Sampai hari ini, sebagian besar dari kita meyakini dan mengakui bahwa kelahiran Budi Utomo 20 Mei 1908 adalah momentum kebangkitan nasional, parameternya terletak pada bangkitnya kesadaran segelintir bangsawan yang dicerdaskan di negeri penjajah. Apakah memang demikian tolak ukurnya? Bicara Nasionalisme adalah berbicara kesadaran bangsa untuk menghargai dan mencintai sekumpulan manusia dalam lokalitas tertentu untuk menuju [...]
Arsip untuk Oktober, 2009
Sastra dan Keindonesiaan Kita
Diposkan dalam Esai Sastra, Label Esai Sastra pada Oktober 29, 2009 | Leave a Comment »
Lelaki dalam Cerpen Khazanah 2007
Diposkan dalam Esai Sastra, Label Esai Sastra pada Oktober 29, 2009 | Leave a Comment »
SELAMA tahun 2007, rubrik “Khazanah” Pikiran Rakyat telah memuat kurang lebih 30 cerpen. Jumlah yang mampu menggambarkan bagaimana eksistensi dan konsistensi sastra koran di Jawa Barat. Keberadaan cerpen koran tersebut tentunya akan lebih berarti bagi perkembangan sastra kita jika direspons para kritikus sastra. Akan tetapi, melakukan kajian atau kritik sastra di koran, kita tak mungkin [...]
Bingkai: Sastra dan Cinta di Reruntuhan Kekuasaan
Diposkan dalam Esai Sastra pada Oktober 29, 2009 | Leave a Comment »
MENINGGALNYA mantan Presiden Suharto disambut beragam oleh masyarakat. Mereka yang berkabung, di koran, misalnya, selain foto-foto yang memperlihatkan tangis keluarga, kerabat, dan kroni-kroninya. Juga menampilkan gambar wajah-wajah dukacita dari sebagian rakyat kecil yang kadung mencintai Suharto. Namun dalam beberapa hari setelah masa kabung itu, demonstrasi massa mulai digelar di mana-mana, mereka menolak berkabung dan terus [...]
Subuh adalah Ibu dari Kelelahan
Diposkan dalam Puisi pada Oktober 29, 2009 | Leave a Comment »
di setiap persinggahan malam
aku seperti pulang ke kampung kelahiran
memahami subuh sebagai ibu dari puluhan tebing waktu
subuh memberi batas usia pada setiap keasingan
aku pun merasa senang meminang matahari
di sebuah surau yang parau suaranya
sambil membina pagi yang tak kunjung sepi
di sini adzan seperti lagu putus cinta
setiap larik syahadat adalah amsal para pemimpi
dan kita tak lekas bangun mengemas [...]
Malam-malam Gambus
Diposkan dalam Puisi pada Oktober 29, 2009 | Leave a Comment »
DAF
semalaman, aku dilantuni gambus
meski harus pening ulu hatiku
diaduk kantuk dan dihajar lapar
tapi gambus gundono, katamu
mengingatkan kita tentang kehidupan
pada sebuah kota di tengah pasar
di mana, di sini nyawapun digelar
dengan harga sekedar
dan tangis, berbaris bagai pemudik
mengusung malam pada mimpi yang pelik
semalaman, kita khusu meramu alamat
memainkan jemari di lekuk tubuh ibu
sambil berharap, hujan datang di sela subuh
meluapkan sumur-sumur [...]
Taman Lawang
Diposkan dalam Puisi, Label Puisi pada Oktober 29, 2009 | 1 Komentar »
:Ihung
sudah kuputuskan
hidup di antara jalanan sobek
lebih baik tinimbang
hidup linglung di kampung
sebab aku ingin keresahan
menumpuk sampah di ujung penaku
menulis segala yang malang
seperti malam di sampingku
gadis-gadis berjejer di buai rel
di sela-sela dada mereka
rembulan tersembul
adakah wajahmu di sana?
tersenyum manis sepanjang malam
inilah semua ketakutan itu
pernah tergambar di bangku-bangku suram
masa lalu. tentu tak ada dalam buku-buku
tapi biarlah
aku akan renta di [...]
Malam di Salemba
Diposkan dalam Puisi, Label Puisi pada Oktober 29, 2009 | Leave a Comment »
di kamar sempit, kotor dan bau
kami menyusun waktu
membangun jalan-jalan dan jembatan
kelak mungkin rel dan landasan pacu
semua haru biru, dalam catatan sakuku
besok kita berjalan sendiri-sendiri ya
aku ke sana, kamu ke sini, dan kalian ke?
kita menanam jalan, jalan memandu langkah
langkah kita yang tergesa—selalu begitu
akankah kita terus curiga
bahwa hidup serupa musim
dan kita bayangkan, daun-daun gugur
berserak di ranjang, semalaman
aw, [...]