kegelisahan kita akan kondisi politik dan politisi kita memang mutlak terjadi. Dalam konteks perdebatan itu, sastra(wan) sebagai representasi suara-suara marginal memang mesti angkat bicara. Wajar juga kalau sebagian orang sudah tidak percaya parpol. Apalagi politik praktis hari ini sama sekali tidak mencerminkan perubahan. Malah sebaliknya, demokrasi baru berjalan sebatas prosedur, kondisi semacam itu dimanfaatkan oleh para politisi untuk bermain dengan sok demokratis. Namun lagi-lagi, sastra(wan) tidaklah berada di dunia sendiri yang tak harus ikut berjuang bersama rakyat untuk mengupayakan perubahan.

Hemat saya, berangkat dari persoalan tersebut, justru melahirkan pertanyaan, apakah karya sastra hari ini tidak lagi memiliki keistimewaan, tidak punya narasi besar, atau tidak berguna apa-apa bagi bangsa? Bandingkan dengan adagium atau diktum yang lahir dari para sastrawan di era revolusi kemerdekaan. Tidak hanya puitis, tapi bernyawa kekal.

Itu yang saya sebut sebagai sebuah cedera. Mestinya saat realitas sosial sedang cedera, sastra tak harus ikut cedera. Ia justru mesti jadi obat. Pasca orde baru jatuh, bukan berarti sastra tidak lagi berurusan dengan negara, sebab sekacau-kacaunya kejahatan kemanusiaan (sebuah isu utama kelompok humanisme universal), lebih kacau lagi jika negara mengakomodasinya serta membiarkannya.

Tentang hubungan sastra dan politik, dua-duanya meminjam rakyat sebagai inspirasi, bahkan pelaku. Maka dua-duanya bertanggungjawab terhadap kondisi rakyat. Dunia politik bukanlah milik para politisi, pun sebaliknya. Dua-daunya bukanlah panglima. Dua-duanya tak mesti bersitegang. Dalam konteks bernegara, rakyat adalah panglima. Sastra dan politik hanyalah sebuah jalan yang beriringan. Saling meneriakkan gugatan atas Indonesia yang sedang dilanda cedera. (2009)

Read Full Post »

PERTENGAHAN tahun 2009 lalu, ASAS meluncurkan antologi puisi berjudul “Sihir Terakhir” yang ditulis oleh para penyair berjenis kelamin perempuan. Tak ada penyair istimewa dari “Sihir Terakhir”. Dari 23 penulis, kecuali nama-nama seperti Dian Hartati dan Fina Sato yang sudah lumayan akrab di telinga kita, selebihnya, mereka adalah nama-nama yang sangat baru. Mereka serupa benih-benih mawar yang baru ditanam. Tapi betapapun itu, puisi senantiasa mempersembahkan makna yang bisa kita ambil faedah dan manfaatnya. Puisi juga dapat kita baca dengan segala kepentingan. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk membaca dan mengkajinya.
Nenden Lilis Aisyah dalam catatan pengantarnya, memberikan refleksi tentang keberadaan penyair perempuan, yang mana kemunculannya sangat belakangan di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Maka adanya antologi perempuan ASAS ini adalah sebuah kebanggaan sekaligus bukti eksistensi kaum marjinal ini di dunia kesusastraan kita. Naif memang, harus menyebutkan identitas gender dalam antologi ini. Namun seperti kata Nenden Lilis, tindakan pengkontrasan/pembedaan (affirmative action) ini harus tetap dilakukan  selama masih terjadi peminggiran terhadap sebuah kelompok tertentu.
Mengacu pada argumen itu, saya berharap antologi ini tidak sebatas menegastegaskan perbedaan identitas yang dimaksud. Akan tetapi ada semacam horison harapan yang lebih, terutama untuk kepentingan membaca semangat jaman dalam puisi-puisi yang dibuat oleh para penyair mutakhir ini. Terlebih judul antologinya saja “Sihir Terakhir”.
***
Setelah membaca keseluruhan sajak dalam antologi ini, secara umum, puisi-puisi yang disuguhkan berkisar dalam tema kerinduan (cinta), baik pada lawan jenis, teman, orang tua, Sang pencipta maupun kampung halaman. Sajak rindu semacam itu seolah terasa pantas dan pas ditulis oleh kaum perempuan. Dengan cara ungkap yang berbeda-beda, para penyair mempresentasikan kerinduan dengan sangat emosional dan personal. Namun berbeda dengan ekspresi gerakan feminisme dalam sastra yang belakangan ini nyaris seragam, yakni eksplorasi tubuh. Para penyair perempuan ASAS ini lebih memilih “taat” berbudaya. Tak banyak terlihat konsep pemberontakan estetika di sana.
Dalam hal penggunaan aku-lirik, sebagian besar masih terlihat sebagai subjek orang kedua. Padahal, betapa diksi “Aku” memiliki superioritas, kemerdekaan, sekaligus hegemonik. Misalnya, Dalam sajak-sajak kerinduan itu, perempuan selalu mengambil posisi di bawah laki-laki, direpresentasikan dengan perbuatan “menunggu”. Perempuan selalu merasa dirinya menjadi akibat, bukan sebab. Sajak Alfatihatus Sholihatunnisa yang berjudul Kisahku Dimulai dari Namamu dengan lugas menyuarakan hal itu. Selalu jadi semacam rindu yang rapuh/ ketika tak kutemukan kau di tepian hari/ menghilang di balik mesjid/lalu aku akan menunggumu di paruh waktu yang lain/ mengingatmu lewat angin (Sihir Terakhir, 2009). Sajak-sajak kerinduan semacam itu juga ditemukan pada sajak Sauh (Aldika Restu Pramuli), Sajak Kerinduan (Evi Sefiani), Namamu di Puisi (Diah Budiana), Skenario (Evi Sukaesih), Lelaki Penjual Dongeng (Fadhila Romadhona), Rindu Hujan (Ikarisma Kusmalina) juga Pada Sendiri (Ike Ayuwandari) Kau (Maya Mustika).
Tidak semuanya memang, tapi hanya sedikit penyair yang mampu keluar dari jerat subordinasi sosial, ataupun penindasan jender. Dalam sajak Untuk Betara karya Cut Nanda. Terlihat sekali aku lirik-nya berada pada subjek superior. Aku lempari kau jam/kau bukan menghindar:/mengulurkan tangan lalu membalasnya/berlama-lama dengan rindu dulu (Sihir Terakhir, 2009). Hal itu juga terdapat dalam sajak Ikarisma Kusmalina yang berjudul Ketika Kau Menari. Bunyinya: Menarilah kamu di dadaku/ sebelum semua orang mengetahuinya/dan biarlah aku yang merasakan/ :kaki-kaki kecilmu menginjak dadaku (Sihir Terakhir, 2009). Namun berbeda dengan Cut Nanda yang sudah sangat superior, Ikarisma Kusmalina masih menyimpan dilema. Dengan rasa sinis, Ikarisma Kusmalina membuat parodi tentang konflik jender yang selama ini masih berlangsung. Pada akhirnya, seorang perempuan bagaimanapun kuatnya, ia selalu saja mengalah. Contoh lain terdapat dalam sajak Telinga karya Tita Maria Kanita dan Serupa Selat yang ditulis oleh Win Herlya Winna.
Persoalan kemudian adalah, apakah setiap “aku” yang superior itu menunjukkan superioritas yang sesungguhnya? Dalam konteks konflik jender, apakah “aku” tersebut sudah merdeka? Untuk menjawabnya mari kita baca sajak Oka Rusmini yang berjudul Patiwangi. Bunyinya: Inilah tanah baruku/ mata air menentukan hidupnya/ ikan-ikan memulai percintaan baru/ batang-batang yang menopang daun-daun muda/ membuat upacara penguburan// telah kucium beragam bunga/ dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah/ suara genta menyumbat mata angin/ tak mampu mengantar dewa pulang// kubuat peta di Pura/ Puta/ mengantar warnaku pada silsilah matahari/ bumi mengeram, tanah memendam amarah/tak ada pecahan suara/ menyelamatkan warnaku// para lelaki menantang matahari/ penunggu warga perempuan pilihannya/ tak ada upacara untuknya di setiap sudut Pura// para pemangku hanya mencium bangkai dupa/ terlalu banyak dewa yang harus diingat/ dan para lelaki terus meminang// karena namaku/ kuharus punya sejarah upacara// anak-anak/ kelak kumandikan dari pilihan ini. (Patiwangi, 2003)
Jelas sekali bagaimana Oka Rusmini memerdekakan aku dari segala aspek penindasan. “Aku” dibiarkan terbang melayang. “Aku” menjadi muasal dan akhir perbuatan. “Aku” menjadi sebab, bukan akibat. “Aku” yang berani berbuat dan mengambil keputusan. “Aku” semacam itu jelas punya otoritas yang superior, ideologis. Aku lirik tersebut memang berpeluang menjadi hegemonik, karena aku menjadi pusat pemaknaan, tetapi sebagai upaya perlawanan, aku semacam itulah representasi strategi yang dimaksud Foucault dalam melawan ketidakadilan, sebagaimana dikutip Nenden Lilis dalam pengantar antologi.
Di luar segi gaya ucap, atau teknis kebahasaan lainnya, para penyair telah berhasil membangun makna yang utuh. “Sajak Bahtera” karya Dian Hartati menggambarkan kehidupan getir yang dialami oleh kaum perempuan. Oleh karena itu, menurut Dian, “tempat berlabuh yang aman adalah tubuhku.” Sebuah sikap egois yang wajar di tengah sistem sosial yang tak aman bagi kaum perempuan.
Selain soal hubungan batiniah antara perempuan dan laki-laki, ada beberapa sajak yang mengajak kita untuk kembali meresapi perasaan kita terhadap orangtua. Seli Desmiarti dalam sajak Surat untuk Bunda dan Salam untuk Bapak berhasil melukiskan rasa cinta yang begitu mendalam terhadap orang tua. Selanjutnya, ada beberapa sajak yang coba menggambarkan realitas sosial yang terjadi di perkotaan, seperti dalam sajak Winarni R, dengan judul Antapani 170509.  Penyair muda berbakat, Fina Sato lebih memilih untuk berbagi dan bersilaturahmi dengan kawan-kawannya. Elli R Noer, sebagaimana mimpinya, menjadi “Joko Pinurbowati”, ia masih bermain dengan parodi yang lumayan menyegarkan. Terakhir, tentu saja masih banyak yang belum terbahas. Akan tetapi ulasan di atas saya anggap telah mewakili isi dan narasi “Sihir Terakhir”. Dan kesimpulan saya, tentu saja bukan syair terakhir dari mereka. “Sihir Terakhir” bukanlah sebuah fatwa yang mesti diimani. Kata “Terakhir” tidak menunjukkan makna yang sesungguhnya melainkan awal dari terakhir-terakhir berikutnya. Dan tiada akhir untuk berproses. Selamat tanam benih-benih mawar Bumi Siliwangi.*** (Desember 2009, Jafar Fakhrurozi)

Read Full Post »

Perlu(kah) Pengukuhan Penyair

SEJAK kapan penyair disebut penyair? Oleh siapa penyair disebut penyair? Adakah sebuah prosesi untuk mengukuhkan penyair? Awalnya saya berfikir, sangat naif jika harus bertanya hal itu. tetapi belakangan ini keponakan saya yang duduk di bangku SMP bertanya kritis sekali, “kok yang diajarkan di buku pelajaran bahasa Indonesia cuma sastra(wan) jaman dulu saja. Memangnya sastra di Indonesia mandeg sampai angkatan Acep Zamzam Noor ya?”

Jujur saja saya bingung menjawabnya, karena setahu saya begitu banyak sastrawan mutakhir, tapi begitu sedikit yang diperkenalkan sebagai sastrawan di buku akademik. Maka, kiranya wajar sekali pertanyaan-pertanyaan di atas digelontorkan, setidaknya untuk menjawab pertanyaan keponakan saya.

Keresahan ini juga bisa jadi akibat ketakpuasan terhadap kondisi kritik sastra belakangan ini. Jika orang terus menulis tanpa sekalipun karyanya dibicarakan, apa guna karya itu? Bukankah karya dilahirkan untuk dibaca khalayak, dan langsung tidak langsung, sedikit atau banyak, dapat diambil manfaatnya oleh pembaca.

Almarhum HB Jassin mungkin sangat sadar akan hal itu. Betapa ia, meski tanpa bantuan professor Google, mampu membaca, mengulas, atau bahkan mengukuhkan sesorang untuk disebut sebagai sastrawan atau bukan sastrawan. Saya kira penting untuk kembali membicarakan ini di tengah bermunculannya nama-nama penyair muda di Indonesia. Kedua, telah terjadi perubahan yang signifikan dalam peradaban masyarakat dunia hari ini. Era teknologi (internet) setidaknya telah menggeser cara pandang dan sikap masyarakat tentang makna pendokumentasian sebuah karya sastra (Media). Ketiga, pembicaraan mengenai estetika semakin hilang dimakan proyek kesenian. Padahal era reformasi telah berjalan lebih dari satu dekade, ini artinya karya sudah harus dibaca dengan persfektif yang baru.

HB Jassin, sang pengukuh sastrawan

HB Jassin, sang pengukuh sastrawan

Selama ini media (surat kabar, majalah dan buku) masih menjadi standar baku pengukuhan kepenyairan seseorang. Hal itu sudah berlaku sejak dulu. Bedanya, dulu media bisa dikemudikan oleh suatu kekuatan politik penguasa, kini lebih cenderung berdasarkan selera redaktur semata. Walaupun tidak menutup kemungkinan, bermacam-macam kekuatan bisa saja mendikte redaktur (maaf). Artinya, koran (baca:redaktur) dengan sendirinya telah menjadi pembaiat. Dengan atau tanpa pola, akan terbentuk sebuah regenerasi kepenyairan. Media di daerah dalam hal ini memiliki peran yang lebih besar dalam mengorbitkan penyair baru dari daerahnya. Namun, prosesi pengukuhan lewat media ini terkesan amat parsial. Contohnya, jika kita menempatkan Kompas sebagai standar tertinggi, maka para penyair Kompas dengan sendirinya merasa duduk dalam kelas tertinggi. Lalu bagaimana dengan penyair yang tidak mau mengirim karya ke Kompas? Inilah yang kemudian menjelaskan betapa luasnya kepentingan dalam sebuah ruang publik seperti media massa.

Dari sana, agaknya acara-acara temu sastra akan dapat membantu mempertemukan keparsialan itu. Meskipun tetap saja ada rasa tak puas, karena kebanyakan temu sastra itu juga masih berunsur kelas. Bahkan politis. Atau beberapa pertemuan sastra yang diadakan sebuah lembaga kesenian bekerjasama dengan pemerintah (Mitra Praja Utama) masih saja menyisakan masalah; kecemburuan, kecurigaan dan ketidaktransparanan. Apakah ini sebuah masalah? Bisa jadi tidak, tergantung dari mana memandangnya.
Masih soal media, munculnya sastra cyber, atau kini lebih heboh lagi dengan lahirnya peradaban facebook (FB), menyisakan sebuah pertanyaan, bagaimana mengkategorikannya? Setiap pengguna FB berhak mempublikasikan puisi, setiap teman mengomentarinya, dan lahirlah komunikasi sastra yang bersifat akademis. Alangkah itu yang diharapkan dari dinamika sastra kita hari ini. Kelenturan semacam ini yang belum mampu diakomodasi oleh media massa. Oleh karena itu, kiraya keberadaan cybersastra harus diperhitungkan.

Berikutnya soal prosesi pengukuhan. Ada baiknya menyimak fakta ini. Ada beberapa komunitas di Indonesia, ternyata memiliki tradisi pengukuhan (pembaiatan) tersendiri. Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) misalnya, untuk membaiat penyair berbakat, tentu saja muda, dilakukan sebuah ritual. Biasanya calon penyair itu membacakan karya-karyanya dalam sebuah acara khusus bertajuk show (one men show, duet show, womenshow, dll) yang sengaja diadakan dalam rangka pembaiatan. Setelah pembacaan selesai, barulah penyair itu dibaiat dengan sumpah kepenyairan dipimpin oleh orang yang dianggap pantas (penyair sepuh) untuk membaiat penyair. Meski hanya sebuah simbolik, pengukuhan macam itu bisa jadi penting, selain memberikan rasa percaya diri, prosesi itu adalah bentuk penghargaan terhadap pelaku sastra, yang mana sampai kini, negara kita belumlah dikatakan menghargai sastra. Prosesi ini menjadi alternatif, yang belum berkesempatan dimuat di media, lewat show itulah mulanya.

Untuk mengukuhkan seseorang menjadi penyair, barangkali perlu dahulu ditegaskan siapakah penyair? Dari beberapa logika di atas, maka sederhananya, penyair adalah orang yang menulis puisi, mempublikasikannya dalam sebuah media dan diakui oleh pembaca atas kualitas yang dimilikinya. Orang yang hanya menulis sajak di internet (sebutlah facebook) adalah penyair juga. Apalagi yang di koran atau buku. Barangkali kelasnya saja yang berbeda-beda. Misalkan kita membuat beberapa kategori penyair, seperti penyair professional dan penyair amatir.

Penyair professional adalah penyair yang sudah mapan dalam berkarya. Buktinya adalah jumlah karya yang dimilikinya. Ia juga harus mendapatkan pengakuan dari publik bahwa dirinya adalah seorang penyair. Tentu saja, atas keprofesionalannya itu, puisi-puisinya bernilai ekonomi alias dibayar oleh sebuah institusi seperti Negara. Di Malaysia, sastrawan Negara itu ada. Nama-nama seperti Prof. DR. Haji Salleh, Kris Mas, Usman Awang, Prof. Shahnon Ahmad, A Samad Said, atau Almarhum Arenawati yang keturunan Bugis, adalah para sastrawan yang diberi gaji oleh Negara. Di masa Kerajaan juga pernah ada. Kerajaan Kediri, misalnya punya Mpu Dharmaja, Mpu Tanakung, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Kerajaan Majapahit (peralihan dari Singasari) ada Empu Prapanca, Kerajaan Kahuripan Airlangga, ada Empu Kanwa. Pelabelan sastrawan Negara ini mengandung banyak motif dan makna. Pengangkatan sastrawan negara bisa juga dilakukan sebagai bentuk penghargaan, atau justru upaya pengekangan. Sejatinya, penghargaan itu tetap ada tanpa ada pengekangan.

Lalu penyair amatir, adalah orang yang menulis puisi karena kesadaran, kegemaran dan kecintaannya pada puisi. Puisi senantiasa hadir dalam kehidupannya. Atas karya-karya yang dibuatnya, ia bisa juga dibayar, tapi tidak tetap. Misalkan memenangi lomba, atau dimuat di media. Penyair model ini kiranya yang hidup di Indonesia. Dari hidup sampai matinya, secara ekonomi, nasib penyair amatir ada dalam ambang kesederhanaan. Secara sosial, ia hanyalah sekelompok terhormat yang dibincang sekelompok kecil masyarakat, yakni masyarakat sastra. Soal aku megakui kepenyairan ini, Sutardzi Calzoum Bachri sudah banyak mengulasnya dalam buku kumpulan esainya “Isyarat” (Indonesiatera, 2007). Secara umum SCB menganggap penting status kepenyairan. Dalam “Pengantar Kapak” SCB mengajari kita tentang kebanggan menjadi seorang penyair. Ia dengan lantang menyebut dirinya penyair. dan penyair adalah sebuah pekerjaan yang serius. Kendati begitu, bukan berarti ia gila status (identitas) semata, tapi yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana usaha memperoleh status itu. Yakni dengan sungguh-sungguh menggali dan menemukan bahasa. Tanpa itu, mustahil orang memperoleh gelar penyair.

Terakhir, hemat saya, ini masalah super penting. Upaya membaca estetika jaman. Jika kita percaya istilah Hegel tentang zeitgeis (semangat jaman), saya kira hari ini kemunculan para penyair muda bisa jadi mewakili zeitgeis itu. Pascareformasi ini, saya membayangkan sebuah kondisi yang bombastis. Seperti halnya materi-materi yang diberitakan media dewasa ini. Semuanya begitu verbal dan vulgar. Hal itu wajar terjadi setelah lebih dari empat dekade sejak kemerdekaan Indonesia, kita hidup dalam tekanan politik yang tidak sehat. Kini setelah gerakan 1998, ada harapan baru bagi bangsa untuk menatap dunia baru yang lebih sehat. Makna-makna yang dulu mati kini mesti kembali dihidupkan. Seorang penyair adalah seorang yang selalu gelisah, maka tepat baginya untuk menghidupkan makna-makna yang telah mati atau membuat makna-makna baru yang berguna bagi masyarakat. Dapatkah kita baca hal itu dalam puisi hari ini, misalnya ditulis oleh para penyair muda yang “lahir” pascareformasi? Barangkali kita tidak mungkin menjawabnya kalau pembicaraan mengenai estetika ini tidak pernah dimulai.

Dari pembacaan baru itu, mungkin saja semangat zaman yang ditafsirkan Jurgen Habermas sebagai kesadaran terhadap harapan dan kesadaran akan percepatan masa depan benar-benar terjadi, di tengah bangsa yang mulai terluka ini. Dan dari pembicaraan tentang estetika ini, berarti ada karya yang diakui. Dengan pengakuan itu, otomatis ada seseorang yang dikukuhkan menjadi penyair. Selamat datang penyair mutakhir Indonesia! (Jafar Fakhrurozi)

Read Full Post »

Oleh Jafar Fakhrurozi

Di usianya yang hampir menginjak kepala tujuh, di luar dugaan Danarto masih memiliki tangan emas untuk merautkan cerita-ceritanya di atas kertas. Hal itu bisa kita lihat dan rasakan ketika membaca Kacapiring, antologi cerpen terbaru Danarto yang terbit pertengahan 2008 tahun lalu. Seakan ingin melanjutkan cerpen-cerpen sebelumnya, Kacapiring bagaikan lantunan lagu gambus yang lebih bijak dan berisi. Apa gerangan yang disampaikan Danarto dalam Kacapiring?

Tak terlalu berbeda dengan cerpen Danarto sebelumnya, Kacapiring dengan 18 buah cerpen yang terhimpun di dalamnya, kembali mengajak kita untuk merenung tentang arti kehidupan lewat nuansa sufi dan mistiknya. Walau terkesan sudah umum, seperti halnya sastra sufistik yang sering mengangkat tema-tema seputar kematian, cinta, dan sosial. Akan tetapi jika kita membaca dan mengkajinya dengan skemata multipersfektif dan aktual, kita akan dapat menemukan nuansa lain dari Kacapiring. Nuansa tersebut bisa jadi adalah kekuatan yang membedakan dengan cerpen sebelumnya, atau antara Danarto dan pengarang cerpen sufi lainnya.

Kacapiring

Kacapiring

Mungkin, karena cerpen dalam antologi tersebut adalah koleksi cerpen yang telah dimuat di Koran, maka dalam Kacapiring, tema-tema yang disuguhkan begitu aktual dan up date. Seperti halnya tragedi tsunami Aceh, penggusuran, perampasan tanah, pro kontra pornografi dan pornoaksi, reformasi, serta realitas sosial lainnya yang ada di sekitar manusia Indonesia hari ini. Bahkan dengan detail, jeli dan tanpa sensor. Danarto menyebutkan beberapa nama dan fakta yang akrab di benak masyarakat. Selain itu, dalam Kacapiring, Danarto tidak hanya berposisi sebagai pengisah yang resah. Justru ia menemukan semacam jawaban-jawaban atas keresahannya tersebut. Dalam bingkai religiusitas, jawaban-jawaban itu bisa jadi menggambarkan derajat keimanan Danarto terhadap Khalik yang dianutnya. Masih dalam ke-khas-an Danarto, realitas batin dan sosial tersebut masih banyak dibingkai dalam mistisisme.

Untuk membuktikan asumsi-asumsi di atas, mari kita bahas beberapa cerpen yang ada dalam Kacapiring. Dalam cerpen yang berjudul Jantung Hati misalnya, ia mengangkat dua konsep oposisi biner. Kehidupan-kematian dan kekotoran-kesucian. Ia menilai bahwa manusia takut akan kematian, ketakutan itu muncul diakibatkan oleh adanya pengadilan di hari akhirat, manusia takut karena hidupnya penuh dosa (kekotoran). Oleh karena lukisan tentang neraka yang begitu mengerikan, maka manusia sangat takut menghadapi maut. Manusia takut pengadilan karena waktu di dunianya penuh kekotoran. Dalam cerpen tersebut, Danarto seakan mengingatkan bahwa, manusia tak luput dari kekotoran, maka kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Kalau mau direnungkan, mayoritas manusia selain nabi dan rasul tidak pernah luput dari dosa, lantas kenapa harus takut diadili. Kesucian itu hanya milik malaikat, begitu Danarto menyimbolkan dalam cerpennya.

Cerpen yang dikisahkan melalui tokoh yang ia ceritakan dengan narasi aku-lirik itu adalah sebuah imajinasi belaka, sebab secara logika tidak mungkin seorang yang telah meninggal bisa bercerita, pun dengan Danarto yang belum pernah mengalami kematian. Di sinilah kadar religiusitasnya terlihat begitu tinggi. Cerpen Jantung Hati adalah sebuah kesaksian pertaubatan seorang manusia yang penuh dosa.

Dalam cerpen Lailatul Qodar, yang bercerita tentang sebuah keluarga yang mudik dari Jakarta ke kampung halamannya di Jawa, keluarga yang sebulan penuh khusuk menjalani ibadah Ramadhan itu baru mudik setelah menunaikan sholat Ied. Di perjalanan, ketika jalur sangat padat dan macet, mereka melihat ada jalan kosong yang tak dilihat oleh pengendara lain, akhirnya mereka sampai di tujuan dengan cepat dan selamat. Dalam cerpen tersebut, Danarto ingin menggambarkan keutamaan ibadah Ramadhan terutama di malam Lailatul Qadar. Di saat orang-orang sibuk mengantri karcis jauh-jauh sebelum lebaran, sebuah keluarga dalam cerpen itu memilih beribadah dengan khusuk dan baru pulang setelah lebaran. Cerpen-cerpen bernuansa sufistik lainnnya terdapat pada Zamrud, Jejak Tanah, Nistagmus, Lauk dari Langit, dan Ikan-Ikan dari Laut Merah.

Dalam nuansa sufistik tersebut, terdapat beragam estetika dan tema. Seperti dikatakan sebelumnya, estetika mistik masih menjadi estetika dominan Danarto. Pada Zamrud dan Jejak Tanah, nuansa mistik sangat kental. Sebagaimana mistik, ketidaklogisan itu bukanlah sebuah perkara, justru lewat mistik tersebut Danarto mengisahkan realitas yang profan. Jejak Tanah adalah sebuah kritik terhadap para pemodal yang kerap membeli dan menggusur tanah rakyat. lewat tokoh Bapak yang berprofesi sebagai pengusaha yang rajin membeli dan menggusur tanah rakyat, Danarto berhasil mengetengahkan sebuah problem sosial kontemporer yang terjadi di Indonesia. Yang menarik adalah bahwa dalam persfekstifnya, walau rakyat selalu dirugikan oleh tokoh Bapak, akan tetapi Danarto memberikan kesempatan tokoh Bapak untuk mengemukakan alasannya. Tokoh bapak seakan-akan tidak mengerti, kenapa ia selalu diprotes padahal dalam melakukan pekerjaannya ia selalu menaati aturan serta membayar ganti rugi yang pantas. Meskipun demikian, Danarto tetap menyerahkan keberpihakannya pada korban. Keberpihakkan tersebut diperlihatkan secara mistik dengan nasib jenazah Bapak yang tak diterima tanah. Nuansa Sufistik juga terlihat kuat pada cerpen Pohon yang Satu Itu, Nistagmus dan Lauk dari Langit yang menyinggung tentang Tragedi Tsunami Aceh akhir 2004 silam.

Di luar sisi transendennya, Danarto juga memiliki wawasan realitas yang cukup kuat. Walau tidak ideologis, namun beberapa cerpennya berhasil mengisahkan realitas sosial dengan persfektif kaum marginal di Ibu kota. Dalam cerpen Zamrud, Danarto melukiskan realitas buruh dan kaum cilik lainnya seperti tukang becak. Cerpen Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mi Instan, dengan sangat realis masalah-masalah penggusuran dikemukakan. Dalam dua cerpen tersebut yang menarik adalah bahwa ditemukan beberapa fakta ilmiah populer, seperti penyebutan nama Dita Indah Sari dan Wardah Hafidz, dua perempuan aktivis yang vokal di Jakarta, kutipan lagu Ada Pelangi di Matamu karya grup band rock Zamrud, lagu Ketahuan karya Band Matta, Ucing Garong dan fakta-fakta lainnya yang beberapa waktu ke belakang pernah marak dan membumi di kalangan masyarakat. Saya kira, penyebutan beberapa fakta tersebut cukup menarik. Sesuatu yang jarang dilakukan cerpenis lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa Danarto adalah seorang pengarang yang tidak terpisah dari ruang, ia malah setia menemani ruang metropolis yang penuh persoalan.

Masih dalam hal aktualitas, dalam cerpen Telaga Angsa dan Si Denok, Danarto mengajak kita untuk berdiskusi soal konsep kesenian terkait adanya UU APP. Dengan ilmiah dalam cerpen Telaga Angsa Danarto membandingkan referensi agama dengan estetika seni pada kostum penari balet yang super tipis. Atau pada lukisan dan patung perempuan kegemaran Bung Karno dalam cerpen Si Denok.

Terhadap lingkungan, Danarto juga memiliki sense yang kuat, cerpen Pohon Rambutan dan Pohon Zaqqum adalah representasi kepekaannya terhadap lingkungan.

Dari beberapa bahasan singkat terhadap cerpen-cerpen Kacapiring, tak terlalu berlebihan kalau Danarto diberi gelar cerpenis sufistik, atau dengan kadar sastra, religiusitas dan sosialnya tinggi. Jika merujuk pendapat Abdul Hadi WM tentang pembagian sastra religius yang mencakup; karya yang menggarap masalah-masalah spiritual (sufistik), karya-karya yang menggarap lapis sosial faedah, masalah sosial, politik, kemasyarakatan dan karya pelipur lara yang kadar konsepnya tinggi. Maka Danarto adalah salah satu cerpenis mapan dalam kategori tersebut.

Dari keseluruhan cerpen, nilai-nilai religiusitas tampak begitu sublim dalam tiga konsep: hablum minallah, hablum minannas, dan hablum min a’lam, ketiga dimensi tersebut merujuk pada satu muara, yakni pertemuan di hari akhirat. Inilah puncak kulminasi religiusitas seorang petualang batin. Sebuah bentuk pertaubatan yang total. Sebuah kesimpulan baginya yang sudah menginjak usia matang menghadap sang Khalik.

Read Full Post »

Mati Sunyi dan Refleksi Cok Sawitri

Kita mengenal nama Cok Sawitri sebagai seorang perempuan yang berpikiran maju namun punya visi kedaerahan (adat) yang cukup kuat. Beberapa karyanya tak luput dari tema-tema yang berbau adat Bali sebagai kampung halamannya.

 

Salah satu cerpennya yang berjudul Mati Sunyi yang terhimpun dalam buku antologi cerpen terbaik KOMPAS 2004 Sepi Pun Menari di Tepi Hari, adalah salah satu cerpen terbaiknya, cerpen itu sekaligus menjadi refleksi diri Cok Sawitri sebagai seorang aktivis perempuan yang kerap dihadapkan pada persoalan pergulatan posisi dalam kelas jender, serta persoalan adat Bali yang masih mentradisi yang keberadaanya dewasa ini mulai digerus budaya global. Cok Sawitri sebagai sosok perempuan modern begitu arif dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah transisi zaman menuju peradaban yang mengikis habis nilai-nilai budaya serta adat istiadat di Bali. Dia adalah cermin perempuan modern yang tak lupa kulitnya. Beberapa waktu kemarin misalnya, beberapa komentar dan pernyataannya muncul untuk menentang diberlakukannya Undang-undang Anti pornografi/pornoaksi (APP), dia memandang bahwa definisi pornografi tidak sebatas artifisial, bukan sekedar fisik yang sedikit telanjang seperti yang didefiniskan dalam RUU tersebut. Baginya, Bali, dan beberapa daerah lainnya masih menghormati adat, di sana perempuan masih setia dengan adat, pakaian yang seronok ala adat misalnya adalah bukan dikategorikan pornoaksi. Cok sawitri tidak mau terjebak mainset kontemporer yang mengabaikan adat. Justru bagi karya-karyanya, adat adalah sumber inspirasi. Namun, dalam karya-karyanya adat bukan semata bulan-bulanan cerita, keberpihakannya akan adat sangat jelas.

 

Cerpen Mati Sunyi bercerita tentang nasib yang menimpa seorang aktivis perempuan setelah meninggal. Aktivis diperankan oleh tokoh Bibi. Nasib Bibi sungguh tragis. Semasa hidupnya, Bibi sangat dihormati, dikenal dan ditakuti oleh berbagai kalangan baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebagai seorang pejuang kemanusiaan sudah barang tentu ia sangat dicintai dan dibanggakan oleh banyak masyarakat. Tapi sayang, rasa cinta itu tidak berlaku bagi masyarakat di tempat kelahirannya. Bibi malah dianggap hidup bukan mewakili masyarakat asalnya, Bibi hidup untuk orang lain. Tak pernah Bibi memberikan kontribusi pada masyarakat asalnya, maka pada kematiannya, Bibi mendapat sanksi sosial berupa pengucilan, sampai-sampai masyarakat di kampungnya tak ada yang mau terlibat dalam prosesi upacara Ngaben yang begitu luhur di sana.

 

Cerpen Mati Sunyi adalah wanti-wanti dari Cok Sawitri. Seorang perempuan aktivis lewat tokoh Bibi, dengan jelas dikisahkan bahwa tokoh Bibi sebagai seorang aktivis yang dibekali otak, ide, serta pemikiran yang cerdas ditambah keberanian yang tiada tara, dikenal, disegani, dan dihormati banyak kalangan, ternyata sama sekali tidak dihormati di tempat kelahirannya. Kematiannya hanya menyisakan kebencian bagi masyarakat di kampungnya. Hal itu disebabkan karena semua kehebatan Bibi, semua perilaku kritis Bibi dalam menyuarakan orang-orang tertindas, sama sekali tidak berkenan di hati masyarakat asalnya, selama hidup, Bibi dianggap tak pernah memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat, bahkan Bibi kerap mengkritik adat yang dianut masyarakat.

 

Cok Sawitri betul-betul jeli melihat secuil realitas yang tak banyak disadari orang. Dia mampu mengungkap sisi-sisi lain dari seorang aktivis. Cok sawitri telah melakukan kritik dan memberi evaluasi yang cukup berarti untuk para aktivis yang banyak meninggalkan daerah asalnya dan malah memilih berkecimpung di kota yang sebenarnya punya persoalan yang berbeda dengan di daerah. Dalam perspektif umum, persoalan kota dengan desa memang sama. Kemiskinan sama artinya bagi orang kota dan desa. Dalam perspektif khusus, jelas sangat beda. Orang kota yang tak bisa makan berbeda dengan tak bisa makannya orang kampung. Ada kontradiksi yang berbeda. Kota lebih maju peradabannya ketimbang Desa. Hari ini misalnya, orang desa sudah puas dengan pakai pakaian yang rapih dengan model sederhana. Tapi buat masyarakat kota, mereka baru puas kalau sudah punya pakaian dengan model terbaru.

 

Berangkat dari contoh sederhana di atas, wajar jika masyarakat di tempat tokoh Bibi dilahirkan menganggap kalau apa yang dikatakan dan dilakukan bibi sama sekali tidak menjawab persoalan di kampungnya. Cok Sawitri betul-betul mampu mengungkap itu. Dalam situasi dan kondisi yang berbeda, maka arti sebuah kebenaran pun berbeda. Seorang Aktivis macam Bibi tetap punya kekurangan. Cerpen “Mati Sunyi” memiliki pesan yang dalam, bahwa setiap manusia, sehebat apapun ia tetap saja mempunyai kelemahan.

 

Walau hari ini zaman sudah jauh meninggalkan adat istiadat, tetapi di sebagian daerah di Indonesia, masih berlaku adat istiadat yang dijadikan keyakinan akan sebuah kebenaran. Di Bali misalnya, adat seperti upacara Ngaben, upacara sabung ayam, serta upacara-upacara lainnya masih lestari sampai kini. Adat dijadikan spirit ruhani serta media aktualisasi manusia dengan Sang Hyang Widi. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi warga di Bali untuk menghormati dan melaksanakan adat. Jika tidak, sanksi sosial pasti lahir sebagai konsekuensinya.

 

Tokoh Bibi sebagai orang yang lahir di lingkungan yang menganut adat, mendapat sanksi sosial di akhir hayatnya karena perilakunya yang sering mengkritik adat dan perilakunya yang mulai meninggalkan adat. Bagi masyarakat sanksi itu berlaku tanpa pandang bulu, tak peduli ia terkenal atau tidak terkenal. Berbeda dengan hukum negara yang merupakan warisan kolonial, impunitas berlaku bagi beberapa orang terpandang, punya uang serta materi yang melimpah. Cerpen ini sangat evaluatif dan kritis dalam menyikapi perkembangan manusia dan zamannya kekinian yang semakin jauh meninggalkan adat.

 

Ada hal yang menarik yang sangat kontekstual dan relevan dengan realitas budaya orang-orang “berduit”  di Indonesia, mereka menjadikan uang sebagai segala-galanya, melebihi apapun. Budaya rendah tersebut masih menggulita sebagian orang-orang kaya, untuk memuluskan jalan atau cita-cita yang diinginkan, mereka beli dengan uang. Uang, uang dan uang. Semua persoalan beres. Tapi tidak dalam cerpen ini, bagi masyarakat di mana tokoh Bibi berasal, uang tak dapat menolong apa-apa, upacara Ngaben tak bisa dilakukan oleh warga. Tetapi oleh orang sewaan. Memang orang-orang sewaan itu dibayar, akan tetapi apalah artinya upacara Ngaben seperi itu.

 

Secara semiotik, tokoh Bibi adalah wakil perempuan yang hidup hari ini. Jika cerita yang disampaikan dalam “Mati Sunyi” adalah kisah nyata yang diangkat dalam cerita fiktif. Sulit rasanya untuk mencari siapa sebenarnya tokoh Bibi. Kita mungkin tahu nama-nama seperti Kartini, Dewi sartika, Marsinah, atau Suciwati. Tapi siapa di antara mereka yang dari Bali? Atau siapa di antara mereka yang mengkritik adat? Jawabannya adalah bahwa cerpen ini benar-benar fiktif. Namun tidak menutup kemungkinan kalau apa yang dikisahkan adalah betul-betul sebuah realitas yang telah atau tengah terjadi dalam masyarakat Indonesia. Atau jangan-jangan itulah potret dirinya di masa depan? Jika benar, maka Cok Sawitri setidaknya sudah punya alarm lewat cerpennya itu jikalau ia sampai berperilaku seperti Bibi.

 

Namun jauh dari itu, Cok Sawitri sebagai perempuan seperti ingin menegaskan sosok perempuan lewat tokoh Bibi. Perempuan setelah gerakan feminisnya mampu mengangkat harkat dan martabatnya setinggi-tingginya. Dalam jender tak ada kelas. Seorang perempuan pun bisa secerdas laki-laki, bisa seberani laki-laki, bahkan bisa menjadi sosok yang sangat dikenal dan dihormati oleh semua kalangan baik di dalam negeri maupun oleh bangsa sedunia. Itulah sosok aktivis pada tokoh Bibi. Sebuah cermin kemenangan gerakan Feminis di Indonesia. (Jafar Fakhrurozi)

Read Full Post »

Older Posts »