Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2010

PULANG KAMPUNG

aku selalu rindu kampung
rindu rumah dan sangkar walet
sepasang sahabat yang teduh
kami karib setiap kali hujan

aku selalu rindu sawah
rumah bagi segala gundah
anak-anak lumpur yang galau
menangis tersengat semut api

aku rindu irama malam
riang anak-anak mengaji di surau
anak-anak qur’an yang lugu
melantunkan nyanyian malam

ah, aku benar-benar rindu
memutar lagu-lagu itu

Am, 2008


ANTARA ISTIQLAL DAN KATEDRAL

antara istiqlal dan katedral
aku mematung di hitam kali ciliwung
melafalkan zikir atau nyanyi kemanusiaan
sebagaimana yang kudengar kala subuh
serta denting lonceng di ceruk pagi

dapatkah aku pahami
seumpama banjir menyapu kota tua ini
sekejap melenyapkan baris tangis di sini

begitulah, antara istiqlal dan katedral
aku senantiasa bermimpi
menjadi gerimis yang lembut
menyirami taman kelelahan zaman

Am, 2008

TAMAN SUROPATI

aku melamun di sini bersama dengkur merpati
memasuki halaman gedung berpagar langit
merebut senapan dari sangkur penjaga
menyelinap senyap ke kamar-kamar amarah
menyimpan bom di bawah ranjang obama
lalu meledaklah, binasalah segala luka dunia

di taman suropati ini aku telah berjanji
untuk membangun puing-puing mimpi
dari negeri yang dipapah tangan penjarah

Am, 2008


DI PUNCAK MONAS AKU INGIN TERJUN

berdiri tegak di puncak monas
aku seperti pangeran di punggung luka
menjaga mahkota emas yang cemas
maka dari puncak monas aku ingin terjun
ke dalam lautan tangis ciliwung
menyelami senyum gubuk-gubuk papa
yang dipajang indah di museum hujan
kita pun basah menakar nasib yang raib
di hutan kota metropolitan

di jari-jari ciliwung
anak-anak murung memulung puntung
tangan-tanggan yang berlimbah
tubuh-tubuh yang berselimut sampah
serta mata yang selalu terbelalak
selalu terjaga, barangkali maut luput
dalam lengah langkah kami

dari menara cemas ini
aku ingin meghitung setiap kelok jalan
melingkar-lingkar bagai ular yang lapar
melahap semua yang terlelap waktu
menabur racun di sekujur tubuh ibu
ibu dari segala kota yang terluka

kematian adalah mimpi paling nyata
dari abad yang kian entah
sedang aku menunggu saatnya tiba
saat tugu ini runtuh diamuk waktu

Am, 2008

Iklan

Read Full Post »

Seseorang yang Berjalan Tengah Malam

pada malam yang runcing
seseorang mengusung hutan di punggungnya
berjalan dari kota ke kota
berhenti di setiap jalan yang terbelah
menggelar kusut wajahnya
dan membiarkan tubuhnya menjadi mangsa
lelehan larva kota di sepanjang malam

ia mengingat-ingat jalan yang hilang
menyesali waktu yang terbenam di kakinya
kota ia telah lama jadi bara
matahari tumbuh di setiap rumah
bapak-bapak mencangkul limbah di balik beton
ibu-ibu menjemur dada di bibir pabrik
dan anak-anak menggembalakan mimpi
di kubangan asap yang pengap

sementara malam terus merambat
adakah pilihan tentang hari dan esok pagi
kecuali bermimpi barangkali kelak,
ada sungai yang merambat ke hulu
dan menghantam balik kota mereka

Am, 2009

Orang-orang Kardus

tubuh-tubuh kardus yang tirus
terus berlari memutar malam
meracik rincik hujan
jadi dendang tengah malam

berhentilah sejenak
tlah kugelar selembar teras rumahku
berbaringlah selayaknya nyawa
maka lupakan sejenak
huru-hara waktu di hatimu
biarlah ia pulas ditating mimpi

kelak saat subuh rubuh
kita longok kebun di jauh bukit
sepetak kebun
jauh dari nyeri dan rasa sakit

Am, 2009

Malam di Cikapayang

sebelum subuh jatuh di punggungku
aku menggambar angin di desir malam
mencoreti ceruk trotoar yang lapar

taman cikapayang
bising oleh nyanyian perlawanan
kami dendangkan dengan hidmat
sesekali mencibir para musafir
atau mengumpat mualaf negeri

negeri kami serupa lautan kenalpot
berpusing di cemas perempatan
merah kuning hijau di kebun hatiku
tak pernah jadi mawar yang merekah
atau juga anggrek yang solek

hidup ada dalam satu dua pilihan
terpanggang api heroik
atau beku dalam hujan yang tragik

Am, 2009

Secangkir Kopi di Suropati

kupu-kupu liar
siar dari jalan ke jalan
patah dan berpusing di taman

ke taman suropati aku menepi
merasakan gigil jalan
gemeretak gedung-gedung
menghimpit linglung langkahku

pada secangkir kopi
aku ingin menyimpan mimpi
biar tumbuh di tubuhku
pulau-pulau tanpa cerobong asap
langit-langit tanpa lubang hitam
tanah dan laut tenang terbentang

Am, 2009

Layang-layang

aku kembangkan layang-layang
di atap magrib
menyusuri mega-mega hitam
ada gambar wajah kita
kuyup dibius malam

layang-layang terbang
diombang-ambing malam
bocah, janganlah kau menunggu
sebab benang terus terulur
jauh membumbung
barangkali kita lupa
jarak kematian kita?

Am, 2009
Surat Malam

kusematkan lelahku pada setiap alamat
namun jalan-jalan raib. hanya magrib
terpasang usang pada kopiah bocah-bocah
aku mencarimu dalam larik-larik sengal
dilantunkan kakek, ketika subuh surup
aku seperti diinstal ajal-disayat sekarat
tubuhku dipenggal jadi baris huruf-huruf
kata-kata dimutilasi, dan aku merasa entah
di manakah lagi rumah bagi para pejalan?

Am, 2008

Malam-malam Menyusun Matahari

tidakkah salah, kami menyusun matahari
pada setiap malam yang penuh cemas
walau sudah sayup dan mengatup
mata ini ingin terus berbincang, sayang
bahwa api terus berkecamuk di negeri ini
tunggulah esok, sebongkah anak-anak sunyi
sedang siap-siap, berkemas dan berbaris
juga berebut terik matahari. revolusi!

Am, 2008

Revolusi Itu

apa yang liar di matamu, tepikanlah
sampai tubuh ini berhenti berguncang
sebab malam-malam hanyalah lengang
pergi memburu mimpi di telaga pagi
tempat luka-luka merangkai bom waktu
kelak meledak di tubuh kita, hanyalah
puing-puing yang tak sempat dicatat
sebagai rencana atau masa lalu
namun, begitulah nyanyi revolusi
adalah bom yang sunyi, mencari ibu waktu
tempat kita berteduh dan bersandar

Am, 2008

Kantata Pagi

ada yang diam-diam bernaung di saung hatiku
adalah pagi yang terus berkecamuk
merenung murung meremas ulu hati
tahukah, betapa kini aku merasakan rindu yang luap
rindu nyanyian ibu di sela gelap
yang tak kujumpai di lebat keramaian ini
sungguh, di perjumpaan waktu
aku ingin mencipta nada pada kantata pagi ini
dan menyanyikan tembang kepenatan

Am, 2009

Read Full Post »

Perlu(kah) Pengukuhan Penyair

SEJAK kapan penyair disebut penyair? Oleh siapa penyair disebut penyair? Adakah sebuah prosesi untuk mengukuhkan penyair? Awalnya saya berfikir, sangat naif jika harus bertanya hal itu. tetapi belakangan ini keponakan saya yang duduk di bangku SMP bertanya kritis sekali, “kok yang diajarkan di buku pelajaran bahasa Indonesia cuma sastra(wan) jaman dulu saja. Memangnya sastra di Indonesia mandeg sampai angkatan Acep Zamzam Noor ya?”

Jujur saja saya bingung menjawabnya, karena setahu saya begitu banyak sastrawan mutakhir, tapi begitu sedikit yang diperkenalkan sebagai sastrawan di buku akademik. Maka, kiranya wajar sekali pertanyaan-pertanyaan di atas digelontorkan, setidaknya untuk menjawab pertanyaan keponakan saya.

Keresahan ini juga bisa jadi akibat ketakpuasan terhadap kondisi kritik sastra belakangan ini. Jika orang terus menulis tanpa sekalipun karyanya dibicarakan, apa guna karya itu? Bukankah karya dilahirkan untuk dibaca khalayak, dan langsung tidak langsung, sedikit atau banyak, dapat diambil manfaatnya oleh pembaca.

Almarhum HB Jassin mungkin sangat sadar akan hal itu. Betapa ia, meski tanpa bantuan professor Google, mampu membaca, mengulas, atau bahkan mengukuhkan sesorang untuk disebut sebagai sastrawan atau bukan sastrawan. Saya kira penting untuk kembali membicarakan ini di tengah bermunculannya nama-nama penyair muda di Indonesia. Kedua, telah terjadi perubahan yang signifikan dalam peradaban masyarakat dunia hari ini. Era teknologi (internet) setidaknya telah menggeser cara pandang dan sikap masyarakat tentang makna pendokumentasian sebuah karya sastra (Media). Ketiga, pembicaraan mengenai estetika semakin hilang dimakan proyek kesenian. Padahal era reformasi telah berjalan lebih dari satu dekade, ini artinya karya sudah harus dibaca dengan persfektif yang baru.

HB Jassin, sang pengukuh sastrawan

HB Jassin, sang pengukuh sastrawan

Selama ini media (surat kabar, majalah dan buku) masih menjadi standar baku pengukuhan kepenyairan seseorang. Hal itu sudah berlaku sejak dulu. Bedanya, dulu media bisa dikemudikan oleh suatu kekuatan politik penguasa, kini lebih cenderung berdasarkan selera redaktur semata. Walaupun tidak menutup kemungkinan, bermacam-macam kekuatan bisa saja mendikte redaktur (maaf). Artinya, koran (baca:redaktur) dengan sendirinya telah menjadi pembaiat. Dengan atau tanpa pola, akan terbentuk sebuah regenerasi kepenyairan. Media di daerah dalam hal ini memiliki peran yang lebih besar dalam mengorbitkan penyair baru dari daerahnya. Namun, prosesi pengukuhan lewat media ini terkesan amat parsial. Contohnya, jika kita menempatkan Kompas sebagai standar tertinggi, maka para penyair Kompas dengan sendirinya merasa duduk dalam kelas tertinggi. Lalu bagaimana dengan penyair yang tidak mau mengirim karya ke Kompas? Inilah yang kemudian menjelaskan betapa luasnya kepentingan dalam sebuah ruang publik seperti media massa.

Dari sana, agaknya acara-acara temu sastra akan dapat membantu mempertemukan keparsialan itu. Meskipun tetap saja ada rasa tak puas, karena kebanyakan temu sastra itu juga masih berunsur kelas. Bahkan politis. Atau beberapa pertemuan sastra yang diadakan sebuah lembaga kesenian bekerjasama dengan pemerintah (Mitra Praja Utama) masih saja menyisakan masalah; kecemburuan, kecurigaan dan ketidaktransparanan. Apakah ini sebuah masalah? Bisa jadi tidak, tergantung dari mana memandangnya.
Masih soal media, munculnya sastra cyber, atau kini lebih heboh lagi dengan lahirnya peradaban facebook (FB), menyisakan sebuah pertanyaan, bagaimana mengkategorikannya? Setiap pengguna FB berhak mempublikasikan puisi, setiap teman mengomentarinya, dan lahirlah komunikasi sastra yang bersifat akademis. Alangkah itu yang diharapkan dari dinamika sastra kita hari ini. Kelenturan semacam ini yang belum mampu diakomodasi oleh media massa. Oleh karena itu, kiraya keberadaan cybersastra harus diperhitungkan.

Berikutnya soal prosesi pengukuhan. Ada baiknya menyimak fakta ini. Ada beberapa komunitas di Indonesia, ternyata memiliki tradisi pengukuhan (pembaiatan) tersendiri. Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) misalnya, untuk membaiat penyair berbakat, tentu saja muda, dilakukan sebuah ritual. Biasanya calon penyair itu membacakan karya-karyanya dalam sebuah acara khusus bertajuk show (one men show, duet show, womenshow, dll) yang sengaja diadakan dalam rangka pembaiatan. Setelah pembacaan selesai, barulah penyair itu dibaiat dengan sumpah kepenyairan dipimpin oleh orang yang dianggap pantas (penyair sepuh) untuk membaiat penyair. Meski hanya sebuah simbolik, pengukuhan macam itu bisa jadi penting, selain memberikan rasa percaya diri, prosesi itu adalah bentuk penghargaan terhadap pelaku sastra, yang mana sampai kini, negara kita belumlah dikatakan menghargai sastra. Prosesi ini menjadi alternatif, yang belum berkesempatan dimuat di media, lewat show itulah mulanya.

Untuk mengukuhkan seseorang menjadi penyair, barangkali perlu dahulu ditegaskan siapakah penyair? Dari beberapa logika di atas, maka sederhananya, penyair adalah orang yang menulis puisi, mempublikasikannya dalam sebuah media dan diakui oleh pembaca atas kualitas yang dimilikinya. Orang yang hanya menulis sajak di internet (sebutlah facebook) adalah penyair juga. Apalagi yang di koran atau buku. Barangkali kelasnya saja yang berbeda-beda. Misalkan kita membuat beberapa kategori penyair, seperti penyair professional dan penyair amatir.

Penyair professional adalah penyair yang sudah mapan dalam berkarya. Buktinya adalah jumlah karya yang dimilikinya. Ia juga harus mendapatkan pengakuan dari publik bahwa dirinya adalah seorang penyair. Tentu saja, atas keprofesionalannya itu, puisi-puisinya bernilai ekonomi alias dibayar oleh sebuah institusi seperti Negara. Di Malaysia, sastrawan Negara itu ada. Nama-nama seperti Prof. DR. Haji Salleh, Kris Mas, Usman Awang, Prof. Shahnon Ahmad, A Samad Said, atau Almarhum Arenawati yang keturunan Bugis, adalah para sastrawan yang diberi gaji oleh Negara. Di masa Kerajaan juga pernah ada. Kerajaan Kediri, misalnya punya Mpu Dharmaja, Mpu Tanakung, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Kerajaan Majapahit (peralihan dari Singasari) ada Empu Prapanca, Kerajaan Kahuripan Airlangga, ada Empu Kanwa. Pelabelan sastrawan Negara ini mengandung banyak motif dan makna. Pengangkatan sastrawan negara bisa juga dilakukan sebagai bentuk penghargaan, atau justru upaya pengekangan. Sejatinya, penghargaan itu tetap ada tanpa ada pengekangan.

Lalu penyair amatir, adalah orang yang menulis puisi karena kesadaran, kegemaran dan kecintaannya pada puisi. Puisi senantiasa hadir dalam kehidupannya. Atas karya-karya yang dibuatnya, ia bisa juga dibayar, tapi tidak tetap. Misalkan memenangi lomba, atau dimuat di media. Penyair model ini kiranya yang hidup di Indonesia. Dari hidup sampai matinya, secara ekonomi, nasib penyair amatir ada dalam ambang kesederhanaan. Secara sosial, ia hanyalah sekelompok terhormat yang dibincang sekelompok kecil masyarakat, yakni masyarakat sastra. Soal aku megakui kepenyairan ini, Sutardzi Calzoum Bachri sudah banyak mengulasnya dalam buku kumpulan esainya “Isyarat” (Indonesiatera, 2007). Secara umum SCB menganggap penting status kepenyairan. Dalam “Pengantar Kapak” SCB mengajari kita tentang kebanggan menjadi seorang penyair. Ia dengan lantang menyebut dirinya penyair. dan penyair adalah sebuah pekerjaan yang serius. Kendati begitu, bukan berarti ia gila status (identitas) semata, tapi yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana usaha memperoleh status itu. Yakni dengan sungguh-sungguh menggali dan menemukan bahasa. Tanpa itu, mustahil orang memperoleh gelar penyair.

Terakhir, hemat saya, ini masalah super penting. Upaya membaca estetika jaman. Jika kita percaya istilah Hegel tentang zeitgeis (semangat jaman), saya kira hari ini kemunculan para penyair muda bisa jadi mewakili zeitgeis itu. Pascareformasi ini, saya membayangkan sebuah kondisi yang bombastis. Seperti halnya materi-materi yang diberitakan media dewasa ini. Semuanya begitu verbal dan vulgar. Hal itu wajar terjadi setelah lebih dari empat dekade sejak kemerdekaan Indonesia, kita hidup dalam tekanan politik yang tidak sehat. Kini setelah gerakan 1998, ada harapan baru bagi bangsa untuk menatap dunia baru yang lebih sehat. Makna-makna yang dulu mati kini mesti kembali dihidupkan. Seorang penyair adalah seorang yang selalu gelisah, maka tepat baginya untuk menghidupkan makna-makna yang telah mati atau membuat makna-makna baru yang berguna bagi masyarakat. Dapatkah kita baca hal itu dalam puisi hari ini, misalnya ditulis oleh para penyair muda yang “lahir” pascareformasi? Barangkali kita tidak mungkin menjawabnya kalau pembicaraan mengenai estetika ini tidak pernah dimulai.

Dari pembacaan baru itu, mungkin saja semangat zaman yang ditafsirkan Jurgen Habermas sebagai kesadaran terhadap harapan dan kesadaran akan percepatan masa depan benar-benar terjadi, di tengah bangsa yang mulai terluka ini. Dan dari pembicaraan tentang estetika ini, berarti ada karya yang diakui. Dengan pengakuan itu, otomatis ada seseorang yang dikukuhkan menjadi penyair. Selamat datang penyair mutakhir Indonesia! (Jafar Fakhrurozi)

Read Full Post »