Cerpen Jafar Fakhrurozi
“Aku tidak pernah hilang, seperti yang orang-orang katakan, aku cuma menghilang dari hadapan kalian. Jangan khawatir, Bung!”
Aku terjaga. Mataku terbelalak. Kaget dengan apa yang barusan kudengar. Suara lantang seorang lelaki yang sangat kukenali. Suara lelaki yang sudah bertahun-tahun membuat sibuk pikiran orang-orang. Keluarganya, aku, kawan-kawan sastrawan, aktivis HAM, masyarakat, dan sebagian pemerintah yang peduli. Kaukah itu? Oh, Aku tak yakin, karena aku tadi sedang tidur.
Apa maksud gerangan yang kau bicarakan. Sudah jelas, lebih dari sepuluh tahun kami tak melihatmu, diskusi, baca puisi, atau demonstrasi. Selama itu pula kami mencoba memberanikan diri untuk bicara lantang sepertimu, hanya untuk mencari kepastian tentang keberadaanmu. Kami teriak di depan presiden, kantor kejaksaan, militer, polisi, dan di manapun. Tapi kami tak dapat kepastian apa-apa. Keluargamu juga masih terus menangis, bahkan terdengar lebih hebat daripada dulu ketika mereka tahu kau jadi aktivis atau penyair. Ibumu tak mau melihat kau sengsara dan dibenci pemerintah, karena jadi penyair dan aktivis itu bukan masa depan yang baik. Tapi kini, ternyata mereka lebih mencintaimu ketimbang pemerintah, mereka telah berubah. Sekarang saja mereka baru teriak-teriak di kantor polisi, menanyakan keberadaanmu. Apa jawaban dari polisi, hanyalah diam seribu bahasa. Menggelengkan kepala, atau hanya mengulang-ngulang jawaban sebelumnya.
Kau kira kami sudah melupakanmu, mengubur dalam-dalam ingatan dan kenangan. Gila lu! Bilang jangan Khawatir. Sekarang, beberapa orang yang sempat hilang sudah kembali, sudah berkumpul dengan keluarga, dengan kami. Di antara mereka, tak ada satupun yang pernah melihatmu. Mereka dibawa sendiri-sendiri, dibiarkan tapi tidak bisa ke mana-mana. Mereka mungkin pernah melihatmu, tapi cuma dalam mimpi. Hanya sebuah ilusi dari mereka yang dilumpuhkan1.
Perlu kau tahu, bahwa sekarang para penculik itu sudah pada jinak, mereka sudah berani terang-terangan memperlihatkan boroknya. Katanya mereka sudah siap dihukum, tapi mereka kini sedang sibuk saling menuding dalangnya. Hahaha, aku cukup terhibur dengan pemandangan itu. Di mana-mana kalau sudah ketahuan, seorang penjahat akan bicara jujur. Selanjutnya, terbuka semuanya. Merembet ke sana ke sini. Bahkan presiden pun kena tuduh. Betul apa katamu, mereka itu komplotan penjahat, penindas, dan koruptor. Walau begitu, proses hukum belum tegak. Buktinya mereka hanya dihukum sebentar saja. Itupun anak-anak muda, para eksekutor di lapangan yang belum punya pangkat apa-apa. Mereka yang pimpinan, ongkang-ongkang kaki, malah terus berebut untuk bisa jadi pemimpin.
***
“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat. Tenang, aku masih memperhatikan kalian, melihat keluargaku, kamu, dan kawan-kawan yang lain.”
Aku dengar lagi, ini sungguh tidak terasa seperti mimpi. Aku sadar betul, sejak malam tadi aku sengaja begadang, duduk dekat jendela. Telingaku tetap kufokuskan pada setiap suara-suara yang berseliweran. Tapi lagi-lagi aku tak mampu menebaknya, dari mana suara itu berasal, yang jelas aku tadi tidak tidur. Dan kau lagi-lagi bicara bahwa kau tidak hilang. Kau bilang masih melihat kami. Lalu di manakah dirimu?
Hari ini kami akan kumpul di depan istana, teriak panjang lebar soal hak asasi manusia bersama para keluarga korban lainnya. Mengajak masyarakat agar tidak pernah melupakan sejarah. Kami menuntut penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Rentetan tragedi yang menumpahkan darah rakyat tak berdosa. Sejak kasus 1965, Tanjung Priok, Talangsari, DOM Aceh, Haur Koneng, Trisakti, Semanggi, kematian Munir, penggusuran, serta seabreg kasus lainnya yang terus bermunculan.
Harus kau tahu, bahwa peradilan membutuhkan bukti nyata. Ia memerlukan saksi. Dan segala tuntutan kami tidak pernah dipenuhi karena tidak memenuhi syarat-syarat tadi. Termasuk kasusmu. Siapa di antara kami yang punya bukti? Hanya tuhan dan kamu yang tahu. Kalau begitu, apakah kebenaran harus dikorbankan? Ah aku frustasi. Hukum di sini tidak punya rasa keadilan. Tetanggaku kedapatan menebang dua pohon pinus untuk kayu bakar, lalu dia diancam sepuluh tahun penjara, sedang mereka yang sudah jelas merugikan negara bernilai ratusan milyar hanya dihukum semenjana, mereka pun masih bisa menikmati kehidupan mewah di penjara. Ah aku benar-benar putus asa, seputus asa negeri ini.
Tahukah kau, bahwa apa yang kau katakan padaku kini tengah jadi gunjingan banyak orang. Aku terpaksa menceritakan semua yang kudengar pada ibumu, adikmu, dan kawan-kawan yang mengaku peduli denganmu. Mereka terperangah, berharap tapi tetap tidak percaya. Mereka menangis.
“Aku tidak hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat. Tenang, aku masih berjuang dan konsisten dengan idealismeku”
Cukup. Cukup Withu, apa kau tahu, kini orang-orang menggunjingmu, katanya kau kabur ke luar negeri. Hidup mapan, mungkin kau juga dikasih pekerjaan elit di luar negeri, mungkin duta besar, atau pengusaha. Mereka menyamakanmu dengan beberapa kawan senasibmu yang kini sudah bergabung dengan para musuhnya, mereka yang sudah hidup bergelimang harta dan kekuasaan buah perselingkuhan. Mereka tidak diculik, cuma dibina, diluruskan pikirannya, agar mau sama-sama merampas ketenangan rakyat. Atas nama demokrasi. Kaupun seperti itu katanya. Nada-nada sinis tentangmu itu selalu terlontar dari beberapa mulut, terutama mereka yang tidak suka aktivis, seniman, atau gelandangan kreatif dan kritis seperti kita. Mereka bilang para pejabat kita juga dulunya aktivis, tapi kini mereka gemar korupsi dan membeli tanah rakyat. Begitu kata mereka, bahwa perjuangan itu ujung-ujungnya duit.
Tapi, aku katakan bahwa itu tidak mungkin. Aku tahu benar tentangmu, tidak mungkin kau bisa dirayu. Karena bagimu, hidup di antara terjangan peluru dan segel penjara lebih menyenangkan daripada hidup di antara gelimang harta rakyat. Aku tahu, betapa besar cintamu untuk bangsa ini. Kau tak mungkin berkhianat.
Sebagiannya lagi mengatakan kalau kau benar-benar sudah pergi meninggalkan kita, berserah diri pada yang maha kuasa. Mempertanggungjawabkan setiap kata yang kau tulis dalam puisimu. Jika itu yang terjadi, maka kami merasa tenang. Tapi walau begitu, keluargamu belum bisa tenang sebelum mendapatkan kepastian di mana jasadmu, kami ingin mendapatkan tulang belulangmu, apalagi kalau nyawamu direnggut secara paksa oleh tangan-tangan pembunuh saudaramu sendiri.
“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat. Dan aku masih menulis puisi, mencatatkan kegelisahan ini tanpa terlewat.“
Mana puisimu Withu? Tahukah bahwa puisimu yang terdahulu, yang kata para ahli kurang estetis, kasar, dan tidak puitis, kini telah diakui, dipuji, dibaca oleh siapapun, bahkan menjadi nyanyian para pejuang. Apa kau ingat, bahwa kau pernah menulis, Hanya ada satu kata: lawan!, Hanya ada satu kata: lawan!. Kata-kata itu telah menjadi ideologi, ideologi yang membuat rasa takut musuh-musuh kita. Kata-kata yang membuat bulu kuduk kita merinding dan gigil. Mereka takut, oleh puisi-puisimu, Withu. Sekarang kau bilang masih hidup, dan masih menulis puisi. Mana, mana puisimu, Withu?
Kami rindu puisi-puisimu, puisi-puisi yang menumbuhkan pepohonan di kala kemarau, yang mengalirkan gejolak bagi kemapanan. Sungguh di era kebebasan ini, kami sulit menemukan puisi semacam itu. Puisi kini hanya nyanyian di gelap malam, ketika pagi tiba, ia hilang begitu saja. Kami rindu puisimu Withu, rindu akan kegaduhan, rindu kepalan tinju dan nyanyi perlawanan.
“Aku tidak pernah hilang, cuma menghilang dari hadapan kalian. Aku dekat, sangat dekat.“
Entah kenapa, setiap bangun tidur. Aku selalu ingin merangkai kalimat-kalimat itu, seolah-olah aku juru bicara Withu. Memastikan keberadaannya, dan entah kenapa jawaban-jawaban itu yang terus kulontarkan. Hanya satu yang kuyakini, bahwa kau dekat, amat dekat dengan kami.***
2007-2010
NB:
*Judul Buku Pramoedya Ananta Toer








