Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2009

Budiono dan Budi Anduk

Oleh Jafar Fakhrurozi

Beberapa waktu yang lalu, di beberapa ruas jalan utama Kota Bandung, terdapat bentangan spanduk bertuliskan “Say No to Budiono, Say Yes to Budi Anduk”. Di bawah tulisan tersebut tertera sebuah nama forum, menandakan identitas pemiliknya. Jelas itu bukan iseng, sebab di jaman krisis ekonomi seperti sekarang, mana mau orang membuang-buang uang untuk kepentingan yang tak jelas. Itu jelas spanduk propaganda. Sebuah respon yang terlontar dari pihak-pihak yang kecewa atas SBY yang memilih pasangan cawapres Budiono yang dianggap tidak pantas. Kalaupun demikian, kenapa bahasa yang dipilih serupa lelucon. Sebuah wacana yang saya kira jauh dari etika dan nilai sebuah propaganda.

Budiono dan Budi Anduk adalah referen (pengacuan) dua manusia Indonesia yang nyata. Dua sosok yang dikenal publik. Namun, antara Budiono dan Budi Anduk jelas berbeda, Budiono adalah seorang pejabat pemerintah, ahli ekonomi dan intelektual yang hidup di lingkungan kekuasaan. Sedangkan Budi Anduk adalah seorang pelawak yang belakangan tenar dengan tampang dan tingkah lakunya yang menggelikan. Perbedaan tersebut membuat keduanya tidak bisa dibandingkan dalam sebuah konteks yang sama. Terlebih konteks riil politik yang hari ini benar-benar sedang terjadi.

Dalam ilmu linguistik, kalimat tersebut menggunakan kaidah repetisi. Pilihan kata Budi Anduk adalah proses pengulangan yang sebunyi dengan Budiono. Sehingga menimbulkan efek bunyi yang enak dibaca. Ditambah dengan sosok Budi Anduk yang terkenal belakangan ini, seakan menjadikan kalimat propaganda tersebut lebih populer. Bentuk repetisi tersebut juga bisa kita temukan dalam kalimat “Lebih cepat lebih baik”, atau pengulangan-pengulangan kalimat pada iklan partai politik. Pengulangan-pengulangan tersebut memiliki efek enak dan mudah dibaca. Dan tentu saja, propaganda dengan penggunaan kalimat semacam itu akan lebih mudah diingat oleh publik. Meskipun demikian, sebuah wacana berhubungan erat dengan skemata. Skemata adalah referensi pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Untuk memahami wacana dalam spanduk tersebut, sesorang harus memiliki skemata tentang kontroversi pemilihan Budiono sebagai cawapres pasangan SBY. Kalau tidak, publik akan memaknai wacana tersebut sebagai lelucon. Artinya, propaganda dalam wacana tersebut tidak bernilai apa-apa.

Secara sintaksis, kalimat dalam spanduk tersebut tak melanggar kaidah berbahasa. Secara semantik juga memiliki makna yang jelas. Dalam bingkai lelucon, kalimat itu bisa diartikan sebagai “daripada memilih Budiono lebih baik Budi Anduk” atau secara serius dapat diartikan “Budiono bukanlah pilihan yang bagus”. Akan tetapi jika dilihat dari aspek sosio-pragmatiknya, kalimat tersebut memiliki makna yang lebih daripada lelucon. Kita tahu, bahwa kultur politik kita belum mampu menunjukkan etika yang sejatinya. Dalam gelaran politik, transaksi ekonomi masih menjadi jurus utama untuk memenangkan kandidat. Sebaliknya, tak ada partai yang serius melaksanakan pendidikan politik yang baik pada masyarakat. Masyarakat hanya dijadikan objek pemuas kepentingan. Karena setelah pemilu berakhir, para caleg sudah duduk di kursi kekuasaan, mereka lupa siapa yang telah memilihnya. Selain itu, sebagian perilaku elit politik juga tak memberikan tauladan pada rakyat, mereka terlibat korupsi, prostitusi, dan tindakan kontraproduktif lainnya. Sedangkan kini, tayangan infotainment, lawakan, serta acara hiburan lainnya merajalela di televisi. Masyarakat pun gandrung menghabiskan waktu di depan televisi, membincangkan perilaku selebritis, atau menirunya. Sebuah kultur yang cepat meresap dalam kehidupan masyarakat.

Jadi kembali pada spanduk. Seberapa penting menggiring masyarakat untuk ikut sinis terhadap Budiono sedangkan masyarakat sendiri tak begitu peduli pada politik indonesia yang semakin tak menguntungkan masyarakat. Daripada pusing memikirkan politik lebih baik menghibur diri dengan menonton Budi Anduk di televisi.  (Juni, 2009)

 

Iklan

Read Full Post »

Oleh Jafar Fakhrurozi

Di usianya yang hampir menginjak kepala tujuh, di luar dugaan Danarto masih memiliki tangan emas untuk merautkan cerita-ceritanya di atas kertas. Hal itu bisa kita lihat dan rasakan ketika membaca Kacapiring, antologi cerpen terbaru Danarto yang terbit pertengahan 2008 tahun lalu. Seakan ingin melanjutkan cerpen-cerpen sebelumnya, Kacapiring bagaikan lantunan lagu gambus yang lebih bijak dan berisi. Apa gerangan yang disampaikan Danarto dalam Kacapiring?

Tak terlalu berbeda dengan cerpen Danarto sebelumnya, Kacapiring dengan 18 buah cerpen yang terhimpun di dalamnya, kembali mengajak kita untuk merenung tentang arti kehidupan lewat nuansa sufi dan mistiknya. Walau terkesan sudah umum, seperti halnya sastra sufistik yang sering mengangkat tema-tema seputar kematian, cinta, dan sosial. Akan tetapi jika kita membaca dan mengkajinya dengan skemata multipersfektif dan aktual, kita akan dapat menemukan nuansa lain dari Kacapiring. Nuansa tersebut bisa jadi adalah kekuatan yang membedakan dengan cerpen sebelumnya, atau antara Danarto dan pengarang cerpen sufi lainnya.

Kacapiring

Kacapiring

Mungkin, karena cerpen dalam antologi tersebut adalah koleksi cerpen yang telah dimuat di Koran, maka dalam Kacapiring, tema-tema yang disuguhkan begitu aktual dan up date. Seperti halnya tragedi tsunami Aceh, penggusuran, perampasan tanah, pro kontra pornografi dan pornoaksi, reformasi, serta realitas sosial lainnya yang ada di sekitar manusia Indonesia hari ini. Bahkan dengan detail, jeli dan tanpa sensor. Danarto menyebutkan beberapa nama dan fakta yang akrab di benak masyarakat. Selain itu, dalam Kacapiring, Danarto tidak hanya berposisi sebagai pengisah yang resah. Justru ia menemukan semacam jawaban-jawaban atas keresahannya tersebut. Dalam bingkai religiusitas, jawaban-jawaban itu bisa jadi menggambarkan derajat keimanan Danarto terhadap Khalik yang dianutnya. Masih dalam ke-khas-an Danarto, realitas batin dan sosial tersebut masih banyak dibingkai dalam mistisisme.

Untuk membuktikan asumsi-asumsi di atas, mari kita bahas beberapa cerpen yang ada dalam Kacapiring. Dalam cerpen yang berjudul Jantung Hati misalnya, ia mengangkat dua konsep oposisi biner. Kehidupan-kematian dan kekotoran-kesucian. Ia menilai bahwa manusia takut akan kematian, ketakutan itu muncul diakibatkan oleh adanya pengadilan di hari akhirat, manusia takut karena hidupnya penuh dosa (kekotoran). Oleh karena lukisan tentang neraka yang begitu mengerikan, maka manusia sangat takut menghadapi maut. Manusia takut pengadilan karena waktu di dunianya penuh kekotoran. Dalam cerpen tersebut, Danarto seakan mengingatkan bahwa, manusia tak luput dari kekotoran, maka kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Kalau mau direnungkan, mayoritas manusia selain nabi dan rasul tidak pernah luput dari dosa, lantas kenapa harus takut diadili. Kesucian itu hanya milik malaikat, begitu Danarto menyimbolkan dalam cerpennya.

Cerpen yang dikisahkan melalui tokoh yang ia ceritakan dengan narasi aku-lirik itu adalah sebuah imajinasi belaka, sebab secara logika tidak mungkin seorang yang telah meninggal bisa bercerita, pun dengan Danarto yang belum pernah mengalami kematian. Di sinilah kadar religiusitasnya terlihat begitu tinggi. Cerpen Jantung Hati adalah sebuah kesaksian pertaubatan seorang manusia yang penuh dosa.

Dalam cerpen Lailatul Qodar, yang bercerita tentang sebuah keluarga yang mudik dari Jakarta ke kampung halamannya di Jawa, keluarga yang sebulan penuh khusuk menjalani ibadah Ramadhan itu baru mudik setelah menunaikan sholat Ied. Di perjalanan, ketika jalur sangat padat dan macet, mereka melihat ada jalan kosong yang tak dilihat oleh pengendara lain, akhirnya mereka sampai di tujuan dengan cepat dan selamat. Dalam cerpen tersebut, Danarto ingin menggambarkan keutamaan ibadah Ramadhan terutama di malam Lailatul Qadar. Di saat orang-orang sibuk mengantri karcis jauh-jauh sebelum lebaran, sebuah keluarga dalam cerpen itu memilih beribadah dengan khusuk dan baru pulang setelah lebaran. Cerpen-cerpen bernuansa sufistik lainnnya terdapat pada Zamrud, Jejak Tanah, Nistagmus, Lauk dari Langit, dan Ikan-Ikan dari Laut Merah.

Dalam nuansa sufistik tersebut, terdapat beragam estetika dan tema. Seperti dikatakan sebelumnya, estetika mistik masih menjadi estetika dominan Danarto. Pada Zamrud dan Jejak Tanah, nuansa mistik sangat kental. Sebagaimana mistik, ketidaklogisan itu bukanlah sebuah perkara, justru lewat mistik tersebut Danarto mengisahkan realitas yang profan. Jejak Tanah adalah sebuah kritik terhadap para pemodal yang kerap membeli dan menggusur tanah rakyat. lewat tokoh Bapak yang berprofesi sebagai pengusaha yang rajin membeli dan menggusur tanah rakyat, Danarto berhasil mengetengahkan sebuah problem sosial kontemporer yang terjadi di Indonesia. Yang menarik adalah bahwa dalam persfekstifnya, walau rakyat selalu dirugikan oleh tokoh Bapak, akan tetapi Danarto memberikan kesempatan tokoh Bapak untuk mengemukakan alasannya. Tokoh bapak seakan-akan tidak mengerti, kenapa ia selalu diprotes padahal dalam melakukan pekerjaannya ia selalu menaati aturan serta membayar ganti rugi yang pantas. Meskipun demikian, Danarto tetap menyerahkan keberpihakannya pada korban. Keberpihakkan tersebut diperlihatkan secara mistik dengan nasib jenazah Bapak yang tak diterima tanah. Nuansa Sufistik juga terlihat kuat pada cerpen Pohon yang Satu Itu, Nistagmus dan Lauk dari Langit yang menyinggung tentang Tragedi Tsunami Aceh akhir 2004 silam.

Di luar sisi transendennya, Danarto juga memiliki wawasan realitas yang cukup kuat. Walau tidak ideologis, namun beberapa cerpennya berhasil mengisahkan realitas sosial dengan persfektif kaum marginal di Ibu kota. Dalam cerpen Zamrud, Danarto melukiskan realitas buruh dan kaum cilik lainnya seperti tukang becak. Cerpen Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mi Instan, dengan sangat realis masalah-masalah penggusuran dikemukakan. Dalam dua cerpen tersebut yang menarik adalah bahwa ditemukan beberapa fakta ilmiah populer, seperti penyebutan nama Dita Indah Sari dan Wardah Hafidz, dua perempuan aktivis yang vokal di Jakarta, kutipan lagu Ada Pelangi di Matamu karya grup band rock Zamrud, lagu Ketahuan karya Band Matta, Ucing Garong dan fakta-fakta lainnya yang beberapa waktu ke belakang pernah marak dan membumi di kalangan masyarakat. Saya kira, penyebutan beberapa fakta tersebut cukup menarik. Sesuatu yang jarang dilakukan cerpenis lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa Danarto adalah seorang pengarang yang tidak terpisah dari ruang, ia malah setia menemani ruang metropolis yang penuh persoalan.

Masih dalam hal aktualitas, dalam cerpen Telaga Angsa dan Si Denok, Danarto mengajak kita untuk berdiskusi soal konsep kesenian terkait adanya UU APP. Dengan ilmiah dalam cerpen Telaga Angsa Danarto membandingkan referensi agama dengan estetika seni pada kostum penari balet yang super tipis. Atau pada lukisan dan patung perempuan kegemaran Bung Karno dalam cerpen Si Denok.

Terhadap lingkungan, Danarto juga memiliki sense yang kuat, cerpen Pohon Rambutan dan Pohon Zaqqum adalah representasi kepekaannya terhadap lingkungan.

Dari beberapa bahasan singkat terhadap cerpen-cerpen Kacapiring, tak terlalu berlebihan kalau Danarto diberi gelar cerpenis sufistik, atau dengan kadar sastra, religiusitas dan sosialnya tinggi. Jika merujuk pendapat Abdul Hadi WM tentang pembagian sastra religius yang mencakup; karya yang menggarap masalah-masalah spiritual (sufistik), karya-karya yang menggarap lapis sosial faedah, masalah sosial, politik, kemasyarakatan dan karya pelipur lara yang kadar konsepnya tinggi. Maka Danarto adalah salah satu cerpenis mapan dalam kategori tersebut.

Dari keseluruhan cerpen, nilai-nilai religiusitas tampak begitu sublim dalam tiga konsep: hablum minallah, hablum minannas, dan hablum min a’lam, ketiga dimensi tersebut merujuk pada satu muara, yakni pertemuan di hari akhirat. Inilah puncak kulminasi religiusitas seorang petualang batin. Sebuah bentuk pertaubatan yang total. Sebuah kesimpulan baginya yang sudah menginjak usia matang menghadap sang Khalik.

Read Full Post »

Mati Sunyi dan Refleksi Cok Sawitri

Kita mengenal nama Cok Sawitri sebagai seorang perempuan yang berpikiran maju namun punya visi kedaerahan (adat) yang cukup kuat. Beberapa karyanya tak luput dari tema-tema yang berbau adat Bali sebagai kampung halamannya.

 

Salah satu cerpennya yang berjudul Mati Sunyi yang terhimpun dalam buku antologi cerpen terbaik KOMPAS 2004 Sepi Pun Menari di Tepi Hari, adalah salah satu cerpen terbaiknya, cerpen itu sekaligus menjadi refleksi diri Cok Sawitri sebagai seorang aktivis perempuan yang kerap dihadapkan pada persoalan pergulatan posisi dalam kelas jender, serta persoalan adat Bali yang masih mentradisi yang keberadaanya dewasa ini mulai digerus budaya global. Cok Sawitri sebagai sosok perempuan modern begitu arif dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah transisi zaman menuju peradaban yang mengikis habis nilai-nilai budaya serta adat istiadat di Bali. Dia adalah cermin perempuan modern yang tak lupa kulitnya. Beberapa waktu kemarin misalnya, beberapa komentar dan pernyataannya muncul untuk menentang diberlakukannya Undang-undang Anti pornografi/pornoaksi (APP), dia memandang bahwa definisi pornografi tidak sebatas artifisial, bukan sekedar fisik yang sedikit telanjang seperti yang didefiniskan dalam RUU tersebut. Baginya, Bali, dan beberapa daerah lainnya masih menghormati adat, di sana perempuan masih setia dengan adat, pakaian yang seronok ala adat misalnya adalah bukan dikategorikan pornoaksi. Cok sawitri tidak mau terjebak mainset kontemporer yang mengabaikan adat. Justru bagi karya-karyanya, adat adalah sumber inspirasi. Namun, dalam karya-karyanya adat bukan semata bulan-bulanan cerita, keberpihakannya akan adat sangat jelas.

 

Cerpen Mati Sunyi bercerita tentang nasib yang menimpa seorang aktivis perempuan setelah meninggal. Aktivis diperankan oleh tokoh Bibi. Nasib Bibi sungguh tragis. Semasa hidupnya, Bibi sangat dihormati, dikenal dan ditakuti oleh berbagai kalangan baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebagai seorang pejuang kemanusiaan sudah barang tentu ia sangat dicintai dan dibanggakan oleh banyak masyarakat. Tapi sayang, rasa cinta itu tidak berlaku bagi masyarakat di tempat kelahirannya. Bibi malah dianggap hidup bukan mewakili masyarakat asalnya, Bibi hidup untuk orang lain. Tak pernah Bibi memberikan kontribusi pada masyarakat asalnya, maka pada kematiannya, Bibi mendapat sanksi sosial berupa pengucilan, sampai-sampai masyarakat di kampungnya tak ada yang mau terlibat dalam prosesi upacara Ngaben yang begitu luhur di sana.

 

Cerpen Mati Sunyi adalah wanti-wanti dari Cok Sawitri. Seorang perempuan aktivis lewat tokoh Bibi, dengan jelas dikisahkan bahwa tokoh Bibi sebagai seorang aktivis yang dibekali otak, ide, serta pemikiran yang cerdas ditambah keberanian yang tiada tara, dikenal, disegani, dan dihormati banyak kalangan, ternyata sama sekali tidak dihormati di tempat kelahirannya. Kematiannya hanya menyisakan kebencian bagi masyarakat di kampungnya. Hal itu disebabkan karena semua kehebatan Bibi, semua perilaku kritis Bibi dalam menyuarakan orang-orang tertindas, sama sekali tidak berkenan di hati masyarakat asalnya, selama hidup, Bibi dianggap tak pernah memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat, bahkan Bibi kerap mengkritik adat yang dianut masyarakat.

 

Cok Sawitri betul-betul jeli melihat secuil realitas yang tak banyak disadari orang. Dia mampu mengungkap sisi-sisi lain dari seorang aktivis. Cok sawitri telah melakukan kritik dan memberi evaluasi yang cukup berarti untuk para aktivis yang banyak meninggalkan daerah asalnya dan malah memilih berkecimpung di kota yang sebenarnya punya persoalan yang berbeda dengan di daerah. Dalam perspektif umum, persoalan kota dengan desa memang sama. Kemiskinan sama artinya bagi orang kota dan desa. Dalam perspektif khusus, jelas sangat beda. Orang kota yang tak bisa makan berbeda dengan tak bisa makannya orang kampung. Ada kontradiksi yang berbeda. Kota lebih maju peradabannya ketimbang Desa. Hari ini misalnya, orang desa sudah puas dengan pakai pakaian yang rapih dengan model sederhana. Tapi buat masyarakat kota, mereka baru puas kalau sudah punya pakaian dengan model terbaru.

 

Berangkat dari contoh sederhana di atas, wajar jika masyarakat di tempat tokoh Bibi dilahirkan menganggap kalau apa yang dikatakan dan dilakukan bibi sama sekali tidak menjawab persoalan di kampungnya. Cok Sawitri betul-betul mampu mengungkap itu. Dalam situasi dan kondisi yang berbeda, maka arti sebuah kebenaran pun berbeda. Seorang Aktivis macam Bibi tetap punya kekurangan. Cerpen “Mati Sunyi” memiliki pesan yang dalam, bahwa setiap manusia, sehebat apapun ia tetap saja mempunyai kelemahan.

 

Walau hari ini zaman sudah jauh meninggalkan adat istiadat, tetapi di sebagian daerah di Indonesia, masih berlaku adat istiadat yang dijadikan keyakinan akan sebuah kebenaran. Di Bali misalnya, adat seperti upacara Ngaben, upacara sabung ayam, serta upacara-upacara lainnya masih lestari sampai kini. Adat dijadikan spirit ruhani serta media aktualisasi manusia dengan Sang Hyang Widi. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi warga di Bali untuk menghormati dan melaksanakan adat. Jika tidak, sanksi sosial pasti lahir sebagai konsekuensinya.

 

Tokoh Bibi sebagai orang yang lahir di lingkungan yang menganut adat, mendapat sanksi sosial di akhir hayatnya karena perilakunya yang sering mengkritik adat dan perilakunya yang mulai meninggalkan adat. Bagi masyarakat sanksi itu berlaku tanpa pandang bulu, tak peduli ia terkenal atau tidak terkenal. Berbeda dengan hukum negara yang merupakan warisan kolonial, impunitas berlaku bagi beberapa orang terpandang, punya uang serta materi yang melimpah. Cerpen ini sangat evaluatif dan kritis dalam menyikapi perkembangan manusia dan zamannya kekinian yang semakin jauh meninggalkan adat.

 

Ada hal yang menarik yang sangat kontekstual dan relevan dengan realitas budaya orang-orang “berduit”  di Indonesia, mereka menjadikan uang sebagai segala-galanya, melebihi apapun. Budaya rendah tersebut masih menggulita sebagian orang-orang kaya, untuk memuluskan jalan atau cita-cita yang diinginkan, mereka beli dengan uang. Uang, uang dan uang. Semua persoalan beres. Tapi tidak dalam cerpen ini, bagi masyarakat di mana tokoh Bibi berasal, uang tak dapat menolong apa-apa, upacara Ngaben tak bisa dilakukan oleh warga. Tetapi oleh orang sewaan. Memang orang-orang sewaan itu dibayar, akan tetapi apalah artinya upacara Ngaben seperi itu.

 

Secara semiotik, tokoh Bibi adalah wakil perempuan yang hidup hari ini. Jika cerita yang disampaikan dalam “Mati Sunyi” adalah kisah nyata yang diangkat dalam cerita fiktif. Sulit rasanya untuk mencari siapa sebenarnya tokoh Bibi. Kita mungkin tahu nama-nama seperti Kartini, Dewi sartika, Marsinah, atau Suciwati. Tapi siapa di antara mereka yang dari Bali? Atau siapa di antara mereka yang mengkritik adat? Jawabannya adalah bahwa cerpen ini benar-benar fiktif. Namun tidak menutup kemungkinan kalau apa yang dikisahkan adalah betul-betul sebuah realitas yang telah atau tengah terjadi dalam masyarakat Indonesia. Atau jangan-jangan itulah potret dirinya di masa depan? Jika benar, maka Cok Sawitri setidaknya sudah punya alarm lewat cerpennya itu jikalau ia sampai berperilaku seperti Bibi.

 

Namun jauh dari itu, Cok Sawitri sebagai perempuan seperti ingin menegaskan sosok perempuan lewat tokoh Bibi. Perempuan setelah gerakan feminisnya mampu mengangkat harkat dan martabatnya setinggi-tingginya. Dalam jender tak ada kelas. Seorang perempuan pun bisa secerdas laki-laki, bisa seberani laki-laki, bahkan bisa menjadi sosok yang sangat dikenal dan dihormati oleh semua kalangan baik di dalam negeri maupun oleh bangsa sedunia. Itulah sosok aktivis pada tokoh Bibi. Sebuah cermin kemenangan gerakan Feminis di Indonesia. (Jafar Fakhrurozi)

Read Full Post »

Dalam memandang sebuah persoalan, terlebih dalam karya yang dihasilkannya, seorang sastrawan saya yakin tidak asal bicara (baca:tulis), melainkan penuh konsep yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara estetik maupun ilmiah. Kiranya hal itu telah ditunjukkan oleh almarhum W.S Rendra dalam sajak-sajaknya. Antologi puisi Rendra yang cukup fenomenal yang berjudul Potret Pembangunan dalam Puisi (Pustaka Jaya, 1996), tidak hanya menunjukkan ideologi dan keberpihakannya pada rakyat tertindas, akan tetapi di dalamnya penuh konsep, gagasan, dan wawasan realitas. Dari sekian banyak puisi dalam antologi tersebut, ada sebuah konsep yang terlihat matang secara keilmiahannya dan jika dikontekskan dengan hari ini, konsep tersebut seolah menjadi wacana besar yang diamini masyarakat. Konsep yang dimaksud adalah pandangan-pandangannya tentang pendidikan yang dipraktikan di negara kita. Dalam puisi, Rendra mengemukakan semacam ”analisis” kritisnya terhadap sistem pendidikan sebagaimana para pengamat pendidikan dalam tulisan-tulisannya. Hal itu secara dominan banyak dikemukakan pada sajak-sajak yang terhimpun dalam buku antologi tersebut.

 

Membicarakan sistem pendidikan, kita akan memulainya dari kerangka paradigmatik atau filosofis. Dalam sajak Pertemuan mahasiswa, Rendra bertanya: Kita ini dididik untuk memihak yang mana?/Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini/akan menjadi alat pembebasan,/ ataukah alat penindasan?/. Pertanyaan tersebut jelas sangat ideologis. Istilah pembebasan atau penindasan lahir dari kolam ideologi. Keduanya adalah produk yang dihasilkan oleh sebuah sistem. Dalam sajak yang lain lantas Rendra kembali bertanya. Pendidikan membuatku terikat/pada pasar mereka, pada modal mereka/.Dan kini, setelah aku dewasa./Kemana lagi aku ‘kan lari,/bila tidak ke dunia majikan?/ (sajak Gadis dan Majikan).

 

Dalam sajak tersebut, Rendra prihatin akan nasib seorang perempuan (gadis) yang selalu diperbudak oleh majikan. Majikan dalam puisi itu diartikan sebagai bos di tempat gadis bekerja. Dalam sajak tersebut Rendra mengkritik pendidikan yang tak berhasil mengubah paradigma laki-laki terhadap perempuan sekalipun perempuan itu terpelajar. Dalam realitas kekinian, masih banyak perempuan terdidik yang bekerja sekaligus melayani kebutuhan biologis bosnya. Hal itu dilihat oleh Rendra sebagai kesalahan pendidikan, bukan kesalahan perempuan. Artinya Rendra tidak menggunakan alasan sebagaimana pemikiran feminis tentang budaya patriarkhi yang selama ini menjadikan budaya patriarkhi sebagai kambing hitam atas ketertindasan perempuan. Menurut Rendra, kepemilikan modal menimbulkan kekuasaan yang tak terbantahkan, sedang pendidikan kita hanya dipersiapkan untuk mengabdi pada modal. Maka tidak aneh kalau lapangan kerja pun dibuat sesuka pemodal. Rendra pun mengatakan bahwa pendidikan yang telah diberikan seolah percuma saja. Hal itu terlihat pada bait sebelumnya: Siallah pendidikan yang aku terima./Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,/kerapian, dan tatacara,/Tetapi lupa diajarkan:/bila dipeluk majikan dari belakang,/lalu sikapku bagaimana!..(Sajak Gadis dan Majikan)..

 

Dalam sajak Sajak Seonggok Jagung Rendra lagi-lagi mengaskan bahwa pendidikan kita tak mampu memberikan apa-apa. Pendidikan kita hanya membuat siswa/mahasiswa terasing dan tercerabut dari kehidupan. Pendidikan hanya menambah pengangguran di Ibukota, dan dengan bahasa yang amat liris Rendra menyindir para mahasiswa yang setelah lulus malah merasa asing dan sepi ketika telah pulang ke daerahnya. Kata Rendra: Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan. /Aku bertanya: /Apakah gunanya pendidikan/ bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing/ di tengah kenyataan persoalannya?/Apakah gunanya pendidikan/bila hanya mendorong seseorang/menjadi layang-layang di ibukota/kikuk pulang ke daerahnya?/Apakah gunanya seseorang/belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,/atau apa saja,/bila pada akhirnya,/ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: /“Di sini aku merasa asing dan sepi!” (1996).

 

Pertanyaan-pertanyaan yang sekaligus penegasan realitas tersebut adalah problem pendidikan nasional yang sulit terpecahkan. Keterasingan output pendidikan terhadap masyarakat diakibatkan oleh tidak ilmiahnya kurikulum yang diberikan. Istilah ilmiah menandakan bahwa pendidikan harus bisa dibuktikan kebenarannya. Ia harus direlevansikan dengan kebutuhan dan realitas masyarakat. Selama ini, kurikulum pendidikan nasional tidak begitu ilmiah, kurikulum banyak diisi ilmu-ilmu asing. Sehingga kadang-kadang tidak relevan dengan realitas yang ada. Tak heran jika hari ini rakyat Indonesia miskin di tengah alam yang kaya raya. Itu karena orang Indonesianya sendiri tidak paham bagaimana mengelolanya. Ketidakilmiahan itu diakibatkan oleh berkiblatnya pendidikan kita pada barat. Ditegaskan oleh Rendra dalam Sajak Pemuda: Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat. /Di sana anak-anak memang disiapkan /Untuk menjadi alat dari industri. /Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti./Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa? /Kita hanya menjadi alat birokrasi!/Dan birokrasi menjadi berlebihan/tanpa kegunaan-/menjadi benalu di dahan. /Gelap. Pandanganku gelap. /Pendidikan tidak memberi pencerahan. /Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan /Gelap. Keluh kesahku gelap. /Orang yang hidup di dalam pengangguran. /Apakah yang terjadi di sekitarku ini?../ (1996).

 

Selain di wilayah paradigma, Rendra pun mengkritik realitas di wilayah kebijakan pemerintah. Pemerintah dianggap tak mampu memberikan akses pendidikan pada rakyat dengan mudah. Akibatnya masih banyak anak-anak yang tak bisa sekolah. Hal itu terdapat dalam sajak Sajak Sebatang Lisong: Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak /tanpa pendidikan. /Aku bertanya, /tetapi pertanyaan-pertanyaanku/membentur meja kekuasaan yang macet,/dan papantulis-papantulis para pendidik/yang terlepas dari persoalan kehidupan…/.Angka matematis tersebut bukanlah asal bicara. Hari ini saja, di mana pemerintah sudah mulai melaksanakan kewajiban menggratiskan pendidikan, angka putus sekolah masih tinggi.

 

Sebagai penegasan, dalam sajak yang berjudul Sajak Anak Muda, Rendra menamai angkatan pendidikan dengan waktu itu dengan angkatan gagap. Angkatan yang diproduksi oleh sistem yang salah, lantas menghasilkan angkatan yang pasti salah. Kesalahan tersebut menjadikan kita menjadi angkatan yang berbahaya. Hal itu bisa dilihat dalam: Kita adalah angkatan gagap./Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar./Daya hidup telah diganti oleh nafsu./Pencerahan telah diganti oleh pembatasan./Kita adalah angkatan yang berbahaya…/(1996).

 

Sebagaimana sebuah konsep, ia membutuhkan solusi-solusi sebagai antitesis dari kesimpulan yang ada. Rendra menyadari hal itu, maka Rendra pun tidak hanya berkeluh kesah. Dalam sajak Sajak Sebatang Lisong, Rendra merumuskan sebuah solusi untuk membawa pendidikan kita ke jalur kemandirian, tidak bergantung dan berkiblat pada Barat. Menurut Rendra solusinya adalah: Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing./Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,/tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan./Kita mesti keluar ke jalan raya,/keluar ke desa-desa,/mencatat sendiri semua gejala,/dan menghayati persoalan yang nyata…(1996). Sesuai dengan pemikiran Rendra, keterpurukan Indonesia di atas alam yang maha subur ini diakibatkan oleh sikap negara yang bergantun pada barat. Tak terkecuali di sektor pendidikan. Pemikiran liberalisasi pendidikan pun muncul dan dilaksanakan di Indonesia. Maka untuk melaksanakan apa yang dikatakan Rendra, salah satu caranya adalah dengan menunjukkan keberanian untuk mandiri di segala bidang. Sebuah pesan puitis dari Rendra layak dialamatkan pada para calon presiden kita yang sekarang sedang sibuk bertarung.

 

Dalam sajak-sajak Rendra tampak begitu kuat ideologi penyair dalam memandang pendidikan. dalam hal ini Rendra menggunakan teori-teori pendidikan kritis. Dalam literatur akademik, Henry Giroux dan Aronowitz membagi paradigma pendidikan ini menjadi tiga: konservatif, liberal dan kritis. Sejauh ini, pendidikan nasional lebih suka menggunakan paradigma konservatif dan liberal. Sedang paradigma kritis hanya digalakkan oleh lembaga nonformal atau oleh para aktivis. Tujuannya untuk memberikan akses seluas-luasnya pada rakyat miskin untuk bisa cerdas, terbebas dari hegemoni dan dehumanisasi sistem kekuasaan.

 

Mengingat begitu ilmiahnya sajak-sajak Rendra, saya kira tepat gelar doktor honoris causa yang diraihnya dari UGM tempo lalu. (Jafar Fakhrurozi)

Read Full Post »