Dalam memandang sebuah persoalan, terlebih dalam karya yang dihasilkannya, seorang sastrawan saya yakin tidak asal bicara (baca:tulis), melainkan penuh konsep yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara estetik maupun ilmiah. Kiranya hal itu telah ditunjukkan oleh almarhum W.S Rendra dalam sajak-sajaknya. Antologi puisi Rendra yang cukup fenomenal yang berjudul Potret Pembangunan dalam Puisi (Pustaka Jaya, 1996), tidak hanya menunjukkan ideologi dan keberpihakannya pada rakyat tertindas, akan tetapi di dalamnya penuh konsep, gagasan, dan wawasan realitas. Dari sekian banyak puisi dalam antologi tersebut, ada sebuah konsep yang terlihat matang secara keilmiahannya dan jika dikontekskan dengan hari ini, konsep tersebut seolah menjadi wacana besar yang diamini masyarakat. Konsep yang dimaksud adalah pandangan-pandangannya tentang pendidikan yang dipraktikan di negara kita. Dalam puisi, Rendra mengemukakan semacam ”analisis” kritisnya terhadap sistem pendidikan sebagaimana para pengamat pendidikan dalam tulisan-tulisannya. Hal itu secara dominan banyak dikemukakan pada sajak-sajak yang terhimpun dalam buku antologi tersebut.
Membicarakan sistem pendidikan, kita akan memulainya dari kerangka paradigmatik atau filosofis. Dalam sajak Pertemuan mahasiswa, Rendra bertanya: Kita ini dididik untuk memihak yang mana?/Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini/akan menjadi alat pembebasan,/ ataukah alat penindasan?/. Pertanyaan tersebut jelas sangat ideologis. Istilah pembebasan atau penindasan lahir dari kolam ideologi. Keduanya adalah produk yang dihasilkan oleh sebuah sistem. Dalam sajak yang lain lantas Rendra kembali bertanya. Pendidikan membuatku terikat/pada pasar mereka, pada modal mereka/.Dan kini, setelah aku dewasa./Kemana lagi aku ‘kan lari,/bila tidak ke dunia majikan?/ (sajak Gadis dan Majikan).
Dalam sajak tersebut, Rendra prihatin akan nasib seorang perempuan (gadis) yang selalu diperbudak oleh majikan. Majikan dalam puisi itu diartikan sebagai bos di tempat gadis bekerja. Dalam sajak tersebut Rendra mengkritik pendidikan yang tak berhasil mengubah paradigma laki-laki terhadap perempuan sekalipun perempuan itu terpelajar. Dalam realitas kekinian, masih banyak perempuan terdidik yang bekerja sekaligus melayani kebutuhan biologis bosnya. Hal itu dilihat oleh Rendra sebagai kesalahan pendidikan, bukan kesalahan perempuan. Artinya Rendra tidak menggunakan alasan sebagaimana pemikiran feminis tentang budaya patriarkhi yang selama ini menjadikan budaya patriarkhi sebagai kambing hitam atas ketertindasan perempuan. Menurut Rendra, kepemilikan modal menimbulkan kekuasaan yang tak terbantahkan, sedang pendidikan kita hanya dipersiapkan untuk mengabdi pada modal. Maka tidak aneh kalau lapangan kerja pun dibuat sesuka pemodal. Rendra pun mengatakan bahwa pendidikan yang telah diberikan seolah percuma saja. Hal itu terlihat pada bait sebelumnya: Siallah pendidikan yang aku terima./Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,/kerapian, dan tatacara,/Tetapi lupa diajarkan:/bila dipeluk majikan dari belakang,/lalu sikapku bagaimana!..(Sajak Gadis dan Majikan)..
Dalam sajak Sajak Seonggok Jagung Rendra lagi-lagi mengaskan bahwa pendidikan kita tak mampu memberikan apa-apa. Pendidikan kita hanya membuat siswa/mahasiswa terasing dan tercerabut dari kehidupan. Pendidikan hanya menambah pengangguran di Ibukota, dan dengan bahasa yang amat liris Rendra menyindir para mahasiswa yang setelah lulus malah merasa asing dan sepi ketika telah pulang ke daerahnya. Kata Rendra: Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan. /Aku bertanya: /Apakah gunanya pendidikan/ bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing/ di tengah kenyataan persoalannya?/Apakah gunanya pendidikan/bila hanya mendorong seseorang/menjadi layang-layang di ibukota/kikuk pulang ke daerahnya?/Apakah gunanya seseorang/belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,/atau apa saja,/bila pada akhirnya,/ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: /“Di sini aku merasa asing dan sepi!” (1996).
Pertanyaan-pertanyaan yang sekaligus penegasan realitas tersebut adalah problem pendidikan nasional yang sulit terpecahkan. Keterasingan output pendidikan terhadap masyarakat diakibatkan oleh tidak ilmiahnya kurikulum yang diberikan. Istilah ilmiah menandakan bahwa pendidikan harus bisa dibuktikan kebenarannya. Ia harus direlevansikan dengan kebutuhan dan realitas masyarakat. Selama ini, kurikulum pendidikan nasional tidak begitu ilmiah, kurikulum banyak diisi ilmu-ilmu asing. Sehingga kadang-kadang tidak relevan dengan realitas yang ada. Tak heran jika hari ini rakyat Indonesia miskin di tengah alam yang kaya raya. Itu karena orang Indonesianya sendiri tidak paham bagaimana mengelolanya. Ketidakilmiahan itu diakibatkan oleh berkiblatnya pendidikan kita pada barat. Ditegaskan oleh Rendra dalam Sajak Pemuda: Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat. /Di sana anak-anak memang disiapkan /Untuk menjadi alat dari industri. /Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti./Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa? /Kita hanya menjadi alat birokrasi!/Dan birokrasi menjadi berlebihan/tanpa kegunaan-/menjadi benalu di dahan. /Gelap. Pandanganku gelap. /Pendidikan tidak memberi pencerahan. /Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan /Gelap. Keluh kesahku gelap. /Orang yang hidup di dalam pengangguran. /Apakah yang terjadi di sekitarku ini?../ (1996).
Selain di wilayah paradigma, Rendra pun mengkritik realitas di wilayah kebijakan pemerintah. Pemerintah dianggap tak mampu memberikan akses pendidikan pada rakyat dengan mudah. Akibatnya masih banyak anak-anak yang tak bisa sekolah. Hal itu terdapat dalam sajak Sajak Sebatang Lisong: Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak /tanpa pendidikan. /Aku bertanya, /tetapi pertanyaan-pertanyaanku/membentur meja kekuasaan yang macet,/dan papantulis-papantulis para pendidik/yang terlepas dari persoalan kehidupan…/.Angka matematis tersebut bukanlah asal bicara. Hari ini saja, di mana pemerintah sudah mulai melaksanakan kewajiban menggratiskan pendidikan, angka putus sekolah masih tinggi.
Sebagai penegasan, dalam sajak yang berjudul Sajak Anak Muda, Rendra menamai angkatan pendidikan dengan waktu itu dengan angkatan gagap. Angkatan yang diproduksi oleh sistem yang salah, lantas menghasilkan angkatan yang pasti salah. Kesalahan tersebut menjadikan kita menjadi angkatan yang berbahaya. Hal itu bisa dilihat dalam: Kita adalah angkatan gagap./Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar./Daya hidup telah diganti oleh nafsu./Pencerahan telah diganti oleh pembatasan./Kita adalah angkatan yang berbahaya…/(1996).
Sebagaimana sebuah konsep, ia membutuhkan solusi-solusi sebagai antitesis dari kesimpulan yang ada. Rendra menyadari hal itu, maka Rendra pun tidak hanya berkeluh kesah. Dalam sajak Sajak Sebatang Lisong, Rendra merumuskan sebuah solusi untuk membawa pendidikan kita ke jalur kemandirian, tidak bergantung dan berkiblat pada Barat. Menurut Rendra solusinya adalah: Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing./Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,/tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan./Kita mesti keluar ke jalan raya,/keluar ke desa-desa,/mencatat sendiri semua gejala,/dan menghayati persoalan yang nyata…(1996). Sesuai dengan pemikiran Rendra, keterpurukan Indonesia di atas alam yang maha subur ini diakibatkan oleh sikap negara yang bergantun pada barat. Tak terkecuali di sektor pendidikan. Pemikiran liberalisasi pendidikan pun muncul dan dilaksanakan di Indonesia. Maka untuk melaksanakan apa yang dikatakan Rendra, salah satu caranya adalah dengan menunjukkan keberanian untuk mandiri di segala bidang. Sebuah pesan puitis dari Rendra layak dialamatkan pada para calon presiden kita yang sekarang sedang sibuk bertarung.
Dalam sajak-sajak Rendra tampak begitu kuat ideologi penyair dalam memandang pendidikan. dalam hal ini Rendra menggunakan teori-teori pendidikan kritis. Dalam literatur akademik, Henry Giroux dan Aronowitz membagi paradigma pendidikan ini menjadi tiga: konservatif, liberal dan kritis. Sejauh ini, pendidikan nasional lebih suka menggunakan paradigma konservatif dan liberal. Sedang paradigma kritis hanya digalakkan oleh lembaga nonformal atau oleh para aktivis. Tujuannya untuk memberikan akses seluas-luasnya pada rakyat miskin untuk bisa cerdas, terbebas dari hegemoni dan dehumanisasi sistem kekuasaan.
Mengingat begitu ilmiahnya sajak-sajak Rendra, saya kira tepat gelar doktor honoris causa yang diraihnya dari UGM tempo lalu. (Jafar Fakhrurozi)