Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2009

Sampai hari ini, sebagian besar dari kita meyakini dan mengakui bahwa kelahiran Budi Utomo 20 Mei 1908 adalah momentum kebangkitan nasional, parameternya terletak pada bangkitnya kesadaran segelintir bangsawan yang dicerdaskan di negeri penjajah. Apakah memang demikian tolak ukurnya? Bicara Nasionalisme adalah berbicara kesadaran bangsa untuk menghargai dan mencintai sekumpulan manusia dalam lokalitas tertentu untuk menuju bangsa yang diakui dan dihormati bangsa lain.

Wacana itu muncul dari semangat senasib sepenanggungan sebagai bangsa terjajah. Dengan demikian nasionalisme muncul pada fase kolonialisme Eropa.

Di Sumatera misalnya, ada Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, serta Panglima Polim yang dianggap sebagai pahlawan nasionalisme.

Di Jawa, ada pangeran Dipenogoro, jendral Sudirman, Sukarno. Di Kalimantan ada Pangeran Antasari, Sultan Hasanudin di Sulawesi, Pattimura di belahan timur Indonesia. Apakah deretan perjuangan dari pemimpin di atas juga dicatat sebagai momentum kebangkitan nasional? Jika kebangkitan nasional bercirikan kebangkitan kesadaran di tataran ide berupa edukasi, maka ada sebuah unsur yang cukup berperan dalam mengenalkan manusia Indonesia dengan dunia literasi, mencoba membebaskan diri dari keterbelakangan budaya. Sektor itu adalah sastra.

Sastra Nusantara berangkat dari imaji dan nuansa budaya sendiri. Tapi kebanyakan pada masa itu yang berkembang adalah sastra lisan. Di akhir abad IX menurut catatan Maman S Mahayana, telah ada beberapa majalah sastra yang memuat karya sastra berupa hikayat, cerita, dongeng, syair, pantun dan lain-lain seperti yang ditulis dalam sub judul sebuah majalah Sahabat Baik Desember 1980 di Betawi. Selain majalah itu disebutkan sebelumnya juga sudah ada yakni Biang-lala 1868 dan Selompret Melajoe 1860-1910 di Semarang. Kemudian pada awal abad ke-20 semakin banyak muncul majalah sastra seperti Pewarta Prijaji Semarang,1900, Bintang Hindia (Bandung, 1903), Poetri Hindia (Bogor, 1908), Bok-tok (Surabaya,1913).

Kemunculan sastra pada masa kolonialisme tidak mungkin lahir begitu saja, atau lagi-lagi menurut Maman S Mahayana, Kesusateraan Indonesia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan yang melahirkannya seolah wujud begitu saja, tanpa proses, tanpa pergulatan budaya pengarangnya. Penegasan itu adalah sebuah bentuk pembenaran terhadap kajian sosiologi sastra yang mencoba mengaitkan karya sastra, pengarang dan situasi sosial dan budaya yang melingkupinya. Tentunya kajian ini semakin memudahkan untuk menggambarkan bagaimana spirit nasionalisme telah digenggam sastra sejak jaman kolonial serta masa pra kemerdekaan.

Beberapa karya yang dilahirkan pada masa kolonialisme abad ke-19 memang belum bicara nasionalisme Indonesia. Walau begitu, kebanyakan karya tersebut sudah bicara lokalistik, sebuah konsep nasionalisme yang lebih kecil-sama seperti primordialisme. Seperti pada cerpen ”Tjerita Langkara dari Orang Isi Negeri Jang Soeloeng di Poelaoe Djawa” yang bercerita tentang perjalanan seorang raja Rum (romawi) menuju pulau Jawa yang dianggap negeri sepi sesuai keinginan raja. Dalam perjalanannya itu prajurit Raja Rum tidak dengan mudah menaklukan Jawa yang amat besar dan dihuni raksasa, setan, dan jin. (Maman S Mahayana, Perjalanan Estetika Lokal Cerpen Indonesia). Hal itu menunjukkan bahwa pengarang (tidak disebutkan) sudah memiliki kesadaran akan rasa cintanya terhadap tanah kelahiranyya-pulau Jawa-. Pengarang seolah menegaskan bahwa sebagaimana kolonialisme, itu selalu mendapat perlawanan dari penghuni asli. Namun karena keterbatasan imajinasi, pengarang lebih memberikan kemenangan pada Raja Rum, sehingga raja Rum akhirnya mampu menguasai Jawa. Hal yang sama dengan kondisi kolonialisme Indonesia selama 3 setengah abad oleh Belanda. Bahwa kecanggihan Belanda mampu menaklukan banyak perlawanan dari masyarakat nusantara.

Pada masa pra kemerdekaan, karya-karya sastra yang genre dominannya roman malah sudah menampakkan kecenderungan nasionalisme itu, pada masa balai pustaka dan pujangga baru sudah banyak karya-karya yang bermuatan politik, karya-karya sarat kritik terhadap pemerintah kolonial. Roman seperti ”Sitti Nurbaya” karya Marah Rusli, ”Layar Terkembang” Sutan Takdir Alisyahbana termasuk roman yang mengusung ide-ide nasionalisme. Ide-ide itu diselipkan dalam tema-tema percintaan, adat, dan agama. Sitti Nurbaya misalnya, menghadirkan perlawanan masyarakat minang dipimpin Datuk Maringgih melawan Prajurit Belanda. Atau dalam ”Layar Terkembang”, tokoh Tuti menjadi representasi generasi muda yang mampu mencerminkan bangsanya.

Lahirnya sumpah pemuda pada tahun 1928, semakin memperkokoh bangunan nasionalisme kita. Dengan semangat satu nasib keterjajahan, tak terkecuali di ranah sastra, angkatan Pujangga baru dengan majalah Pujangga Baru-nya bersemboyankan “Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan persatuan Indonesia”. Sebagian besar angkatan 45 pun banyak melahirkan karya-karya yang bernuansa nasionalisme, ada Armijn Pane dan Chairil Anwar dengan beberapa puisi patriotisnya. Pengarang selanjutnyapun masih banyak bicara perjuangan nasionalistik. Novel Royan Revolusi karya Ramadhan KH atau Tak Ada Esok karya Mochtar Lubis. Dan yang cukup fenomenal adalah Pramudya Ananta Toer, beliau amat konsisten dengan perlawananya terhadap penindasan, baik yang dilakukan penjajah ataupun pemerintah kita sendiri.

Di Tepi Kali Bekasi dan Keluarga Gerilya adalah contoh karyanya yang menggambarkan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang selanjutnya Pramudya mengklaimnya sebagai aliran realisme sosialis bersama seniman yang tergabung dalam LEKRA. Karya-karya yang berestetika realisme sosialis seperti klaim beberapa sastrawan LEKRA semakin mempertegas keberadaan bangsa yang tunduk pada penjajah, penindasan pemerintah serta kesengsaraan. Bagi kelompok sastrawan ”kiri”, masyarakat yang berada dalam keterindasan adalah masalah yang harus segera diselesaikan, ketertindasan itu diakibatkan sistem sosial yang menindas, imperialisme, kapitalisme, dan feodalisme yang menyusup dalam sistem pemerintahan Indonesia. Maka perlu adanya perjuangan yang revolusioner untuk menghancurkan tatanan sosial yang menindas itu. Salah satunya adalah dengan menggunakan medium sastra sebagai alat penyadaran dan perjuangan menuju cita-cita luhur sosialisme. Sosialisme yang dimaksud adalah dalam konteks kebangsaan: Indonesia, bagaimana Indonesia berjalan atas dasar sosialisme. Berbeda dengan LEKRA, kelompok Manikebu sebagai opisisi LEKRA memandang nasionalisme sebagai bentuk kehidupan yang lebih humanis, meletakan rasa cinta, jiwa manusia secara lebih umum, tidak berpihak pada satu landasan ideologi, serta lebih mementingkan terjaganya kehidupan yang lebih manusiawi, tidak saling menyakiti homo homini lupus).

Bicara nasionalisme hari ini, antara penting dan tidak penting. Dirasa penting saat kita dihadapkan pada persoalan identitas sebuah bangsa, misalnya ketika menonton pertandingan timnas sepakbola melawan Bahrain tempo lalu. Menjadi tidak penting jika kita melihat cara kerja globalisasi atau Francis Fukuyama menyebutnya era neoliberalisasi. Di mana fungsi negara sudah tak lagi berperan, sebab dengan mudah kepentingan asing masuk ke Indonesia. Rasa-rasanya kita tak punya negara (nation state) melainkan sudah menjadi negara global (global state). Akibatnya, bangsa kita diobok-obok asing, masyarakat yang belum cerdas dipaksa mengikuti arus global, yang susah tetaplah susah dan terbelakang, yang kaya tambah korup. Kalau sudah begitu bisa bubar negara Indonesia. Dalam kondisi yang mahagenting macam itu, hemat saya, sastra harus mengisi posisi dalam ruang-ruang nasionalistik yang sudah terburai, menjahitnya dengan penuh estetis. Ini boleh diartikan sebagai sastra propagandis, tidakpun boleh.

Pramoedya AT mungkin telah banyak membahas perjuangan sektor sastra, bahwa sastra memiliki tugas-tugas revolusioner. Tugas itu lahir dari sobekan realita. Dalam kondisi realitas objektif masyarakat yang tertindas. Sastra dibuat untuk berpihak pada siapa? Penindas atau tertindas, atau sastra hanya menjadi mediator vertikal ketertindasan.

Sastra adalah bertugas. H. B. Jassin sendiri pernah merasa perlu menterjemahkan tugas sastra ini pada tahun-tahun Revolusi Agustus dari karya Sartre, dalam “Mimbar Indonesia” sedang karya Sartre ini kemudian pun dicetak pula dalam majalah “Indonesia” (1949). Bahwa sastra memikul tugas, kini tak banyak lagi disangsikan orang. Pada awal tahun 1950-an sastra banyak kala dianggap sebagai tujuan, sebagai mantra, suatu anggapan yang menyalahi realita. (Pramoedya Ananta Toer, Jang Harus Dibabat dan harus Dibangun, Bintang Timur (Lentera), 7 September 1962). Sebuah aliran yang amat tendensius, para sastrawan ”murni” yang apolitis menganggapnya terlalu berlebihan, dan politis. Beberapa penolakan atas pandangan Pram tersebut memberikan gambaran bahwa telah terdapat perbedaan persepsi mengenai tugas-tugas yang harus diemban sastra itu.
Sebagai representasi jiwa manusia (masyarakat), tidak salah kalau sastra ikut bertanggungjawab atas dinamika perubahan sosial yang terjadi, akankah sastra menghadirkan karya-karya yang mampu membangun kesadaran masyarakat untuk maju. Atau sastra hanya jadi bagian keisengan masyarakat sebagai upaya pelarian dari realitas objektif yang sangat pahit. Senada dengan apa yang dikatakan Ajip Rosidi bahwa bahwa persoalan sastra Indonesia tak dapat dilepaskan dari persoalan politik. Untuk itu keasadaran akan kebangsaan menjadi sebuah keniscayaan dalam sastra.

Namun Apa yang muncul dalam dua dekade terakhir sangat memprihatinkan. Berakhirnya polemik Lekra dan Manikebu seperti mengakhiri dinamika sastra kritis. Sastra kini kebanyakan tak terlalu peduli persoalan kebangsaan. Runtuhnya rezim otoritarian tahun 1998 tidak dipandang sebagai transisi nasionalisme kita. Kita lupa kalau penjajahan gaya baru ala globalisasi semakin mempersempit rasa nasionalisme kita. Sebagian sastrawan malah memanfaatkanya untuk melahirkan karya-karya yang sangat ringan, tidak perlu ruwet, asal diterima masyarakat. Mungkin kita juga lupa kalau masyarakat tengah dikemudikan arus itu. Di manakah kini keindonesiaan kita? Kini tengah sistem sosial seperti itu, kita masih harus optimis dan masih ada peluang bagi sastrawan untuk bicara Indonesia. Itu pula yang mungkin sedang diperdebatkan sebagian sastrawan kini di beberapa media. Mudah-mudahan perdebatan itu cukup menyemangati kembali bagi para sastrawan untuk memikirkan bangsanya..***

Sumber: www.kabarindonesia.com (15 April 2008)

Iklan

Read Full Post »

SELAMA tahun 2007, rubrik “Khazanah” Pikiran Rakyat telah memuat kurang lebih 30 cerpen. Jumlah yang mampu menggambarkan bagaimana eksistensi dan konsistensi sastra koran di Jawa Barat. Keberadaan cerpen koran tersebut tentunya akan lebih berarti bagi perkembangan sastra kita jika direspons para kritikus sastra. Akan tetapi, melakukan kajian atau kritik sastra di koran, kita tak mungkin melakukannya secara komprehensif dan tak mungkin menjadikan keseluruhan cerpen sebagai objek kajian.

Secara umum, cerpen-cerpen “PR” yang ditampilkan pada tahun 2007 banyak mengambil tema seputar kehidupan masyarakat, seperti masalah identitas manusia, keluarga, interaksi sosial, serta kehidupan remaja. Dari sekian cerpen yang termuat, ada yang menarik untuk dikaji pembaca, yaitu cerpen-cerpen yang entah disengaja atau tidak, membahas sosok laki-laki dengan segala macam problem eksistensinya. Hal itu bisa kita lihat pada cerpen “Anak Bapak” karya Damhuri Muhammad, “Bapak” (Mumpuni D.H.), “Jalan-jalan Minggu” (Pidi Baiq), “Lelaki tanpa Wajah” (Arman A.Z.), “Muksa” (Hermawan Aksan), “Haji” (Joni Ariadinata), “Lelaki Penjaga Gerbang” (Salman Rusydie A.R.), dan “Ramadhan Ayah” (Teguh Winarsho A.S.).

Disadari atau tidak oleh pengarangnya, cerpen-cerpen tersebut sangat beraroma gender. Cerpen-cerpen tersebut banyak bercerita tentang persoalan eksistensi laki-laki dalam konteks relasi/interaksi dengan perempuan yang sampai hari ini masih banyak mencerminkan konflik. Pada cerpen-cerpen tersebut para cerpenis menawarkan konsep lain tentang laki-laki. Di sana, sosok laki-laki digambarkan sebagai sosok yang lemah, kalah, dan sumber masalah. Sebuah kritik tentunya bagi kaum Adam yang selama ini diposisikan lebih tinggi dari perempuan sebagaimana yang berkembang dalam diskursus feminisme. Itu pula yang barangkali dianggap sebagai pokok perlawanan gerakan feminisme. Uniknya, cerpen-cerpen itu sebagian besar dikisahkan oleh pengarang laki-laki. Apakah ini representasi kelompok laki-laki yang mendukung gerakan feminis?

Cerpen “Anak Bapak” karya Damhuri Muhammad menceritakan kehidupan rumah tangga yang dipenuhi konflik, mulai dari konflik suami istri yang diakibatkan berbagai macam perbedaan pandangan; mulai dari cara mendidik anak sampai perbedaan penghasilan suami isteri. Konflik tersebut tanpa disadari memengaruhi kejiwaan dan perilaku anak. Tokoh bapak yang tidak memiliki pekerjaan itu dilukiskan oleh pengarang sebagai pribadi yang mengalami krisis identitas. Karena si istri yang bekerja, lalu tokoh bapak dilukiskan sebagai ibu atau istri yang harus melakukan kerja-kerja seorang istri seperti mengasuh anak dan menetekkan susu.

Fenomena istri yang bekerja melebihi suaminya baru kita jumpai dewasa ini. Wanita karier, adalah sebuah dekonstruksi atas realitas yang berlaku dalam masyarakat konservatif termasuk sistem patriarki.

Cerpen Damhuri ini tidak hanya membuka realitas kekinian, tetapi juga mencoba melakukan gugatan terhadap pandangan-pandangan maskulinisme. Hal itu ditunjukkan dalam cerpen dengan lebih radikal lagi, di mana dalam krisis identitas seorang bapak, pengarang menggunakan imajinasi yang sangat berlebihan dengan cara mendeskripsikan perubahan fisik bapak menuju fisik perempuan. Tiba-tiba payudaranya tumbuh dan menetekkan susu pada bayi.

“Lalu gundukan daging kedua belah dada bapak berangsur-angsur mengembang. Seperti ada yang bergerak dan menyentak hendak menyembul keluar, hingga kedua bulatannya menegang dan membesar serupa balon ditiup pelan-pelan. Begitu juga putingnya, makin mekar. Montok serupa buah kelimunting matang. Kenyal dan setengah basah.”

Dengan bahasa yang verbal dan erotis, pengarang mencoba memberikan penguatan suasana dan karakter agar tokoh bapak yang menjadi ibu secara psikologi kuat. Dengan demikian, tokoh bapak sudah betul-betul merasa jadi seorang ibu.

Selanjutnya, dalam cerpen “Bapak” karya Mumpuni D.H. Cerpen itu mengisahkan penderitaan seorang anak perempuan yang ditinggalkan orang tuanya. Ibunya meninggal karena sakit, sedangkan bapaknya sudah lama kabur. Dalam cerpen itu, tokoh bapak diceritakan sebagai lelaki hidung belang, padahal ia seorang guru yang seharusnya menjadi teladan. Cerpen itu juga menohok perjodohan yang diterapkan orang tua pada anaknya sehingga membuat ketidakharmonisan hubungan keluarga.

Hal yang sama juga diceritakan Joni Ariadinata dalam cerpen “Haji”, sosok laki-laki yang bergelar haji pun ternyata memiliki penyakit masyarakat, sebutlah doyan kawin atau poligami. Sedangkan Teguh Winarsho A.S., dalam cerpen “Ramadhan Ayah” bercerita tentang tokoh ayah yang disesalkan anaknya lantaran perilakunya yang buruk, amoral, dan tidak agamis.

Dalam empat cerpen itu, semua pengarang melakukan gugatan terhadap laki-laki. Dalam sebuah sistem patriarkhi, laki-laki ditempatkan dalam status sosial yang lebih tinggi di atas perempuan. Laki-laki sebagai kepala rumah tangga bertanggung jawab atas kelangsungan biduk rumah tangga. Maka, segala tanggung jawab tersimpan di pundak suami. Namun apa yang terjadi dewasa ini, banyak laki-laki yang tak berdaya menghadapi beban berat itu. Dalam cerpen itu, laki-laki dituntut atas kegagalannya menjadi poros keluarga.

Sebenarnya jika dikontekskan dengan hari ini, cara pandang tersebut masih merepresentasikan cara pandang masyarakat awam di daerah. Sebab, masyarakat terpelajar di perkotaan sudah tak lagi banyak mempersoalkan status. Namun, setidak-tidaknya keempat cerpenis tersebut telah mampu mengungkap problem sosial yang masih kerap terjadi di masyarakat.

Juliet Mitchell (1994) mendeskripsikan patriarki dalam suatu term psikoanalisis yaitu the law of the father yang masuk dalam kebudayaan lewat bahasa atau proses simbolik lainnya. Menurut Heidi Hartmann (1992), salah seorang feminis sosialis, patriarki adalah relasi hierarkis antara laki-laki dan perempuan di mana laki-laki lebih dominan dan perempuan menempati posisi subordinat. Menurut dia, patriarki adalah suatu relasi hierarkis dan semacam forum solidaritas antarlaki-laki yang mempunyai landasan material serta memungkinkan mereka untuk mengontrol perempuan. Sedangkan menurut Nancy Chodorow (1992), perbedaan fisik secara sistematis antara laki-laki dan perempuan mendukung laki-laki untuk menolak feminitas dan untuk secara emosional berjarak dari perempuan dan memisahkan laki-laki dan perempuan. Konsekuensi sosialnya adalah laki-laki mendominasi perempuan.

Dari pemahaman tersebut, sistem patriarki dalam cerpen-cerpen itu dimunculkan dalam bentuk kritik terhadap eksistensi laki-laki. Diceritakan bahwa sosok laki-laki adalah manusia yang berperilaku buruk, seperti berjudi, mabuk, selingkuh, tidak agamis, dan segala kenakalan sosial lainnya. Atau dalam cerpen “Lelaki Penjaga Gerbang”, laki-laki juga disebut sebagai orang yang kalah. Pemberian stigma negatif terhadap laki-laki disebabkan oleh keyakinan patriarki itu sendiri, akibatnya laki-laki yang dianggap gagal dan tidak berdaya dalam melakukan tugasnya akan menjadi masalah bagi keluarga.

Itulah cara pandang laki-laki terhadap dirinya, ini sangat berbeda dengan wacana yang berkembang di dunia sastra feminis hari ini. Di mana dalam perlawanannya terhadap dominasi patriarki, perempuan tidak harus menjadikan laki-laki sebagai sasaran tembak, tetapi lebih menempatkan tubuh perempuan sebagai pusat kegelisahan. Konflik gender pun kurang dipandang sebagai konflik sosial, tetapi lebih pada konflik fisik dan psikologis. Dalam analisisnya, Freud menyebutnya sebagai sisa-sisa kecemburuan terhadap penis (residual of penis envy), sebagai dampak dari tidak adanya penis di tubuh perempuan sehingga membuat perempuan menjadi narsis serta memfokuskan pada fisik sebagai daya tarik agar dicintai laki-laki. Apa yang ditulis oleh pengarang perempuan hari ini adalah salah satu contoh krisis itu. Kendati demikian, gugatan terhadap laki-laki, bagaimanapun bentuknya adalah sebuah representasi zaman postmodernisme yang berusaha menolak narasi-narasi besar dan lebih bertendensi dalam memproduksi suara-suara lemah. Dalam cerpen-cerpen itu tampak jelas bahwa pengarang berupaya menyaringkan suara-suara kecil perempuan yang selama ini terkubur dalam oleh tirani sistem. ***

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 16 Agustus 2008

Read Full Post »

MENINGGALNYA mantan Presiden Suharto disambut beragam oleh masyarakat. Mereka yang berkabung, di koran, misalnya, selain foto-foto yang memperlihatkan tangis keluarga, kerabat, dan kroni-kroninya. Juga menampilkan gambar wajah-wajah dukacita dari sebagian rakyat kecil yang kadung mencintai Suharto. Namun dalam beberapa hari setelah masa kabung itu, demonstrasi massa mulai digelar di mana-mana, mereka menolak berkabung dan terus menuntut proses hukum atas kejahatan orang paling besar di Indonesia itu.

Itulah sikap dan perasaan manusia. Mencintai dan membenci adalah pilihan yang lumrah, sebagaimana kita mencintai pasangan, walau buruk rupa, buruk hati, buruk laku juga tetaplah emas bagi pasangannya. Cinta itu buta, begitu kata seorang bijak.

Dalam kanvas kesenian, cinta itu bisa dilukiskan tanpa batas. Ranah susastra, khususnya. Walau ditekan sana-sini, tetaplah ia eksis sampai kini. Tetap dinamis dan dialektis dalam kemasan yang kreatif, kemasan oportunis, pragmatis atau penjilat sekalipun. Segalanya tetap hidup dan terus bermetamorfosis. Cinta itu juga mengalir walau hidup di bui, diberedel, atau diasingkan ke hutan rimba. Justru semakin dibekap, semakin kuatlah ia berontak. Pemberontakan itu adalah titik kulminasi sebuah cinta.

Harus diakui, sastra telah mendokumentasikan perjalanan bangsa kita. Bahkan bukan hanya seaedar dokumentasi, sastra dengan beberapa bukti otentik menunjukkan peranannya bagi terciptanya spirit nasionalis-patrotis (me) Indonesia. Beberapa karya di awal kemunculan sastra modern Indonesia, telah mampu merespons situasi sosial politik bangsa yang terjajah lewat karya-karya roman dan puisi dari para sastrawan pelopor.

Sampai pada akhirnya muncul babak panas yang disebut oleh Taufik Ismail dan D.S. Moelyanto sebagai prahara budaya, yakni polemik budaya antara Lekra dan Manikebu yang diakhiri kejayaan blok Manikebu. Blok Manikebu inilah yang mengiringi kejayaan rezim otoritarian Suharto. Maka ketika bicara dinamika Orde Baru, Manikebu perlu untuk ditanya-untuk mengganti mempertanggungjawabkan atas terciptanya tatanan sosial politik yang hegemonik dan sentralistik. Pencipta jalan bagi kendaraan pengangkut sumber alam nusantara ke lumbung elite.
Orde Baru seperti rumah yang dihiasi lampu di sekelilingnya, tapi gelap gulita di dalam. Masyarakat dipaksa belajar dari apa yang mesti mereka lihat, bukan dari apa yang mereka lihat. Televisi, koran, radio, serta media massa lainnya hanya menampilkan gambar dan berita yang indah. Sastra dipaksa membuat definisi baru mengenai humanisme dan rasa sosial. Tidak aneh kalau sastra dengan estetika macam itu seperti mengalami kebangkitan.

Dinamika era 70-an sampai 80-an adalah era emas di mana, karya sastra lahir dan membanjir. Namun, apa yang ada tidak lebih dari dokumentasi sekadarnya. Bahkan di era 80-an, muncul sastra populer yang bernilai rendah yang tanpa disadari, keberadaannya adalah pembenaran akan sisi gelap industrialisasi. Itulah imperialisme kultural yang berdampak pada pola hidup masyarakat yang individualistis, hedonis, dan glamor. Padahal betapa masyarakat sedang mengalami ketertindasan strukural, pembodohan dan manipulasi akan sejarah mereka yang sebenarnya. Bahwa tujuan kemerdekaan salah satunya adalah untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan penindasan. Itulah kematian sastra kita yang lahir dari proses katarsis yang tidak lahir dengan sejujurnya, namun secara paksaan dan ketertekanan.

Dalam menyikapi situasi demikian, sebagian penyair misalnya lebih memilih untuk menenangkan diri, atau serius menggugat dan menggali jati dirinya lewat puisi-puisi sufistik. Era 80-an merupakan era karya-karya sufistik. Puisi sufistik muncul sebagai pelarian rohani atau sekadar penghiburan hati di tengah pembangunan yang merajalela. Oleh Agus R. Sarjono disebut sebagai upaya “berhijrah” membangun wilayah baru yang lebih spiritual dibanding material. Sebuah upaya memberi harga pada rohani di tengah gejala pelecehan rohani di sana sini. (Sastra dalam Empat Orba halaman 93). Walaupun kemudian aliran sufistik itu perlahan memudar, berganti dengan sastra kritis menjelang kejatuhan rezim Suharto. Tapi itulah yang dimaksud kejujuran, bahwa tekanan sosial politik yang menimpa masyarakat mampu dipahami oleh para sastrawan sebagai inspirasi bagi karya-karyanya.

Puisi sufistik, seperti yang ditulis oleh Zawawi Imron, Abdul Hadi, Soni Farid Maulana, atau Ahmadun Yosi Herfanda adalah upaya menginsafi rasa cinta dan kematian. Bahwa, kematian itu adalah ujung dari setiap perjalanan. Dan cinta menjadi panduan manusia dalam menjalani hidup yang sementara menuju sebuah kehidupan yang kekal. Sebagaimana dalam sajak Ahmadun Y. Herfanda yang berjudul Doa Sederhana (jika cinta itu angin, rentangkan layarku/pada udara yang tak panas dan tak dingin/ jika cinta itu laut, layarkan perahuku/ pada ombak yang tak badai dan tak mati/)

Sebagaimana karya sastrawan sufistik pada umumnya, tema pokok karya-karya penyair sufistik adalah cinta Ilahi (isyq), sebuah gagasan tentang jalan dan metode kerohanian mencapai kebenaran. Dalam puisi Doa sederhana tersebut misalnya, cinta ditempatkan dalam lembah (makam) baka (kekal) dalam metafora alam seperti angin, udara, laut, ombak, dan badai (lambang keabadian/baqa)) dari tujuh lembah yang harus dilalui untuk menemui Sang Khalik, lambang hakikat ketuhanan dan hakikat diri manusia.

Pada perkembangannya, estetika puisi religius kini ditradisikan dan menjadi estetika sejuta umat. Sebagian kelompok mengklaimnya sebagai sastra Islam. Hubungannya dengan orde Suharto adalah bagaimana agama waktu itu telah menjadi alat untuk kekuasaan. Beberapa tragedi HAM dihakimi oleh keputusan MUI, hingga meletuslah eksekusi terhadap kelompok-kelompok pengajian yang dianggap sesat. Hari ini, bagaimana agama dijadikan kendaraan oleh partai politik (parpol) untuk kepentingan dunia semata. Bukankah kemunafikan itu telah ada dalam kasak-kusuk sastra agama.

Kemunafikan bertebar di mana-mana. Padahal puisi religius berlatar belakang jauh dari politik dan agama, justru ia mencoba membuat persfektif lain tentang filsafat manusia dan ketuhanan. Itulah pemaknaan cinta sejati. Para penyair religius di tahun 80-an itu menyadari bahwa cinta itu dinamis.

Penyair sadar, bahwa ketika kondisi sosial sudah amat menggelisahkan, hingga tak mampu membuatnya terus berlari dari kenyataan, maka mereka kemudian banyak membuat puisi-puisi yang sarat kritik sosial di akhir abad Orde Baru. Baca sajak Ahmadun yang berjudul Indonesia, Aku tetap Mencintaimu (1997–1998), dan Sajak Bulan-Bulanan (1997), atau sajak Soni Farid Maulana yang berjudul Aku Bergerak ke Arahmu (1998). Dalam sajak-sajak itu para penyair merespons kondisi sosial yang menelikung mereka. Seperti yang ditulis oleh Abdul Hadi dalam Hikmah, Gagasan Cinta dalam Sastra Sufi, bahwa demikianlah yang diungkapkan dalam kesastraan sufi itu bukan semata-mata pengalaman dan keadaan jiwa yang dialami ahli suluk dalam menempuh jalan cinta dan makrifat; melainkan juga contoh-contoh dalam kehidupan individu dan masyarakat yang berkaitan dengan amal dan ibadah. Misalnya tentang ikhtiar dan perjuangan manusia yang tak kenal lelah mencapai kebenaran, serta godaan-godaan hawa nafsu yang sering tak dapat diatasi dengan akibat hatinya keruh dan penglihatan batinnya kabur terhadap hakikat ajaran agama.

Masa kepemimpinan Suharto, sastra bukanlah sektor yang dibanggakan. Dari sekian negarawan, pejabat, atau aparatur militer, bukanlah para penggemar sastra, maka wajar kalau tingkat intelektualitasnya pun diragukan. Hasilnya, negara Indonesia tak mampu berbuat banyak dalam konstelasi internasional. Bandingkan dengan negara lain yang tradisi literalnya bagus. Jerman, Inggris, Amerika, sampai Rusia yang hari ini memimpin adalah negara yang banyak memproduksi sastrawan besar. Mereka kaum negarawan, bangsawan, dan kaum cendekia, memberikan penghargaan yang tinggi terhadap sastra. Bahkan sebagian dari mereka pun banyak menulis buku. Vaclav Havel, seorang presiden Ceko, adalah salah satu dari sedikit pemimpin yang melek sastra. Karya-karyanya juga kemudian menjadi inspirasi Ceko hari ini.

Memasuki era reformasi, ditandai kejatuhan Suharto. Telah dianggap sebagai pintu masuk atau titik cerah kehidupan masyarakat yang lebih baik. Demokrasi menjumpai titik tolak yang bagus. Kondisi itu dilihat sastra sebagai peluang untuk berkembang. Kebebasan berpikir dan berkarya. Namun setelah apa yang muncul dalam dua dekade terakhir, ternyata sangatlah memprihatinkan. Berakhirnya polemik Lekra dan Manikebu seperti mengakhiri dinamika sastra kritis. Sastra kini kebanyakan tak terlalu peduli persoalan kebangsaan. Runtuhnya rezim otoritarian tahun 1998 tidak dipandang sebagai transisi nasionalisme kita. Kita lupa kalau penjajahan gaya baru ala globalisasi semakin mempersempit rasa nasionalisme kita.

Sebagian sastrawan malah memanfaatkanya untuk melahirkan karya-karya yang sangat ringan, tidak perlu ruwet, asal diterima masyarakat. Kini kematian Suharto, memberikan beragam pilihan di benak rakyat. Tentang bagaimana menempatkan cinta dalam diri kita, dan memosisikannya lebih jauh ke depan, yakni bagi perjalanan panjang masa depan Indonesia.***

Sumber: Lampung Post, Minggu, 13 April 2008

 

Read Full Post »

Subuh adalah Ibu dari Kelelahan

di setiap persinggahan malam
aku seperti pulang ke kampung kelahiran
memahami subuh sebagai ibu dari puluhan tebing waktu
subuh memberi batas usia pada setiap keasingan
aku pun merasa senang meminang matahari
di sebuah surau yang parau suaranya
sambil membina pagi yang tak kunjung sepi

di sini adzan seperti lagu putus cinta
setiap larik syahadat adalah amsal para pemimpi
dan kita tak lekas bangun mengemas kelelahan
kita malah puas merawat kekalahan

aku memahami subuh sebagai pelabuhan
di mana kita istrirahkan kegagalan
lalu dalam hitungan rakaat angin
kita harus segera berpamitan
berjabat tangan dan lekas berangkat
mengaji matahari di tepian hati
menanam rembulan di ladang-ladang perjalanan
menuju pelaminan di kesehajaan rumahmu

2006

Read Full Post »

Malam-malam Gambus

DAF

semalaman, aku dilantuni gambus
meski harus pening ulu hatiku
diaduk kantuk dan dihajar lapar
tapi gambus gundono, katamu
mengingatkan kita tentang kehidupan
pada sebuah kota di tengah pasar
di mana, di sini nyawapun digelar
dengan harga sekedar
dan tangis, berbaris bagai pemudik
mengusung malam pada mimpi yang pelik

semalaman, kita khusu meramu alamat
memainkan jemari di lekuk tubuh ibu
sambil berharap, hujan datang di sela subuh
meluapkan sumur-sumur kerontang
:pelbagai penantian

menjadi manusia, katamu
bukanlah membuat puisi yang sunyi
tapi traktat yang meloncat ledak
seperti lantunan gambus gundono
berloncatan liar ke luar pagar
menyeruak tabir di luas cakrawala

Jakarta, 2009

Read Full Post »

Taman Lawang

:Ihung

sudah kuputuskan
hidup di antara jalanan sobek
lebih baik tinimbang
hidup linglung di kampung

sebab aku ingin keresahan
menumpuk sampah di ujung penaku
menulis segala yang malang

seperti malam di sampingku
gadis-gadis berjejer di buai rel
di sela-sela dada mereka
rembulan tersembul
adakah wajahmu di sana?
tersenyum manis sepanjang malam

inilah semua ketakutan itu
pernah tergambar di bangku-bangku suram
masa lalu. tentu tak ada dalam buku-buku

tapi biarlah
aku akan renta di persimpangan
setia menghitung kemungkinan
sampai hujan kering,
dan tanah tak lagi butuh peziarah
lupakanlah!

Cianda-Jakarta, 2009

Read Full Post »

Malam di Salemba

di kamar sempit, kotor dan bau
kami menyusun waktu
membangun jalan-jalan dan jembatan
kelak mungkin rel dan landasan pacu
semua haru biru, dalam catatan sakuku

besok kita berjalan sendiri-sendiri ya
aku ke sana, kamu ke sini, dan kalian ke?
kita menanam jalan, jalan memandu langkah
langkah kita yang tergesa—selalu begitu

akankah kita terus curiga
bahwa hidup serupa musim
dan kita bayangkan, daun-daun gugur
berserak di ranjang, semalaman
aw, alangkah celaka mimpi kita

mari, kita kemasi prahara ini
hidup tak lebih dari dua pilihan
dan kamar ini, hanyalah awal
dari sekian ketakutan

2009

Read Full Post »