Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2010

SELAMAT MENIKMATI PIALA DUNIA 2010 AFRIKA SELATAN

SEBAGAI ORANG YANG MEMILIKI NAMA DENGAN HURUF DEPAN “J”, SAYA COBA MERAMAL, DI AFSEL ADA JABULANI DAN VUVUJELA, MAKA DARI KARAKTERISTIK NAMA DITEMUKAN BAHWA PEMENANGNYA ADALAH JERMAN.

KAOS JERMAN

KAOS JERMAN

Iklan

Read Full Post »

Prahara Penyair Muda

Surat Pernyataan Sikap

Kami adalah para Penyair Muda Bandung yang memegang teguh semangat muda dan konsisten dengan apa yang kami percayai sebagai proses kepenyairan di Indonesia tidak akan goyah oleh segala bentuk intimidasi yang bisa meruntuhkan tiang-tiang perjuangan menuju dunia kepenyairan yang berpihak kepada anak muda..

Sehubungan diadakannya acara Temu Penyair Lima Kota di Payakumbuh, Sumatera Barat, bahwa kegiatan ini diklaim oleh Panitia sebagai kelanjutan dari acara Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali 2005 dan Forum Penyair Muda Empat Kota 2007, maka kami, Penggagas/Konseptor ”Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali 2005”, Forum Penyair Muda Bandung peserta “Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali 2005”, dan Forum Penyair Muda Bandung peserta “Forum Penyair Muda Empat Kota 2007” menyatakan sikap :

1. Kami menghargai inisiatif Dewan Kesenian Kota Payakumbuh (DKKP) untuk menyelenggarakan Temu Penyair Lima Kota (Bandung, Yogyakarta, Sumatera Barat, Lampung, dan Bali).

2. Setelah mempelajari proposal acara Temu Penyair Lima Kota, maka kami menyatakan bahwa terdapat perbedaan konsep yang sangat mendasar antara acara ini dengan acara Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali 2005 dan Forum Penyair Muda Empat Kota 2007. Oleh karena itu, kami menolak klaim Panitia Temu Penyair Lima Kota dan menyatakan bahwa acara Temu Penyair Lima Kota adalah BUKAN kelanjutan dari acara Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali 2005 dan Forum Penyair Muda Empat Kota 2007.

3. Kami menyatakan tidak ada keterkaitan antara acara Temu Penyair Lima Kota dengan acara Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali 2005 dan Forum Penyair Muda Empat Kota 2007.

4. Konsekuensi dari sikap kami ini adalah kami tidak akan mengirim perwakilan/penyair untuk mengikuti acara Temu Penyair Lima Kota

Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat sebagai pendirian kami terhadap kelangsungan acara Temu Penyair Muda yang kami gagas tahun 2005 lalu.

Terima kasih.

Bandung, 27 April 2008
a.n.

Penggagas/Konseptor ”Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali 2005”, Forum Penyair Muda Bandung peserta “Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali 2005” dan Forum Penyair Muda Bandung peserta “Forum Penyair Muda Empat Kota 2007”

Berikut ini Penyair Muda Bandung yang menyetujui Surat Pernyataan ini :
1. Widzar Al-Ghifary
2. Afnaldi Syaiful
3. Yopi Setia Umbara
4. Dian Hartati
5. Fina Sato
6. Rudy Ramdani
7. Dian Hardiana
8. Jafar Fakhrurozi
9. Rizki Sharaf
10. Evi SR
11. Heri Maja Kelana
12. Semmy Ikra Anggara
13. Mira Lismawati

Minggu, 27 April 2008 | 11:19 WIB
Penyair Lima Kota Berkumpul di Payakumbuh
Laporan Wartawan Kompas Agnes Rita Sulistyawaty
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/27/11192046/penyair.lima.kota.berkumpul.di.payakumbuh

BUKITTINGGI, MINGGU – Puluhan penyair dari lima kota berkumpul di Payakumbuh untuk mengikuti Temu Penyair Lima Kota, yang diselenggarakan Dewan Kesenian Sumatera Barat, Dewan Kesenian Payakumbuh, dan Dinas Kesenian Payakumbuh, 27-29 April 2008.

Ketua Temu Penyair Lima Kota Iyut Fitra, Minggu (27/4), mengatakan acara ini merupakan ketiga kalinya. Selain penyair dari Sumatera Barat, penyair dari Bali, Yogyakarta, Bandung, dan Lampung menjadi peserta. “Kali ini, kami mengangkat tema peran media di mata penyair karena media massa masih berperan penting untuk penyebaran karya sastra,” kata Iyut.

Hari Minggu ini, para penyair mengunjungi tanah kelahiran penyair Chairil Anwar, di Nagari Taeh, Kabupaten Limapuluh Kota. Senin (28/4) dan Selasa (29/4) akan diadakan diskusi sastra. Selain para penyair peserta, puluhan penyair dari berbagai kota juga hadir sebagai peninjau.

ART

—————————–

Berita tersebut saya baca di Kompas hari ini. Saya sebagai orang yang terlibat di dua acara sebelumnya merasa ada yang salah dengan berita itu. Ketua pelaksana tidak tegas menyatakan bahwa Penyair Muda Bandung menolak klaim bahwa acara di Payakumbuh adalah kelanjutan dari dua acara sebelumnya yang dilaksanakan di Bandung dan Yogyakarta.

Awalnya kami merasa cukup dengan mengirim email pribadi dan surat pernyataan resmi ketidakbersediaan koordinator untuk wilayah Bandung. Saya pikir, surat itu cukup merepresentasikan sikap kawan-kawan Bandung. Apalagi setelah ketua pelaksana mengirim undangan untuk yang kedua kalinya lewat Ahda Imran, yang ditunjuk untuk menggantikan saya sebagai koordinator, dan lagi-lagi, sikap kawan-kawan Penyair Muda Bandung masih sama, menolak klaim karena beberapa alasan yang sangat prinsipil.

Dari dua koordinator yang diminta ketua pelaksana hanya ada satu jawaban yang sama. Tapi jawaban itu sepertinya tidak berpengaruh apa-apa pada klaim panitia. Sungguh, saya merasa, panitia tidak memperhatikan sikap yang telah ditunjukkan oleh kawan-kawan Penyair Muda Bandung.

Berita yang saya kutip di atas menyatakan seolah-olah ada penyair dari Bandung yang datang ke Payakumbuh, dan terlibat aktif mengikuti acara tersebut. Akan tetapi sayang sekali tidak satu pun nama penyair yang disebutkan dalam berita itu. Setahu saya tidak ada Penyair Muda Bandung yang datang dan ikut terlibat aktif dalam acara tersebut. Oleh karena itu panitia harus mengklarifikasi pernyataan dalam berita tersebut.

Akhirnya, saya kutipkan juga surat pernyataan dari kawan-kawan Penyair Muda Bandung. Saya hanya ingin meluruskan berita yang terlanjur menyebar itu. (27 April, 2008, Sang Denai)

Read Full Post »

Antologi Puisi Mengenang Moh. Wan Anwar "Berjalan Ke Utara"

Menuju ke Utara

Ada sekitar 113 penyair yang mengirim naskah puisi, namun setelah melalui tahap kurasi, akhirnya hanya 79 penyair yang masuk dalam antologi Berjalan Ke Utara ini. Antara lain

Abdul Hadi-Lautnya
Adew Habtsa-Obituari
Adhy Rical-Tuhan Mencintaimu
Adin-Menjelang Tidur
Ahmadun Yosi Herfanda-Lelaki Tegar
Amaturrasyidah-Suatu Pagi Kamu Mengunyah Lebah
Anri Rachman-1.
Bode Riswandi-Di Beranda Sajakmu
Boedi Ismanto SA-Untuk yang Tercinta
Budhi Setyawan-Bulan Sabit di Serang
Deden Abdul Aziz-In Memoriam
Delvi Yandra-Kereta Terakhir
Den Bagoes-Puisi Itu Mencarimu, Wan
Dian Hardiana-Kepada Penyair yang Telah Pindah Rumah
Dian Hartati-Ingatan
Doddi Ahmad Fawzy-Momento Partere
Dony P. Herwanto-Aku Mencatat Namamu Diam-diam
Dwi S. Wibowo-Kini Aku Ingin Menjumpai Mautmu
Edwar Maulana-Sajak Pengantar
Endang Supriadi-Sebuah Rencana
Evi Sefiani-Sembilan Belas Tahun Kemudian
Faisal Syahreza-Memoribilia
Fina Sato-Kura-kura
Firman Venayaksa-Amor Vincit Omnia 3
Frans Ekodhanto-Ritual Perpisahan
Ginanjar Rahadian-Tiga Catatan Sebelum Kau Berangkat
Hasta Indriyana-Kampung Halaman
Heru Joni Putra-Pintu Usia
Hudan Nur-Pepasirpun Terluka
IH Antassalam-Moksa
Ihung-Mengunduh dari Jarak Jauh
Jafar Fakhrurozi-Penjaga Kata
Kamaludin-Tak Ada Upacara Pemberangkatan Buatmu
Koko P. Bhairawa-Kita ‘Kan Terus Bicara
Langgeng Prima Anggradinata-Para Pelayat
Lina Kelana-Sajak untuk Kesatria
Lugiena De-Sajak Panglayungan
Lukman Asya-Ibadah Para Penyair
M. Arfani Budiman-Zikir Buat Pendiri ASAS
Ma’mur Saadie-Selembar Daun
Matdon-Sajak Mengenang Sajak
Melda MR-Sepotong Senja yang Belum Habis Kita Nikmati
Moch. Satrio Welang-Sayap Terkepak (lagi)
Muda Wijaya-Paragraf Kata Pada Suatu Hari Paling Dingin
Muhzen Den-Di Pemakamanmu Aku Membatu
N Rohmah Maidasari-Pada Hatimu
Nandang R. Pamungkas-Hujan pun Usai
Nero Taopik Abdillah-Sajak Tahlillan
Nety Av Ney-Di Antara Musim
Niduparas Erlang-Maut Seperih Senja di Laut Lontar
Nugraha Umur Kayu-Pesan Kematian
Pratiwi Sulistiyana-Ketika Hilang Bulan
Pringadi Abdi Surya-Suatu Malam di Cianjur
Rahmat Heldy HS-Cerita Seorang Kawan
Ramdan Saleh-Yang Terkenang
Rangga Umara-Ayat Ganjil Terpahat di Punggung Batu
Reza Saeful Rachman-Sebelum Senja Selesai
Rian Ibayana-Kasidah Terakhir
Rizki Sharaf -Tunggilis
Rizqi Nur Amaliah-Arah Pulang
Rozi Kembara-Doa Pengantar Tidur
Rudy Ramdani-Rumah Kertas
Seli Desmiarti-Tuan Wan
Sigit Pramono-Maut Berpagut
Sopan Sopian-Aku Masih Membaca Namamu
Sulaiman Djaya-Terbanglah Mautku, Terbangkan Hidupku
Syaifudin Gani-Di Padang Konda
Syarif Hidayatullah-Aku Kini Menamaimu Sepi
Toni Lesmana-23 November
Veronika Dian-Hening yang Tak Biasa
Viddy AD Daery-Di Rumah Hitam Batam, Aku Teringat Kau Wan Anwar
W. Herlya Winna -Usia Padam Dalam Gugusan Hari
Widzar Alghifary-Tentang November
Wili Azhari-Di Bawah Pahatan Namamu
Wulan Widari Endah-Cintaku
Yusran Arifin-Kafe Itu Bernama Dunia
Yopi Setia Umbara-Obituari
Yussak Anugrah-Kang Wan I
Zulkifli Songyanan-Kepada Wan Anwar.

Demikian nama-nama yang masuk dalam antologi ini. Melalui penerbitan buku Antologi puisi mengenang Moh. Wan Anwar Berjalan Ke Utara ini, semoga kita dapat mengambil spirit yang senantiasa beliau alirkan.

Salam,

Penyunting
Heri Maja Kelana

(Sumber dari Catatan Langgeng Prima Anggradinata: Pengumuman Hasil Kurasi Akhir Antologi Puisi Mengenang Moh. Wan Anwar “Berjalan Ke Utara”)

Read Full Post »

Sesiahan

bulan masih terlihat tenang. padahal mimpi-mimpi tengah bergejolak, meluap dari ranjang malam. seperti laut di penghujung musim, selalu merindukan korban. dan lagu lipanglipangdang akan segera melaung. itukah? duh aku sedang gamang, sayang. sedih, kelu, dan gigil.

aku masih ingat tembang seminung, yang kau tiupkan di sela-sela gaung, di antara jerit angin dan gelombang. di atas kapal yang lusuh, sungguh, asaku membumbung. ingin segera kutinggalkan rumah keluhkesah ini, menuju tanah-tanah miskin silsilah. biar sepi, tak peduli. bukankah silsilah baru harus dimulai? silsilah yang bersih dari darah penjarah. lalu di beranda rumah, akan kita tanam bambu dan palawija. agar kita tidak lupa, bahwa sebagian dari darah kita adalah keringat para inlander. di belakang, kita bangun sarang walet. agar senantiasa awet ingatan kita, pada kepak burung dan cericit pagi. di mana kabar akan datang mengisahkan perjalanan yang sunyi.

dari balik bilik ini aku berbisik, bahwa aku mencintaimu lebih ramai daripada dermaga. lebih sunyi daripada subuh. inikah sesiahan seperti yang kau maksudkan? jika iya maka akan kulabrak ia.

tapi jarak, ibarat arak-arakan angin di laut lepas. dan sebuah sore akan datang menjemput layang-layang yang kukembangkan. kita, bisa jadi: hilang ditelan remang.

tunggulah, aku ikhlas meninggalkan kota yang telah tanggal sayapnya ini, bila harus, akan kugenapi sebambangan itu. akan segera kutambatkan kapal di ujung malam, kutancapkan nasibku di dermaga. kukibar layar di pucuk telunjuk. dan kubentangkan laut untukmu.

Jakarta, 2009
Sesiahan: Budaya berpacaran di daerah Lampung dan Sumatera bagian selatan. judul cerpennya Wira Apri Pratiwi

Read Full Post »

Saritem dan Spirit Rendra

Gonjang-ganjing nasib para pekerja seks komersial pascapenutupan kompleks prostitusi Saritem tidak gampang reda. Secara kasatmata, penutupan itu adalah langkah solutif, tetapi justru berdampak pada bertambahnya pengangguran di Kota Kembang.

Hal ini tentu akan menjadi masalah besar bagi Pemerintah Kota Bandung. Para perempuan Saritem sudah akrab dengan pelacuran. Bagi mereka lahan kerja yang paling realistis adalah tubuh. Tubuh adalah alat produksi yang paling aman, tak terjamah otoritas kekuasaan, atau tak mudah dimiliki oleh para pemodal sebagaimana praktik kapitalisme. Kisah kehidupan mereka memang sudah akrab di telinga kita. Seluruh penjuru nusantara tak pernah luput dari cerita prostitusi.

Spanduk bernada sindiran warga Saritem terhadap aksi penutupan lokalisasi

Spanduk bernada sindiran warga Saritem terhadap aksi penutupan lokalisasi

Penutupan itu menuai badai kritik. Beragam kritik yang muncul bernada serupa, yakni persoalan lahan kerja yang tak bisa disiapkan pemerintah. Bagi para penulis, penikmat, dan pemerhati sastra, kita mengenal salah satu sajak karya WS Rendra yang berjudul Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta yang ditulis akhir tahun 1960-an. Dengan semangat keprihatinan akan nasib para pelacur, Rendra melakukan kritik keras kepada para politisi, pegawai negeri, pejabat, dan jajaran penguasa.

Intrik politik dia selipkan dalam jiwa-jiwa perempuan. Dalam konteks Saritem, sajak itu sangat aktual dan faktual. Bagi para penghuni Saritem, sajak itu menjadi spirit untuk tetap tegar, bahkan untuk melakukan perlawanan. Bagi pemerintah, sajak itu tentu menjadi kritik dan perlawanan.

Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta berkisah tentang nasib para pelacur yang mendapat stigma dan diposisikan dalam kelas sosial yang paling rendah. Mereka dihina, dilecehkan, dan diperlakukan sedemikian rupa, seperti pada salah satu bait sajaknya: Pelacur-pelacur Kota Jakarta/dari klas tinggi dan klas rendah/telah diganyang/telah diharu biru/mereka kecut/keder/terhina dan tersipu-sipu.

Rendra memberi sikap prihatin akan nasib para pelacur karena bagaimanapun juga tidaklah adil merendahkan derajat manusia walaupun ia seorang pelacur. Menurut Rendra, para pelacur itu keder, tidak berdaya, dan bingung akan nasibnya. Mereka dihadapkan pada kondisi ekonomi yang serba sulit. Apalagi, sejak dulu perempuan di Indonesia punya masa lalu yang suram pada masa jugun ianfu.

Maka, dalam kondisi ketidakberdayaan itu, Rendra berpesan agar para pelacur tidak merasa putus asa dan tidak merelakan dirinya menjadi korban bulan-bulanan lelaki hidung belang. Tampak dalam bait berikutnya: Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan/tapi jangan kau kelewat putus asa/dan kaurelakan dirimu dibikin korban.

Nasib para perempuan penghibur memang demikian adanya. Stempel “nista” terpampang kuat di keningnya. Dalam sajak Dewa Telah Mati karya Subagyo Sastrowardoyo, para pelacur dijadikan analogi sebuah dunia yang carut-marut. Bumi ini perempuan jalang/yang menarik laki-laki jantan/dan pertapa ke rawa-rawa ini. Dalam hal ini, perempuan jalang sudah mendapat stigma. Mereka hidup hanya untuk merusak kehidupan yang lainnya.

Akan tetapi, WS Rendra sebagai seorang seniman yang dekat dengan kaum marjinal tetap memberi spirit kepada para pelacur untuk bangkit dari ketertindasannya. Ini terlihat dalam bait-bait berikutnya: Wahai pelacur-pelacur Kota Jakarta/sekarang bangkitlah/ sanggul kembali rambutmu/kerna setelah menyesal/datanglah kini giliranmu/bukan untuk membela diri melulu/tapi untuk lancarkan serangan…, atau pada dua bait berikutnya ada nama Sarinah dan Dasima yang mewakili kaum perempuan.

Rendra dengan bahasa yang satir mengemukakan perlawanan Sarinah sebagai tokoh perempuan yang melawan. Seberani dan secerdas apa pun seorang Sarinah, di hadapan penguasa, mereka tetaplah pelacur. Sarinah/katakan kepada mereka/bagaimana kau dipanggil ke kantor mentri/bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu/tentang perjuangan nusa bangsa/dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal/ia sebut kau inspirasi revolusi/sambil ia buka kutangmu.

Atau, pada sosok Dasima, sebagai ikon perempuan yang diceritakan dalam roman Nyai Dasima karya G Francis yang hidup pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Dasima diceritakan sebagai perempuan simpanan para pejabat kolonial, termasuk gundiknya Sir Thomas Rafles dari Inggris.

Akhirnya, Dasima kabur dan menikah dengan penduduk Betawi asli. Dengan gaya yang sama, Rendra memberi semangat bagi kaum pelacur untuk bangkit melepaskan diri dari belenggu kehidupan nista, seperti halnya Dasima.

Dan kau, Dasima/kabarkan kepada rakyat/bagaimana para pemimpin revolusi/secara bergiliran memelukmu/bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi/sambil celananya basah/dan tubuhnya lemas/terkapai di sampingmu/ototnya keburu tak berdaya.

Persoalan ekonomi

Persoalan pelacuran adalah persoalan ekonomi, bukan budaya. Sedikitnya lapangan kerja yang tersedia mengakibatkan meledaknya angka pengangguran di Indonesia. Laju pertumbuhan penduduk yang sangat pesat semakin tidak memberi ruang bagi orang-orang miskin, khususnya perempuan yang tidak dapat mengakses pendidikan untuk berkembang menuju kesejahteraan.

Rendra menyebut beberapa faktor penyebab berkembangnya pelacuran, seperti kemiskinan, kelaparan, ijazah yang tak berguna, dan faktor swasta yang macet sehingga semakin mempersempit lapangan kerja.

Kalian tak pernah bisa bilang “tidak”/lantaran kelaparan yang menakutkan/kemiskinan yang mengekang/dan telah lama sia-sia cari kerja/ijasah sekolah tanpa guna/perusahaan-perusahaan macet/lapangan kerja tak ada….

Artinya, bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas kondisi yang dialami para pelacur karena sistem yang berlaku telah menyebabkan mereka pada kondisi demikian. /Kalian adalah sebagian kaum penganggur yang mereka ciptakan/.

Maka, apa yang dilakukan pemerintah dengan menutup Saritem sebetulnya langkah yang amat sulit, seperti pada bait sajak di pembuka tulisan ini. Masa depan, pekerjaan, dan harga diri mereka yang sudah hilang harus dipikirkan.

Di akhir sajak, Rendra memberi semangat yang luar biasa dan tawaran-tawaran sikap kepada para pelacur untuk melawan, misalnya dengan cara menaikkan tarif dan mogok beraktivitas. Niscaya para lelaki hidung belang akan pusing lalu berzina dengan istri keduanya.

Sajak Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta adalah parodi yang dialamatkan kepada kaum pelacur dan pelanggan. Dengan gaya satir, Rendra berhasil mendeskripsikan perasaan yang dialami para pelacur. Dia juga mampu membangun pola pikir pembaca tentang duduk persoalan yang terjadi.

Walau sajak itu dicipta pada puluhan tahun lalu, kondisi yang menimpa para pelacur sekarang sama saja. Akar persoalannya masih sama. Sepakat atau tidak sepakat, itulah cara pandang WS Rendra. (Jafar Fakhrurozi, dimuat Kompas Jabar, 8 Juni 2007)

Read Full Post »

Kita semua patut berduka atas apa yang terjadi di Palestina. Setelah serangan teroris di Mumbai India yang menewaskan ratusan orang, kini lebih dari 400 jiwa melayang akibat serangan Israel terhadap Palestina. Sungguh akhir dan awal tahun yang menyedihkan. Betapa ironis juga, Desember lalu kita memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia (10 Desember). Terlebih lagi kita tahu bahwa Israel adalah karib Amerika, negara yang dianggap sangat peduli terhadap HAM.

Seorang pemuda tengah melempari tank Israel

Tank Israel

Perang Israel-Palestina bukanlah perang lokal di Timur Tengah. Keduanya ada dalam lintasan kepentingan dunia. Maka, bukan tidak mungkin kalau dunia ini akan kembali berperang, dengan ketegangan-ketegangan ideologi dan agama sudah semakin menguat dan terbuka. Sungguh sesuatu yang enggan dibayangkan. Jauh dari bayangan-bayangan kelam itu, sebenarnya umat Indonesia mesti lebih resah lagi, pasalnya perang masih menyelimuti negeri ini. Perang antarsipil, sipil vs militer, rakyat vs negara, dan perang-perang lainnya yang semakin membenamkan rakyat ke jurang keterpurukan. Lebih sial lagi, pemenang dari semua itu adalah kelompok pemodal, baik lokal maupun internasional yang tak bersandarkan pada keuntungan rakyat. Itulah sebetulnya musuh terbesar kita.

Kontribusi Indonesia

Menyikapi perang Israel-Palestina, apa yang bisa dilakukan di Indonesia? Untuk sekadar ikut mengaktifkan peran luar negeri Indonesia, terlebih Indonesia menjadi salah satu bagian dari anggota Dewan Keamanan PBB tidak tetap, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melayangkan sepucuk surat untuk Sekjen PBB. Suatu upaya klise di antara beragam cara lain yang bisa ditempuh dan terbukti konkret.

Agaknya, pascakejayaan Bung karno, Indonesia dalam kancah internasional bukanlah nama yang strategis dan penting lagi. Malah sebaliknya, Indonesia hanya dianggap penting sebagai pasar besar untuk globalisasi. Salah satu kekalahan de facto yang tak bisa terbantahkan lagi. Suatu cacat bagi kemerdekaan 1945 tentunya. Yang penting untuk direnungkan adalah kasus Palestina bukanlah semata kasus agama. Ia adalah konflik politik yang juga dapat kita temukan padanannya di Indonesia. Menghentikan perang bukan dengan ikut berperang. Keterjajahan secara ekonomi bisa mengakibatkan tragedi di segala lini. Tak terkecuali tragedi kemanusiaan. Kerakusan untuk menguasai modal adalah sumber utama konflik. Maka, dalam konteks bernegara, bagaimana kita bisa memaksimalkan peran negara untuk mengatasi persoalan tersebut.

Memerangi imperialisme bukanlah dengan perang fisik, tetapi menggunakan strategi budaya yakni dengan menciptakan budaya cinta dalam negeri dan menolak untuk bergantung pada bantuan asing. Sekarang, masih dalam kemasan perang Israel-Palestina, muncul isu boikot produk Amerika dan sohib-sohibnya. Isu itu terasa seksi di saat rakyat juga menuntut pada negara untuk menasionalisasi aset-aset asing.

Namun untuk melakukan itu, tentunya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sekali lagi, strategi budaya ini mesti dijadikan platform kebijakan pemerintah untuk menekan negara-negara induk kapital agar mereka berhenti mengeksploitasi dunia. Secara tidak langsung dampaknya bisa diarahkan menghentikan perang Israel-Palestina.

Aksi anti Israel di Bandung

Aksi anti Israel di Bandung

Menengok Indonesia

Seraya ikut peduli terhadap Palestina. Tampaknya, ada yang lebih serius untuk diperhatikan. Fakta membuktikan bahwa ribuan orang meninggal di Indonesia akibat konflik politik. Setelah tragedi ’65, tak henti-hentinya kita menyaksikan tragedi kemanusiaan seperti pembantaian Tanjungpriok, Talangsari, Banyuwangi, konflik Timor Timur, konflik Aceh, penculikan dan penghilangan aktivis ’98, dan pembunuhan terhadap Munir yang notabene seorang pejuang HAM. Tak hanya sebatas itu, ratusan jiwa juga meninggal akibat kemiskinan. Korban luapan lumpur Lapindo pun masih berkaca-kaca matanya, penggusuran dan pengusiran terhadap pedagang kaki lima, konflik agraria antara petani dan pemodal, bahkan dengan pemerintah yang banyak menimbulkan korban jiwa, mahalnya biaya pendidikan, apalagi dengan disahkannya Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), konflik keyakinan dan beragama serta segudang persoalan lain yang masih luput dari perhatian negara. Bukankah itu termasuk pelanggaran kemanusiaan berat di negeri ini?

Sekarang Pemilu 2009 sudah di depan mata, para elite sudah memproklamasikan keinginannya untuk berkuasa. Rakyat seperti biasanya, selalu dikorbankan. Satu hal yang patut disesalkan adalah bahwa negara lebih takut dan tunduk kepada pemodal ketimbang pada kedaulatan rakyat. Di era globalisasi ini, problem itu semakin nyata terlihat, bagaimana ketertundukan negara terhadap pemodal. Kini, rakyat harus punya sikap untuk memilih atau tidak memilih calon pemimpin di pemilu. Rakyat harus selektif memilih pemimpin. Kebutuhan kita hari ini adalah pemimpin yang lebih cinta kepada rakyat. Pemimpin yang punya visi kemandirian untuk melepaskan diri dari jeratan imperialisme. Adakah visi itu terlihat dalam sosok pemimpin-pemimpin kita hari ini?

Oleh karena itu, atas apa yang terjadi di Palestina, saya begitu curiga. Jangankan untuk maju membantu Palestina, untuk menyatakan sikap menolak ketergantungan asing saja sulit. Sungguh “malu aku jadi orang Indonesia”, begitu kalau mengingat-ingat sajak Taufiq Ismail.*** (Dimuat Pikiran Rakyat, 6 Januari 2009)

Read Full Post »