Kita mengenal nama Cok Sawitri sebagai seorang perempuan yang berpikiran maju namun punya visi kedaerahan (adat) yang cukup kuat. Beberapa karyanya tak luput dari tema-tema yang berbau adat Bali sebagai kampung halamannya.
Salah satu cerpennya yang berjudul Mati Sunyi yang terhimpun dalam buku antologi cerpen terbaik KOMPAS 2004 Sepi Pun Menari di Tepi Hari, adalah salah satu cerpen terbaiknya, cerpen itu sekaligus menjadi refleksi diri Cok Sawitri sebagai seorang aktivis perempuan yang kerap dihadapkan pada persoalan pergulatan posisi dalam kelas jender, serta persoalan adat Bali yang masih mentradisi yang keberadaanya dewasa ini mulai digerus budaya global. Cok Sawitri sebagai sosok perempuan modern begitu arif dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah transisi zaman menuju peradaban yang mengikis habis nilai-nilai budaya serta adat istiadat di Bali. Dia adalah cermin perempuan modern yang tak lupa kulitnya. Beberapa waktu kemarin misalnya, beberapa komentar dan pernyataannya muncul untuk menentang diberlakukannya Undang-undang Anti pornografi/pornoaksi (APP), dia memandang bahwa definisi pornografi tidak sebatas artifisial, bukan sekedar fisik yang sedikit telanjang seperti yang didefiniskan dalam RUU tersebut. Baginya, Bali, dan beberapa daerah lainnya masih menghormati adat, di sana perempuan masih setia dengan adat, pakaian yang seronok ala adat misalnya adalah bukan dikategorikan pornoaksi. Cok sawitri tidak mau terjebak mainset kontemporer yang mengabaikan adat. Justru bagi karya-karyanya, adat adalah sumber inspirasi. Namun, dalam karya-karyanya adat bukan semata bulan-bulanan cerita, keberpihakannya akan adat sangat jelas.
Cerpen Mati Sunyi bercerita tentang nasib yang menimpa seorang aktivis perempuan setelah meninggal. Aktivis diperankan oleh tokoh Bibi. Nasib Bibi sungguh tragis. Semasa hidupnya, Bibi sangat dihormati, dikenal dan ditakuti oleh berbagai kalangan baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebagai seorang pejuang kemanusiaan sudah barang tentu ia sangat dicintai dan dibanggakan oleh banyak masyarakat. Tapi sayang, rasa cinta itu tidak berlaku bagi masyarakat di tempat kelahirannya. Bibi malah dianggap hidup bukan mewakili masyarakat asalnya, Bibi hidup untuk orang lain. Tak pernah Bibi memberikan kontribusi pada masyarakat asalnya, maka pada kematiannya, Bibi mendapat sanksi sosial berupa pengucilan, sampai-sampai masyarakat di kampungnya tak ada yang mau terlibat dalam prosesi upacara Ngaben yang begitu luhur di sana.
Cerpen Mati Sunyi adalah wanti-wanti dari Cok Sawitri. Seorang perempuan aktivis lewat tokoh Bibi, dengan jelas dikisahkan bahwa tokoh Bibi sebagai seorang aktivis yang dibekali otak, ide, serta pemikiran yang cerdas ditambah keberanian yang tiada tara, dikenal, disegani, dan dihormati banyak kalangan, ternyata sama sekali tidak dihormati di tempat kelahirannya. Kematiannya hanya menyisakan kebencian bagi masyarakat di kampungnya. Hal itu disebabkan karena semua kehebatan Bibi, semua perilaku kritis Bibi dalam menyuarakan orang-orang tertindas, sama sekali tidak berkenan di hati masyarakat asalnya, selama hidup, Bibi dianggap tak pernah memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat, bahkan Bibi kerap mengkritik adat yang dianut masyarakat.
Cok Sawitri betul-betul jeli melihat secuil realitas yang tak banyak disadari orang. Dia mampu mengungkap sisi-sisi lain dari seorang aktivis. Cok sawitri telah melakukan kritik dan memberi evaluasi yang cukup berarti untuk para aktivis yang banyak meninggalkan daerah asalnya dan malah memilih berkecimpung di kota yang sebenarnya punya persoalan yang berbeda dengan di daerah. Dalam perspektif umum, persoalan kota dengan desa memang sama. Kemiskinan sama artinya bagi orang kota dan desa. Dalam perspektif khusus, jelas sangat beda. Orang kota yang tak bisa makan berbeda dengan tak bisa makannya orang kampung. Ada kontradiksi yang berbeda. Kota lebih maju peradabannya ketimbang Desa. Hari ini misalnya, orang desa sudah puas dengan pakai pakaian yang rapih dengan model sederhana. Tapi buat masyarakat kota, mereka baru puas kalau sudah punya pakaian dengan model terbaru.
Berangkat dari contoh sederhana di atas, wajar jika masyarakat di tempat tokoh Bibi dilahirkan menganggap kalau apa yang dikatakan dan dilakukan bibi sama sekali tidak menjawab persoalan di kampungnya. Cok Sawitri betul-betul mampu mengungkap itu. Dalam situasi dan kondisi yang berbeda, maka arti sebuah kebenaran pun berbeda. Seorang Aktivis macam Bibi tetap punya kekurangan. Cerpen “Mati Sunyi” memiliki pesan yang dalam, bahwa setiap manusia, sehebat apapun ia tetap saja mempunyai kelemahan.
Walau hari ini zaman sudah jauh meninggalkan adat istiadat, tetapi di sebagian daerah di Indonesia, masih berlaku adat istiadat yang dijadikan keyakinan akan sebuah kebenaran. Di Bali misalnya, adat seperti upacara Ngaben, upacara sabung ayam, serta upacara-upacara lainnya masih lestari sampai kini. Adat dijadikan spirit ruhani serta media aktualisasi manusia dengan Sang Hyang Widi. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi warga di Bali untuk menghormati dan melaksanakan adat. Jika tidak, sanksi sosial pasti lahir sebagai konsekuensinya.
Tokoh Bibi sebagai orang yang lahir di lingkungan yang menganut adat, mendapat sanksi sosial di akhir hayatnya karena perilakunya yang sering mengkritik adat dan perilakunya yang mulai meninggalkan adat. Bagi masyarakat sanksi itu berlaku tanpa pandang bulu, tak peduli ia terkenal atau tidak terkenal. Berbeda dengan hukum negara yang merupakan warisan kolonial, impunitas berlaku bagi beberapa orang terpandang, punya uang serta materi yang melimpah. Cerpen ini sangat evaluatif dan kritis dalam menyikapi perkembangan manusia dan zamannya kekinian yang semakin jauh meninggalkan adat.
Ada hal yang menarik yang sangat kontekstual dan relevan dengan realitas budaya orang-orang “berduit” di Indonesia, mereka menjadikan uang sebagai segala-galanya, melebihi apapun. Budaya rendah tersebut masih menggulita sebagian orang-orang kaya, untuk memuluskan jalan atau cita-cita yang diinginkan, mereka beli dengan uang. Uang, uang dan uang. Semua persoalan beres. Tapi tidak dalam cerpen ini, bagi masyarakat di mana tokoh Bibi berasal, uang tak dapat menolong apa-apa, upacara Ngaben tak bisa dilakukan oleh warga. Tetapi oleh orang sewaan. Memang orang-orang sewaan itu dibayar, akan tetapi apalah artinya upacara Ngaben seperi itu.
Secara semiotik, tokoh Bibi adalah wakil perempuan yang hidup hari ini. Jika cerita yang disampaikan dalam “Mati Sunyi” adalah kisah nyata yang diangkat dalam cerita fiktif. Sulit rasanya untuk mencari siapa sebenarnya tokoh Bibi. Kita mungkin tahu nama-nama seperti Kartini, Dewi sartika, Marsinah, atau Suciwati. Tapi siapa di antara mereka yang dari Bali? Atau siapa di antara mereka yang mengkritik adat? Jawabannya adalah bahwa cerpen ini benar-benar fiktif. Namun tidak menutup kemungkinan kalau apa yang dikisahkan adalah betul-betul sebuah realitas yang telah atau tengah terjadi dalam masyarakat Indonesia. Atau jangan-jangan itulah potret dirinya di masa depan? Jika benar, maka Cok Sawitri setidaknya sudah punya alarm lewat cerpennya itu jikalau ia sampai berperilaku seperti Bibi.
Namun jauh dari itu, Cok Sawitri sebagai perempuan seperti ingin menegaskan sosok perempuan lewat tokoh Bibi. Perempuan setelah gerakan feminisnya mampu mengangkat harkat dan martabatnya setinggi-tingginya. Dalam jender tak ada kelas. Seorang perempuan pun bisa secerdas laki-laki, bisa seberani laki-laki, bahkan bisa menjadi sosok yang sangat dikenal dan dihormati oleh semua kalangan baik di dalam negeri maupun oleh bangsa sedunia. Itulah sosok aktivis pada tokoh Bibi. Sebuah cermin kemenangan gerakan Feminis di Indonesia. (Jafar Fakhrurozi)