Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerpen’ Category

PESANGON SOLEH

Cerpen Jafar Fakhrurozi

Di pagi hari, sekejap setelah bangun dari tidur. Soleh mendapati isterinya menangis di pancuran. Suaranya sangat menyayat hati Soleh. Pasalnya tak sering ia jumpai isterinya menangis seperti itu, malah tadi malam Rokayah asyik bercerita tentang perasaannya yang sedang berbunga-bunga. Maklum, Wak Haji Ihung akan memberi pesangon untuk Soleh dengan jumlah yang cukup besar, uang itu dianggap cukup buat melunasi kontrakan selama tiga tahun, dan dari sana masih terdapat sisa sekitar lima juta. Uang itu oleh Rokayah akan digunakan untuk membuka warung nasi di depan rumahnya. Ia akan menyulap kamar tidur satu-satunya itu menjadi ruang makan. Kebetulan kamar itu cukup besar, lagi pula tak banyak barang-barang yang nongkrong di sana, hanya ada sebuah lemari bufet berukuran setengah ruangan, sisanya hanya terhampar tikar lusuh tempat segala aktifitas Soleh dan Rokayah.

“Di sini kan banyak kontrakan orang-orang jauh, mereka biasanya harus beli nasi ke seberang jalan. Nah, sepertinya usaha ini akan bagus, begitu sang isteri bercerita. Lanjutnya, biarlah kita tidur di ruang tamu,” Katanya memelas. Soleh hanya tersenyum tak berkomentar apa-apa, malam itu mereka larut dalam mimpi.

Melihat Rokayah tiba-tiba menangis, tentu Soleh kaget. Seperti tak ada sebab musabab Rokayah menangis tersedu-sedu, sambil mencuci pakaian, airmatanya jatuh ke balok pencuci. Melihat pemandangan itu, Soleh betul-betul tersayat hatinya, suara-suara gilasan pakaian merobohkan kelelakiannya. Waktu wak Haji Ihung sang majikan memberhentikan Soleh dari pekerjaannya, Rokayah tak terlalu sedih dan kecewa. Apapun yang terjadi, Rokayah sangat mencintai Soleh. Kondisi sakit suaminya tak bisa disalahkan. Dua bulan tak kerja, Soleh dipecat. Rokayah merespon pemecatan itu dengan tenang, karena dia tahu siapa majikannya. Wak Haji Ihung adalah orang yang paling baik di mata mereka. Wak Haji sangat perhatian pada mereka. Hampir sepuluh tahun kehidupan mereka dibantu wak Haji Ihung. Seminggu setelah Soleh dan Rokayah menikah, Wak Haji menerima Soleh sebagai pegawainya, menjadi kuli angkut lima tahun, lalu diangkat jadi mandor. Sedangkan Rokayah ikut menjadi pembantu di rumah Mantri Ujang, anak Wak Haji Ihung. Jadi bisa disimpulkan dan dihitung-hitung, seberapa besar peran keluarga Wak Haji Ihung bagi kehidupan Soleh dan Rokayah. Tentunya selama sepuluh tahun pula telah terjalin hubungan saudara antara kedua keluarga. Sebut saja wak Haji adalah orangtua bagi mereka. Rokayah dan Soleh merasa sangat bahagia, walau penghasilan mereka tak terlalu besar, namun mereka sangat mensyukurinya. Sudah kenal dan dekat dengan keluarga Wak haji saja sudah begitu berharga bagi mereka.

Namun, Soleh menyesali semuanya. Kini tubuhnya tak mampu lagi bekerja, sudah dua bulan lumpuh di rumah. Karena tak ada uang, penyakit TBC yang diidapnya dibiarkan tumbuh subur. Sempat sekali Mantri Ujang memeriksa dan memberinya obat. Lalu dia menganjurkan Soleh untuk periksa ke dokter dan dirawat di poliklinik. Tapi apa mau dikata, Soleh tak kuasa. Malu baginya jika harus minta pada Wak Haji Ihung. Sudah terlalu banyak Wak Haji membantunya. Soleh pun merasa malu dengan kondisinya. Padahal menjelang lebaran, porsi pekerjaan biasanya bertambah banyak. Dia pun biasanya ke Kalimantan membeli Rotan atau bahan baku lainnya, atau ia harus berkeliling mengantarkan produk-produk pada agen di beberapa kota. Tahun yang lalu saja Soleh menjalani puasa di perjalanan. Nostalgia itu kini melintas di kepalanya, walau berat dan melelahkan, namun terasa indah dan menyenangkan.

Tapi kini Ia ikut menangis melihat Rokayah menangis, sambil membaca muka isterinya, coba merapihkan rencana-rencana isterinya, dan mencari-cari kesalahan sendiri, oh duka apakah gerangan yang menggulita isterinya?

****

Semalam, Rokayah menceritakan perasaannya yang sedang berbunga-bunga. Ia bercerita soal uang pesangon dan rencana-rencana ke depannya, ia juga bercerita tentang THR yang akan diterimanya dari Mantri Ujang. Diam-diam, ternyata dia menabung, ada dua buah celengan yang sudah terisi disimpan di bawah lemari pakaian.

“Akang, kata mang Ujang, penyakit Akang bisa sembuh kalau segera dirawat di rumah sakit, tapi kita punya cukup uang nggak ya untuk biayannya?”

Soleh hanya tersenyum, memandang wajah rokayah yang sudah keriput, tubuhnya sudah tipis. Padahal belum terlalu tua usianya. itu disebabkan oleh beban yang sangat berat yang ditanggung Rokayah. Soleh memeluk isterinya erat-erat, ia sangat beruntung memiliki Rokayah, seorang perempuan berada yang rela susah demi dirinya. Soleh amat bersyukur, walau sebelumnya ia hampir tak percaya mampu meminang anak pak Tole, seorang guru di SD ia sekolah. Sedang Soleh hanya sebatang kara bersama gubug sepetak. Bayangan-bayangan masa lalu muncul di benak Soleh. Terasa indah juga haru.

Pasangan suami isteri itu tampak begitu harmonis, mereka berbaring bersebelahan, mata mereka memandang langit-langit atap bilik kamarnya, nafas mereka terbang dan menggenang bersama debu. Berpeluk rekat menepikan segala  ketakutan-ketakutan akan kenyataan yang pahit. Rokayah memulai pembicaraan.

Sebuah pertanyaan retoris terlontar, tentu tak ada jawaban atasnya. Kalau punya biaya, dari dulu sudah dibawa ke dokter. Jawab Soleh dalam hati.

“Selama sepuluh tahun, semenjak Neng benar-benar milik Akang, Neng betul-betul bangga punya suami seperti Akang, sepuluh tahun adalah kebahagiaan yang tiada tara, walau hidup kita pas-pasan,” Lanjut Rokayah.

Soleh bergeming. Mereka hening. Seang dalam benak Rokayah tiba-tiba terlintas bayangan mang Ujang. Beberapa bulan yang lalu ketika mereka terjebak di kamar mandi. Ya, mereka hampir terjebak. Mang Ujang mendapati Rokayah setengah telanjang. Melihat itu, mang Ujang Tercenung, khayalannya berjalan jauh. Ia benar-benar terpesona melihat tubuh rokayah yang tampak seperti gadis. Tiba-tiba diraihnya bahu Rokayah yang kuning. Rokayah kaget, jantungnya berdegup kencang. Lima menit sudah mereka saling berhadapan, bel berdenting, mereka sadar kalau mereka tengah melamun. Mang Ujang pun meninggalkannya dengan perasaan malu. Begitu sebaliknya dengan Rokayah. Sejak kejadian itu, Rokayah tak lagi bekerja pada mang Ujang. Berat baginya untuk menjalani pekerjaan dengan perasaan tak menentu. Sesekali ia berfikir bahwa dirinya bisa menjadi isteri mang Ujang. Apalagi Rokayah sangat menginginkan seorang anak. Sebuah mimpi yang tak bisa diberikan suaminya. Namun pikiran-pikiran itu hanya bayangan kelam di malam hari. Rokayah sadar dan tahu diri, dan ia betul-betul menyesal telah berfikir macam-macam. Dan malam itu Rokayah bermaksud akan menceritakan semuanya pada Soleh.

“Maafin saya, Kang” Rokayah tiba-tiba menangis.

Soleh baru sadar kalau isterinya benar-benar menangis. Soleh memeluk erat tubuh isterinya.

“Kamu kenapa, apa ada yang salah denganku. Kalau akang sehat, akang tidak akan dipecat, Neng!”

Rokayah menggelengkan kepala. Sungguh berat baginya untuk berterus terang. Didekapnya tubuh Soleh sangat erat. Rokayah perlahan berhenti menangis, lalu tersenyum. Dan mereka pun istirah dalam senyap malam.

***

Dan ketika Soleh pagi itu menemukan isterinya menangis di bawah pancuran. Soleh jatuh pingsan. Rokayah menangis histeris, dalam sejenak para tetangganya menghampiri. Salah seorang di antara mereka memanggil Wak Haji, kebetulan mobil pick up-nya sedang menganggur, dalam hitungan menit, meluncurlah Soleh ke rumah sakit. Seminggu menjelang lebaran, Soleh tergolek di rumah sakit.

Sebenarnya ada sesuatu yang hendak disampaikan Rokayah pada Soleh, tapi ia terlalu terbawa perasaan, hanya tangis yang mampu terucap. Ya, tangis bahagia. Kata Mantri Ujang, Rokayah positif hamil. Maka penantian itu telah sampai. Rokayah begitu bahagia. Ternyata suaminya tidak mandul.

Soleh masih bergeming, nafasnya terengah-engah, kabel infus tertancap di tangannya. Malam lebaran itu Soleh bertakbir, terus menerus dalam hati. Rokayah berbisik pelan.

“Kang Soleh, bangun…, ini pesangon akang. Akang jangan pergi sebelum pesangon itu akang dapatkan.”

“Eneng hamil, Kang.”

Tapi Soleh tak mendengar, hanya sunyi, hanya sunyi yang ia lihat dan rasakan. ***

Iklan

Read Full Post »

AKU TIDAK HILANG

Cerpen Jafar Fakhrurozi

 “Aku tidak pernah hilang, seperti yang orang-orang katakan, aku cuma menghilang dari hadapan kalian. Jangan khawatir, Bung!”

            Aku terjaga. Mataku terbelalak. Kaget dengan apa yang barusan kudengar. Suara lantang seorang lelaki yang sangat kukenali. Suara lelaki yang sudah bertahun-tahun membuat sibuk pikiran orang-orang. Keluarganya, aku, kawan-kawan sastrawan, aktivis HAM, masyarakat, dan sebagian pemerintah yang peduli. Kaukah itu? Oh, Aku tak yakin, karena aku tadi sedang tidur.

Apa maksud gerangan yang kau bicarakan. Sudah jelas, lebih dari sepuluh tahun kami tak melihatmu, diskusi, baca puisi, atau demonstrasi. Selama itu pula kami mencoba memberanikan diri untuk bicara lantang sepertimu, hanya untuk mencari kepastian tentang keberadaanmu. Kami teriak di depan presiden, kantor kejaksaan, militer, polisi, dan di manapun. Tapi kami tak dapat kepastian apa-apa. Keluargamu juga masih terus menangis, bahkan terdengar lebih hebat daripada dulu ketika mereka tahu kau jadi aktivis atau penyair. Ibumu tak mau melihat kau sengsara dan dibenci pemerintah, karena jadi penyair dan aktivis itu bukan masa depan yang baik. Tapi kini, ternyata mereka lebih mencintaimu ketimbang pemerintah, mereka telah berubah. Sekarang saja mereka baru teriak-teriak di kantor polisi, menanyakan keberadaanmu. Apa jawaban dari polisi, hanyalah diam seribu bahasa. Menggelengkan kepala, atau hanya mengulang-ngulang jawaban sebelumnya.

Kau kira kami sudah melupakanmu, mengubur dalam-dalam ingatan dan kenangan. Gila lu! Bilang jangan Khawatir. Sekarang, beberapa orang yang sempat hilang sudah kembali, sudah berkumpul dengan keluarga, dengan kami. Di antara mereka, tak ada satupun yang pernah melihatmu. Mereka dibawa sendiri-sendiri, dibiarkan tapi tidak bisa ke mana-mana. Mereka mungkin pernah melihatmu, tapi cuma dalam mimpi. Hanya sebuah ilusi dari mereka yang dilumpuhkan1.

Perlu kau tahu, bahwa sekarang para penculik itu sudah pada jinak, mereka sudah berani terang-terangan memperlihatkan boroknya. Katanya mereka sudah siap dihukum, tapi mereka kini sedang sibuk saling menuding dalangnya. Hahaha, aku cukup terhibur dengan pemandangan itu. Di mana-mana kalau sudah ketahuan, seorang penjahat akan bicara jujur. Selanjutnya, terbuka semuanya. Merembet ke sana ke sini. Bahkan presiden pun kena tuduh. Betul apa katamu, mereka itu komplotan penjahat, penindas, dan koruptor. Walau begitu, proses hukum belum tegak. Buktinya mereka hanya dihukum sebentar saja. Itupun anak-anak muda, para eksekutor di lapangan yang belum punya pangkat apa-apa. Mereka yang pimpinan, ongkang-ongkang kaki, malah terus  berebut untuk bisa jadi pemimpin.

***

“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat. Tenang, aku masih memperhatikan kalian, melihat keluargaku, kamu, dan kawan-kawan yang lain.”

Aku dengar lagi, ini sungguh tidak terasa seperti mimpi. Aku sadar betul, sejak malam tadi aku sengaja begadang, duduk dekat jendela. Telingaku tetap kufokuskan pada setiap suara-suara yang berseliweran. Tapi lagi-lagi aku tak mampu menebaknya, dari mana suara itu berasal, yang jelas aku tadi tidak tidur. Dan kau lagi-lagi bicara bahwa kau tidak hilang. Kau bilang masih melihat kami. Lalu di manakah dirimu?

Hari ini kami akan kumpul di depan istana, teriak panjang lebar soal hak asasi manusia bersama para keluarga korban lainnya. Mengajak masyarakat agar tidak pernah melupakan sejarah. Kami menuntut penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Rentetan tragedi yang menumpahkan darah rakyat tak berdosa. Sejak kasus 1965, Tanjung Priok, Talangsari, DOM Aceh, Haur Koneng, Trisakti, Semanggi, kematian Munir, penggusuran, serta seabreg kasus lainnya yang terus bermunculan.

Harus kau tahu, bahwa peradilan membutuhkan bukti nyata. Ia memerlukan saksi. Dan segala tuntutan kami tidak pernah dipenuhi karena tidak memenuhi syarat-syarat tadi. Termasuk kasusmu. Siapa di antara kami yang punya bukti? Hanya tuhan dan kamu yang tahu. Kalau begitu, apakah kebenaran harus dikorbankan? Ah aku frustasi. Hukum di sini tidak punya rasa keadilan. Tetanggaku kedapatan menebang dua pohon pinus untuk kayu bakar, lalu dia diancam sepuluh tahun penjara, sedang mereka yang sudah jelas merugikan negara bernilai ratusan milyar hanya dihukum semenjana, mereka pun masih bisa menikmati kehidupan mewah di penjara. Ah aku benar-benar putus asa, seputus asa negeri ini.

Tahukah kau, bahwa apa yang kau katakan padaku kini tengah jadi gunjingan banyak orang. Aku terpaksa menceritakan semua yang kudengar pada ibumu, adikmu, dan kawan-kawan yang mengaku peduli denganmu. Mereka terperangah, berharap tapi tetap tidak percaya. Mereka menangis.

“Aku tidak hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat. Tenang, aku masih berjuang dan konsisten dengan idealismeku”

Cukup. Cukup Withu, apa kau tahu, kini orang-orang menggunjingmu, katanya kau kabur ke luar negeri. Hidup mapan, mungkin kau juga dikasih pekerjaan elit di luar negeri, mungkin duta besar, atau pengusaha. Mereka menyamakanmu dengan beberapa kawan senasibmu yang kini sudah bergabung dengan para musuhnya, mereka yang sudah hidup bergelimang harta dan kekuasaan buah perselingkuhan. Mereka tidak diculik, cuma dibina, diluruskan pikirannya, agar mau sama-sama merampas ketenangan rakyat. Atas nama demokrasi. Kaupun seperti itu katanya. Nada-nada sinis tentangmu itu selalu terlontar dari beberapa mulut, terutama mereka yang tidak suka aktivis, seniman, atau gelandangan kreatif dan kritis seperti kita. Mereka bilang para pejabat kita juga dulunya aktivis, tapi kini mereka gemar korupsi dan membeli tanah rakyat. Begitu kata mereka, bahwa perjuangan itu ujung-ujungnya duit.

Tapi, aku katakan bahwa itu tidak mungkin. Aku tahu benar tentangmu, tidak mungkin kau bisa dirayu. Karena bagimu, hidup di antara terjangan peluru dan segel penjara lebih menyenangkan daripada hidup di antara gelimang harta rakyat. Aku tahu, betapa besar cintamu untuk bangsa ini. Kau tak mungkin berkhianat.

Sebagiannya lagi mengatakan kalau kau benar-benar sudah pergi meninggalkan kita, berserah diri pada yang maha kuasa. Mempertanggungjawabkan setiap kata yang kau tulis dalam puisimu. Jika itu yang terjadi, maka kami merasa tenang. Tapi walau begitu, keluargamu belum bisa tenang sebelum mendapatkan kepastian di mana jasadmu, kami ingin mendapatkan tulang belulangmu, apalagi kalau nyawamu direnggut secara paksa oleh tangan-tangan pembunuh saudaramu sendiri.

“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat.  Dan aku masih menulis puisi, mencatatkan kegelisahan ini tanpa terlewat.“

Mana puisimu Withu? Tahukah bahwa puisimu yang terdahulu, yang kata para ahli kurang estetis, kasar, dan tidak puitis, kini telah diakui, dipuji, dibaca oleh siapapun, bahkan menjadi nyanyian para pejuang. Apa kau ingat, bahwa kau pernah menulis, Hanya ada satu kata: lawan!, Hanya ada satu kata: lawan!. Kata-kata itu telah menjadi ideologi, ideologi yang membuat rasa takut musuh-musuh kita. Kata-kata yang membuat bulu kuduk kita merinding dan gigil. Mereka takut, oleh puisi-puisimu, Withu. Sekarang kau bilang masih hidup, dan masih menulis puisi. Mana, mana puisimu, Withu?

Kami rindu puisi-puisimu, puisi-puisi yang menumbuhkan pepohonan di kala kemarau, yang mengalirkan gejolak bagi kemapanan. Sungguh di era kebebasan ini, kami sulit menemukan puisi semacam itu. Puisi kini hanya nyanyian di gelap malam, ketika pagi tiba, ia hilang begitu saja. Kami rindu puisimu Withu, rindu akan kegaduhan, rindu kepalan tinju dan nyanyi perlawanan.

“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat.“

Entah kenapa, setiap bangun tidur. Aku selalu ingin merangkai kalimat-kalimat itu, seolah-olah aku juru bicara Withu. Memastikan keberadaannya, dan entah kenapa jawaban-jawaban itu yang terus kulontarkan. Hanya satu yang kuyakini, bahwa kau dekat, amat dekat dengan kami.***

      2007-2010

NB:

*Judul Buku Pramoedya Ananta Toer

Read Full Post »