Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2011

PESANGON SOLEH

Cerpen Jafar Fakhrurozi

Di pagi hari, sekejap setelah bangun dari tidur. Soleh mendapati isterinya menangis di pancuran. Suaranya sangat menyayat hati Soleh. Pasalnya tak sering ia jumpai isterinya menangis seperti itu, malah tadi malam Rokayah asyik bercerita tentang perasaannya yang sedang berbunga-bunga. Maklum, Wak Haji Ihung akan memberi pesangon untuk Soleh dengan jumlah yang cukup besar, uang itu dianggap cukup buat melunasi kontrakan selama tiga tahun, dan dari sana masih terdapat sisa sekitar lima juta. Uang itu oleh Rokayah akan digunakan untuk membuka warung nasi di depan rumahnya. Ia akan menyulap kamar tidur satu-satunya itu menjadi ruang makan. Kebetulan kamar itu cukup besar, lagi pula tak banyak barang-barang yang nongkrong di sana, hanya ada sebuah lemari bufet berukuran setengah ruangan, sisanya hanya terhampar tikar lusuh tempat segala aktifitas Soleh dan Rokayah.

“Di sini kan banyak kontrakan orang-orang jauh, mereka biasanya harus beli nasi ke seberang jalan. Nah, sepertinya usaha ini akan bagus, begitu sang isteri bercerita. Lanjutnya, biarlah kita tidur di ruang tamu,” Katanya memelas. Soleh hanya tersenyum tak berkomentar apa-apa, malam itu mereka larut dalam mimpi.

Melihat Rokayah tiba-tiba menangis, tentu Soleh kaget. Seperti tak ada sebab musabab Rokayah menangis tersedu-sedu, sambil mencuci pakaian, airmatanya jatuh ke balok pencuci. Melihat pemandangan itu, Soleh betul-betul tersayat hatinya, suara-suara gilasan pakaian merobohkan kelelakiannya. Waktu wak Haji Ihung sang majikan memberhentikan Soleh dari pekerjaannya, Rokayah tak terlalu sedih dan kecewa. Apapun yang terjadi, Rokayah sangat mencintai Soleh. Kondisi sakit suaminya tak bisa disalahkan. Dua bulan tak kerja, Soleh dipecat. Rokayah merespon pemecatan itu dengan tenang, karena dia tahu siapa majikannya. Wak Haji Ihung adalah orang yang paling baik di mata mereka. Wak Haji sangat perhatian pada mereka. Hampir sepuluh tahun kehidupan mereka dibantu wak Haji Ihung. Seminggu setelah Soleh dan Rokayah menikah, Wak Haji menerima Soleh sebagai pegawainya, menjadi kuli angkut lima tahun, lalu diangkat jadi mandor. Sedangkan Rokayah ikut menjadi pembantu di rumah Mantri Ujang, anak Wak Haji Ihung. Jadi bisa disimpulkan dan dihitung-hitung, seberapa besar peran keluarga Wak Haji Ihung bagi kehidupan Soleh dan Rokayah. Tentunya selama sepuluh tahun pula telah terjalin hubungan saudara antara kedua keluarga. Sebut saja wak Haji adalah orangtua bagi mereka. Rokayah dan Soleh merasa sangat bahagia, walau penghasilan mereka tak terlalu besar, namun mereka sangat mensyukurinya. Sudah kenal dan dekat dengan keluarga Wak haji saja sudah begitu berharga bagi mereka.

Namun, Soleh menyesali semuanya. Kini tubuhnya tak mampu lagi bekerja, sudah dua bulan lumpuh di rumah. Karena tak ada uang, penyakit TBC yang diidapnya dibiarkan tumbuh subur. Sempat sekali Mantri Ujang memeriksa dan memberinya obat. Lalu dia menganjurkan Soleh untuk periksa ke dokter dan dirawat di poliklinik. Tapi apa mau dikata, Soleh tak kuasa. Malu baginya jika harus minta pada Wak Haji Ihung. Sudah terlalu banyak Wak Haji membantunya. Soleh pun merasa malu dengan kondisinya. Padahal menjelang lebaran, porsi pekerjaan biasanya bertambah banyak. Dia pun biasanya ke Kalimantan membeli Rotan atau bahan baku lainnya, atau ia harus berkeliling mengantarkan produk-produk pada agen di beberapa kota. Tahun yang lalu saja Soleh menjalani puasa di perjalanan. Nostalgia itu kini melintas di kepalanya, walau berat dan melelahkan, namun terasa indah dan menyenangkan.

Tapi kini Ia ikut menangis melihat Rokayah menangis, sambil membaca muka isterinya, coba merapihkan rencana-rencana isterinya, dan mencari-cari kesalahan sendiri, oh duka apakah gerangan yang menggulita isterinya?

****

Semalam, Rokayah menceritakan perasaannya yang sedang berbunga-bunga. Ia bercerita soal uang pesangon dan rencana-rencana ke depannya, ia juga bercerita tentang THR yang akan diterimanya dari Mantri Ujang. Diam-diam, ternyata dia menabung, ada dua buah celengan yang sudah terisi disimpan di bawah lemari pakaian.

“Akang, kata mang Ujang, penyakit Akang bisa sembuh kalau segera dirawat di rumah sakit, tapi kita punya cukup uang nggak ya untuk biayannya?”

Soleh hanya tersenyum, memandang wajah rokayah yang sudah keriput, tubuhnya sudah tipis. Padahal belum terlalu tua usianya. itu disebabkan oleh beban yang sangat berat yang ditanggung Rokayah. Soleh memeluk isterinya erat-erat, ia sangat beruntung memiliki Rokayah, seorang perempuan berada yang rela susah demi dirinya. Soleh amat bersyukur, walau sebelumnya ia hampir tak percaya mampu meminang anak pak Tole, seorang guru di SD ia sekolah. Sedang Soleh hanya sebatang kara bersama gubug sepetak. Bayangan-bayangan masa lalu muncul di benak Soleh. Terasa indah juga haru.

Pasangan suami isteri itu tampak begitu harmonis, mereka berbaring bersebelahan, mata mereka memandang langit-langit atap bilik kamarnya, nafas mereka terbang dan menggenang bersama debu. Berpeluk rekat menepikan segala  ketakutan-ketakutan akan kenyataan yang pahit. Rokayah memulai pembicaraan.

Sebuah pertanyaan retoris terlontar, tentu tak ada jawaban atasnya. Kalau punya biaya, dari dulu sudah dibawa ke dokter. Jawab Soleh dalam hati.

“Selama sepuluh tahun, semenjak Neng benar-benar milik Akang, Neng betul-betul bangga punya suami seperti Akang, sepuluh tahun adalah kebahagiaan yang tiada tara, walau hidup kita pas-pasan,” Lanjut Rokayah.

Soleh bergeming. Mereka hening. Seang dalam benak Rokayah tiba-tiba terlintas bayangan mang Ujang. Beberapa bulan yang lalu ketika mereka terjebak di kamar mandi. Ya, mereka hampir terjebak. Mang Ujang mendapati Rokayah setengah telanjang. Melihat itu, mang Ujang Tercenung, khayalannya berjalan jauh. Ia benar-benar terpesona melihat tubuh rokayah yang tampak seperti gadis. Tiba-tiba diraihnya bahu Rokayah yang kuning. Rokayah kaget, jantungnya berdegup kencang. Lima menit sudah mereka saling berhadapan, bel berdenting, mereka sadar kalau mereka tengah melamun. Mang Ujang pun meninggalkannya dengan perasaan malu. Begitu sebaliknya dengan Rokayah. Sejak kejadian itu, Rokayah tak lagi bekerja pada mang Ujang. Berat baginya untuk menjalani pekerjaan dengan perasaan tak menentu. Sesekali ia berfikir bahwa dirinya bisa menjadi isteri mang Ujang. Apalagi Rokayah sangat menginginkan seorang anak. Sebuah mimpi yang tak bisa diberikan suaminya. Namun pikiran-pikiran itu hanya bayangan kelam di malam hari. Rokayah sadar dan tahu diri, dan ia betul-betul menyesal telah berfikir macam-macam. Dan malam itu Rokayah bermaksud akan menceritakan semuanya pada Soleh.

“Maafin saya, Kang” Rokayah tiba-tiba menangis.

Soleh baru sadar kalau isterinya benar-benar menangis. Soleh memeluk erat tubuh isterinya.

“Kamu kenapa, apa ada yang salah denganku. Kalau akang sehat, akang tidak akan dipecat, Neng!”

Rokayah menggelengkan kepala. Sungguh berat baginya untuk berterus terang. Didekapnya tubuh Soleh sangat erat. Rokayah perlahan berhenti menangis, lalu tersenyum. Dan mereka pun istirah dalam senyap malam.

***

Dan ketika Soleh pagi itu menemukan isterinya menangis di bawah pancuran. Soleh jatuh pingsan. Rokayah menangis histeris, dalam sejenak para tetangganya menghampiri. Salah seorang di antara mereka memanggil Wak Haji, kebetulan mobil pick up-nya sedang menganggur, dalam hitungan menit, meluncurlah Soleh ke rumah sakit. Seminggu menjelang lebaran, Soleh tergolek di rumah sakit.

Sebenarnya ada sesuatu yang hendak disampaikan Rokayah pada Soleh, tapi ia terlalu terbawa perasaan, hanya tangis yang mampu terucap. Ya, tangis bahagia. Kata Mantri Ujang, Rokayah positif hamil. Maka penantian itu telah sampai. Rokayah begitu bahagia. Ternyata suaminya tidak mandul.

Soleh masih bergeming, nafasnya terengah-engah, kabel infus tertancap di tangannya. Malam lebaran itu Soleh bertakbir, terus menerus dalam hati. Rokayah berbisik pelan.

“Kang Soleh, bangun…, ini pesangon akang. Akang jangan pergi sebelum pesangon itu akang dapatkan.”

“Eneng hamil, Kang.”

Tapi Soleh tak mendengar, hanya sunyi, hanya sunyi yang ia lihat dan rasakan. ***

Iklan

Read Full Post »

AKU TIDAK HILANG

Cerpen Jafar Fakhrurozi

 “Aku tidak pernah hilang, seperti yang orang-orang katakan, aku cuma menghilang dari hadapan kalian. Jangan khawatir, Bung!”

            Aku terjaga. Mataku terbelalak. Kaget dengan apa yang barusan kudengar. Suara lantang seorang lelaki yang sangat kukenali. Suara lelaki yang sudah bertahun-tahun membuat sibuk pikiran orang-orang. Keluarganya, aku, kawan-kawan sastrawan, aktivis HAM, masyarakat, dan sebagian pemerintah yang peduli. Kaukah itu? Oh, Aku tak yakin, karena aku tadi sedang tidur.

Apa maksud gerangan yang kau bicarakan. Sudah jelas, lebih dari sepuluh tahun kami tak melihatmu, diskusi, baca puisi, atau demonstrasi. Selama itu pula kami mencoba memberanikan diri untuk bicara lantang sepertimu, hanya untuk mencari kepastian tentang keberadaanmu. Kami teriak di depan presiden, kantor kejaksaan, militer, polisi, dan di manapun. Tapi kami tak dapat kepastian apa-apa. Keluargamu juga masih terus menangis, bahkan terdengar lebih hebat daripada dulu ketika mereka tahu kau jadi aktivis atau penyair. Ibumu tak mau melihat kau sengsara dan dibenci pemerintah, karena jadi penyair dan aktivis itu bukan masa depan yang baik. Tapi kini, ternyata mereka lebih mencintaimu ketimbang pemerintah, mereka telah berubah. Sekarang saja mereka baru teriak-teriak di kantor polisi, menanyakan keberadaanmu. Apa jawaban dari polisi, hanyalah diam seribu bahasa. Menggelengkan kepala, atau hanya mengulang-ngulang jawaban sebelumnya.

Kau kira kami sudah melupakanmu, mengubur dalam-dalam ingatan dan kenangan. Gila lu! Bilang jangan Khawatir. Sekarang, beberapa orang yang sempat hilang sudah kembali, sudah berkumpul dengan keluarga, dengan kami. Di antara mereka, tak ada satupun yang pernah melihatmu. Mereka dibawa sendiri-sendiri, dibiarkan tapi tidak bisa ke mana-mana. Mereka mungkin pernah melihatmu, tapi cuma dalam mimpi. Hanya sebuah ilusi dari mereka yang dilumpuhkan1.

Perlu kau tahu, bahwa sekarang para penculik itu sudah pada jinak, mereka sudah berani terang-terangan memperlihatkan boroknya. Katanya mereka sudah siap dihukum, tapi mereka kini sedang sibuk saling menuding dalangnya. Hahaha, aku cukup terhibur dengan pemandangan itu. Di mana-mana kalau sudah ketahuan, seorang penjahat akan bicara jujur. Selanjutnya, terbuka semuanya. Merembet ke sana ke sini. Bahkan presiden pun kena tuduh. Betul apa katamu, mereka itu komplotan penjahat, penindas, dan koruptor. Walau begitu, proses hukum belum tegak. Buktinya mereka hanya dihukum sebentar saja. Itupun anak-anak muda, para eksekutor di lapangan yang belum punya pangkat apa-apa. Mereka yang pimpinan, ongkang-ongkang kaki, malah terus  berebut untuk bisa jadi pemimpin.

***

“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat. Tenang, aku masih memperhatikan kalian, melihat keluargaku, kamu, dan kawan-kawan yang lain.”

Aku dengar lagi, ini sungguh tidak terasa seperti mimpi. Aku sadar betul, sejak malam tadi aku sengaja begadang, duduk dekat jendela. Telingaku tetap kufokuskan pada setiap suara-suara yang berseliweran. Tapi lagi-lagi aku tak mampu menebaknya, dari mana suara itu berasal, yang jelas aku tadi tidak tidur. Dan kau lagi-lagi bicara bahwa kau tidak hilang. Kau bilang masih melihat kami. Lalu di manakah dirimu?

Hari ini kami akan kumpul di depan istana, teriak panjang lebar soal hak asasi manusia bersama para keluarga korban lainnya. Mengajak masyarakat agar tidak pernah melupakan sejarah. Kami menuntut penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Rentetan tragedi yang menumpahkan darah rakyat tak berdosa. Sejak kasus 1965, Tanjung Priok, Talangsari, DOM Aceh, Haur Koneng, Trisakti, Semanggi, kematian Munir, penggusuran, serta seabreg kasus lainnya yang terus bermunculan.

Harus kau tahu, bahwa peradilan membutuhkan bukti nyata. Ia memerlukan saksi. Dan segala tuntutan kami tidak pernah dipenuhi karena tidak memenuhi syarat-syarat tadi. Termasuk kasusmu. Siapa di antara kami yang punya bukti? Hanya tuhan dan kamu yang tahu. Kalau begitu, apakah kebenaran harus dikorbankan? Ah aku frustasi. Hukum di sini tidak punya rasa keadilan. Tetanggaku kedapatan menebang dua pohon pinus untuk kayu bakar, lalu dia diancam sepuluh tahun penjara, sedang mereka yang sudah jelas merugikan negara bernilai ratusan milyar hanya dihukum semenjana, mereka pun masih bisa menikmati kehidupan mewah di penjara. Ah aku benar-benar putus asa, seputus asa negeri ini.

Tahukah kau, bahwa apa yang kau katakan padaku kini tengah jadi gunjingan banyak orang. Aku terpaksa menceritakan semua yang kudengar pada ibumu, adikmu, dan kawan-kawan yang mengaku peduli denganmu. Mereka terperangah, berharap tapi tetap tidak percaya. Mereka menangis.

“Aku tidak hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat. Tenang, aku masih berjuang dan konsisten dengan idealismeku”

Cukup. Cukup Withu, apa kau tahu, kini orang-orang menggunjingmu, katanya kau kabur ke luar negeri. Hidup mapan, mungkin kau juga dikasih pekerjaan elit di luar negeri, mungkin duta besar, atau pengusaha. Mereka menyamakanmu dengan beberapa kawan senasibmu yang kini sudah bergabung dengan para musuhnya, mereka yang sudah hidup bergelimang harta dan kekuasaan buah perselingkuhan. Mereka tidak diculik, cuma dibina, diluruskan pikirannya, agar mau sama-sama merampas ketenangan rakyat. Atas nama demokrasi. Kaupun seperti itu katanya. Nada-nada sinis tentangmu itu selalu terlontar dari beberapa mulut, terutama mereka yang tidak suka aktivis, seniman, atau gelandangan kreatif dan kritis seperti kita. Mereka bilang para pejabat kita juga dulunya aktivis, tapi kini mereka gemar korupsi dan membeli tanah rakyat. Begitu kata mereka, bahwa perjuangan itu ujung-ujungnya duit.

Tapi, aku katakan bahwa itu tidak mungkin. Aku tahu benar tentangmu, tidak mungkin kau bisa dirayu. Karena bagimu, hidup di antara terjangan peluru dan segel penjara lebih menyenangkan daripada hidup di antara gelimang harta rakyat. Aku tahu, betapa besar cintamu untuk bangsa ini. Kau tak mungkin berkhianat.

Sebagiannya lagi mengatakan kalau kau benar-benar sudah pergi meninggalkan kita, berserah diri pada yang maha kuasa. Mempertanggungjawabkan setiap kata yang kau tulis dalam puisimu. Jika itu yang terjadi, maka kami merasa tenang. Tapi walau begitu, keluargamu belum bisa tenang sebelum mendapatkan kepastian di mana jasadmu, kami ingin mendapatkan tulang belulangmu, apalagi kalau nyawamu direnggut secara paksa oleh tangan-tangan pembunuh saudaramu sendiri.

“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat.  Dan aku masih menulis puisi, mencatatkan kegelisahan ini tanpa terlewat.“

Mana puisimu Withu? Tahukah bahwa puisimu yang terdahulu, yang kata para ahli kurang estetis, kasar, dan tidak puitis, kini telah diakui, dipuji, dibaca oleh siapapun, bahkan menjadi nyanyian para pejuang. Apa kau ingat, bahwa kau pernah menulis, Hanya ada satu kata: lawan!, Hanya ada satu kata: lawan!. Kata-kata itu telah menjadi ideologi, ideologi yang membuat rasa takut musuh-musuh kita. Kata-kata yang membuat bulu kuduk kita merinding dan gigil. Mereka takut, oleh puisi-puisimu, Withu. Sekarang kau bilang masih hidup, dan masih menulis puisi. Mana, mana puisimu, Withu?

Kami rindu puisi-puisimu, puisi-puisi yang menumbuhkan pepohonan di kala kemarau, yang mengalirkan gejolak bagi kemapanan. Sungguh di era kebebasan ini, kami sulit menemukan puisi semacam itu. Puisi kini hanya nyanyian di gelap malam, ketika pagi tiba, ia hilang begitu saja. Kami rindu puisimu Withu, rindu akan kegaduhan, rindu kepalan tinju dan nyanyi perlawanan.

“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat.“

Entah kenapa, setiap bangun tidur. Aku selalu ingin merangkai kalimat-kalimat itu, seolah-olah aku juru bicara Withu. Memastikan keberadaannya, dan entah kenapa jawaban-jawaban itu yang terus kulontarkan. Hanya satu yang kuyakini, bahwa kau dekat, amat dekat dengan kami.***

      2007-2010

NB:

*Judul Buku Pramoedya Ananta Toer

Read Full Post »

oleh Jafar Fakhrurozi

Membaca tulisan saudara dosen Aprinus Salam (AS) yang berjudul Sastra dan Penafsiran Ideologis di Jawa Post, Minggu (09/11), di mana di mata AS, kajian-kajian sastra kini seakan menjauhkan diri dari kacamata ideologis. Hal itu dianggap kontraproduktif  dengan realitas sosial Indonesia yang dilanda berbagai krisis. Dari sana saya membayangkan bahwa para ilmuwan sastra kita masih berpersoalan dalam cara berfikirnya. Apalagi di era kebebasan seperti sekarang, setelah kebebasan berideologi kita direnggut orde baru, kinilah saatnya kaum intelektual merayakan kebebasan berideologi demi terciptanya diskursus konstruktif bagi bangsa.

Kita semua resah dengan kondisi bangsa kita dewasa ini, terlebih dunia intelektualitas kita yang asyik masyuk dengan dunianya sendiri, bahkan diperbudak oleh arus besar kapitalisme. Hemat saya, apa yang disampaikan oleh AS tentang minimya kritik sastra ideologis cukup beralasan. Sayangnya AS kurang menyertakan data-data untuk mendukung pemikirannya. Namun wacana tersebut kiraya menarik untuk diperdebatkan. Sebagai seorang akademisi, AS mungkin menjumpai secara empirik apa yang terjadi di lapangan akademis. Kita tahu, bahwa sedikit jurusan sastra yang sudah memperbaharui materi kurikulumnya. Kurikulum yang dimaksud adalah teori dan kajian sastra mutakhir seperti teori pos-strukturalisme, cultural studies, dan sebagainya.

Kajian sastra selama ini masih berkutat dari wacana positivisme, kaku, dan sempit. Bahkan menghindarkan dari konteks sosial yang semakin genting dan absurd. Ilmu pengetahuan dipelajari hanya untuk kepuasan berfikir serta keuntungan individu semata. Di Indonesia banyak sekali ilmuwan seperti itu. Termasuk di dunia sastra. Banyak ilmuwan sastra kita yang mencari “selamat”. Alih-alih bersikap netral, mereka malah ikut arus dunia yang menyengsarakan bangsa. Apa yang disebut netralitas keilmuan adalah sebuah jalan aman yang menyesatkan. Padahal idealnya sebatas itu ilmiah, sastra sebagai ilmu seharusnya mesti liar dan menjelajah seluruh sendi kehidupan. Bukankah begitu yang dilakukan para penemu peradaban dahulu. Bagaimana Alfa Edison dicap gila sebelum menemukan listrik, Galileo yag dihukum mati lantaran bilang bumi itu berputar mengelilingi matahari. Pramoedya AT dibui karena banyak mengkritik pemerintah dalam karya-karyanya. Keliaran itu yang justru melahirkan peradaban baru yang berguna untuk alam semesta.

Dunia akademis kita seperti alergi terhadap dunia ideologi. Sebagai contoh, pengalaman di jurusan saya. Waktu saya mengajukan usulan penelitian skripsi tentang kajian novel dengan menggunakan pendekatan teori sastra Marxis. Ternyata usulan saya ditolak dengan alasan yang kurang ilmiah, di mana jurusan belum siap untuk melegitmasi kajia-kajian “kiri’ seperti kritik sastra Marxis. Saya heran, kok di jaman yang sudah demokratis masih ada yang ketakutan untuk belajar. Sebuah alasan yang tak masuk akal.

Ternyata di beberapa kampus lain pun masih alergi terhadap kajian sastra kritis. Fakta tersebut kontan membuat saya pesimistis dengan perkembangan sastra di Indonesia. Apalagi pembelajaran kajian sastra kita hanya mengandalkan kampus.

Kondisi lebih parah ditemukan di kampus-kampus pencetak guru dan eks IKIP, di mana dalam kegiatan pembelajaranya, substansi keilmuannya sendiri kurang diperhatikan. Kampus seakan tidak serius membekali mahasiswanya. Kuliah di jurusan bahasa dan sastra indonsia tidak lebih dari sekedar belajar menjadi guru tapa harus dibebani untuk mendialektiskan teori-teori bahasa dan sastra yag sudah ada. Akibatnya guru-guru bahasa dan sastra yang dihasilkan bukanlah guru-guru yang kritis dan berwawasan tinggi tentang bahasa dan sastra, melainkan guru-guru yang hanya akan meneruskan tradisi mengajar textbook dan tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk menggauli dan memfilsafatkan ilmu-ilmu bahasa dan sastra.

Di luar akademis, kondisinya tak jauh beda. Sedikit sekali para kritikus sastra kritis yang tampil di koran atau buku. Hal itu juga disebabkan oleh minimnya karya-karya yang kritis atau ideolois. Setelah era pramoedyaananta toer, kita tidak banyak menjumpai sastrawan ideologis. Dari sekian nama sastrawan serta kritikus mapan seperti Sapardi Djoko Damono (UI), Maman S Mahayana (UI), Faruk HT (UGM), Suminto A Sayuti (UNY), Abdul Wachid BS (Unsoed) serta Rachmat Djoko Pradopo (UGM), adakah yang punya pandangan-pandangan ideologis?

Pascakemenangan kelompok Manikebu, perkembangan sastra kritis mengalami hambatan yang besar. Sastra berideologis seakan barang haram untuk dibaca dan diikuti.  Seperti disebutkan oleh Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta, bahwa berbagai pengertian mengenai sastra bertujuan seperti di atas, khususnya sastra ideologis dan sastra propagandis, lebih banyak dikaitkan dengan pengertian negatif (2005:379). Lebih lanjut dijelaskan bahwa sifat negatif itu dikarenakan sastra ideologis lebih banyak meninjau fungsi dan manfaat karya dengan sudut pandang tujuan, sehingga mengorbankan hakikat karya sebagai rekaan,baik sebagai kualitas estetis maupun studi cultural. Lebih ekstrim lagi sastra ideologis dikaitkan degan ideologi marxis.

Pendapat NKR tersebut seolah melakukan pembenaran. Pertanyaannya, apakah salah teori Marxis? Lantas bagaimana dengan teori lainnya yang hari ini digunakan? Apa bedanya?

Selain itu untuk kasus Indonesia, tidaklakunya sastra ideologis lebih disebabkan faktor eksternal sastra, yakni sistem politik Negara yang melarang ajaran komunis-marxis. Selama orde baru ideologi kiri itu dimatikan denga berbagai cara, termasuk di dunia sastra. Sampai hari ini pun aturan tentang larangan itu masih berlaku.

Cap politik masa lampau ternyata berbekas di benak ilmuwan kita. Ideologi Marx terutama telah dianggap gagal dan malah menjadi sumbermalapetaka bagi Indonesia. Padahal tentang ideologi itu sendiri, beberapa pemikir terdahulu telah merumuskan definisi yang jelas. Misalnya, Dani Cavallaro berpendapat bahwa ideologi dapat di definisikan secara netral ataupun kritis. Secara netral, ideologi adalah seperangkat ide tanpa konotasi-konotasi politis yang jelas/terang-terangan. Sedang secara kritis, ideologi diartikan sebagai seperangkat ide melalui mana orang membiasakan dirinya sendiri dan orang lain dalam konteks sosio-historis yang spesifik, dan melalui mana kemakmuran kelompok-kelompok tertentu dikedepankan. Hemat saya, dua-duanya tidak berisiko. Ketakutan-ketakutan para ilmuwan terhadap politik atau daya pikir dan sikap kritis hanyalah sebuah ketakutan semu yang dan tidak merdeka. Seolah-olah Indonesia adalah manigestasi ideologi Marxis yang gagal selayaknya Soviet. Pada kesimpulannya, mereka melegitimasi paham liberal yang mendukung Imperialisme.

Jauh dari politik praktis, dalam hal ini saya bersepakat dengan Manneke Budiman, yang dalam kata pengantarnya di buku Clearing A Space: Kritik Pasca Kolonial tentang Sastra Indonesia Modern, mengatakan bahwa kajian sastra perlu diposisikan sebagai bagian dari praksis, yang tak hanya berdimensi tekstual tetapi juga sosial, serta bercita-cita melakukan transformasi melalui diseminasi wawasan atau kesadaran kritis. (2006:xii). Sayangnya, kajian semacam itu hanya dilakukan di kelompok-kelompok praksis seperti di lingkungan aktivis. Padahal peran dan posisi kaum intelektual hari ini sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi bangsa.

Berangkat dari persoalan tersebut, penting kiranya wacana ini kembali diperluas dan ditindaklanjuti oleh lembaga akademis dengan memperbaharui kurikulum sastra yang  lebih luas dan multidispliner. Termasuk di dalamnya kajian-kajia idologis.

Namun lagi-lagi, hal ini akan memancing kontroversi. Sebab memaksakan ideologi dalam dunia sastra, sama halnya dengan meabuh genderang perang. Tapi dalam kondisi bagsa yang penuh krisis ini, ideologi mutlak diperlukan. Di sini masing-masing ideologi mesti menawarkan jawaban, bukan saling meyerang demi kepentingan kepuasan berfikir, apalagi kepentingan kekuasaan. Mari kita mulai! (2009)

Read Full Post »

oleh Jafar Fakhrurozi

Kita, mungkin baru merasa yakin bahwa Indonesia sedang dibekap cedera panjang ketika harga-harga barang melambung tinggi, BBM naik, ongkos chaos,atau sekolah dan kuliah yang kian mahal. Tapi apakah yakin, bahwa kemudian sastra menunjukkan keperihan itu?

Ini sama sekali bukan sebuah upaya pengkaburan estetika. Tapi seni (sastra), nyata-nyata telah menjadi bagian dari cedera itu sendiri. Betapapun kuatnya ekspresi keindahan dalam sebuah puisi misalnya, ia tetap saja tak mampu berlari dari kegetiran itu. Di wilayah itu, barulah kita punya persoalan, apakah ideologi, apakah revolusioner dan semacamnya. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus menggelontor dari benak pembaca yang gelisah seperti saya.

Fakta lain yang muncul adalah bahwa sastra yang diberi sedikit tempat di koran-rubrik seni dan budaya- kini malah mengalami nasib yang naas seiring terjadinya krisis global. Seolah sebuah bencana bagi masyarakat Jawa Barat ketika rubrik khazanah Pikiran Rakyat kini terbit dua minggu sekali. Itu pun tak bisa tampil komplit, karena ada saja kolom yang dihilangkan, seperti kolom cerpen yang belakangan ini sering menghilang. Fakta tersebut bukan hanya menunjukkan, bahwa sastra bukan menjadi bacaan prioritas yang dalam konteks industri, tidak banyak mendukung untuk income perusahaan. Tetapi juga, bahwasanya sastra bisa jadi bukanlah bacaan yang penting untuk masyarakat. Sangat menyedihkan.

Bukankah sastra dalam sejarahnya dianggap sebagai unsur penting dalam perubahan masyarakat, terlebih dalam konteks berbangsa dan bernegara. Bagaimana Uni Soviet misalnya, dibesarkan oleh tangan-tangan Leo Tolstoy, Marxim Gorky serta Boris Pasternak. Pablo Nerruda serta Gabriel Garcia Marques di Amerika atau nama-nama seperti Sutan Takdir Alisyahbana dan Pramoedya AT di Indonesia. Sastra di sana bukan hanya sebatas identitas, namun lebih merupakan spirit perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Hari ini, sastra kita tak lebih sebagai igauan sebagian orang-orang yang gelisah, atau bahkan sekedar iseng-iseng berhadiah.

Banyak orang bilang, bahwa di era postkolonial, lebih tepatnya pasca-1998, sastra justru mengasing di tengah mimpi-mimpi perubahan yang cukup rasional. Bicara perubahan kita kerap menghubungkannya dengan politik. Di mana, dalam ke-berIndonesiaan, politik menjadi fungsi pokok yang mesti diwujudkan untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dalam ranah politik, sastra juga bisa menjadi alternatif untuk membentuk kultur masyarakat agar lebih mengenal dan lebih cinta Indonesia. Dalam hal ini, ketika industri kita dihegemoni oleh industri asing, masyarakat tentu lebih terbiasa dan akrab dengan produk-produk budaya asing.

Dalam kaca mata politik tersebut, sastra amatlah penting. Di mana sebagus apapun kebijakan politik negara, kalau tidak didukung oleh masyarakat. Kebijakan itu menjadi tidak penting dan percuma. Di sini sastra mampu menjembatani distorsi tersebut. Namun, sastra dan politik kini seolah dua jalan yang berseberangan. Dua jalan yang seolah-olah tak bisa bertemu hanya sekedar berdiskusi tentang kepentingan bersama. Hal itu bisa kita lihat dari perbincangan sastra kekinian.

Beberapa waktu silam, Khazanah Pikiran Rakyat, menampilkan polemik tentang puisi dan politik. Sayangnya dari semua yang tampil berkoar; Bandung Mawardi, Hikmat Gumelar, Ahmad Subhanuddin Alwi, serta Dea Lugina, sama sekali tidak menunjukkan keseriusan. Dalam pandangan-pandangannya, yang muncul hanyalah kegelisahan seorang seniman an sich, terkesan manja dan centil. Perlu dicatat, keseriusan itu penting untuk dimaknai sebagai sebuah bentuk kerja kongkret dalam membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berjuang mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Apakah kita telah melakukannya? Jangan-jangan apa yang telah kita lakukan sama saja dengan para politisi itu, di mana sebagian dari kita yang hanya menjual kemiskinan untuk keuntungan popularitas dari karya-karyanya.

Saya melihat dunia sastra hari ini, malah hanya menjadi ajang bagi orang-orang saling intrik dan saling sirik, bahkan dunia olok mengolok. Hidup di dunianya sendiri, mirip pengidap autisme. Apakah tidak merasa malu pada almarhum Pramoedya atas mimpinya tentang Indonesia yang bebas dari ketertindasan. Jika mau dan merasa paling maju, tak ada salahnya kaum seni memimpin perubahan!

Dengan begitu, kegelisahan-kegelisahan itu tersampaikan. Apa yang dikatakan Alwy sang sufi moralis tentang wajah politisi teknokrat yang peduli petani, politisi spiritual yang hendak berbakti untuk kehidupan, politisi wali yang seolah-olah bertolak pada wahyu kebenaran, serta politisi-politisi yang pura-pura lainnyamungkin tidak akan terjadi. Sebab sastrawan punya modal kejujuran dan kemiskinan. Tapi semua yang dibicarakan itu tak berarti apa-apa bagi masyarakat jika hanya melintas di koran mingguan.

Kemudian apakah berhak seseorang melarang orang lain untuk berpuisi, atau menuliskan kembali puisi orang lain. Apalagi di domain politik, di mana hari ini dianggap oleh sebagian politisi sebagai piranti termaju untuk merubah bangsa ke arah yang lebih baik, adalah sebuah kehormatan luar biasa jika puisi menjadi inspirasi untuk perubahan. Chairil Anwar, di dalam “kubur”nya mungkin sangat bangga puisinya dihafal banyak orang apalagi berguna untuk masyarakat banyak. Dalam hal ini, sastra(wan) telah mendapat tempat yang tinggi di kehidupan berbangsa Indonesia.

Soal polemik itu, saya sempat bertanya pada seorang pimpinan partai di Jawa Barat. Lantas dia menjawab sesuai kapasitasnya sebagai orang yang sama-sama duduk dalam satu parpol dengan Sutrisno Bachir. Katanya, Sutrisno Bachir dengan sadar mengutip puisi Chairil Anwar, kesadaran itu ia buktikan dengan membayar royalti pada keluarga Chairil Anwar. Lain lagi jika Chairil menolak puisi-puisinya dijadikan jargon politik. Namun lebih dari itu, di mana hari ini sastra kiranya telah jadi panduan hidup masyarakat, tak terkecuali para politisi.

Akan tetapi kegelisahan kita akan kondisi politik dan politisi kita memang mutlak terjadi. Dalam konteks perdebatan itu, sastra(wan) sebagai representasi suara-suara marginal memang mesti angkat bicara. Wajar juga kalau sebagian orang sudah tidak percaya parpol. Apalagi politik praktis hari ini sama sekali tidak mencerminkan perubahan. Malah sebaliknya, demokrasi baru berjalan sebatas prosedur, kondisi semacam itu dimanfaatkan oleh para politisi untuk bermain dengan sok demokratis. Namun lagi-lagi, sastra(wan) tidaklah berada di dunia sendiri yang tak harus ikut berjuang bersama rakyat untuk mengupayakan perubahan.

Hemat saya, berangkat dari persoalan tersebut, justru melahirkan pertanyaan, apakah karya sastra hari ini tidak lagi memiliki keistimewaan, tidak punya narasi besar, atau tidak berguna apa-apa bagi bangsa? Bandingkan dengan adagium atau diktum yang lahir dari para sastrawan di era revolusi kemerdekaan. Tidak hanya puitis, tapi bernyawa kekal.

Itu yang saya sebut sebagai sebuah cedera. Mestinya saat realitas sosial sedang cedera, sastra tak harus ikut cedera. Ia justru mesti jadi obat. Pasca orde baru jatuh, bukan berarti sastra tidak lagi berurusan dengan negara, sebab sekacau-kacaunya kejahatan kemanusiaan (sebuah isu utama kelompok humanisme universal), lebih kacau lagi jika negara mengakomodasinya serta membiarkannya.

Tentang hubungan sastra dan politik, dua-duanya meminjam rakyat sebagai inspirasi, bahkan pelaku. Maka dua-duanya bertanggungjawab terhadap kondisi rakyat. Dunia politik bukanlah milik para politisi, pun sebaliknya. Dua-daunya bukanlah panglima. Dua-duanya tak mesti bersitegang. Dalam konteks bernegara, rakyat adalah panglima. Sastra dan politik hanyalah sebuah jalan yang beriringan. Saling meneriakkan gugatan atas Indonesia yang sedang dilanda cedera. (2009)

Read Full Post »

oleh Jafar Fakhrurozi

Di beberapa sekolah, menjelang dilangsungkannya Ujian Nasional (UN), siswa kelas 12 dilatih mengerjakan soal-soal Try Out. Hasilnya tentu saja beragam, dan bisa saja menjadi alat ukur sejauh mana kesiapan siswa dalam menghadapi UN. Tetapi ini mencengangkan, ketika hasil TO menunjukkan bahwa siswa memperoleh nilai kecil pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Padahal dari tingkat kesulitannya, semestinya bahasa Indonesia bisa mengungguli mata pelajaran lainnya.

Hasil buruk telah ditunjukan pada hasil UN tahun 2010 lalu. Di mana dari 75% siswa yang tidak lulus karena gagal dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Berbagai alasan mengemuka. Kesan yang seragam, yakni siswa menganggap enteng Bahasa Indonesia atau belajar bahasa Indonesia tidak menarik, dan cenderung membosankan. Selain itu, dalam menjawab soal, siswa mengaku kesulitan menjawab pilihan ganda. Menurut mereka pilihan jawabannya seringkali menjebak. Siswa banyak terjebak dengan pilihan jawaban yang nyaris serupa. Generalisasi ini tentu saja harus kita investigasi. Apakah betul karena faktor soal, atau memang siswa tidak menguasai pelajaran Bahasa Indonesia?

Mengubah Paradigma

 

Pelajaran Bahasa, sejak kelahirannya memang telah begitu membosankan. Sebagaimana teori linguistik secara umum, kalau bukan untuk direka-reka oleh ilmuwan bahasa, rasa-rasanya kita tak terlalu membutuhkannya. Kasarnya, tanpa huruf-huruf, toh manusia bisa tetap berkomunikasi. Terlebih sebenarnya, bahasa itu bersifat arbiter, mana suka. Kelak, pada tingkat kerumitan peradaban yang paling tinggi, bukan tidak mungkin, manusia menggunakan bahasa sendiri-sendiri, tanpa harus dimengerti oleh sesamanya. Atau sebaliknya, cuma ada satu bahasa digunakan seiring dominasi politik global oleh sebuah negara adidaya.

Di sini yang bisa kita jadikan alasan adalah penguatan identitas dan kebudayaan nasional. Celakanya, era global seakan menegasikan hal tersebut. Toh kini sebagian orang terutama generasi muda semakin jauh dari kesadaran berbudaya terlebih lagi beridentitas nasional. Kini segalanya cenderung bersifat praktis dan pragmatis. Siswa sejak dini sudah bisa menimbang-nimbang mana ilmu yang penting untuk dikuasai sebagai bekal praktis di masa depan. Misalnya program IPA untuk bisa jadi dokter atau teknisi. Kalaupun Bahasa, tentu saja bahasa Inggris yang dipilih. Sudah menjadi rahasia umum, kalau lulusan yang mahir berbahasa Inggris lebih dibutuhkan oleh dunia kerja. Meski ia bekerja di Indonesia dan dalam praktik kesehariannya menggunakan Bahasa Indonesia.

Lebih banyak kelas IPA daripada IPS atau Bahasa, menunjukkan bahwa gengsi IPA lebih tinggi daripada IPS dan Bahasa. Sehingga siswa lebih termotivasi belajar sains (MIPA). Cap kelas IPS adalah kelas buangan kadang masih melekat di benak siswa. Lalu kelas Bahasa? Itupun dibuka kalau memang ada siswa yang berminat. Tentu saja jumlahnya sangat kecil. Siswa yang masuk ke kelas Bahasa ini hanyalah siswa yang benar-benar berminat jadi ilmuwan bahasa/sastra, dan atau hanya ingin belajar bahasa Asing, bukan bahasa Indonesia.

Atas kebutuhan tersebut, kiranya bahasa Indonesia harus diangkat citranya sebagai prasyarat berkehidupan yang bermasa depan. Hal ini tentu hanya bisa direalisasikan dengan usaha komprehensif dan oleh berbagai sektor. Mengembangkan Bahasa Indonesia tidak mungkin hanya mengandalkan pendidikan. Sekolah kini terbukti belum mampu mengajarkan bahasa Indonesia, apalagi memupuk nasionalisme pada siswa. Karena siswa justru lebih cenderung terbuka menerima bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Kalaupun disebut berbahasa Indonesia, siswa lebih nyaman dengan bahasa Indonesia dialek gaul, yang kadang-kadang jauh dari kaidah dan norma bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu bentuk minimnya peran pendidikan dalam menjaga dan mengembangkan bahasa nasional.

Kini seiring bergulirnya program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), siswa barangkali akan semakin melupakan bahasa Indonesia. Terlebih output dari program tersebut adalah dunia internasional. Maka, sebelum bahasa kita benar-benar terkikis, marilah kita memaksimalkan peran semua sektor.

Selain peran dari sektor pendidikan, pemerintah sebagai pemegang otoritas kekuasaan, dapat berperan lebih dengan memainkan sektor politiknya. Sebagai contoh, baru-baru ini pemerintah China menerbitkan aturan terhadap media massa untuk mengganti semua istilah bahasa Inggris ke dalam bahasa China. Sebuah sikap yang cukup kontroversial tentunya. Tapi, ini sikap yang dianggap tepat untuk menjaga bahasa nasional yang semakin kikis oleh bahasa Inggris.  Motifnya jelas. Yakni motif politik. Lebih jauhnya bermakna “memerdekakan bahasa sendiri di negeri sendiri”. Sekarang mari kita lihat Indonesia. Menjelang perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan lalu, sebuah perusahaan pemegang lisensi Piala Dunia melarang media massa di Indonesia untuk menggunakan istilah Piala Dunia sebagai pengganti world cup. Secara etika bisnis, aturan itu wajar adanya. Akan tetapi jika dipandang dari segi independensi politik sebuah negara, yang memiliki bahasa dan budaya sendiri ini sama saja dengan pemasungan. Penjajahan di negeri sendiri.

Melihat minat literer masyarakat kita yang lebih berbudaya menonton daripada budaya literasinya. Kini semaraknya televisi swasta di Indonesia dipastikan mampu menjaring puluhan juta penonton. Dan peluang inilah yang mesti dilihat. Lewat media pembelajaran bahasa Indonesia bisa dioptimalkan. Bahasa Indonesia membutuhkan media sosialisasi yang massif, dan terakses luas oleh masyarakat. Media massa juga mampu memproduksi sebuah bahasa agar diterima dan dipraktikan masyarakat. Proses ini bukan sebuah paksaan tapi pembiasaan. Di sini, peran pemerintah untuk membuat regulasi penyiaran mesti dimaksimalkan.

 

Lebih Praksis

Materi pelajaran bahasa yang dianggap membosankan sebetulnya tidak akan terjadi jika guru mampu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Hal ini juga dapat dijadikan sebagai prasyarat terjadinya kegiatan belajar mengajar yang efektif dan berimplikasi pada hasil pembelajaran. Pembelajaran bermodel praktik barangkali lebih disukai siswa dan lebih ilmiah. Ilmu dipelajari untuk diamalkan. Syarat sebuah ilmu bisa diamalkan adalah ilmiah, artinya dapat dibuktikan sesuai realitas. Dalam konteks ini, pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia ditantang untuk menjawab itu. Bagaimana tingkat keilmiahan pelajaran ini?

Siswa kadang tidak menyadari kalau mempelajari materi surat menyurat, pidato, membuat proposal, berbicara, atau menulis itu sangat berguna dalam kehidupan masyarakat. Siswa mungkin baru menyadari dan merasa butuh kalau pelajaran-pelajaran tersebut dijadikan tuntutan atau syarat untuk menunjang karir. Misalnya untuk menjadi pengacara, da’i dan politisi harus mahir berbicara, untuk menjadi penulis, reporter, dan harus terampil menulis. Menjadi manajer, organisator harus paham administrasi, surat menyurat, proposal. Selain itu, untuk memberi jaminan masa depan bagi pembelajaran bahasa Indonesia, setiap perusahaan mencantumkan  syarat kecakapan bahasa Indonesia bagi calon karyawannya. Bukan hanya mahir berbahasa Inggris atau Toefl. Barangkali contoh-contoh tersebut bisa menjadi jawaban. Inilah yang disebut praktis dan ilmiah.

Pelajaran bahasa Indonesia kiranya bisa memperhatikan kebutuhan tersebut. Kurikulum disusun atas dasar kebutuhan, proses belajar lebih banyak praktik, soal-soal ujian (evaluasi hasil belajar) pun dibuat lebih bernilai realitas. Agar siswa dekat dan yakin bahwa belajar bahasa Indonesia adalah vital. Bukan hanya sebagai bukti sikap nasionalisme tapi juga untuk kehidupan. (Dipublikasikan di Sastra Digital, 21 Mei 2011)

Read Full Post »