DAF
semalaman, aku dilantuni gambus
meski harus pening ulu hatiku
diaduk kantuk dan dihajar lapar
tapi gambus gundono, katamu
mengingatkan kita tentang kehidupan
pada sebuah kota di tengah pasar
di mana, di sini nyawapun digelar
dengan harga sekedar
dan tangis, berbaris bagai pemudik
mengusung malam pada mimpi yang pelik
semalaman, kita khusu meramu alamat
memainkan jemari di lekuk tubuh ibu
sambil berharap, hujan datang di sela subuh
meluapkan sumur-sumur kerontang
:pelbagai penantian
menjadi manusia, katamu
bukanlah membuat puisi yang sunyi
tapi traktat yang meloncat ledak
seperti lantunan gambus gundono
berloncatan liar ke luar pagar
menyeruak tabir di luas cakrawala
Jakarta, 2009