Feeds:
Tulisan
Komentar

SEJAK kapan penyair disebut penyair? Oleh siapa penyair disebut penyair? Adakah sebuah prosesi untuk mengukuhkan penyair? Awalnya saya berfikir, sangat naif jika harus bertanya hal itu. tetapi belakangan ini keponakan saya yang duduk di bangku SMP bertanya kritis sekali, “kok yang diajarkan di buku pelajaran bahasa Indonesia cuma sastra(wan) jaman dulu saja. Memangnya sastra di Indonesia mandeg sampai angkatan Acep Zamzam Noor ya?”

Jujur saja saya bingung menjawabnya, karena setahu saya begitu banyak sastrawan mutakhir, tapi begitu sedikit yang diperkenalkan sebagai sastrawan di buku akademik. Maka, kiranya wajar sekali pertanyaan-pertanyaan di atas digelontorkan, setidaknya untuk menjawab pertanyaan keponakan saya.

Keresahan ini juga bisa jadi akibat ketakpuasan terhadap kondisi kritik sastra belakangan ini. Jika orang terus menulis tanpa sekalipun karyanya dibicarakan, apa guna karya itu? Bukankah karya dilahirkan untuk dibaca khalayak, dan langsung tidak langsung, sedikit atau banyak, dapat diambil manfaatnya oleh pembaca.

Almarhum HB Jassin mungkin sangat sadar akan hal itu. Betapa ia, meski tanpa bantuan professor Google, mampu membaca, mengulas, atau bahkan mengukuhkan sesorang untuk disebut sebagai sastrawan atau bukan sastrawan. Saya kira penting untuk kembali membicarakan ini di tengah bermunculannya nama-nama penyair muda di Indonesia. Kedua, telah terjadi perubahan yang signifikan dalam peradaban masyarakat dunia hari ini. Era teknologi (internet) setidaknya telah menggeser cara pandang dan sikap masyarakat tentang makna pendokumentasian sebuah karya sastra (Media). Ketiga, pembicaraan mengenai estetika semakin hilang dimakan proyek kesenian. Padahal era reformasi telah berjalan lebih dari satu dekade, ini artinya karya sudah harus dibaca dengan persfektif yang baru.

Selama ini media (surat kabar, majalah dan buku) masih menjadi standar baku pengukuhan kepenyairan seseorang. Hal itu sudah berlaku sejak dulu. Bedanya, dulu media bisa dikemudikan oleh suatu kekuatan politik penguasa, kini lebih cenderung berdasarkan selera redaktur semata. Walaupun tidak menutup kemungkinan, bermacam-macam kekuatan bisa saja mendikte redaktur (maaf). Artinya, koran (baca:redaktur) dengan sendirinya telah menjadi pembaiat. Dengan atau tanpa pola, akan terbentuk sebuah regenerasi kepenyairan. Media di daerah dalam hal ini memiliki peran yang lebih besar dalam mengorbitkan penyair baru dari daerahnya. Namun, prosesi pengukuhan lewat media ini terkesan amat parsial. Contohnya, jika kita menempatkan Kompas sebagai standar tertinggi, maka para penyair Kompas dengan sendirinya merasa duduk dalam kelas tertinggi. Lalu bagaimana dengan penyair yang tidak mau mengirim karya ke Kompas? Inilah yang kemudian menjelaskan betapa luasnya kepentingan dalam sebuah ruang publik seperti media massa.

Dari sana, agaknya acara-acara temu sastra akan dapat membantu mempertemukan keparsialan itu. Meskipun tetap saja ada rasa tak puas, karena kebanyakan temu sastra itu juga masih berunsur kelas. Bahkan politis. Atau beberapa pertemuan sastra yang diadakan sebuah lembaga kesenian bekerjasama dengan pemerintah (Mitra Praja Utama) masih saja menyisakan masalah; kecemburuan, kecurigaan dan ketidaktransparanan. Apakah ini sebuah masalah? Bisa jadi tidak, tergantung dari mana memandangnya.
Masih soal media, munculnya sastra cyber, atau kini lebih heboh lagi dengan lahirnya peradaban facebook (FB), menyisakan sebuah pertanyaan, bagaimana mengkategorikannya? Setiap pengguna FB berhak mempublikasikan puisi, setiap teman mengomentarinya, dan lahirlah komunikasi sastra yang bersifat akademis. Alangkah itu yang diharapkan dari dinamika sastra kita hari ini. Kelenturan semacam ini yang belum mampu diakomodasi oleh media massa. Oleh karena itu, kiraya keberadaan cybersastra harus diperhitungkan.

Berikutnya soal prosesi pengukuhan. Ada baiknya menyimak fakta ini. Ada beberapa komunitas di Indonesia, ternyata memiliki tradisi pengukuhan (pembaiatan) tersendiri. Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) misalnya, untuk membaiat penyair berbakat, tentu saja muda, dilakukan sebuah ritual. Biasanya calon penyair itu membacakan karya-karyanya dalam sebuah acara khusus bertajuk show (one men show, duet show, womenshow, dll) yang sengaja diadakan dalam rangka pembaiatan. Setelah pembacaan selesai, barulah penyair itu dibaiat dengan sumpah kepenyairan dipimpin oleh orang yang dianggap pantas (penyair sepuh) untuk membaiat penyair. Meski hanya sebuah simbolik, pengukuhan macam itu bisa jadi penting, selain memberikan rasa percaya diri, prosesi itu adalah bentuk penghargaan terhadap pelaku sastra, yang mana sampai kini, negara kita belumlah dikatakan menghargai sastra. Prosesi ini menjadi alternatif, yang belum berkesempatan dimuat di media, lewat show itulah mulanya.

Untuk mengukuhkan seseorang menjadi penyair, barangkali perlu dahulu ditegaskan siapakah penyair? Dari beberapa logika di atas, maka sederhananya, penyair adalah orang yang menulis puisi, mempublikasikannya dalam sebuah media dan diakui oleh pembaca atas kualitas yang dimilikinya. Orang yang hanya menulis sajak di internet (sebutlah facebook) adalah penyair juga. Apalagi yang di koran atau buku. Barangkali kelasnya saja yang berbeda-beda. Misalkan kita membuat beberapa kategori penyair, seperti penyair professional dan penyair amatir.

Penyair professional adalah penyair yang sudah mapan dalam berkarya. Buktinya adalah jumlah karya yang dimilikinya. Ia juga harus mendapatkan pengakuan dari publik bahwa dirinya adalah seorang penyair. Tentu saja, atas keprofesionalannya itu, puisi-puisinya bernilai ekonomi alias dibayar oleh sebuah institusi seperti Negara. Di Malaysia, sastrawan Negara itu ada. Nama-nama seperti Prof. DR. Haji Salleh, Kris Mas, Usman Awang, Prof. Shahnon Ahmad, A Samad Said, atau Almarhum Arenawati yang keturunan Bugis, adalah para sastrawan yang diberi gaji oleh Negara. Di masa Kerajaan juga pernah ada. Kerajaan Kediri, misalnya punya Mpu Dharmaja, Mpu Tanakung, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Kerajaan Majapahit (peralihan dari Singasari) ada Empu Prapanca, Kerajaan Kahuripan Airlangga, ada Empu Kanwa. Pelabelan sastrawan Negara ini mengandung banyak motif dan makna. Pengangkatan sastrawan negara bisa juga dilakukan sebagai bentuk penghargaan, atau justru upaya pengekangan. Sejatinya, penghargaan itu tetap ada tanpa ada pengekangan.

Lalu penyair amatir, adalah orang yang menulis puisi karena kesadaran, kegemaran dan kecintaannya pada puisi. Puisi senantiasa hadir dalam kehidupannya. Atas karya-karya yang dibuatnya, ia bisa juga dibayar, tapi tidak tetap. Misalkan memenangi lomba, atau dimuat di media. Penyair model ini kiranya yang hidup di Indonesia. Dari hidup sampai matinya, secara ekonomi, nasib penyair amatir ada dalam ambang kesederhanaan. Secara sosial, ia hanyalah sekelompok terhormat yang dibincang sekelompok kecil masyarakat, yakni masyarakat sastra. Soal aku megakui kepenyairan ini, Sutardzi Calzoum Bachri sudah banyak mengulasnya dalam buku kumpulan esainya “Isyarat” (Indonesiatera, 2007). Secara umum SCB menganggap penting status kepenyairan. Dalam “Pengantar Kapak” SCB mengajari kita tentang kebanggan menjadi seorang penyair. Ia dengan lantang menyebut dirinya penyair. dan penyair adalah sebuah pekerjaan yang serius. Kendati begitu, bukan berarti ia gila status (identitas) semata, tapi yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana usaha memperoleh status itu. Yakni dengan sungguh-sungguh menggali dan menemukan bahasa. Tanpa itu, mustahil orang memperoleh gelar penyair.

Terakhir, hemat saya, ini masalah super penting. Upaya membaca estetika jaman. Jika kita percaya istilah Hegel tentang zeitgeis (semangat jaman), saya kira hari ini kemunculan para penyair muda bisa jadi mewakili zeitgeis itu. Pascareformasi ini, saya membayangkan sebuah kondisi yang bombastis. Seperti halnya materi-materi yang diberitakan media dewasa ini. Semuanya begitu verbal dan vulgar. Hal itu wajar terjadi setelah lebih dari empat dekade sejak kemerdekaan Indonesia, kita hidup dalam tekanan politik yang tidak sehat. Kini setelah gerakan 1998, ada harapan baru bagi bangsa untuk menatap dunia baru yang lebih sehat. Makna-makna yang dulu mati kini mesti kembali dihidupkan. Seorang penyair adalah seorang yang selalu gelisah, maka tepat baginya untuk menghidupkan makna-makna yang telah mati atau membuat makna-makna baru yang berguna bagi masyarakat. Dapatkah kita baca hal itu dalam puisi hari ini, misalnya ditulis oleh para penyair muda yang “lahir” pascareformasi? Barangkali kita tidak mungkin menjawabnya kalau pembicaraan mengenai estetika ini tidak pernah dimulai.

Dari pembacaan baru itu, mungkin saja semangat zaman yang ditafsirkan Jurgen Habermas sebagai kesadaran terhadap harapan dan kesadaran akan percepatan masa depan benar-benar terjadi, di tengah bangsa yang mulai terluka ini. Dan dari pembicaraan tentang estetika ini, berarti ada karya yang diakui. Dengan pengakuan itu, otomatis ada seseorang yang dikukuhkan menjadi penyair. Selamat datang penyair mutakhir Indonesia! (Jafar Fakhrurozi)

Oleh Jafar Fakhrurozi

Di usianya yang hampir menginjak kepala tujuh, di luar dugaan Danarto masih memiliki tangan emas untuk merautkan cerita-ceritanya di atas kertas. Hal itu bisa kita lihat dan rasakan ketika membaca Kacapiring, antologi cerpen terbaru Danarto yang terbit pertengahan 2008 tahun lalu. Seakan ingin melanjutkan cerpen-cerpen sebelumnya, Kacapiring bagaikan lantunan lagu gambus yang lebih bijak dan berisi. Apa gerangan yang disampaikan Danarto dalam Kacapiring?

Tak terlalu berbeda dengan cerpen Danarto sebelumnya, Kacapiring dengan 18 buah cerpen yang terhimpun di dalamnya, kembali mengajak kita untuk merenung tentang arti kehidupan lewat nuansa sufi dan mistiknya. Walau terkesan sudah umum, seperti halnya sastra sufistik yang sering mengangkat tema-tema seputar kematian, cinta, dan sosial. Akan tetapi jika kita membaca dan mengkajinya dengan skemata multipersfektif dan aktual, kita akan dapat menemukan nuansa lain dari Kacapiring. Nuansa tersebut bisa jadi adalah kekuatan yang membedakan dengan cerpen sebelumnya, atau antara Danarto dan pengarang cerpen sufi lainnya.

Mungkin, karena cerpen dalam antologi tersebut adalah koleksi cerpen yang telah dimuat di Koran, maka dalam Kacapiring, tema-tema yang disuguhkan begitu aktual dan up date. Seperti halnya tragedi tsunami Aceh, penggusuran, perampasan tanah, pro kontra pornografi dan pornoaksi, reformasi, serta realitas sosial lainnya yang ada di sekitar manusia Indonesia hari ini. Bahkan dengan detail, jeli dan tanpa sensor. Danarto menyebutkan beberapa nama dan fakta yang akrab di benak masyarakat. Selain itu, dalam Kacapiring, Danarto tidak hanya berposisi sebagai pengisah yang resah. Justru ia menemukan semacam jawaban-jawaban atas keresahannya tersebut. Dalam bingkai religiusitas, jawaban-jawaban itu bisa jadi menggambarkan derajat keimanan Danarto terhadap Khalik yang dianutnya. Masih dalam ke-khas-an Danarto, realitas batin dan sosial tersebut masih banyak dibingkai dalam mistisisme.

Untuk membuktikan asumsi-asumsi di atas, mari kita bahas beberapa cerpen yang ada dalam Kacapiring. Dalam cerpen yang berjudul Jantung Hati misalnya, ia mengangkat dua konsep oposisi biner. Kehidupan-kematian dan kekotoran-kesucian. Ia menilai bahwa manusia takut akan kematian, ketakutan itu muncul diakibatkan oleh adanya pengadilan di hari akhirat, manusia takut karena hidupnya penuh dosa (kekotoran). Oleh karena lukisan tentang neraka yang begitu mengerikan, maka manusia sangat takut menghadapi maut. Manusia takut pengadilan karena waktu di dunianya penuh kekotoran. Dalam cerpen tersebut, Danarto seakan mengingatkan bahwa, manusia tak luput dari kekotoran, maka kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Kalau mau direnungkan, mayoritas manusia selain nabi dan rasul tidak pernah luput dari dosa, lantas kenapa harus takut diadili. Kesucian itu hanya milik malaikat, begitu Danarto menyimbolkan dalam cerpennya.

Cerpen yang dikisahkan melalui tokoh yang ia ceritakan dengan narasi aku-lirik itu adalah sebuah imajinasi belaka, sebab secara logika tidak mungkin seorang yang telah meninggal bisa bercerita, pun dengan Danarto yang belum pernah mengalami kematian. Di sinilah kadar religiusitasnya terlihat begitu tinggi. Cerpen Jantung Hati adalah sebuah kesaksian pertaubatan seorang manusia yang penuh dosa.

Dalam cerpen Lailatul Qodar, yang bercerita tentang sebuah keluarga yang mudik dari Jakarta ke kampung halamannya di Jawa, keluarga yang sebulan penuh khusuk menjalani ibadah Ramadhan itu baru mudik setelah menunaikan sholat Ied. Di perjalanan, ketika jalur sangat padat dan macet, mereka melihat ada jalan kosong yang tak dilihat oleh pengendara lain, akhirnya mereka sampai di tujuan dengan cepat dan selamat. Dalam cerpen tersebut, Danarto ingin menggambarkan keutamaan ibadah Ramadhan terutama di malam Lailatul Qadar. Di saat orang-orang sibuk mengantri karcis jauh-jauh sebelum lebaran, sebuah keluarga dalam cerpen itu memilih beribadah dengan khusuk dan baru pulang setelah lebaran. Cerpen-cerpen bernuansa sufistik lainnnya terdapat pada Zamrud, Jejak Tanah, Nistagmus, Lauk dari Langit, dan Ikan-Ikan dari Laut Merah.

Dalam nuansa sufistik tersebut, terdapat beragam estetika dan tema. Seperti dikatakan sebelumnya, estetika mistik masih menjadi estetika dominan Danarto. Pada Zamrud dan Jejak Tanah, nuansa mistik sangat kental. Sebagaimana mistik, ketidaklogisan itu bukanlah sebuah perkara, justru lewat mistik tersebut Danarto mengisahkan realitas yang profan. Jejak Tanah adalah sebuah kritik terhadap para pemodal yang kerap membeli dan menggusur tanah rakyat. lewat tokoh Bapak yang berprofesi sebagai pengusaha yang rajin membeli dan menggusur tanah rakyat, Danarto berhasil mengetengahkan sebuah problem sosial kontemporer yang terjadi di Indonesia. Yang menarik adalah bahwa dalam persfekstifnya, walau rakyat selalu dirugikan oleh tokoh Bapak, akan tetapi Danarto memberikan kesempatan tokoh Bapak untuk mengemukakan alasannya. Tokoh bapak seakan-akan tidak mengerti, kenapa ia selalu diprotes padahal dalam melakukan pekerjaannya ia selalu menaati aturan serta membayar ganti rugi yang pantas. Meskipun demikian, Danarto tetap menyerahkan keberpihakannya pada korban. Keberpihakkan tersebut diperlihatkan secara mistik dengan nasib jenazah Bapak yang tak diterima tanah. Nuansa Sufistik juga terlihat kuat pada cerpen Pohon yang Satu Itu, Nistagmus dan Lauk dari Langit yang menyinggung tentang Tragedi Tsunami Aceh akhir 2004 silam.

Di luar sisi transendennya, Danarto juga memiliki wawasan realitas yang cukup kuat. Walau tidak ideologis, namun beberapa cerpennya berhasil mengisahkan realitas sosial dengan persfektif kaum marginal di Ibu kota. Dalam cerpen Zamrud, Danarto melukiskan realitas buruh dan kaum cilik lainnya seperti tukang becak. Cerpen Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mi Instan, dengan sangat realis masalah-masalah penggusuran dikemukakan. Dalam dua cerpen tersebut yang menarik adalah bahwa ditemukan beberapa fakta ilmiah populer, seperti penyebutan nama Dita Indah Sari dan Wardah Hafidz, dua perempuan aktivis yang vokal di Jakarta, kutipan lagu Ada Pelangi di Matamu karya grup band rock Zamrud, lagu Ketahuan karya Band Matta, Ucing Garong dan fakta-fakta lainnya yang beberapa waktu ke belakang pernah marak dan membumi di kalangan masyarakat. Saya kira, penyebutan beberapa fakta tersebut cukup menarik. Sesuatu yang jarang dilakukan cerpenis lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa Danarto adalah seorang pengarang yang tidak terpisah dari ruang, ia malah setia menemani ruang metropolis yang penuh persoalan.

Masih dalam hal aktualitas, dalam cerpen Telaga Angsa dan Si Denok, Danarto mengajak kita untuk berdiskusi soal konsep kesenian terkait adanya UU APP. Dengan ilmiah dalam cerpen Telaga Angsa Danarto membandingkan referensi agama dengan estetika seni pada kostum penari balet yang super tipis. Atau pada lukisan dan patung perempuan kegemaran Bung Karno dalam cerpen Si Denok.

Terhadap lingkungan, Danarto juga memiliki sense yang kuat, cerpen Pohon Rambutan dan Pohon Zaqqum adalah representasi kepekaannya terhadap lingkungan.

Dari beberapa bahasan singkat terhadap cerpen-cerpen Kacapiring, tak terlalu berlebihan kalau Danarto diberi gelar cerpenis sufistik, atau dengan kadar sastra, religiusitas dan sosialnya tinggi. Jika merujuk pendapat Abdul Hadi WM tentang pembagian sastra religius yang mencakup; karya yang menggarap masalah-masalah spiritual (sufistik), karya-karya yang menggarap lapis sosial faedah, masalah sosial, politik, kemasyarakatan dan karya pelipur lara yang kadar konsepnya tinggi. Maka Danarto adalah salah satu cerpenis mapan dalam kategori tersebut.

Dari keseluruhan cerpen, nilai-nilai religiusitas tampak begitu sublim dalam tiga konsep: hablum minallah, hablum minannas, dan hablum min a’lam, ketiga dimensi tersebut merujuk pada satu muara, yakni pertemuan di hari akhirat. Inilah puncak kulminasi religiusitas seorang petualang batin. Sebuah bentuk pertaubatan yang total. Sebuah kesimpulan baginya yang sudah menginjak usia matang menghadap sang Khalik.

Kita mengenal nama Cok Sawitri sebagai seorang perempuan yang berpikiran maju namun punya visi kedaerahan (adat) yang cukup kuat. Beberapa karyanya tak luput dari tema-tema yang berbau adat Bali sebagai kampung halamannya.

 

Salah satu cerpennya yang berjudul Mati Sunyi yang terhimpun dalam buku antologi cerpen terbaik KOMPAS 2004 Sepi Pun Menari di Tepi Hari, adalah salah satu cerpen terbaiknya, cerpen itu sekaligus menjadi refleksi diri Cok Sawitri sebagai seorang aktivis perempuan yang kerap dihadapkan pada persoalan pergulatan posisi dalam kelas jender, serta persoalan adat Bali yang masih mentradisi yang keberadaanya dewasa ini mulai digerus budaya global. Cok Sawitri sebagai sosok perempuan modern begitu arif dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah transisi zaman menuju peradaban yang mengikis habis nilai-nilai budaya serta adat istiadat di Bali. Dia adalah cermin perempuan modern yang tak lupa kulitnya. Beberapa waktu kemarin misalnya, beberapa komentar dan pernyataannya muncul untuk menentang diberlakukannya Undang-undang Anti pornografi/pornoaksi (APP), dia memandang bahwa definisi pornografi tidak sebatas artifisial, bukan sekedar fisik yang sedikit telanjang seperti yang didefiniskan dalam RUU tersebut. Baginya, Bali, dan beberapa daerah lainnya masih menghormati adat, di sana perempuan masih setia dengan adat, pakaian yang seronok ala adat misalnya adalah bukan dikategorikan pornoaksi. Cok sawitri tidak mau terjebak mainset kontemporer yang mengabaikan adat. Justru bagi karya-karyanya, adat adalah sumber inspirasi. Namun, dalam karya-karyanya adat bukan semata bulan-bulanan cerita, keberpihakannya akan adat sangat jelas.

 

Cerpen Mati Sunyi bercerita tentang nasib yang menimpa seorang aktivis perempuan setelah meninggal. Aktivis diperankan oleh tokoh Bibi. Nasib Bibi sungguh tragis. Semasa hidupnya, Bibi sangat dihormati, dikenal dan ditakuti oleh berbagai kalangan baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebagai seorang pejuang kemanusiaan sudah barang tentu ia sangat dicintai dan dibanggakan oleh banyak masyarakat. Tapi sayang, rasa cinta itu tidak berlaku bagi masyarakat di tempat kelahirannya. Bibi malah dianggap hidup bukan mewakili masyarakat asalnya, Bibi hidup untuk orang lain. Tak pernah Bibi memberikan kontribusi pada masyarakat asalnya, maka pada kematiannya, Bibi mendapat sanksi sosial berupa pengucilan, sampai-sampai masyarakat di kampungnya tak ada yang mau terlibat dalam prosesi upacara Ngaben yang begitu luhur di sana.

 

Cerpen Mati Sunyi adalah wanti-wanti dari Cok Sawitri. Seorang perempuan aktivis lewat tokoh Bibi, dengan jelas dikisahkan bahwa tokoh Bibi sebagai seorang aktivis yang dibekali otak, ide, serta pemikiran yang cerdas ditambah keberanian yang tiada tara, dikenal, disegani, dan dihormati banyak kalangan, ternyata sama sekali tidak dihormati di tempat kelahirannya. Kematiannya hanya menyisakan kebencian bagi masyarakat di kampungnya. Hal itu disebabkan karena semua kehebatan Bibi, semua perilaku kritis Bibi dalam menyuarakan orang-orang tertindas, sama sekali tidak berkenan di hati masyarakat asalnya, selama hidup, Bibi dianggap tak pernah memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat, bahkan Bibi kerap mengkritik adat yang dianut masyarakat.

 

Cok Sawitri betul-betul jeli melihat secuil realitas yang tak banyak disadari orang. Dia mampu mengungkap sisi-sisi lain dari seorang aktivis. Cok sawitri telah melakukan kritik dan memberi evaluasi yang cukup berarti untuk para aktivis yang banyak meninggalkan daerah asalnya dan malah memilih berkecimpung di kota yang sebenarnya punya persoalan yang berbeda dengan di daerah. Dalam perspektif umum, persoalan kota dengan desa memang sama. Kemiskinan sama artinya bagi orang kota dan desa. Dalam perspektif khusus, jelas sangat beda. Orang kota yang tak bisa makan berbeda dengan tak bisa makannya orang kampung. Ada kontradiksi yang berbeda. Kota lebih maju peradabannya ketimbang Desa. Hari ini misalnya, orang desa sudah puas dengan pakai pakaian yang rapih dengan model sederhana. Tapi buat masyarakat kota, mereka baru puas kalau sudah punya pakaian dengan model terbaru.

 

Berangkat dari contoh sederhana di atas, wajar jika masyarakat di tempat tokoh Bibi dilahirkan menganggap kalau apa yang dikatakan dan dilakukan bibi sama sekali tidak menjawab persoalan di kampungnya. Cok Sawitri betul-betul mampu mengungkap itu. Dalam situasi dan kondisi yang berbeda, maka arti sebuah kebenaran pun berbeda. Seorang Aktivis macam Bibi tetap punya kekurangan. Cerpen “Mati Sunyi” memiliki pesan yang dalam, bahwa setiap manusia, sehebat apapun ia tetap saja mempunyai kelemahan.

 

Walau hari ini zaman sudah jauh meninggalkan adat istiadat, tetapi di sebagian daerah di Indonesia, masih berlaku adat istiadat yang dijadikan keyakinan akan sebuah kebenaran. Di Bali misalnya, adat seperti upacara Ngaben, upacara sabung ayam, serta upacara-upacara lainnya masih lestari sampai kini. Adat dijadikan spirit ruhani serta media aktualisasi manusia dengan Sang Hyang Widi. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi warga di Bali untuk menghormati dan melaksanakan adat. Jika tidak, sanksi sosial pasti lahir sebagai konsekuensinya.

 

Tokoh Bibi sebagai orang yang lahir di lingkungan yang menganut adat, mendapat sanksi sosial di akhir hayatnya karena perilakunya yang sering mengkritik adat dan perilakunya yang mulai meninggalkan adat. Bagi masyarakat sanksi itu berlaku tanpa pandang bulu, tak peduli ia terkenal atau tidak terkenal. Berbeda dengan hukum negara yang merupakan warisan kolonial, impunitas berlaku bagi beberapa orang terpandang, punya uang serta materi yang melimpah. Cerpen ini sangat evaluatif dan kritis dalam menyikapi perkembangan manusia dan zamannya kekinian yang semakin jauh meninggalkan adat.

 

Ada hal yang menarik yang sangat kontekstual dan relevan dengan realitas budaya orang-orang “berduit”  di Indonesia, mereka menjadikan uang sebagai segala-galanya, melebihi apapun. Budaya rendah tersebut masih menggulita sebagian orang-orang kaya, untuk memuluskan jalan atau cita-cita yang diinginkan, mereka beli dengan uang. Uang, uang dan uang. Semua persoalan beres. Tapi tidak dalam cerpen ini, bagi masyarakat di mana tokoh Bibi berasal, uang tak dapat menolong apa-apa, upacara Ngaben tak bisa dilakukan oleh warga. Tetapi oleh orang sewaan. Memang orang-orang sewaan itu dibayar, akan tetapi apalah artinya upacara Ngaben seperi itu.

 

Secara semiotik, tokoh Bibi adalah wakil perempuan yang hidup hari ini. Jika cerita yang disampaikan dalam “Mati Sunyi” adalah kisah nyata yang diangkat dalam cerita fiktif. Sulit rasanya untuk mencari siapa sebenarnya tokoh Bibi. Kita mungkin tahu nama-nama seperti Kartini, Dewi sartika, Marsinah, atau Suciwati. Tapi siapa di antara mereka yang dari Bali? Atau siapa di antara mereka yang mengkritik adat? Jawabannya adalah bahwa cerpen ini benar-benar fiktif. Namun tidak menutup kemungkinan kalau apa yang dikisahkan adalah betul-betul sebuah realitas yang telah atau tengah terjadi dalam masyarakat Indonesia. Atau jangan-jangan itulah potret dirinya di masa depan? Jika benar, maka Cok Sawitri setidaknya sudah punya alarm lewat cerpennya itu jikalau ia sampai berperilaku seperti Bibi.

 

Namun jauh dari itu, Cok Sawitri sebagai perempuan seperti ingin menegaskan sosok perempuan lewat tokoh Bibi. Perempuan setelah gerakan feminisnya mampu mengangkat harkat dan martabatnya setinggi-tingginya. Dalam jender tak ada kelas. Seorang perempuan pun bisa secerdas laki-laki, bisa seberani laki-laki, bahkan bisa menjadi sosok yang sangat dikenal dan dihormati oleh semua kalangan baik di dalam negeri maupun oleh bangsa sedunia. Itulah sosok aktivis pada tokoh Bibi. Sebuah cermin kemenangan gerakan Feminis di Indonesia. (Jafar Fakhrurozi)

Dalam memandang sebuah persoalan, terlebih dalam karya yang dihasilkannya, seorang sastrawan saya yakin tidak asal bicara (baca:tulis), melainkan penuh konsep yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara estetik maupun ilmiah. Kiranya hal itu telah ditunjukkan oleh almarhum W.S Rendra dalam sajak-sajaknya. Antologi puisi Rendra yang cukup fenomenal yang berjudul Potret Pembangunan dalam Puisi (Pustaka Jaya, 1996), tidak hanya menunjukkan ideologi dan keberpihakannya pada rakyat tertindas, akan tetapi di dalamnya penuh konsep, gagasan, dan wawasan realitas. Dari sekian banyak puisi dalam antologi tersebut, ada sebuah konsep yang terlihat matang secara keilmiahannya dan jika dikontekskan dengan hari ini, konsep tersebut seolah menjadi wacana besar yang diamini masyarakat. Konsep yang dimaksud adalah pandangan-pandangannya tentang pendidikan yang dipraktikan di negara kita. Dalam puisi, Rendra mengemukakan semacam ”analisis” kritisnya terhadap sistem pendidikan sebagaimana para pengamat pendidikan dalam tulisan-tulisannya. Hal itu secara dominan banyak dikemukakan pada sajak-sajak yang terhimpun dalam buku antologi tersebut.

 

Membicarakan sistem pendidikan, kita akan memulainya dari kerangka paradigmatik atau filosofis. Dalam sajak Pertemuan mahasiswa, Rendra bertanya: Kita ini dididik untuk memihak yang mana?/Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini/akan menjadi alat pembebasan,/ ataukah alat penindasan?/. Pertanyaan tersebut jelas sangat ideologis. Istilah pembebasan atau penindasan lahir dari kolam ideologi. Keduanya adalah produk yang dihasilkan oleh sebuah sistem. Dalam sajak yang lain lantas Rendra kembali bertanya. Pendidikan membuatku terikat/pada pasar mereka, pada modal mereka/.Dan kini, setelah aku dewasa./Kemana lagi aku ‘kan lari,/bila tidak ke dunia majikan?/ (sajak Gadis dan Majikan).

 

Dalam sajak tersebut, Rendra prihatin akan nasib seorang perempuan (gadis) yang selalu diperbudak oleh majikan. Majikan dalam puisi itu diartikan sebagai bos di tempat gadis bekerja. Dalam sajak tersebut Rendra mengkritik pendidikan yang tak berhasil mengubah paradigma laki-laki terhadap perempuan sekalipun perempuan itu terpelajar. Dalam realitas kekinian, masih banyak perempuan terdidik yang bekerja sekaligus melayani kebutuhan biologis bosnya. Hal itu dilihat oleh Rendra sebagai kesalahan pendidikan, bukan kesalahan perempuan. Artinya Rendra tidak menggunakan alasan sebagaimana pemikiran feminis tentang budaya patriarkhi yang selama ini menjadikan budaya patriarkhi sebagai kambing hitam atas ketertindasan perempuan. Menurut Rendra, kepemilikan modal menimbulkan kekuasaan yang tak terbantahkan, sedang pendidikan kita hanya dipersiapkan untuk mengabdi pada modal. Maka tidak aneh kalau lapangan kerja pun dibuat sesuka pemodal. Rendra pun mengatakan bahwa pendidikan yang telah diberikan seolah percuma saja. Hal itu terlihat pada bait sebelumnya: Siallah pendidikan yang aku terima./Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,/kerapian, dan tatacara,/Tetapi lupa diajarkan:/bila dipeluk majikan dari belakang,/lalu sikapku bagaimana!..(Sajak Gadis dan Majikan)..

 

Dalam sajak Sajak Seonggok Jagung Rendra lagi-lagi mengaskan bahwa pendidikan kita tak mampu memberikan apa-apa. Pendidikan kita hanya membuat siswa/mahasiswa terasing dan tercerabut dari kehidupan. Pendidikan hanya menambah pengangguran di Ibukota, dan dengan bahasa yang amat liris Rendra menyindir para mahasiswa yang setelah lulus malah merasa asing dan sepi ketika telah pulang ke daerahnya. Kata Rendra: Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan. /Aku bertanya: /Apakah gunanya pendidikan/ bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing/ di tengah kenyataan persoalannya?/Apakah gunanya pendidikan/bila hanya mendorong seseorang/menjadi layang-layang di ibukota/kikuk pulang ke daerahnya?/Apakah gunanya seseorang/belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,/atau apa saja,/bila pada akhirnya,/ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: /“Di sini aku merasa asing dan sepi!” (1996).

 

Pertanyaan-pertanyaan yang sekaligus penegasan realitas tersebut adalah problem pendidikan nasional yang sulit terpecahkan. Keterasingan output pendidikan terhadap masyarakat diakibatkan oleh tidak ilmiahnya kurikulum yang diberikan. Istilah ilmiah menandakan bahwa pendidikan harus bisa dibuktikan kebenarannya. Ia harus direlevansikan dengan kebutuhan dan realitas masyarakat. Selama ini, kurikulum pendidikan nasional tidak begitu ilmiah, kurikulum banyak diisi ilmu-ilmu asing. Sehingga kadang-kadang tidak relevan dengan realitas yang ada. Tak heran jika hari ini rakyat Indonesia miskin di tengah alam yang kaya raya. Itu karena orang Indonesianya sendiri tidak paham bagaimana mengelolanya. Ketidakilmiahan itu diakibatkan oleh berkiblatnya pendidikan kita pada barat. Ditegaskan oleh Rendra dalam Sajak Pemuda: Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat. /Di sana anak-anak memang disiapkan /Untuk menjadi alat dari industri. /Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti./Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa? /Kita hanya menjadi alat birokrasi!/Dan birokrasi menjadi berlebihan/tanpa kegunaan-/menjadi benalu di dahan. /Gelap. Pandanganku gelap. /Pendidikan tidak memberi pencerahan. /Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan /Gelap. Keluh kesahku gelap. /Orang yang hidup di dalam pengangguran. /Apakah yang terjadi di sekitarku ini?../ (1996).

 

Selain di wilayah paradigma, Rendra pun mengkritik realitas di wilayah kebijakan pemerintah. Pemerintah dianggap tak mampu memberikan akses pendidikan pada rakyat dengan mudah. Akibatnya masih banyak anak-anak yang tak bisa sekolah. Hal itu terdapat dalam sajak Sajak Sebatang Lisong: Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak /tanpa pendidikan. /Aku bertanya, /tetapi pertanyaan-pertanyaanku/membentur meja kekuasaan yang macet,/dan papantulis-papantulis para pendidik/yang terlepas dari persoalan kehidupan…/.Angka matematis tersebut bukanlah asal bicara. Hari ini saja, di mana pemerintah sudah mulai melaksanakan kewajiban menggratiskan pendidikan, angka putus sekolah masih tinggi.

 

Sebagai penegasan, dalam sajak yang berjudul Sajak Anak Muda, Rendra menamai angkatan pendidikan dengan waktu itu dengan angkatan gagap. Angkatan yang diproduksi oleh sistem yang salah, lantas menghasilkan angkatan yang pasti salah. Kesalahan tersebut menjadikan kita menjadi angkatan yang berbahaya. Hal itu bisa dilihat dalam: Kita adalah angkatan gagap./Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar./Daya hidup telah diganti oleh nafsu./Pencerahan telah diganti oleh pembatasan./Kita adalah angkatan yang berbahaya…/(1996).

 

Sebagaimana sebuah konsep, ia membutuhkan solusi-solusi sebagai antitesis dari kesimpulan yang ada. Rendra menyadari hal itu, maka Rendra pun tidak hanya berkeluh kesah. Dalam sajak Sajak Sebatang Lisong, Rendra merumuskan sebuah solusi untuk membawa pendidikan kita ke jalur kemandirian, tidak bergantung dan berkiblat pada Barat. Menurut Rendra solusinya adalah: Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing./Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,/tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan./Kita mesti keluar ke jalan raya,/keluar ke desa-desa,/mencatat sendiri semua gejala,/dan menghayati persoalan yang nyata…(1996). Sesuai dengan pemikiran Rendra, keterpurukan Indonesia di atas alam yang maha subur ini diakibatkan oleh sikap negara yang bergantun pada barat. Tak terkecuali di sektor pendidikan. Pemikiran liberalisasi pendidikan pun muncul dan dilaksanakan di Indonesia. Maka untuk melaksanakan apa yang dikatakan Rendra, salah satu caranya adalah dengan menunjukkan keberanian untuk mandiri di segala bidang. Sebuah pesan puitis dari Rendra layak dialamatkan pada para calon presiden kita yang sekarang sedang sibuk bertarung.

 

Dalam sajak-sajak Rendra tampak begitu kuat ideologi penyair dalam memandang pendidikan. dalam hal ini Rendra menggunakan teori-teori pendidikan kritis. Dalam literatur akademik, Henry Giroux dan Aronowitz membagi paradigma pendidikan ini menjadi tiga: konservatif, liberal dan kritis. Sejauh ini, pendidikan nasional lebih suka menggunakan paradigma konservatif dan liberal. Sedang paradigma kritis hanya digalakkan oleh lembaga nonformal atau oleh para aktivis. Tujuannya untuk memberikan akses seluas-luasnya pada rakyat miskin untuk bisa cerdas, terbebas dari hegemoni dan dehumanisasi sistem kekuasaan.

 

Mengingat begitu ilmiahnya sajak-sajak Rendra, saya kira tepat gelar doktor honoris causa yang diraihnya dari UGM tempo lalu. (Jafar Fakhrurozi)

Sampai hari ini, sebagian besar dari kita meyakini dan mengakui bahwa kelahiran Budi Utomo 20 Mei 1908 adalah momentum kebangkitan nasional, parameternya terletak pada bangkitnya kesadaran segelintir bangsawan yang dicerdaskan di negeri penjajah. Apakah memang demikian tolak ukurnya? Bicara Nasionalisme adalah berbicara kesadaran bangsa untuk menghargai dan mencintai sekumpulan manusia dalam lokalitas tertentu untuk menuju bangsa yang diakui dan dihormati bangsa lain.

Wacana itu muncul dari semangat senasib sepenanggungan sebagai bangsa terjajah. Dengan demikian nasionalisme muncul pada fase kolonialisme Eropa.

Di Sumatera misalnya, ada Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, serta Panglima Polim yang dianggap sebagai pahlawan nasionalisme.

Di Jawa, ada pangeran Dipenogoro, jendral Sudirman, Sukarno. Di Kalimantan ada Pangeran Antasari, Sultan Hasanudin di Sulawesi, Pattimura di belahan timur Indonesia. Apakah deretan perjuangan dari pemimpin di atas juga dicatat sebagai momentum kebangkitan nasional? Jika kebangkitan nasional bercirikan kebangkitan kesadaran di tataran ide berupa edukasi, maka ada sebuah unsur yang cukup berperan dalam mengenalkan manusia Indonesia dengan dunia literasi, mencoba membebaskan diri dari keterbelakangan budaya. Sektor itu adalah sastra.

Sastra Nusantara berangkat dari imaji dan nuansa budaya sendiri. Tapi kebanyakan pada masa itu yang berkembang adalah sastra lisan. Di akhir abad IX menurut catatan Maman S Mahayana, telah ada beberapa majalah sastra yang memuat karya sastra berupa hikayat, cerita, dongeng, syair, pantun dan lain-lain seperti yang ditulis dalam sub judul sebuah majalah Sahabat Baik Desember 1980 di Betawi. Selain majalah itu disebutkan sebelumnya juga sudah ada yakni Biang-lala 1868 dan Selompret Melajoe 1860-1910 di Semarang. Kemudian pada awal abad ke-20 semakin banyak muncul majalah sastra seperti Pewarta Prijaji Semarang,1900, Bintang Hindia (Bandung, 1903), Poetri Hindia (Bogor, 1908), Bok-tok (Surabaya,1913).

Kemunculan sastra pada masa kolonialisme tidak mungkin lahir begitu saja, atau lagi-lagi menurut Maman S Mahayana, Kesusateraan Indonesia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan yang melahirkannya seolah wujud begitu saja, tanpa proses, tanpa pergulatan budaya pengarangnya. Penegasan itu adalah sebuah bentuk pembenaran terhadap kajian sosiologi sastra yang mencoba mengaitkan karya sastra, pengarang dan situasi sosial dan budaya yang melingkupinya. Tentunya kajian ini semakin memudahkan untuk menggambarkan bagaimana spirit nasionalisme telah digenggam sastra sejak jaman kolonial serta masa pra kemerdekaan.

Beberapa karya yang dilahirkan pada masa kolonialisme abad ke-19 memang belum bicara nasionalisme Indonesia. Walau begitu, kebanyakan karya tersebut sudah bicara lokalistik, sebuah konsep nasionalisme yang lebih kecil-sama seperti primordialisme. Seperti pada cerpen ”Tjerita Langkara dari Orang Isi Negeri Jang Soeloeng di Poelaoe Djawa” yang bercerita tentang perjalanan seorang raja Rum (romawi) menuju pulau Jawa yang dianggap negeri sepi sesuai keinginan raja. Dalam perjalanannya itu prajurit Raja Rum tidak dengan mudah menaklukan Jawa yang amat besar dan dihuni raksasa, setan, dan jin. (Maman S Mahayana, Perjalanan Estetika Lokal Cerpen Indonesia). Hal itu menunjukkan bahwa pengarang (tidak disebutkan) sudah memiliki kesadaran akan rasa cintanya terhadap tanah kelahiranyya-pulau Jawa-. Pengarang seolah menegaskan bahwa sebagaimana kolonialisme, itu selalu mendapat perlawanan dari penghuni asli. Namun karena keterbatasan imajinasi, pengarang lebih memberikan kemenangan pada Raja Rum, sehingga raja Rum akhirnya mampu menguasai Jawa. Hal yang sama dengan kondisi kolonialisme Indonesia selama 3 setengah abad oleh Belanda. Bahwa kecanggihan Belanda mampu menaklukan banyak perlawanan dari masyarakat nusantara.

Pada masa pra kemerdekaan, karya-karya sastra yang genre dominannya roman malah sudah menampakkan kecenderungan nasionalisme itu, pada masa balai pustaka dan pujangga baru sudah banyak karya-karya yang bermuatan politik, karya-karya sarat kritik terhadap pemerintah kolonial. Roman seperti ”Sitti Nurbaya” karya Marah Rusli, ”Layar Terkembang” Sutan Takdir Alisyahbana termasuk roman yang mengusung ide-ide nasionalisme. Ide-ide itu diselipkan dalam tema-tema percintaan, adat, dan agama. Sitti Nurbaya misalnya, menghadirkan perlawanan masyarakat minang dipimpin Datuk Maringgih melawan Prajurit Belanda. Atau dalam ”Layar Terkembang”, tokoh Tuti menjadi representasi generasi muda yang mampu mencerminkan bangsanya.

Lahirnya sumpah pemuda pada tahun 1928, semakin memperkokoh bangunan nasionalisme kita. Dengan semangat satu nasib keterjajahan, tak terkecuali di ranah sastra, angkatan Pujangga baru dengan majalah Pujangga Baru-nya bersemboyankan “Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan persatuan Indonesia”. Sebagian besar angkatan 45 pun banyak melahirkan karya-karya yang bernuansa nasionalisme, ada Armijn Pane dan Chairil Anwar dengan beberapa puisi patriotisnya. Pengarang selanjutnyapun masih banyak bicara perjuangan nasionalistik. Novel Royan Revolusi karya Ramadhan KH atau Tak Ada Esok karya Mochtar Lubis. Dan yang cukup fenomenal adalah Pramudya Ananta Toer, beliau amat konsisten dengan perlawananya terhadap penindasan, baik yang dilakukan penjajah ataupun pemerintah kita sendiri.

Di Tepi Kali Bekasi dan Keluarga Gerilya adalah contoh karyanya yang menggambarkan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang selanjutnya Pramudya mengklaimnya sebagai aliran realisme sosialis bersama seniman yang tergabung dalam LEKRA. Karya-karya yang berestetika realisme sosialis seperti klaim beberapa sastrawan LEKRA semakin mempertegas keberadaan bangsa yang tunduk pada penjajah, penindasan pemerintah serta kesengsaraan. Bagi kelompok sastrawan ”kiri”, masyarakat yang berada dalam keterindasan adalah masalah yang harus segera diselesaikan, ketertindasan itu diakibatkan sistem sosial yang menindas, imperialisme, kapitalisme, dan feodalisme yang menyusup dalam sistem pemerintahan Indonesia. Maka perlu adanya perjuangan yang revolusioner untuk menghancurkan tatanan sosial yang menindas itu. Salah satunya adalah dengan menggunakan medium sastra sebagai alat penyadaran dan perjuangan menuju cita-cita luhur sosialisme. Sosialisme yang dimaksud adalah dalam konteks kebangsaan: Indonesia, bagaimana Indonesia berjalan atas dasar sosialisme. Berbeda dengan LEKRA, kelompok Manikebu sebagai opisisi LEKRA memandang nasionalisme sebagai bentuk kehidupan yang lebih humanis, meletakan rasa cinta, jiwa manusia secara lebih umum, tidak berpihak pada satu landasan ideologi, serta lebih mementingkan terjaganya kehidupan yang lebih manusiawi, tidak saling menyakiti homo homini lupus).

Bicara nasionalisme hari ini, antara penting dan tidak penting. Dirasa penting saat kita dihadapkan pada persoalan identitas sebuah bangsa, misalnya ketika menonton pertandingan timnas sepakbola melawan Bahrain tempo lalu. Menjadi tidak penting jika kita melihat cara kerja globalisasi atau Francis Fukuyama menyebutnya era neoliberalisasi. Di mana fungsi negara sudah tak lagi berperan, sebab dengan mudah kepentingan asing masuk ke Indonesia. Rasa-rasanya kita tak punya negara (nation state) melainkan sudah menjadi negara global (global state). Akibatnya, bangsa kita diobok-obok asing, masyarakat yang belum cerdas dipaksa mengikuti arus global, yang susah tetaplah susah dan terbelakang, yang kaya tambah korup. Kalau sudah begitu bisa bubar negara Indonesia. Dalam kondisi yang mahagenting macam itu, hemat saya, sastra harus mengisi posisi dalam ruang-ruang nasionalistik yang sudah terburai, menjahitnya dengan penuh estetis. Ini boleh diartikan sebagai sastra propagandis, tidakpun boleh.

Pramoedya AT mungkin telah banyak membahas perjuangan sektor sastra, bahwa sastra memiliki tugas-tugas revolusioner. Tugas itu lahir dari sobekan realita. Dalam kondisi realitas objektif masyarakat yang tertindas. Sastra dibuat untuk berpihak pada siapa? Penindas atau tertindas, atau sastra hanya menjadi mediator vertikal ketertindasan.

Sastra adalah bertugas. H. B. Jassin sendiri pernah merasa perlu menterjemahkan tugas sastra ini pada tahun-tahun Revolusi Agustus dari karya Sartre, dalam “Mimbar Indonesia” sedang karya Sartre ini kemudian pun dicetak pula dalam majalah “Indonesia” (1949). Bahwa sastra memikul tugas, kini tak banyak lagi disangsikan orang. Pada awal tahun 1950-an sastra banyak kala dianggap sebagai tujuan, sebagai mantra, suatu anggapan yang menyalahi realita. (Pramoedya Ananta Toer, Jang Harus Dibabat dan harus Dibangun, Bintang Timur (Lentera), 7 September 1962). Sebuah aliran yang amat tendensius, para sastrawan ”murni” yang apolitis menganggapnya terlalu berlebihan, dan politis. Beberapa penolakan atas pandangan Pram tersebut memberikan gambaran bahwa telah terdapat perbedaan persepsi mengenai tugas-tugas yang harus diemban sastra itu.
Sebagai representasi jiwa manusia (masyarakat), tidak salah kalau sastra ikut bertanggungjawab atas dinamika perubahan sosial yang terjadi, akankah sastra menghadirkan karya-karya yang mampu membangun kesadaran masyarakat untuk maju. Atau sastra hanya jadi bagian keisengan masyarakat sebagai upaya pelarian dari realitas objektif yang sangat pahit. Senada dengan apa yang dikatakan Ajip Rosidi bahwa bahwa persoalan sastra Indonesia tak dapat dilepaskan dari persoalan politik. Untuk itu keasadaran akan kebangsaan menjadi sebuah keniscayaan dalam sastra.

Namun Apa yang muncul dalam dua dekade terakhir sangat memprihatinkan. Berakhirnya polemik Lekra dan Manikebu seperti mengakhiri dinamika sastra kritis. Sastra kini kebanyakan tak terlalu peduli persoalan kebangsaan. Runtuhnya rezim otoritarian tahun 1998 tidak dipandang sebagai transisi nasionalisme kita. Kita lupa kalau penjajahan gaya baru ala globalisasi semakin mempersempit rasa nasionalisme kita. Sebagian sastrawan malah memanfaatkanya untuk melahirkan karya-karya yang sangat ringan, tidak perlu ruwet, asal diterima masyarakat. Mungkin kita juga lupa kalau masyarakat tengah dikemudikan arus itu. Di manakah kini keindonesiaan kita? Kini tengah sistem sosial seperti itu, kita masih harus optimis dan masih ada peluang bagi sastrawan untuk bicara Indonesia. Itu pula yang mungkin sedang diperdebatkan sebagian sastrawan kini di beberapa media. Mudah-mudahan perdebatan itu cukup menyemangati kembali bagi para sastrawan untuk memikirkan bangsanya..***

Sumber: www.kabarindonesia.com (15 April 2008)

SELAMA tahun 2007, rubrik “Khazanah” Pikiran Rakyat telah memuat kurang lebih 30 cerpen. Jumlah yang mampu menggambarkan bagaimana eksistensi dan konsistensi sastra koran di Jawa Barat. Keberadaan cerpen koran tersebut tentunya akan lebih berarti bagi perkembangan sastra kita jika direspons para kritikus sastra. Akan tetapi, melakukan kajian atau kritik sastra di koran, kita tak mungkin melakukannya secara komprehensif dan tak mungkin menjadikan keseluruhan cerpen sebagai objek kajian.

Secara umum, cerpen-cerpen “PR” yang ditampilkan pada tahun 2007 banyak mengambil tema seputar kehidupan masyarakat, seperti masalah identitas manusia, keluarga, interaksi sosial, serta kehidupan remaja. Dari sekian cerpen yang termuat, ada yang menarik untuk dikaji pembaca, yaitu cerpen-cerpen yang entah disengaja atau tidak, membahas sosok laki-laki dengan segala macam problem eksistensinya. Hal itu bisa kita lihat pada cerpen “Anak Bapak” karya Damhuri Muhammad, “Bapak” (Mumpuni D.H.), “Jalan-jalan Minggu” (Pidi Baiq), “Lelaki tanpa Wajah” (Arman A.Z.), “Muksa” (Hermawan Aksan), “Haji” (Joni Ariadinata), “Lelaki Penjaga Gerbang” (Salman Rusydie A.R.), dan “Ramadhan Ayah” (Teguh Winarsho A.S.).

Disadari atau tidak oleh pengarangnya, cerpen-cerpen tersebut sangat beraroma gender. Cerpen-cerpen tersebut banyak bercerita tentang persoalan eksistensi laki-laki dalam konteks relasi/interaksi dengan perempuan yang sampai hari ini masih banyak mencerminkan konflik. Pada cerpen-cerpen tersebut para cerpenis menawarkan konsep lain tentang laki-laki. Di sana, sosok laki-laki digambarkan sebagai sosok yang lemah, kalah, dan sumber masalah. Sebuah kritik tentunya bagi kaum Adam yang selama ini diposisikan lebih tinggi dari perempuan sebagaimana yang berkembang dalam diskursus feminisme. Itu pula yang barangkali dianggap sebagai pokok perlawanan gerakan feminisme. Uniknya, cerpen-cerpen itu sebagian besar dikisahkan oleh pengarang laki-laki. Apakah ini representasi kelompok laki-laki yang mendukung gerakan feminis?

Cerpen “Anak Bapak” karya Damhuri Muhammad menceritakan kehidupan rumah tangga yang dipenuhi konflik, mulai dari konflik suami istri yang diakibatkan berbagai macam perbedaan pandangan; mulai dari cara mendidik anak sampai perbedaan penghasilan suami isteri. Konflik tersebut tanpa disadari memengaruhi kejiwaan dan perilaku anak. Tokoh bapak yang tidak memiliki pekerjaan itu dilukiskan oleh pengarang sebagai pribadi yang mengalami krisis identitas. Karena si istri yang bekerja, lalu tokoh bapak dilukiskan sebagai ibu atau istri yang harus melakukan kerja-kerja seorang istri seperti mengasuh anak dan menetekkan susu.

Fenomena istri yang bekerja melebihi suaminya baru kita jumpai dewasa ini. Wanita karier, adalah sebuah dekonstruksi atas realitas yang berlaku dalam masyarakat konservatif termasuk sistem patriarki.

Cerpen Damhuri ini tidak hanya membuka realitas kekinian, tetapi juga mencoba melakukan gugatan terhadap pandangan-pandangan maskulinisme. Hal itu ditunjukkan dalam cerpen dengan lebih radikal lagi, di mana dalam krisis identitas seorang bapak, pengarang menggunakan imajinasi yang sangat berlebihan dengan cara mendeskripsikan perubahan fisik bapak menuju fisik perempuan. Tiba-tiba payudaranya tumbuh dan menetekkan susu pada bayi.

“Lalu gundukan daging kedua belah dada bapak berangsur-angsur mengembang. Seperti ada yang bergerak dan menyentak hendak menyembul keluar, hingga kedua bulatannya menegang dan membesar serupa balon ditiup pelan-pelan. Begitu juga putingnya, makin mekar. Montok serupa buah kelimunting matang. Kenyal dan setengah basah.”

Dengan bahasa yang verbal dan erotis, pengarang mencoba memberikan penguatan suasana dan karakter agar tokoh bapak yang menjadi ibu secara psikologi kuat. Dengan demikian, tokoh bapak sudah betul-betul merasa jadi seorang ibu.

Selanjutnya, dalam cerpen “Bapak” karya Mumpuni D.H. Cerpen itu mengisahkan penderitaan seorang anak perempuan yang ditinggalkan orang tuanya. Ibunya meninggal karena sakit, sedangkan bapaknya sudah lama kabur. Dalam cerpen itu, tokoh bapak diceritakan sebagai lelaki hidung belang, padahal ia seorang guru yang seharusnya menjadi teladan. Cerpen itu juga menohok perjodohan yang diterapkan orang tua pada anaknya sehingga membuat ketidakharmonisan hubungan keluarga.

Hal yang sama juga diceritakan Joni Ariadinata dalam cerpen “Haji”, sosok laki-laki yang bergelar haji pun ternyata memiliki penyakit masyarakat, sebutlah doyan kawin atau poligami. Sedangkan Teguh Winarsho A.S., dalam cerpen “Ramadhan Ayah” bercerita tentang tokoh ayah yang disesalkan anaknya lantaran perilakunya yang buruk, amoral, dan tidak agamis.

Dalam empat cerpen itu, semua pengarang melakukan gugatan terhadap laki-laki. Dalam sebuah sistem patriarkhi, laki-laki ditempatkan dalam status sosial yang lebih tinggi di atas perempuan. Laki-laki sebagai kepala rumah tangga bertanggung jawab atas kelangsungan biduk rumah tangga. Maka, segala tanggung jawab tersimpan di pundak suami. Namun apa yang terjadi dewasa ini, banyak laki-laki yang tak berdaya menghadapi beban berat itu. Dalam cerpen itu, laki-laki dituntut atas kegagalannya menjadi poros keluarga.

Sebenarnya jika dikontekskan dengan hari ini, cara pandang tersebut masih merepresentasikan cara pandang masyarakat awam di daerah. Sebab, masyarakat terpelajar di perkotaan sudah tak lagi banyak mempersoalkan status. Namun, setidak-tidaknya keempat cerpenis tersebut telah mampu mengungkap problem sosial yang masih kerap terjadi di masyarakat.

Juliet Mitchell (1994) mendeskripsikan patriarki dalam suatu term psikoanalisis yaitu the law of the father yang masuk dalam kebudayaan lewat bahasa atau proses simbolik lainnya. Menurut Heidi Hartmann (1992), salah seorang feminis sosialis, patriarki adalah relasi hierarkis antara laki-laki dan perempuan di mana laki-laki lebih dominan dan perempuan menempati posisi subordinat. Menurut dia, patriarki adalah suatu relasi hierarkis dan semacam forum solidaritas antarlaki-laki yang mempunyai landasan material serta memungkinkan mereka untuk mengontrol perempuan. Sedangkan menurut Nancy Chodorow (1992), perbedaan fisik secara sistematis antara laki-laki dan perempuan mendukung laki-laki untuk menolak feminitas dan untuk secara emosional berjarak dari perempuan dan memisahkan laki-laki dan perempuan. Konsekuensi sosialnya adalah laki-laki mendominasi perempuan.

Dari pemahaman tersebut, sistem patriarki dalam cerpen-cerpen itu dimunculkan dalam bentuk kritik terhadap eksistensi laki-laki. Diceritakan bahwa sosok laki-laki adalah manusia yang berperilaku buruk, seperti berjudi, mabuk, selingkuh, tidak agamis, dan segala kenakalan sosial lainnya. Atau dalam cerpen “Lelaki Penjaga Gerbang”, laki-laki juga disebut sebagai orang yang kalah. Pemberian stigma negatif terhadap laki-laki disebabkan oleh keyakinan patriarki itu sendiri, akibatnya laki-laki yang dianggap gagal dan tidak berdaya dalam melakukan tugasnya akan menjadi masalah bagi keluarga.

Itulah cara pandang laki-laki terhadap dirinya, ini sangat berbeda dengan wacana yang berkembang di dunia sastra feminis hari ini. Di mana dalam perlawanannya terhadap dominasi patriarki, perempuan tidak harus menjadikan laki-laki sebagai sasaran tembak, tetapi lebih menempatkan tubuh perempuan sebagai pusat kegelisahan. Konflik gender pun kurang dipandang sebagai konflik sosial, tetapi lebih pada konflik fisik dan psikologis. Dalam analisisnya, Freud menyebutnya sebagai sisa-sisa kecemburuan terhadap penis (residual of penis envy), sebagai dampak dari tidak adanya penis di tubuh perempuan sehingga membuat perempuan menjadi narsis serta memfokuskan pada fisik sebagai daya tarik agar dicintai laki-laki. Apa yang ditulis oleh pengarang perempuan hari ini adalah salah satu contoh krisis itu. Kendati demikian, gugatan terhadap laki-laki, bagaimanapun bentuknya adalah sebuah representasi zaman postmodernisme yang berusaha menolak narasi-narasi besar dan lebih bertendensi dalam memproduksi suara-suara lemah. Dalam cerpen-cerpen itu tampak jelas bahwa pengarang berupaya menyaringkan suara-suara kecil perempuan yang selama ini terkubur dalam oleh tirani sistem. ***

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 16 Agustus 2008

MENINGGALNYA mantan Presiden Suharto disambut beragam oleh masyarakat. Mereka yang berkabung, di koran, misalnya, selain foto-foto yang memperlihatkan tangis keluarga, kerabat, dan kroni-kroninya. Juga menampilkan gambar wajah-wajah dukacita dari sebagian rakyat kecil yang kadung mencintai Suharto. Namun dalam beberapa hari setelah masa kabung itu, demonstrasi massa mulai digelar di mana-mana, mereka menolak berkabung dan terus menuntut proses hukum atas kejahatan orang paling besar di Indonesia itu.

Itulah sikap dan perasaan manusia. Mencintai dan membenci adalah pilihan yang lumrah, sebagaimana kita mencintai pasangan, walau buruk rupa, buruk hati, buruk laku juga tetaplah emas bagi pasangannya. Cinta itu buta, begitu kata seorang bijak.

Dalam kanvas kesenian, cinta itu bisa dilukiskan tanpa batas. Ranah susastra, khususnya. Walau ditekan sana-sini, tetaplah ia eksis sampai kini. Tetap dinamis dan dialektis dalam kemasan yang kreatif, kemasan oportunis, pragmatis atau penjilat sekalipun. Segalanya tetap hidup dan terus bermetamorfosis. Cinta itu juga mengalir walau hidup di bui, diberedel, atau diasingkan ke hutan rimba. Justru semakin dibekap, semakin kuatlah ia berontak. Pemberontakan itu adalah titik kulminasi sebuah cinta.

Harus diakui, sastra telah mendokumentasikan perjalanan bangsa kita. Bahkan bukan hanya seaedar dokumentasi, sastra dengan beberapa bukti otentik menunjukkan peranannya bagi terciptanya spirit nasionalis-patrotis (me) Indonesia. Beberapa karya di awal kemunculan sastra modern Indonesia, telah mampu merespons situasi sosial politik bangsa yang terjajah lewat karya-karya roman dan puisi dari para sastrawan pelopor.

Sampai pada akhirnya muncul babak panas yang disebut oleh Taufik Ismail dan D.S. Moelyanto sebagai prahara budaya, yakni polemik budaya antara Lekra dan Manikebu yang diakhiri kejayaan blok Manikebu. Blok Manikebu inilah yang mengiringi kejayaan rezim otoritarian Suharto. Maka ketika bicara dinamika Orde Baru, Manikebu perlu untuk ditanya-untuk mengganti mempertanggungjawabkan atas terciptanya tatanan sosial politik yang hegemonik dan sentralistik. Pencipta jalan bagi kendaraan pengangkut sumber alam nusantara ke lumbung elite.
Orde Baru seperti rumah yang dihiasi lampu di sekelilingnya, tapi gelap gulita di dalam. Masyarakat dipaksa belajar dari apa yang mesti mereka lihat, bukan dari apa yang mereka lihat. Televisi, koran, radio, serta media massa lainnya hanya menampilkan gambar dan berita yang indah. Sastra dipaksa membuat definisi baru mengenai humanisme dan rasa sosial. Tidak aneh kalau sastra dengan estetika macam itu seperti mengalami kebangkitan.

Dinamika era 70-an sampai 80-an adalah era emas di mana, karya sastra lahir dan membanjir. Namun, apa yang ada tidak lebih dari dokumentasi sekadarnya. Bahkan di era 80-an, muncul sastra populer yang bernilai rendah yang tanpa disadari, keberadaannya adalah pembenaran akan sisi gelap industrialisasi. Itulah imperialisme kultural yang berdampak pada pola hidup masyarakat yang individualistis, hedonis, dan glamor. Padahal betapa masyarakat sedang mengalami ketertindasan strukural, pembodohan dan manipulasi akan sejarah mereka yang sebenarnya. Bahwa tujuan kemerdekaan salah satunya adalah untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan penindasan. Itulah kematian sastra kita yang lahir dari proses katarsis yang tidak lahir dengan sejujurnya, namun secara paksaan dan ketertekanan.

Dalam menyikapi situasi demikian, sebagian penyair misalnya lebih memilih untuk menenangkan diri, atau serius menggugat dan menggali jati dirinya lewat puisi-puisi sufistik. Era 80-an merupakan era karya-karya sufistik. Puisi sufistik muncul sebagai pelarian rohani atau sekadar penghiburan hati di tengah pembangunan yang merajalela. Oleh Agus R. Sarjono disebut sebagai upaya “berhijrah” membangun wilayah baru yang lebih spiritual dibanding material. Sebuah upaya memberi harga pada rohani di tengah gejala pelecehan rohani di sana sini. (Sastra dalam Empat Orba halaman 93). Walaupun kemudian aliran sufistik itu perlahan memudar, berganti dengan sastra kritis menjelang kejatuhan rezim Suharto. Tapi itulah yang dimaksud kejujuran, bahwa tekanan sosial politik yang menimpa masyarakat mampu dipahami oleh para sastrawan sebagai inspirasi bagi karya-karyanya.

Puisi sufistik, seperti yang ditulis oleh Zawawi Imron, Abdul Hadi, Soni Farid Maulana, atau Ahmadun Yosi Herfanda adalah upaya menginsafi rasa cinta dan kematian. Bahwa, kematian itu adalah ujung dari setiap perjalanan. Dan cinta menjadi panduan manusia dalam menjalani hidup yang sementara menuju sebuah kehidupan yang kekal. Sebagaimana dalam sajak Ahmadun Y. Herfanda yang berjudul Doa Sederhana (jika cinta itu angin, rentangkan layarku/pada udara yang tak panas dan tak dingin/ jika cinta itu laut, layarkan perahuku/ pada ombak yang tak badai dan tak mati/)

Sebagaimana karya sastrawan sufistik pada umumnya, tema pokok karya-karya penyair sufistik adalah cinta Ilahi (isyq), sebuah gagasan tentang jalan dan metode kerohanian mencapai kebenaran. Dalam puisi Doa sederhana tersebut misalnya, cinta ditempatkan dalam lembah (makam) baka (kekal) dalam metafora alam seperti angin, udara, laut, ombak, dan badai (lambang keabadian/baqa)) dari tujuh lembah yang harus dilalui untuk menemui Sang Khalik, lambang hakikat ketuhanan dan hakikat diri manusia.

Pada perkembangannya, estetika puisi religius kini ditradisikan dan menjadi estetika sejuta umat. Sebagian kelompok mengklaimnya sebagai sastra Islam. Hubungannya dengan orde Suharto adalah bagaimana agama waktu itu telah menjadi alat untuk kekuasaan. Beberapa tragedi HAM dihakimi oleh keputusan MUI, hingga meletuslah eksekusi terhadap kelompok-kelompok pengajian yang dianggap sesat. Hari ini, bagaimana agama dijadikan kendaraan oleh partai politik (parpol) untuk kepentingan dunia semata. Bukankah kemunafikan itu telah ada dalam kasak-kusuk sastra agama.

Kemunafikan bertebar di mana-mana. Padahal puisi religius berlatar belakang jauh dari politik dan agama, justru ia mencoba membuat persfektif lain tentang filsafat manusia dan ketuhanan. Itulah pemaknaan cinta sejati. Para penyair religius di tahun 80-an itu menyadari bahwa cinta itu dinamis.

Penyair sadar, bahwa ketika kondisi sosial sudah amat menggelisahkan, hingga tak mampu membuatnya terus berlari dari kenyataan, maka mereka kemudian banyak membuat puisi-puisi yang sarat kritik sosial di akhir abad Orde Baru. Baca sajak Ahmadun yang berjudul Indonesia, Aku tetap Mencintaimu (1997–1998), dan Sajak Bulan-Bulanan (1997), atau sajak Soni Farid Maulana yang berjudul Aku Bergerak ke Arahmu (1998). Dalam sajak-sajak itu para penyair merespons kondisi sosial yang menelikung mereka. Seperti yang ditulis oleh Abdul Hadi dalam Hikmah, Gagasan Cinta dalam Sastra Sufi, bahwa demikianlah yang diungkapkan dalam kesastraan sufi itu bukan semata-mata pengalaman dan keadaan jiwa yang dialami ahli suluk dalam menempuh jalan cinta dan makrifat; melainkan juga contoh-contoh dalam kehidupan individu dan masyarakat yang berkaitan dengan amal dan ibadah. Misalnya tentang ikhtiar dan perjuangan manusia yang tak kenal lelah mencapai kebenaran, serta godaan-godaan hawa nafsu yang sering tak dapat diatasi dengan akibat hatinya keruh dan penglihatan batinnya kabur terhadap hakikat ajaran agama.

Masa kepemimpinan Suharto, sastra bukanlah sektor yang dibanggakan. Dari sekian negarawan, pejabat, atau aparatur militer, bukanlah para penggemar sastra, maka wajar kalau tingkat intelektualitasnya pun diragukan. Hasilnya, negara Indonesia tak mampu berbuat banyak dalam konstelasi internasional. Bandingkan dengan negara lain yang tradisi literalnya bagus. Jerman, Inggris, Amerika, sampai Rusia yang hari ini memimpin adalah negara yang banyak memproduksi sastrawan besar. Mereka kaum negarawan, bangsawan, dan kaum cendekia, memberikan penghargaan yang tinggi terhadap sastra. Bahkan sebagian dari mereka pun banyak menulis buku. Vaclav Havel, seorang presiden Ceko, adalah salah satu dari sedikit pemimpin yang melek sastra. Karya-karyanya juga kemudian menjadi inspirasi Ceko hari ini.

Memasuki era reformasi, ditandai kejatuhan Suharto. Telah dianggap sebagai pintu masuk atau titik cerah kehidupan masyarakat yang lebih baik. Demokrasi menjumpai titik tolak yang bagus. Kondisi itu dilihat sastra sebagai peluang untuk berkembang. Kebebasan berpikir dan berkarya. Namun setelah apa yang muncul dalam dua dekade terakhir, ternyata sangatlah memprihatinkan. Berakhirnya polemik Lekra dan Manikebu seperti mengakhiri dinamika sastra kritis. Sastra kini kebanyakan tak terlalu peduli persoalan kebangsaan. Runtuhnya rezim otoritarian tahun 1998 tidak dipandang sebagai transisi nasionalisme kita. Kita lupa kalau penjajahan gaya baru ala globalisasi semakin mempersempit rasa nasionalisme kita.

Sebagian sastrawan malah memanfaatkanya untuk melahirkan karya-karya yang sangat ringan, tidak perlu ruwet, asal diterima masyarakat. Kini kematian Suharto, memberikan beragam pilihan di benak rakyat. Tentang bagaimana menempatkan cinta dalam diri kita, dan memosisikannya lebih jauh ke depan, yakni bagi perjalanan panjang masa depan Indonesia.***

Sumber: Lampung Post, Minggu, 13 April 2008

 

Malam di Salemba

di kamar sempit, kotor dan bau
kami menyusun waktu
membangun jalan-jalan dan jembatan
kelak mungkin rel dan landasan pacu
semua haru biru, dalam catatan sakuku

besok kita berjalan sendiri-sendiri ya
aku ke sana, kamu ke sini, dan kalian ke?
kita menanam jalan, jalan memandu langkah
langkah kita yang tergesa—selalu begitu

akankah kita terus curiga
bahwa hidup serupa musim
dan kita bayangkan, daun-daun gugur
berserak di ranjang, semalaman
aw, alangkah celaka mimpi kita

mari, kita kemasi prahara ini
hidup tak lebih dari dua pilihan
dan kamar ini, hanyalah awal
dari sekian ketakutan

2009

Malam-malam Gambus

DAF

semalaman, aku dilantuni gambus
meski harus pening ulu hatiku
diaduk kantuk dan dihajar lapar
tapi gambus gundono, katamu
mengingatkan kita tentang kehidupan
pada sebuah kota di tengah pasar
di mana, di sini nyawapun digelar
dengan harga sekedar
dan tangis, berbaris bagai pemudik
mengusung malam pada mimpi yang pelik

semalaman, kita khusu meramu alamat
memainkan jemari di lekuk tubuh ibu
sambil berharap, hujan datang di sela subuh
meluapkan sumur-sumur kerontang
:pelbagai penantian

menjadi manusia, katamu
bukanlah membuat puisi yang sunyi
tapi traktat yang meloncat ledak
seperti lantunan gambus gundono
berloncatan liar ke luar pagar
menyeruak tabir di luas cakrawala

Jakarta, 2009

di setiap persinggahan malam
aku seperti pulang ke kampung kelahiran
memahami subuh sebagai ibu dari puluhan tebing waktu
subuh memberi batas usia pada setiap keasingan
aku pun merasa senang meminang matahari
di sebuah surau yang parau suaranya
sambil membina pagi yang tak kunjung sepi

di sini adzan seperti lagu putus cinta
setiap larik syahadat adalah amsal para pemimpi
dan kita tak lekas bangun mengemas kelelahan
kita malah puas merawat kekalahan

aku memahami subuh sebagai pelabuhan
di mana kita istrirahkan kegagalan
lalu dalam hitungan rakaat angin
kita harus segera berpamitan
berjabat tangan dan lekas berangkat
mengaji matahari di tepian hati
menanam rembulan di ladang-ladang perjalanan
menuju pelaminan di kesehajaan rumahmu

2006

PULANG KAMPUNG

aku selalu rindu kampung
rindu rumah dan sangkar walet
sepasang sahabat yang teduh
kami karib setiap kali hujan

aku selalu rindu sawah
rumah bagi segala gundah
anak-anak lumpur yang galau
menangis tersengat semut api

aku rindu irama malam
riang anak-anak mengaji di surau
anak-anak qur’an yang lugu
melantunkan nyanyian malam

ah, aku benar-benar rindu
memutar lagu-lagu itu

Am, 2008


ANTARA ISTIQLAL DAN KATEDRAL

antara istiqlal dan katedral
aku mematung di hitam kali ciliwung
melafalkan zikir atau nyanyi kemanusiaan
sebagaimana yang kudengar kala subuh
serta denting lonceng di ceruk pagi

dapatkah aku pahami
seumpama banjir menyapu kota tua ini
sekejap melenyapkan baris tangis di sini

begitulah, antara istiqlal dan katedral
aku senantiasa bermimpi
menjadi gerimis yang lembut
menyirami taman kelelahan zaman

Am, 2008

TAMAN SUROPATI

aku melamun di sini bersama dengkur merpati
memasuki halaman gedung berpagar langit
merebut senapan dari sangkur penjaga
menyelinap senyap ke kamar-kamar amarah
menyimpan bom di bawah ranjang obama
lalu meledaklah, binasalah segala luka dunia

di taman suropati ini aku telah berjanji
untuk membangun puing-puing mimpi
dari negeri yang dipapah tangan penjarah

Am, 2008


DI PUNCAK MONAS AKU INGIN TERJUN

berdiri tegak di puncak monas
aku seperti pangeran di punggung luka
menjaga mahkota emas yang cemas
maka dari puncak monas aku ingin terjun
ke dalam lautan tangis ciliwung
menyelami senyum gubuk-gubuk papa
yang dipajang indah di museum hujan
kita pun basah menakar nasib yang raib
di hutan kota metropolitan

di jari-jari ciliwung
anak-anak murung memulung puntung
tangan-tanggan yang berlimbah
tubuh-tubuh yang berselimut sampah
serta mata yang selalu terbelalak
selalu terjaga, barangkali maut luput
dalam lengah langkah kami

dari menara cemas ini
aku ingin meghitung setiap kelok jalan
melingkar-lingkar bagai ular yang lapar
melahap semua yang terlelap waktu
menabur racun di sekujur tubuh ibu
ibu dari segala kota yang terluka

kematian adalah mimpi paling nyata
dari abad yang kian entah
sedang aku menunggu saatnya tiba
saat tugu ini runtuh diamuk waktu

Am, 2008

Seseorang yang Berjalan Tengah Malam

pada malam yang runcing
seseorang mengusung hutan di punggungnya
berjalan dari kota ke kota
berhenti di setiap jalan yang terbelah
menggelar kusut wajahnya
dan membiarkan tubuhnya menjadi mangsa
lelehan larva kota di sepanjang malam

ia mengingat-ingat jalan yang hilang
menyesali waktu yang terbenam di kakinya
kota ia telah lama jadi bara
matahari tumbuh di setiap rumah
bapak-bapak mencangkul limbah di balik beton
ibu-ibu menjemur dada di bibir pabrik
dan anak-anak menggembalakan mimpi
di kubangan asap yang pengap

sementara malam terus merambat
adakah pilihan tentang hari dan esok pagi
kecuali bermimpi barangkali kelak,
ada sungai yang merambat ke hulu
dan menghantam balik kota mereka

Am, 2009

Orang-orang Kardus

tubuh-tubuh kardus yang tirus
terus berlari memutar malam
meracik rincik hujan
jadi dendang tengah malam

berhentilah sejenak
tlah kugelar selembar teras rumahku
berbaringlah selayaknya nyawa
maka lupakan sejenak
huru-hara waktu di hatimu
biarlah ia pulas ditating mimpi

kelak saat subuh rubuh
kita longok kebun di jauh bukit
sepetak kebun
jauh dari nyeri dan rasa sakit

Am, 2009

Malam di Cikapayang

sebelum subuh jatuh di punggungku
aku menggambar angin di desir malam
mencoreti ceruk trotoar yang lapar

taman cikapayang
bising oleh nyanyian perlawanan
kami dendangkan dengan hidmat
sesekali mencibir para musafir
atau mengumpat mualaf negeri

negeri kami serupa lautan kenalpot
berpusing di cemas perempatan
merah kuning hijau di kebun hatiku
tak pernah jadi mawar yang merekah
atau juga anggrek yang solek

hidup ada dalam satu dua pilihan
terpanggang api heroik
atau beku dalam hujan yang tragik

Am, 2009

Secangkir Kopi di Suropati

kupu-kupu liar
siar dari jalan ke jalan
patah dan berpusing di taman

ke taman suropati aku menepi
merasakan gigil jalan
gemeretak gedung-gedung
menghimpit linglung langkahku

pada secangkir kopi
aku ingin menyimpan mimpi
biar tumbuh di tubuhku
pulau-pulau tanpa cerobong asap
langit-langit tanpa lubang hitam
tanah dan laut tenang terbentang

Am, 2009

Layang-layang

aku kembangkan layang-layang
di atap magrib
menyusuri mega-mega hitam
ada gambar wajah kita
kuyup dibius malam

layang-layang terbang
diombang-ambing malam
bocah, janganlah kau menunggu
sebab benang terus terulur
jauh membumbung
barangkali kita lupa
jarak kematian kita?

Am, 2009
Surat Malam

kusematkan lelahku pada setiap alamat
namun jalan-jalan raib. hanya magrib
terpasang usang pada kopiah bocah-bocah
aku mencarimu dalam larik-larik sengal
dilantunkan kakek, ketika subuh surup
aku seperti diinstal ajal-disayat sekarat
tubuhku dipenggal jadi baris huruf-huruf
kata-kata dimutilasi, dan aku merasa entah
di manakah lagi rumah bagi para pejalan?

Am, 2008

Malam-malam Menyusun Matahari

tidakkah salah, kami menyusun matahari
pada setiap malam yang penuh cemas
walau sudah sayup dan mengatup
mata ini ingin terus berbincang, sayang
bahwa api terus berkecamuk di negeri ini
tunggulah esok, sebongkah anak-anak sunyi
sedang siap-siap, berkemas dan berbaris
juga berebut terik matahari. revolusi!

Am, 2008

Revolusi Itu

apa yang liar di matamu, tepikanlah
sampai tubuh ini berhenti berguncang
sebab malam-malam hanyalah lengang
pergi memburu mimpi di telaga pagi
tempat luka-luka merangkai bom waktu
kelak meledak di tubuh kita, hanyalah
puing-puing yang tak sempat dicatat
sebagai rencana atau masa lalu
namun, begitulah nyanyi revolusi
adalah bom yang sunyi, mencari ibu waktu
tempat kita berteduh dan bersandar

Am, 2008

Kantata Pagi

ada yang diam-diam bernaung di saung hatiku
adalah pagi yang terus berkecamuk
merenung murung meremas ulu hati
tahukah, betapa kini aku merasakan rindu yang luap
rindu nyanyian ibu di sela gelap
yang tak kujumpai di lebat keramaian ini
sungguh, di perjumpaan waktu
aku ingin mencipta nada pada kantata pagi ini
dan menyanyikan tembang kepenatan

Am, 2009

Budiono dan Budi Anduk

Oleh Jafar Fakhrurozi

Beberapa waktu yang lalu, di beberapa ruas jalan utama Kota Bandung, terdapat bentangan spanduk bertuliskan “Say No to Budiono, Say Yes to Budi Anduk”. Di bawah tulisan tersebut tertera sebuah nama forum, menandakan identitas pemiliknya. Jelas itu bukan iseng, sebab di jaman krisis ekonomi seperti sekarang, mana mau orang membuang-buang uang untuk kepentingan yang tak jelas. Itu jelas spanduk propaganda. Sebuah respon yang terlontar dari pihak-pihak yang kecewa atas SBY yang memilih pasangan cawapres Budiono yang dianggap tidak pantas. Kalaupun demikian, kenapa bahasa yang dipilih serupa lelucon. Sebuah wacana yang saya kira jauh dari etika dan nilai sebuah propaganda.

Budiono dan Budi Anduk adalah referen (pengacuan) dua manusia Indonesia yang nyata. Dua sosok yang dikenal publik. Namun, antara Budiono dan Budi Anduk jelas berbeda, Budiono adalah seorang pejabat pemerintah, ahli ekonomi dan intelektual yang hidup di lingkungan kekuasaan. Sedangkan Budi Anduk adalah seorang pelawak yang belakangan tenar dengan tampang dan tingkah lakunya yang menggelikan. Perbedaan tersebut membuat keduanya tidak bisa dibandingkan dalam sebuah konteks yang sama. Terlebih konteks riil politik yang hari ini benar-benar sedang terjadi.

Dalam ilmu linguistik, kalimat tersebut menggunakan kaidah repetisi. Pilihan kata Budi Anduk adalah proses pengulangan yang sebunyi dengan Budiono. Sehingga menimbulkan efek bunyi yang enak dibaca. Ditambah dengan sosok Budi Anduk yang terkenal belakangan ini, seakan menjadikan kalimat propaganda tersebut lebih populer. Bentuk repetisi tersebut juga bisa kita temukan dalam kalimat “Lebih cepat lebih baik”, atau pengulangan-pengulangan kalimat pada iklan partai politik. Pengulangan-pengulangan tersebut memiliki efek enak dan mudah dibaca. Dan tentu saja, propaganda dengan penggunaan kalimat semacam itu akan lebih mudah diingat oleh publik. Meskipun demikian, sebuah wacana berhubungan erat dengan skemata. Skemata adalah referensi pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Untuk memahami wacana dalam spanduk tersebut, sesorang harus memiliki skemata tentang kontroversi pemilihan Budiono sebagai cawapres pasangan SBY. Kalau tidak, publik akan memaknai wacana tersebut sebagai lelucon. Artinya, propaganda dalam wacana tersebut tidak bernilai apa-apa.

Secara sintaksis, kalimat dalam spanduk tersebut tak melanggar kaidah berbahasa. Secara semantik juga memiliki makna yang jelas. Dalam bingkai lelucon, kalimat itu bisa diartikan sebagai “daripada memilih Budiono lebih baik Budi Anduk” atau secara serius dapat diartikan “Budiono bukanlah pilihan yang bagus”. Akan tetapi jika dilihat dari aspek sosio-pragmatiknya, kalimat tersebut memiliki makna yang lebih daripada lelucon. Kita tahu, bahwa kultur politik kita belum mampu menunjukkan etika yang sejatinya. Dalam gelaran politik, transaksi ekonomi masih menjadi jurus utama untuk memenangkan kandidat. Sebaliknya, tak ada partai yang serius melaksanakan pendidikan politik yang baik pada masyarakat. Masyarakat hanya dijadikan objek pemuas kepentingan. Karena setelah pemilu berakhir, para caleg sudah duduk di kursi kekuasaan, mereka lupa siapa yang telah memilihnya. Selain itu, sebagian perilaku elit politik juga tak memberikan tauladan pada rakyat, mereka terlibat korupsi, prostitusi, dan tindakan kontraproduktif lainnya. Sedangkan kini, tayangan infotainment, lawakan, serta acara hiburan lainnya merajalela di televisi. Masyarakat pun gandrung menghabiskan waktu di depan televisi, membincangkan perilaku selebritis, atau menirunya. Sebuah kultur yang cepat meresap dalam kehidupan masyarakat.

Jadi kembali pada spanduk. Seberapa penting menggiring masyarakat untuk ikut sinis terhadap Budiono sedangkan masyarakat sendiri tak begitu peduli pada politik indonesia yang semakin tak menguntungkan masyarakat. Daripada pusing memikirkan politik lebih baik menghibur diri dengan menonton Budi Anduk di televisi.  (Juni, 2009)

 

Tulisan Sebelumnya »